kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Pagi itu, suasana di dekat sumur pesantren terasa mencekam. Zulaikha berdiri di tengah lingkaran santriwati, wajahnya merah padam karena amarah dan rasa gatal yang tersisa dari insiden ulat bulu kemarin. Di hadapannya, Patricia berdiri mematung, mendekap perutnya yang kini terasa kencang karena stres.
"Kalian lihat sendiri kan kemarin malam?!" suara Zulaikha melengking, jarinya menunjuk tepat ke wajah Patricia. "Siapa yang dicucikan bajunya oleh Kang Asep? Siapa yang dipeluk di tengah hujan? Wanita ini bukan cuma bawa aib karena hamil nggak jelas, tapi dia juga menggoda pekerja di sini!"
"Zulaikha, cukup..." suara Patricia bergetar, bibirnya pucat. "Jangan bawa-bawa orang lain."
"Kenapa? Takut rahasiamu terbongkar?" Zulaikha melangkah maju, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Patricia. "Di pesantren suci ini, kamu itu seperti noda di kain putih. Kamu cuma janda yang haus perhatian, atau jangan-jangan... kamu memang wanita murahan yang dibuang suamimu?"
Deg...
Jantung Patricia serasa berhenti. Kalimat itu menghantam telaknya.
Di balik tembok dapur, Alendra mendengar segalanya. Tangannya yang memegang kayu bakar bergetar hebat. Kali ini, tidak ada tahi lalat spidol atau kumis palsu yang bisa menahan amarah yang mendidih di pembuluh darahnya.
Alendra melangkah keluar. Langkahnya bukan lagi langkah "Kang Asep" yang konyol dan santai. Langkahnya berat, tegas, dan penuh aura otoriter yang bisa membekukan ruangan.
"Zulaikha!"
Suara Alendra menggelegar, sangat berat dan dingin. Seluruh santriwati terjengit kaget. Zulaikha menoleh, hendak mencibir, namun ia langsung terdiam saat melihat mata Alendra.
Alendra berjalan mendekat. Ia tidak peduli lagi pada penyamarannya. Ia berdiri tepat di depan Patricia, punggungnya yang lebar menjadi perisai bagi istrinya.
Alendra menatap Zulaikha dengan mata yang tajam seperti elang. Ia tidak berteriak, tapi suaranya yang rendah justru jauh lebih menakutkan.
"Ulangi lagi," desis Alendra. Matanya tidak berkedip. "Ulangi kata-katamu tadi tentang wanita ini."
"Ka-Kang Asep? Kamu jangan ikut campur! Dia ini—"
"SAYA BILANG ULANGI!" bentak Alendra, membuat Zulaikha mundur selangkah hingga menabrak ember.
Alendra maju selangkah lagi, menundukkan wajahnya agar sejajar dengan Zulaikha. "Kamu merasa suci karena tidak hamil? Kamu merasa punya hak menghakimi hidup seseorang sementara mulutmu lebih kotor dari air selokan, ?"
Alendra berpaling ke arah santriwati yang lain, yang kini sudah berbisik-bisik ketakutan.
"Kalian ingin tahu siapa dia?" Alendra menunjuk Patricia dengan tangan yang gemetar karena menahan emosi. "Kalian menghinanya karena dia hamil tanpa suami di sampingnya? Kalian menyebutnya pembawa aib?!"
Alendra tertawa getir, tawa yang penuh luka. Ia melepaskan kacamata besarnya dengan kasar dan membuangnya ke tanah. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menghapus sisa-sisa spidol di pipinya.
"Suaminya tidak membuangnya! Suaminya adalah bajingan bodoh yang sedang berdiri di depan kalian ini!"
Hening. Sunyi senyap. Hanya suara napas Alendra yang memburu.
Alendra berbalik menatap Patricia. Matanya yang tadi penuh api amarah, mendadak melunak dan berkaca-kaca. Ia mengabaikan semua orang. Tangannya yang kasar karena mencangkul terangkat, ragu-ragu ingin menyentuh pipi Patricia, namun ia hanya berani menyentuh ujung cadarnya.
"Maafkan aku, Cia... Maafkan aku," bisik Alendra, suaranya pecah. "Aku tidak tahan lagi melihat mereka menyakitimu. Biar mereka menghinaku, biar mereka mengusirku, asal jangan satu kata pun keluar dari mulut mereka untuk merendahkanmu."
Patricia hanya bisa terisak, tangannya mencengkeram lengan baju Alendra yang kotor. Semua sandiwara itu runtuh dalam sekejap di bawah terik matahari.
Alendra kembali menatap Zulaikha yang sudah pucat pasi. "Zulaikha, saya sudah membeli seluruh hasil kebun ini secara tunai melalui Gus Azmi untuk dibagikan ke seluruh desa. Kalau kamu masih berani menyebut saya atau istri saya pencuri, atau merendahkan martabatnya..."
Alendra menjeda kalimatnya, aura Pemimpin-nya keluar sepenuhnya. "Saya pastikan, kamu akan tahu bahwa Saya punya kuasa untuk melakukan hal yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar menaruh ulat bulu di handukmu."
Zulaikha gemetar, ia langsung lari terbirit-birit diikuti teman-temannya yang lain.
Kini hanya ada mereka berdua di dekat sumur. Alendra tidak lagi memakai suara cempreng. Ia berlutut di depan Patricia, menyembunyikan wajahnya di depan perut Patricia yang besar.
"Mas... kamu membongkarnya," bisik Patricia di tengah tangisnya.
"kamu sudah tahu?" tanya Alendra mendongak menatap mata teduh istrinya yang berkaca-kaca.
Patricia mengangguk," tentu saja , aku sudah tahu semuanya".
"Aku minta maaf, kalau Aku lancang datang ke sini....dan Aku tidak peduli lagi, Cia. Aku gagal jadi suami yang baik, tapi aku tidak akan membiarkan dunia menginjak-injak ibu dari anakku," jawab Alendra sambil terisak. "Usir aku kalau kamu mau, tapi jangan pernah biarkan dirimu merasa rendah karena kesalahan yang aku buat." ucap Alendra dengan suara rendah.
Patricia bergetar, ia mencoba menahan tangisnya yang hampir pecah kembali "Aku sudah memaafkan mu mas, aku juga minta maaf karena telah meninggalkan mu, Aku kembali dulu mas, aku ingin beristirahat" ucap Patricia meninggalkan Alendra yang masih terisak... Patricia tidak kuat, ia ingin memeluk suaminya, begitupun sebaliknya, Alendra ingin sekali memeluk istrinya namun jawaban Patricia masih terdengar dingin.
____
hari itu adalah hari yang akan selalu diingat oleh penghuni pesantren Al-Hidayah sebagai Malam Runtuhnya Sang Raja.
Setelah identitasnya terbongkar di dekat sumur, Alendra tidak langsung pergi. Ia berdiri di bawah guyuran hujan deras di tengah lapangan pesantren, tepat di depan kediaman Gus Azmi. Patricia melihatnya dari balik jendela asrama, hatinya berkecamuk melihat pria yang dulu selalu tampil klimis itu kini basah kuyup, menunduk dengan sisa-sisa spidol hitam yang luntur di wajahnya.
Gus Azmi keluar dengan payung hitamnya, menatap Alendra yang menggigil. "Pulanglah, Alen. Kamu sudah melakukan cukup banyak kegilaan di sini."
Alendra mendongak. Matanya merah, bukan hanya karena air hujan, tapi karena luka yang sudah lama ia pendam.
"Gus... aku tidak punya tempat pulang," suara Alendra serak, beradu dengan suara petir. "Rumahku, hartaku, perusahaanku... semuanya terasa seperti kuburan sejak Patricia pergi. Jika aku pulang ke kota dengan mobil mewahku, aku hanya akan menjadi mayat hidup yang memakai jas mahal."
Alendra kemudian melakukan sesuatu yang membuat Gus Azmi terpaku. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci mobil mewah yang selama ini ia sembunyikan, jam tangan Rolex yang ia simpan di dalam sarung, dan dompet kulitnya yang penuh dengan kartu kredit.
Ia meletakkan semua benda itu di atas tanah yang becek.
"Ini semua yang dulu membuatku sombong, Gus. Ini semua yang membuatku merasa bisa membeli harga diri istriku sendiri," ucap Alendra dengan air mata yang menyatu dengan hujan. "Aku tidak mau kembali menjadi pria itu. Aku benci pria itu!"
Patricia, yang menonton dari jendela, menutup mulutnya dengan tangan. Ia bisa merasakan rasa muak Alendra pada dirinya sendiri.
tapi aku sebagai istri sah yg gak mau dimadu,,gak setuju sama sikap alendra.. dia lebih mikirken hilangnya istri muda,padahal istri pertama sdg koma...
kasian juga ya...
contoh najwa patuh sm suami tetap sederhana.
greget sama karakter patricia.
sudah terlalu lama dia kabur tanpa ijin suami.
di saat suami sudah berubah terima maafnya,agama islam melarang istri keluar tanpa ijin suami,apa lg kabur ke pesantren,ada rukayya ada gus azmi yg bsa memberi nasehat memaafkan.
kiran tdk pernah memiliki cinta alen.
Masyaa Allah patricia benar" hijrah/Rose/