NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belum move on

Siang itu, Rangga memutuskan untuk keluar sebentar. Ia mengendarai mobilnya menuju kantor Dimas. Rangga menyandarkan tubuhnya di sofa, tampak sangat kelelahan meski hari masih siang. Dimas yang sedang memeriksa laporan di laptopnya mendongak, lalu mengernyitkan dahi.

"Tumben datang jam segini? Biasanya jam-jam segini lo lagi sibuk di bengkel," sindir Dimas sambil menutup laptopnya.

"Gue pusing, Dim," gumam Rangga sambil memijat pangkal hidungnya.

Dimas berdiri, mengambilkan sebotol air dingin untuk sahabatnya itu. "Pusing kenapa lagi?"

Rangga menatap Dimas dengan serius. "Lo bisa cari tahu lebih dalam soal Ayu nggak? Gue butuh tahu apa yang sebenarnya terjadi sama dia"

Dimas bukannya langsung menjawab, malah tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia duduk di kursi kerjanya dan menatap Rangga dengan pandangan meledek.

"Wah, parah lo, Ga. Jadi ini ceritanya Bos RG Custom Garage yang terkenal dingin itu ternyata gagal move on" yangledek Dimas sambil terkekeh. "Sampai mau pakai intel segala buat cari tahu kabar mantan. Segitunya lo masih kepikiran?"

Rangga mendengus, mencoba mengalihkan pandangannya. "Gue cuma peduli sebagai teman lama, Dim. Jangan mulai deh."

"Teman lama nggak akan sampai pusing tujuh keliling cuma gara-gara disodorin uang kembalian, Ga," balas Dimas makin menjadi. "Tapi serius nih, kalau cuma cari tahu soal apa yang terjadi sama keluarganya dulu, itu sih hal mudah bagi gue. Koneksi gue masih aman."

"Ya udah, tolonglah. Gue cuma mau pastiin—"

"Tapi menurut gue nih," potong Dimas, kali ini nadanya sedikit lebih serius tapi tetap santai. "Lebih baik lo dengar dari mulut Ayu saja, atau mungkin dari neneknya. Lo tahu Ayu gimana, kan? Dia orangnya sangat mandiri. Kalau lo cari tahu diam-diam di belakang dia, terus suatu saat dia tahu lo menyelidiki privasinya, dia malah nggak enak. Dia bakal merasa nggak nyaman karena lo mencampuri urusan pribadinya lewat orang lain."

Dimas juga tahu tentang apa yang sudah di alami Rangga beberapa waktu lalu.

Dimas menyesap kopinya sejenak. "Jangan sampai niat lo yang katanya 'cuma peduli' itu malah bikin dia makin menjauh karena merasa lo lagi mengasihani dia. Dekati secara pelan-pelan. Kalau lo emang beneran gagal move on, ya usaha yang bener, jangan main belakang."

Apa benar gue gagal move on? Rangga membatin.

Ia mencoba mengingat kembali lima tahun terakhir. Ia bekerja seperti orang gila. Membangun bengkel dari sebuah ruko kecil hingga menjadi pusat modifikasi motor terbesar di kota ini. Ia selalu berpikir bahwa ambisinya itu semata-mata untuk membuktikan diri pada dunia, untuk menunjukkan bahwa dia bisa sukses meski dulu pernah dianggap sebelah mata.

Namun sekarang, setelah melihat Ayu lagi, Rangga mulai meragukan motivasinya sendiri. Jika ia sudah benar-benar melupakan Ayu, kenapa dadanya sesak saat melihat wanita itu tampak tidak baik-baik saja.

"Selama ini gue sukses buat siapa? Buat diri gue sendiri, atau sebenarnya... gue cuma mau dia lihat kalau gue udah jadi orang?"

Rangga memejamkan matanya sejenak. Jika benar ia sudah move on, seharusnya ia bisa melihat Ayu sebagai sekadar bagian dari masa lalu yang malang, bukan seseorang yang kehadirannya membuat seluruh dunianya yang tenang mendadak berantakan lagi.

"Malah bengong lagi lo," suara Dimas membuyarkan lamunannya. "Tuh kan, makin kelihatan kalau tebakan gue benar. Muka lo itu nggak bisa bohong, Ga."

Rangga mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari duduknya. "Udah ah, makin ke sini omongan lo makin nggak jelas. Gue balik ke bengkel dulu."

"Eh, mau ke bengkel apa mau mampir makan nasi Padang lagi?" teriak Dimas sambil tertawa saat Rangga melangkah keluar ruangan.

......................

Tiga minggu berlalu dengan cepat. Hari yang dinantikan Andi akhirnya tiba. Acara lamaran digelar di sebuah restoran elegan di Jakarta, dengan dekorasi bunga-bunga segar yang menambah suasana hangat sekaligus sakral.

Rangga datang lebih awal, mengenakan kemeja batik yang membuatnya tampak sangat berwibawa sebagai kakak sekaligus kepala keluarga. Tak lama kemudian, Dimas muncul bersama istrinya, Davina, yang tampak anggun mendampingi suaminya. Si kecil yang baru berumur satu tahun itu juga ikut, terlihat menggemaskan dalam balutan setelan kemeja mini yang senada dengan ayahnya.

"Widih, makin gagah aja nih perwakilan keluarga," sapa Dimas sambil menyalami Rangga.

Davina tersenyum ramah. "Selamat ya, Mas Rangga. Andi akhirnya melangkah duluan. Mas Rangga kapan menyusul?"

Rangga hanya tertawa kecil menanggapi candaan Davina. "Doakan saja yang terbaik, Dav. Yang penting hari ini Andi dulu yang bahagia."

Acara berlangsung dengan sangat khidmat. Saat Andi bertukar cincin dengan Rania, Rangga berdiri di barisan depan dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bangga melihat adiknya tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab.

Di sela-sela acara makan siang, Dimas mendekati Rangga yang sedang berdiri menyendiri di dekat jendela, menatap pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.

"Gimana, Ga? Hari ini Andi udah resmi tunangan. Gue lihat lo dari tadi banyak bengong," bisik Dimas pelan agar tidak terdengar tamu lain.

"Gue senang buat Andi, Dim. Benaran," jawab Rangga tanpa mengalihkan pandangan.

"Gue tahu lo senang buat dia. Tapi gue nanya soal hati lo sendiri. Udah tiga minggu sejak terakhir kita bahas Ayu di kantor gue. Selama tiga minggu ini, lo ada kemajuan nggak? Atau masih tetap jadi pelanggan rahasia di kedai nasi Padang itu?" ledek Dimas lagi, kali ini dengan volume suara yang lebih terjaga karena ada Davina di dekat mereka.

Rangga menghela napas panjang. Ia teringat selama tiga minggu ini ia memang beberapa kali mampir ke kedai, namun hanya sekadar makan dan pergi tanpa berani bertanya lebih jauh.

"Gue rasa gue emang belum selesai sama masa lalu gue, Dim," ucap Rangga jujur untuk pertama kalinya. "Melihat Andi bahagia begini, gue jadi sadar... ada sesuatu yang hilang di hidup gue"

"Lo yakin?. Ngga ingat dia pernah dijodohin artinya dia udah nikah sekarang. Sebelum Lo melangkah lebih jauh cari tau dulu ceritanya"

Di tengah keriuhan ucapan selamat dan tawa para tamu, Andi yang tampak berseri-seri dengan cincin yang kini melingkar di jarinya, memisahkan diri sejenak dari kerumunan. Ia berjalan menghampiri Rangga yang masih berdiri bersama Dimas dan Davina.

"Mas," panggil Andi sambil menepuk bahu kakaknya.

Rangga menoleh dan langsung tersenyum lebar. Ia memeluk adiknya itu dengan erat, sebuah pelukan laki-laki yang penuh rasa bangga. "Selamat ya, Ndi. Mas benar-benar bangga sama kamu. Kamu sudah satu langkah lebih dekat menuju ibadah seumur hidup."

"Makasih banyak, Mas. Ini semua juga berkat doa dan dukungan Mas Rangga selama ini," jawab Andi tulus. Ia kemudian menyapa Dimas dan Davina sebentar sebelum kembali menatap kakaknya dengan tatapan yang sedikit lebih dalam.

Andi menarik Rangga sedikit menjauh dari keramaian agar bisa bicara lebih pribadi.

"Mas... makasih ya sudah datang. Tapi jujur, aku dari tadi perhatikan Mas Rangga. Mas kelihatan senang, tapi kayak ada yang mengganjal di pikiran. Ada apa? Apa ada masalah di bengkel?" tanya Andi perhatian.

Rangga terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "Enggak ada masalah apa-apa, Ndi. Bengkel aman, semua lancar."

Andi tersenyum tipis, seolah tidak percaya begitu saja. "Mas, aku ini adik Mas. Kita cuma berdua. Aku tahu kalau Mas lagi menyembunyikan sesuatu. Apa ini soal... 'kakak ipar' yang aku becandain di telepon waktu itu?"

Rangga menghela napas, menyadari bahwa adiknya kini sudah cukup dewasa untuk membaca gelagatnya. "Mas cuma lagi terpikir banyak hal, Ndi. Melihat kamu bahagia begini, Mas jadi sadar kalau waktu itu berjalan cepat sekali."

Andi memegang lengan kakaknya. "Mas, kalau ada seseorang yang Mas pikirkan, jangan ditahan terus. Aku sudah bahagia hari ini, sekarang giliranku pengen lihat Mas Rangga juga bahagia. Siapa pun orangnya, kalau memang Mas merasa dia orang yang tepat, kejar, Mas. Jangan sampai menyesal dua kali."

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!