Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Tamu dari Masa Lalu
Ketukan di pintu pagar rumah Senja pagi itu terdengar tidak sabar. Senja yang baru saja selesai melakukan panggilan koordinasi dengan mandor proyeknya, mengerutkan dahi. Ia tidak merasa sedang memesan paket atau menunggu tamu. Dengan langkah waspada, Senja membuka pintu jati rumahnya.
Di depan pagar, berdiri seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang mencolok—setidaknya untuk ukuran pagi hari. Ia mengenakan tas kulit imitasi yang mengkilap dan perhiasan emas yang memenuhi pergelangan tangannya. Di sampingnya, berdiri seorang pria muda yang wajahnya sangat mirip dengan Rangga, tapi dengan tatapan yang jauh lebih angkuh.
"Senja! Akhirnya kamu keluar juga!" teriak wanita itu.
Senja tertegun. Ia mengenali suara itu. Itu adalah Ibu Lastri, ibu kandung Rangga yang tinggal di sebuah desa kecil di Jawa Timur. Dan pria di sampingnya adalah Doni, adik laki-laki Rangga yang selama ini kuliahnya juga disubsidi oleh Senja.
Senja membuka pagar dengan perasaan campur aduk. "Ibu? Doni? Kok nggak kasih kabar dulu mau datang?"
"Gimana mau kasih kabar? Kamu sudah blokir nomor anak saya, kan? Kamu usir Rangga seperti binatang!" Ibu Lastri langsung nyerocos masuk ke halaman tanpa dipersilakan. Matanya langsung menyisir setiap sudut rumah Senja, seolah sedang menginspeksi aset miliknya sendiri.
Doni menyusul di belakang ibunya sambil tetap asyik memainkan ponsel mahal—ponsel yang dulu dibelikan Senja sebagai kado ulang tahun. "Iya, Mbak Senja tega banget. Mas Rangga sampai harus tidur di kosan sempit. Padahal rumah ini kan gede banget."
Senja menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya. "Masuk dulu, Bu. Kita bicara di dalam."
Di ruang tamu, suasana terasa sangat tegang. Senja bahkan tidak berniat menyuguhkan minuman mewah. Ia hanya meletakkan dua gelas air putih di atas meja.
"Senja, Ibu nggak mau berbelit-belit," Ibu Lastri memulai, suaranya naik satu oktav. "Rangga bilang kamu minta cerai dan ambil semua barang-barangnya. Itu nggak bener, Nduk. Kamu itu istri, harusnya nurut sama suami. Masa gara-gara masalah kecil saja kamu langsung main usir?"
"Masalah kecil, Bu?" Senja menatap mertuanya itu dengan pandangan tidak percaya. "Rangga selingkuh, Bu. Dia pakai uang saya untuk membelikan perhiasan wanita lain. Dia juga menghina saya di depan orang-orang. Apa itu menurut Ibu masalah kecil?"
Ibu Lastri mendengus, mengibaskan tangannya seolah pengkhianatan Rangga hanyalah angin lalu. "Laki-laki itu wajar kalau main di luar, Nduk. Apalagi Rangga itu artis, DJ terkenal. Dia banyak godaan. Kamu sebagai istri harusnya sabar, rangkul dia kembali ke jalan yang benar, bukannya malah diputusin urat rezekinya!"
"Betul itu, Mbak," Doni menimpali tanpa rasa malu sedikit pun. "Gara-gara Mbak ambil motor sama alat DJ Mas Rangga, cicilan kuliahku bulan ini jadi macet. Mas Rangga nggak bisa kasih aku uang lagi. Mbak harusnya tanggung jawab dong, kan Mbak yang suruh aku kuliah tinggi-tinggi."
Senja merasa kepalanya berdenyut. Logika keluarga ini benar-benar sudah bengkok. Mereka tidak melihat Rangga sebagai pihak yang salah, melainkan melihat Senja sebagai "sumber uang" yang harus terus mengalir.
"Doni, dengar ya. Aku membiayai kuliahmu karena dulu aku pikir Mas Rangga adalah suami yang bertanggung jawab. Sekarang, setelah dia berkhianat, aku nggak punya kewajiban apa-apa lagi sama keluarga kalian," ucap Senja tegas.
"Kurang ajar kamu, Senja!" Ibu Lastri menggebrak meja. "Kamu itu jadi orang kaya karena siapa? Kalau bukan karena Rangga mau nikahi kamu, kamu itu cuma perawan tua yang sibuk sama gambar-gambar bangunanmu itu! Sekarang setelah Rangga sukses, kamu mau buang dia?"
"Kamu pasti takut kalah saing, kan?!"
Senja tertawa miris. "Ibu terbalik. Rangga bisa makan enak, bisa dandan rapi, dan bisa dikenal orang itu karena uang saya. Tanpa saya, anak Ibu itu masih jadi tukang parkir di Bali!"
"Jaga mulutmu!" Ibu Lastri berdiri, wajahnya memerah. "Ibu nggak mau tahu. Sebelum urusan cerai ini lanjut, Ibu minta uang kompensasi. Rangga sudah kasih kamu waktu setahun hidup bareng. Kamu harus ganti rugi karena sudah bikin nama baik anak Ibu rusak di internet!"
Senja menyandarkan punggungnya di kursi. Ia merasa sangat muak. Ternyata, sifat "parasit" Rangga memang turunan dari keluarganya. Mereka semua menganggap pernikahan ini adalah kontrak bisnis di mana Senja adalah pihak yang harus selalu membayar.
"Kompensasi?" Senja tersenyum dingin. "Ibu mau tahu berapa total uang yang sudah saya habiskan untuk Rangga dan keluarga Ibu selama setahun ini?"
Senja berdiri, ia berjalan ke arah meja kerjanya dan mengambil sebuah map cadangan yang selalu ia siapkan. Ia meletakkannya di depan Ibu Lastri.
"Di situ ada rincian uang yang saya kirim ke desa setiap bulan untuk renovasi rumah Ibu. Ada biaya pengobatan Bapak di desa. Ada biaya semesteran Doni. Dan ada semua tagihan kartu kredit Rangga yang saya lunasi. Totalnya hampir empat ratus juta rupiah, Bu."
Ibu Lastri terdiam sejenak melihat angka-angka di sana, namun keserakahannya lebih besar daripada rasa malunya. "Ya itu kan sudah kewajibanmu sebagai menantu! Nggak bisa dihitung-hitung lagi!"
"Kalau begitu, saya juga punya hak untuk tidak lagi menjalankan kewajiban itu," sahut Senja. "Keluar dari rumah saya sekarang, sebelum saya panggil keamanan perumahan."
"Kamu ngusir mertua kamu sendiri?" Doni berdiri dengan gaya menantang.
"Mertua? Sejak kapan kalian menganggap aku menantu? Kalian cuma menganggap aku 'Warteg Gratisan', kan? Nah, sekarang wartegnya sudah tutup total. Silakan cari tempat makan gratis di tempat lain," Senja menunjuk ke arah pintu keluar dengan jari yang tidak gemetar sedikit pun.
Ibu Lastri menyambar tasnya dengan kasar. "Awas kamu ya, Senja! Ibu akan pastikan semua orang tahu kalau kamu itu menantu durhaka! Kamu bakal kualat!"
"Silakan, Bu. Kabari saya kalau Ibu sudah selesai bikin drama. Pengacara saya akan sangat senang menambah poin pencemaran nama baik di gugatan nanti," jawab Senja tenang.
Setelah Ibu Lastri dan Doni pergi dengan gerutu yang masih terdengar sampai ke jalan, Senja terduduk lemas di sofa. Ia memijat pelipisnya. Ternyata, meruntuhkan sebuah bangunan yang salah itu memang melelahkan, karena banyak sekali puing-puing beracun yang harus dibersihkan.
Senja menyadari bahwa perjuangannya untuk lepas dari Rangga tidak akan sesederhana tanda tangan di atas materai. Rangga dan keluarganya adalah jenis orang yang akan terus mencoba menariknya kembali ke bawah, ke lumpur kemiskinan dan ketidakjelasan hidup mereka.
Namun, di tengah rasa lelah itu, Senja merasa ada sebuah kekuatan baru yang muncul. Ia bukan lagi Senja yang mudah luluh oleh kata-kata manis atau rasa iba. Ia adalah Arsitek Senja, yang sudah tahu di mana titik-titik lemah musuhnya.
Senja mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan singkat kepada pengacaranya.
"Om, tolong percepat prosesnya. Dan pastikan tidak ada satu rupiah pun harta gono-gini yang jatuh ke tangan mereka. Saya punya bukti bahwa semua aset ini adalah harta bawaan dan hasil keringat saya sendiri sebelum dan selama pernikahan yang dibiayai oleh saya."
Senja berjalan menuju dapur, mencuci gelas bekas mertuanya dengan air mengalir. Ia merasa seolah sedang mencuci semua kotoran yang menempel di hidupnya.
"Kalian salah pilih lawan," bisik Senja. "Aku bisa membangun gedung pencakar langit yang paling rumit. Menghadapi orang-orang seperti kalian hanyalah masalah teknis kecil yang akan segera aku selesaikan."
Malam itu, Senja kembali ke meja kerjanya. Ia mulai mengerjakan proyek galerinya dengan lebih semangat. Ia tahu, cara terbaik untuk membalas orang-orang yang meremehkannya adalah dengan menjadi jauh lebih sukses daripada saat mereka masih bersamanya.
Ia tidak akan membiarkan parasit-parasit itu merusak pemandangan masa depannya lagi. Peta hidupnya sudah ia gambar ulang, dan kali ini, tidak ada tempat untuk siapa pun yang hanya datang untuk menumpang kenyang.
awas jangan smpai nyesel iya
rangga udah keterlaluan
bawa semua bukti" nya kalau rangga itu ga baik biar segera diproses