Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawa Kabur
Hanin masih duduk di depan cermin Meski penata rias dan asistennya telah meninggalkan kamar itu beberapa menit yang lalu. Bukan tengah mengagumi dirinya yang tampil cantik malam itu, tapi dia sedang menanti ponsel yang tergeletak di atas meja itu berdering. Dia sedang menunggu seseorang. Siapa lagi kalau bukan Satya. Meskipun dia tidak yakin Satya akan menghubunginya.
Malam itu dia mengenakan gaun berwarna biru muda terbuat dari bahan tule yang lembut. Dia sadar malam itu dia terlihat berbeda, mungkin lebih cantik, tapi ada sesuatu yang sempat dia sesali mengapa kakaknya tak pernah menyukainya, dan tak pernah terdengar kabarnya. Hanin juga tidak tahu apakah Satya mengetahui malam itu dirinya akan bertunangan dengan Awan atau tidak.
‘Mungkin dia memang tidak perlu mengetahuinya,’ pikir Hanin.
Ponsel di atas meja bergetar, mengejutkannya, tapi itu bukan dari Satya, melainkan dari Awan. Hanin mengangkatnya. Suara di seberang berbicara dengan suara pelan menanyakan persiapannya.
“Aku sudah siap, sebentar lagi aku turun,” balasan Hanin singkat. Ponsel dimatikan, kemudian dia beranjak.
Sebelum meninggalkan ruangan itu, Hanin masih menyempatkan menatap dirinya di cermin. Dalam suara yang lirih dia menggumamkan sebuah kalimat singkat, “Setelah hari ini, hubungan kita akan berakhir, Kak. Hani benar-benar akan melupakanmu.”
Hanin memutar tubuhnya berjalan ke arah pintu. Menenteng sepasang sepatu berhak tinggi di tangan kirinya, sementara tangan kanan mengangkat sedikit gaunnya. Kakinya yang putih berjalan meninggalkan kamar menuruni tangga.
Di lantai bawah dia mendengar suara Miranda berteriak, “Kau tunggu mama di mobil, Hani! Mama sedikit lagi selesai!” teriak Miranda dari dalam kamarnya.
“Iya, Mah!” sahut Hanin.
Melewati ruang tamu, Hanin menemukan Elvan duduk di sana, memandangi dirinya dengan tatapan kagum.
“Putri Papa memang cantik, sayangnya kenapa bukan Satya yang menjadi pasanganmu, Nak,” ungkapnya masih ada penyesalan dalam kalimatnya.
“Pah, ini sudah waktunya, jangan buat Hani bimbang,” protes Hanin.
“Baiklah, papa minta maaf. Papa masih harus menunggu mama, kau ke mobil saja dulu.”
Tanpa mengatakan apa pun, Hanin berjalan menuju garasi.
Meskipun tak rela Hanin bertunangan dengan Awan, tapi setelah merenungkannya dengan pikiran jernih, Miranda dan Elvan akhirnya menerima keputusan Hanin.
Mobil telah terparkir di luar gebang. Setelah mengenakan sepatunya, Hani berjalan ke sana. Pak Joko langsung membukakan pintu untuknya lalu kembali lagi menunggu Elvan dan Miranda.
Pada saat itu sebuah mobil warna hitam berhenti tiba-tiba di depan mobil. Seorang pria dengan wajah ditutup masker keluar dari mobil itu langsung berjalan dengan cepat ke arah Hanin lalu membekap mulutnya. Hanin kaget dan berusaha meronta, tapi tangan pria itu tentu saja jauh lebih kuat darinya.
Pak Joko ingin menolong Hanin, tapi baru saja kakinya melangkah mendekat, pria yang menyembunyikan wajahnya itu menatap ke arah dirinya dengan tajam. Tak mengucapkan apa pun, tapi dia memberikan isyarat untuk tidak mendekat pada Pak Joko.
Pak Joko seperti terhipnotis, ia berdiri mematung dan menyaksikan pria itu pergi menarik Hanin masuk ke dalam mobil. Begitu mobil pergi, Pak Joko baru tersadar.
“Non Hanin ...! Non Hanin diculik!” teriaknya kemudian memanggil Harsa, lalu berlari masuk ke dalam rumah.
Mendengar teriakan Pak Joko, Elvan kaget dan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
“Non Hanin diculik, Pak,” kata Joko panik.
“Diculik? Kok bisa?” tanggapan Elvan kaget.
Pak Joko menjelaskan kejadiannya dengan wajah pucat dan tegang. Bibirnya pun gemetar saat berbicara.
“Pria itu menutup wajahnya, tapi ...”
“Tapi apa?”
Datang Miranda dari dalam rumah, mendengar suara ribut-ribut ia langsung keluar diikuti Mbok Indung.
Sebelum menjelaskan, Elvan meminta Miranda untuk tenang, karena dia tahu istrinya itu pasti syok setelah mendengar ceritanya.
“Cepat, Pah, katakan ada apa?” desak Miranda.
“Hani hilang, Mah, seseorang membawanya kabur.”
Baru setengah dari cerita Elvan, Miranda langsung jatuh pingsan. Elvan sudah menduganya. Dia kemudian meminta Mbok Indung menjaganya kalau perlu menghubungi dokter.
“Jaga ibu, Bik, kalau masih belum sadar panggil dokter, aku harus mencari Hanin!”
“Iya, Pak, Bapak pergi saja dan segera cari Non Hanin, Ibu biar saya yang urus.” Mbok Indung sempat panik, tapi dia tahu apa yang harus dilakukan.
Elvan bingung siapa yang harus dia hubungi.
“Pak, saya rasa Anda jangan terburu-buru menghubungi polisi, saya merasa tidak asing dengan laki-laki itu.”
“Maksudmu kau mengenalnya?” tanya Elvan.
“Ya, hanya saja kalau dipikir-pikir tidak mungkin juga.”
Mendengar penjelasan Pak Joko yang ragu-ragu, Elvan hanya bisa menghubungi Awan dan menceritakan kejadian itu.
Di hotel, Awan menerima kabar menghilangnya Hanin. Dia pun memberitahu Louis tentang hal itu.
“Kau tenang saja, papa akan kirim orang untuk mencarinya.”
“Tapi Papa harus hati-hati, jangan sampai orang-orang papah berbuat gegabah yang membuat Hanin dalam bahaya apa lagi terluka.”
“Tenang saja.”
••
Sementara di dalam mobil penculik itu, Hanin masih ditutup mulutnya dengan kain, tangannya diikat, tak bisa berbuat apa-apa. Hanya sepasang matanya saja yang bergerak-gerak gelisah dia berusaha berontak.
Laki-laki itu menatapnya tajam, menghentikan Hanin berbuat keributan. Hanin membalas menatap laki-laki yang duduk di sampingnya dengan marah. Dia berusaha berbicara, tapi yang keluar hanya suara geramannya saja.
Laki-laki di sampingnya mengenakan kaca mata hitam dan wajah masih ditutup masker. Saat ini dia duduk dengan tenang bersandar di jok selama perjalanan, seolah apa yang sedang dilakukannya bukan sebuah tindak kriminal. Laki-laki itu juga mengenakan topi sehingga Hanin tidak tahu siapa laki-laki itu dan untuk apa menculiknya.
‘Apa dia orang suruhan anak-anak Geng Rubah? Bisa jadi, siapa lagi yang berani melakukan hal ini selain mereka.
Hanin mendadak menginjak kaki laki-laki itu, membuat laki-laki itu berteriak mengaduh mengeluarkan suaranya. Laki-laki itu menatap Hanin tajam. Sayangnya dari balik kaca matanya yang hitam Hanin tak melihat reaksinya, tapi dia yakin laki-laki itu tengah menatap dirinya dengan marah.
Laki-laki itu mendekat, tangannya terulur mencengkeram wajah Hanin.
“Diam, dan jangan macam-macam!”
“Apa kalian tidak apa-apa?” tanya sopir.
Hanin beralih memandang ke arah sopir sekilas.
“Diam! Dan jalan saja!” perintah laki-laki itu. Dia mengalihkan kembali pandangannya yang tajam pada Hanin supaya tidak berbuat macam-macam.
Sekitar dua puluh menit, mereka tiba di sebuah vila. Hanin langsung ditariknya keluar dari dalam mobil masuk ke dalam rumah besar itu, meninggalkan sopir yang penampilannya juga tertutup.
Hanin sangat takut, laki-laki itu terus menariknya menuju lantai atas dan matanya yang bulat melebar saat laki-laki itu mendorong pintu sebuah kamar.
Hanin berusaha menolak saat laki-laki itu membawanya masuk kamar, tapi apalah daya dia tak bisa berbuat apa-apa.
Tiba di kamar, Hanin kembali ditarik masuk, dilempar ke atas ranjang. Laki-laki itu naik menghampirinya.
Laki-laki itu membuka penutup mulut Hanin membuat Hanin sedikit bisa bernafas dan berbicara.
“Siapa kau? mau apa bawa aku kemari? Kembalikan aku pulang!” teriak Hanin sambil berusaha bangun dengan ketakutan, tapi laki-laki itu berhasil menangkap tubuhnya kembali.
Laki-laki itu tak menyahut. Dari sikapnya dia terlihat sangat marah. Dia kembali mendekat dan menutup kedua mata Hanin dengan kain yang sebelumnya untuk menutup mulutnya.
Hanin gelagapan. Dia bertambah cemas saat menyadari laki-laki itu semakin mendekat ke arahnya, dan tiba-tiba membisikkan sesuatu.
“Kau yang memaksaku, Hani. Kau yang sengaja memancing kemarahanku, jadi kau harus menerima hukumannya.”
Hanin merasa tidak asing dengan suara itu, dia sedang memikirkannya, ketika tiba-tiba dia merasakan bibirnya dicium, tangannya ditekan ke atas.
Hanin membeliakkan matanya. Bibir itu terasa hangat, tapi penuh amarah, serta aroma parfum membuatnya merasa yakin siapa laki-laki itu.
‘Benarkah dia? Mengapa dia melakukan ini padaku?’ batin Hanin menduga, meski masih ragu-ragu.
Hanin kesal diperlakukan seperti itu, dia kemudian menggigit bibir laki-laki yang sedang menciumnya, hingga laki-laki itu menghentikan perbuatannya.
“Aku tahu kamu siapa, kau ..., ehmm ....” mulut Hanin kembali dibungkam dengan ciuman, tak diberikan kesempatan untuk bersuara. Dia merasakan juga saat tangan laki-laki itu mulai menurunkan bagian atas gaunnya. Melakukan sentuhan-sentuhan di sana. Hanin hanya bisa marah dalam hati tak bisa berbuat apa-apa.