NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Lari Saat Hamil / Teen Angst / Mafia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:42.5k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.

Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Satu

Malam semakin larut. Rumah itu sudah benar-benar sunyi. Lampu-lampu utama diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu dinding di sepanjang lorong.

Arka masih berdiri di depan jendela kamarnya. Jas sudah ia lepaskan sejak tadi, kemeja putihnya sedikit kusut. Namun ia tidak peduli. Pikirannya terlalu penuh untuk memikirkan hal remeh.

Kalimat Alana terus terngiang di kepalanya. Saya pengasuh Revan.

Nada suara itu tenang. Seolah Alana sudah menerima posisinya sejak awal, seolah tidak ada ruang untuk keberatan, apalagi sakit hati.

Dan justru itulah yang membuat dada Arka terasa sesak. Dia mengepalkan tangan. Kali ini ia tidak mau diam. Tidak mau berlindung di balik sikap dingin dan kalimat singkat. Ia sudah terlalu sering melakukan itu, dan hasilnya selalu sama, orang-orang yang seharusnya tetap tinggal, justru pergi satu per satu.

Arka berbalik, melangkah keluar kamar dengan langkah mantap.

Lorong kamar sunyi. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul dua pagi. Namun Arka tidak peduli. Ia berhenti di depan pintu kamar Alana. Ragu hanya sepersekian detik, lalu tangannya terangkat dan mengetuk pelan.

Tidak ada jawaban. Dia mengetuk lagi. Masih tidak ada suara. Dia mencoba memutar kenop pintu perlahan. Tidak terkunci. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan kamar yang gelap dan kosong.

Lampu meja mati. Ranjang rapi. Tidak ada tanda-tanda Alana di sana.

“Alana?” panggil Arka pelan.

Hening terasa. Jantung Arka berdetak lebih cepat dari seharusnya. Ia melangkah masuk, menyalakan lampu kecil. Tapi, dia tak melihat keberadaan Alana.

Arka lalu keluar dengan langkah cepat, menyusuri lorong menuju dapur. Lampu dapur masih menyala redup. Di sana, Bi Marni sedang merapikan sisa-sisa pekerjaan malam.

“Bi,” panggil Arka.

Bi Marni menoleh, agak terkejut melihat tuannya masih terjaga. “Eh, Tuan. Ada apa malam-malam begini?”

“Bi Marni lihat Alana?” tanya Arka tanpa basa-basi.

Bi Marni berpikir sejenak. “Tadi Mbak Alana pamit mau cek Revan. Katanya mau pastikan bocah itu tidur nyenyak. Mungkin … ketiduran di kamar Revan.”

Napas Arka terasa sedikit lebih ringan. “Terima kasih, Bi.”

Tanpa menunggu jawaban, Arka langsung melangkah cepat menuju kamar Revan.

Di depan pintu kamar anak itu, langkah Arka melambat. Tangannya terangkat, lalu berhenti. Ia menarik napas, lalu memutar kenop pintu perlahan, setenang mungkin.

Lampu tidur kecil menyala. Cahaya kuning lembut menerangi kamar itu.

Pemandangan di hadapannya membuat Arka membeku.

Revan tertidur pulas di tengah ranjang besar, selimut setengah menutup tubuh kecilnya. Di sampingnya, Alana terbaring miring, satu lengannya melingkar protektif di tubuh Revan. Wajah gadis itu terlihat lelah, tapi damai. Rambutnya terurai di bantal, napasnya teratur.

Arka berdiri di ambang pintu cukup lama. Perasaan lega menghantamnya begitu kuat hingga membuat bahunya sedikit mengendur. Alana tidak pergi. Ia tetap di rumah ini. Tetap di dekat Revan.

Dan entah sejak kapan, kedekatan itu ikut mengikat Arka juga.

Arka melangkah masuk perlahan. Ia mendekat ke ranjang, menunduk sedikit untuk memastikan Revan benar-benar tertidur nyenyak. Bocah itu mendengkur pelan, wajahnya tampak santai.

Arka lalu melirik Alana. Ada dorongan kuat di dadanya, bukan nafsu, bukan keinginan yang kasar. Lebih seperti kebutuhan untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Bahwa ia aman. Bahwa ia tidak merasa sendirian.

Arka duduk di tepi ranjang. Ranjang itu sedikit bergeser, membuat Alana bergerak kecil, tapi tidak terbangun.

Dengan sangat hati-hati, Arka merebahkan diri di sisi lain ranjang, menjaga jarak. Ia menarik selimut perlahan agar menutupi mereka bertiga dengan rapi.

Pagi datang perlahan.

Sinar matahari menyelinap lewat celah tirai, jatuh tepat di wajah Alana. Ia mengerjap pelan, kesadarannya kembali sedikit demi sedikit.

Hal pertama yang ia rasakan adalah hangat. Tubuhnya menegang saat ia menyadari ada keberadaan orang lain di ranjang itu. Napas lain. Berat lain di kasur.

Alana membuka mata dengan cepat. Dan hampir saja menjerit.

Arka terbaring di sisi lain ranjang, menghadap ke arahnya. Mata pria itu tertutup, wajahnya tenang, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi dingin yang biasa ia lihat. Alana refleks menutup mulutnya sendiri.

“Apa ....”

Arka menelan sisa suaranya. Jantungnya berdegup keras. Sangat keras.

Pelan-pelan, Alana menurunkan kakinya dari ranjang. Ia bergerak sehalus mungkin, takut membangunkan Revan, apalagi Arka. Setelah berhasil berdiri, ia menoleh sebentar ke ranjang. Revan masih tertidur pulas. Arka pun belum bergerak.

Alana menarik napas panjang, lalu keluar dari kamar itu dengan langkah cepat namun tertahan. Sesampainya di kamarnya sendiri, ia menutup pintu dan menyandarkan punggung ke sana. Dadanya naik turun.

“Astaga ...,” gumamnya lirih.

Alana tidak ingin berpikir macam-macam. Ia tidak boleh berpikir macam-macam. Ia tahu betul posisinya. Kontrak. Perjanjian. Batas yang jelas.

Alana masuk ke kamar mandi, membiarkan air dingin mengalir di tubuhnya, seolah mencoba menyapu sisa perasaan yang terlalu rumit untuk diberi nama.

Setelah mandi, ia mengenakan pakaian sederhana, kemeja lengan panjang berwarna krem dan celana kain gelap. Rambutnya ia ikat rapi.

Ia keluar kamar dengan wajah tenang, seolah malam tadi tidak pernah terjadi.

Dapur sudah ramai. Bi Marni dan dua asisten lain sedang menyiapkan sarapan. Alana langsung ikut membantu tanpa banyak bicara. Tangannya sibuk memotong bawang, menumis bumbu, mengaduk sup.

Alana terlalu fokus memasak, sampai tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak beberapa menit lalu.

Mama Ratna berdiri di ambang dapur. Ia belum mengatakan apa-apa. Ia hanya mengamati.

Gerak tangan Alana rapi. Sikapnya sopan. Wajahnya tenang, tapi mata gadis itu menyimpan sesuatu kelelahan, mungkin juga beban.

Mama Ratna melangkah masuk. Alana baru menyadari kehadiran wanita itu saat bayangannya jatuh di meja dapur.

“Oh ... selamat pagi, Bu,” sapa Alana cepat. Ia menunduk hormat.

Mama Ratna mengangguk tipis. “Pagi.”

Ia tidak langsung pergi. Ia mengambil posisi duduk di kursi dekat meja dapur, masih memperhatikan setiap gerakan Alana.

“Kamu yang masak?” tanya Mama Ratna akhirnya.

“Iya, Bu. Saya bantu Bi Marni,” jawab Alana jujur.

“Sudah lama?” tanya Mama Ratna lagi.

“Sejak subuh,” jawab Alana.

Mama Ratna mengangguk pelan. “Kamu terlihat terbiasa mengurus rumah.”

Alana tersenyum kecil. “Saya memang terbiasa, Bu.”

Ada jeda hening. Hanya suara masakan yang mendidih pelan.

Mama Ratna lalu menyilangkan tangan di dada. Tatapannya kini lebih tajam, lebih fokus.

“Alana,” ucap Mama Ratna.

“Iya, Bu?”

“Ada hubungan apa kamu dengan Arka?”

Pertanyaan itu jatuh begitu saja. Tanpa nada tinggi. Tanpa emosi berlebihan. Tapi cukup untuk membuat tangan Alana berhenti bergerak. Pisau di tangannya terdiam.

Alana mengangkat wajah perlahan. Tatapannya bertemu dengan Mama Ratna. Dia tahu pertanyaan ini akan datang cepat atau lambat.

1
vj'z tri
kelakuahan kanjeng ratu 😡😡😡😡
Naufal Affiq
bik marni,alana sudah di usir dari rumah arka,jadi jangan di cari lagi,biar tau rasa si arka itu
ElHi
semogaaa si Revan tantrum sampe sakit mikirin Alana biar keluarga sombong itu tau rasa!!! cerai aja Alana...sama Rafael ajaah...*)ngarep mode on
Aditya hp/ bunda Lia: aku dukung 👍
total 1 replies
Tiara Bella
si Arkan kemana dia sampe gk tw klu Alana diusir sm mmhnya dia.....
Patrick Khan
emak arka jahat bgt . 🔥
muhammad ihsan
jangan pisahkan alana dan arka thor
Maria Kibtiyah
semoga si arka tau alana di usir emaknya
Suanti
semoga aja berjodoh sm rafael
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭
astr.id_est 🌻
mewek 😢
astr.id_est 🌻
alana yang malang
Kasih Bonda
next Thor semangat
Ida Nur Hidayati
semoga Alana ditolong orang baik dan iklas
Cindy
lanjut kak
Radya Arynda
Dasar wanita somboh,angkuh dan jahat,,,,saat revan sudah mulai bahagia malah alana di usir,,,,si pecu dang arka juga habis merkosa peegi dasar iblis,,,,semogah revan sakit parah biar nenek sihir tau rasa....
dyah EkaPratiwi
ditunggu tantrumnya Revan biar arka n mama Ratna pusing
Oma Gavin
rasakan kamu arka dan ratna Revan tantrum ditinggal alana
Salim ah
semoga yg menolong Alana Rafael dan dibawa kerumahnya🙄
Patrick Khan
pasti Rafael itu..
Ilfa Yarni
siapa yg menolong Alana apakah rafael
Radya Arynda
semogah kamu di tolong orang baik,,dan mau merubah mu lebih kuat dan berani jangan lembek lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!