Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 26 : Kucing dan Onigiri
26 jam sebelum semi-final, Chef Min Ho diharuskan tiba di kantor perusahaan SS Corp, sebagai penerima giliran terakhir untuk wawancara eksklusif. Saat ini, dalam unit asrama pria yang ditempati oleh Chef Ik Jun dan Chef Min Ho terdengar keributan.
"Hwang Min Ho! Cepat bangun, kau akan terlambat! Waktumu hanya 1 jam," sentak Chef Ik Jun, seraya mengguncang selimut yang ditarik kuat-kuat oleh sang pangeran tidur.
"Hmm, biar saja. Aku tidak memerlukan promosi majalah atau apalah itu," lirih Chef Min Ho, masih setengah terpejam.
Keplak!
"Aduh!" seru Chef Min Ho yang akhirnya terbangun, seketika kepalanya dipukul dengan bantal milik lawan bicaranya.
"Cepat berdiri dan bersiaplah, atau aku akan merekam video tampangmu sekarang," perintah Chef Ik Jun tanpa ampun.
Tidak mampu melawan lagi, Chef Min Ho berdecak pelan, lalu beranjak dan berjalan ke kamar mandi.
Saat itu, jam dinding menunjukkan hampir pukul enam pagi waktu Korea Selatan. Sementara, kalender bertuliskan hari Selasa, tanggal 6 Januari 2026.
Beberapa menit setelah Chef Min Ho telah siap dengan berpakaian rapi, Chef Ik Jun menyodorkan makanan kepadanya.
"Makan ini dalam perjalanan. Lalu, jangan lupa membeli minuman," kata pria itu.
"Onigiri? Apa kau yang membuatnya?" tanya Chef Min Ho, lalu menerima pemberian itu dengan acuh tak acuh.
"Bukan, aku membelinya," balas Chef Ik Jun singkat.
"Hah? Maksudmu, ini sudah basi?" geram Chef Min Ho.
"Ei, mana mungkin aku berniat meracunimu? Tentu saja, aku baru membelinya kemarin. Lalu, kusimpan di lemari es untuk kumakan pagi ini. Bahkan, sudah kupanaskan untukmu. Dasar tidak tahu berterima kasih!" sentak Chef Ik Jun, disertai tendangan berlipat ganda dari kaki panjangnya.
"Aduh, aduh! Ya sudah, aku mengerti," desis Chef Min Ho, sambil menghindari room-mate yang mengamuk itu.
Tanpa berbasa-basi, Chef Min Ho beranjak keluar dan menutup pintu.
"Ckck, celana panjangku jadi berdebu karenanya," desah pria itu kesal, sambil menepuk-nepuk kakinya.
Chef Min Ho berjalan gesit menuruni tangga dan undakan di bawah unit apartemennya, hingga tiba di jalanan.
Seketika hendak pergi secepatnya, pria itu dikagetkan oleh suara kucing yang melesat di depannya.
"Akh, bikin kaget saja! Hei, jangan menghalangiku. Aku sedang terburu-buru," omelnya, namun kucing itu tidak bergeming.
Meong.
Suara mahkluk itu semakin meraung-raung, sehingga Chef Min Ho berjongkok untuk mengamatinya.
"Kamu kenapa? Kedinginan ya?" tanya pria itu, sambil sesekali mengecek waktu pada jam tangannya.
Kucing itu mulai mengendus-endus jaket yang dikenakan oleh Chef Min Ho, lalu pria itu paham.
"Oh, rupanya kau lapar. Ya sudah, ini makanlah," kata Chef Min Ho, dengan cepat membuka plastik pada onigiri yang bertuliskan spidol merah 'salmonku.'
Kucing itu pun langsung makan dengan lahap.
"Imut juga kucing ini. Maaf, aku tidak bisa bermain denganmu sekarang, tapi kurasa aku harus membawamu," terangnya pada sang kucing.
Mau tidak mau, pria itu berlarian sambil membawa si meong yang masih menikmati bekal dari Chef Ik Jun.
Walau diperhatikan oleh orang-orang di sekelilingnya saat menaiki bus dan berjalan cepat, Chef Min Ho termasuk seorang yang bermuka tebal, percaya diri, atau memang berkarakter unik.
"Selamat datang--"
Sapaan hormat dari Manager Kwak terhenti saat Chef Min Ho tiba.
"Maaf, saya sedikit terlambat. Di tengah jalan saya menemukan kucing tersesat ini," jelas Chef Min Ho lancar, walau orang di hadapannya masih nampak kebingungan.
"Haha, begitukah? Saya kira Chef yang kehilangan arah, lalu sedikit terlambat," canda Manager Kwak, dengan sedikit canggung.
"Hmm.. Bagaimana sebaiknya saya memanggil Anda? Manager atau editor Kwak?" ulas Chef Min Ho.
"Nampaknya, Chef sudah mendengar sedikit tentang saya dari Chef sebelumnya. Panggilan saya memang keduanya, jadi Chef tinggal memilih," respon Manager Kwak.
"Kalau begitu, Manager Kwak. Mohon maaf sebelum dimulai, saya ingin menitipkan kucing ini," pinta Chef Min Ho, lagi-lagi diikuti oleh reaksi terkejut dari pendengarnya.
"Oh, boleh... Silahkan," ujar Manager Kwak, sembari mengatur kendala itu secara ringkas.
Tak lama kemudian, akhirnya urusan penting Chef Min Ho berjalan lancar.
Di sisi lain, Eun Chae yang belum menemukan Bam nampak lesu dan kurang berselera makan.
"Eun Chae-ya," panggil Chef Do saat keduanya sedang sarapan, lalu mendekatkan kursinya di sisi wanita itu.
"Ya, Chef," jawab Eun Chae pelan.
"Kamu membuatku sedih. Seharusnya kamu makan, lalu bersemangat mencari Bam bersamaku," bujuk pria itu perhatian.
Tanpa bersuara dan patuh, Eun Chae menghabiskan makanannya, lalu beranjak untuk mencuci piring.
"Biar aku saja," sanggah Chef Do, seolah memberi kesempatan pada Eun Chae untuk mengosongkan pikiran.
Waktu berlalu dengan cepat, hingga pukul 12 siang di kota Seoul. Kali ini, Chef Do menggandeng tangan Eun Chae dan keluar bersama wanita itu untuk mencari Bam.
"Karena akan lama, sebaiknya kita makan siang dulu," arah Chef Do, lalu membawa Eun Chae ke sebuah kedai.
Keduanya duduk dan langsung memesan makanan. Dua menit kemudian, beberapa orang tamu lain mulai memadati tempat itu.
"Chef!" panggil Eun Chae tiba-tiba, seolah melihat hantu.
"Eun Chae-ya. Ada apa?" respon Chef Do, lalu berpaling ke arah pandangan Eun Chae.
"Bam-- kucingku. Benar, itu Bam!" seru Eun Chae, lalu segera bangkit berdiri dan melangkah mendekati meja seorang tamu yang tak diperhatikannya.
Dengan cekatan, Chef Do mengikutinya dan menatap lurus kepada tamu yang belum juga sadar.
"Chef Min Ho," panggil Chef Do.
"Oh?" respon orangnya, seraya membalas tatapan Chef Do.
"Sepertinya, hari ini giliranmu diliput oleh editor majalah. Lalu, dari mana kau temukan kucing ini?" tanya Chef Do, dengan sedikit berbasa-basi.
"Ah, kucing ini kutemukan saat berangkat tadi pagi," jelas Chef Min Ho singkat, lalu menatap ke arah wanita yang tak dikenalinya.
"Wanita ini asisten, sekaligus kekasihku. Dan, dia sedang mencari kucingnya yang hilang," bahas Chef Do, tanpa menunda waktu.
"Annyeonghaseyo, aku Kim Eun Chae. Mungkin kau tidak ingat, tapi kita pernah berjumpa sewaktu kompetisi tim dua orang," sapa Eun Chae sopan.
Chef Min Ho membalas dengan serupa, lalu menyadari maksud kedua orang yang masih saja berdiri di hadapannya.
"Jangan-jangan, kucing ini-- Dia yang kau cari?" terkanya, lalu diresponi dengan anggukan kepala Eun Chae.
"Terima kasih telah menemukan Bam," ucap Eun Chae yang menerima kucingnya dari tangan yang diulurkan Chef Min Ho, sembari mendesahkan nafas lega, lalu membungkuk hormat kepada pria itu.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya kebetulan menemukan kucing kelaparan ini," tegas Chef Min Ho.
"Kau beri dia makan apa? Bukankah hari ini kau sibuk?" tanya Chef Do spontan.
"Onigiri-- Isiannya salmon teriyaki. Awalnya, Chef Ik Jun memberikan onigiri itu padaku sebagai bekal--," ulas Chef Min Ho, namun tidak jadi diteruskannya.
"Rupanya begitu. Bam memang paling suka onigiri, apalagi dengan isian ikan," kata Eun Chae ceria.
"Jadi, namanya Bam? Untung dia kembali kepada pemiliknya, sebelum terjadi sesuatu," ujar Chef Min Ho, yang diam-diam sempat mempedulikan nasib seekor kucing yang tak berkaitan dengannya.
- Bersambung -