NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:964
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Siang itu, matahari Bali bersinar terik namun terasa menyegarkan dengan hembusan angin laut yang kencang.

Ariel memutuskan untuk mengajak Relia keluar dari ketenangan Ubud menuju keriuhan yang ikonik di Pantai Kuta.

Meskipun tangan kanannya masih dibalut perban, Ariel tampak santai mengenakan kemeja linen tipis yang terbuka kancing atasnya, sementara Relia terlihat cantik dan segar dengan sundress motif bunga dan topi jerami.

Langkah kaki mereka tenggelam di pasir putih yang hangat.

Relia menghirup dalam-dalam aroma air garam dan tabir surya yang memenuhi udara.

Tidak ada lagi ketakutan akan kerumunan; dengan Ariel di sisinya, dunia terasa seperti tempat bermain yang aman.

"Mas, lihat! Ada penjual gorengan!" seru Relia dengan mata berbinar.

Ariel tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang tampak seperti anak kecil yang menemukan harta karun.

"Kamu mau? Ayo, kita beli."

Relia dengan semangat memilih beberapa bakwan sayur yang masih panas dan renyah, serta tahu isi yang aromanya sangat menggoda.

Tak jauh dari sana, ia juga memesan dua buah es kelapa muda yang disajikan langsung di dalam tempurungnya.

Mereka kemudian duduk di bawah naungan pohon ketapang, beralaskan kain pantai yang disiapkan oleh Satrio—yang tetap memantau dari jarak yang aman.

"Ini, Mas. Buka mulutmu," ucap Relia sambil menyuapkan potongan bakwan yang dicocol sambal ke mulut Ariel.

"Hm, enak sekali. Makan gorengan di pinggir pantai ternyata punya kasta rasa tersendiri ya?" canda Ariel sambil mengunyah.

Ia kemudian menyeruput es kelapa mudanya, merasakan kesegaran yang menjalar ke seluruh tubuh.

Relia tersenyum sambil menikmati kelapa mudanya.

"Dulu, aku hanya bisa membayangkan semua ini dari balik jendela kamar yang terkunci, Mas.

Makan gorengan panas, minum air kelapa, dan melihat orang-orang berselancar... ini terasa seperti mimpi yang sangat nyata."

Ariel merangkul bahu Relia dengan tangan kirinya, menariknya agar bersandar di dadanya.

"Ini bukan mimpi, Sayang. Ini adalah kenyataan yang akan kita jalani setiap hari. Tidak akan ada lagi jendela yang terkunci untukmu."

Di tengah suasana santai itu, beberapa turis lokal sempat mengenali wajah Relia. Namun, alih-alih merasa terintimidasi, Relia justru membalas senyuman mereka dengan tulus. Ia tidak lagi merasa perlu bersembunyi.

Saat mereka sedang asyik menikmati sisa bakwan dan segarnya es kelapa muda, tiga orang gadis remaja mendekat dengan langkah ragu-ragu.

Salah satu dari mereka memeluk sebuah buku tebal dengan sampul yang sudah tampak sering dibaca—itu adalah kumpulan tulisan Relia yang baru saja diterbitkan secara terbatas oleh penerbit mayor.

"Maaf, apakah benar ini Kak Relia?" tanya gadis itu dengan suara gemetar karena antusias.

Relia menoleh, sempat ada kilatan gugup di matanya, namun genggaman tangan Ariel di bahunya memberinya kekuatan instan.

Relia tersenyum tulus. "Iya, benar. Saya Relia."

"Ya Tuhan! Kak, kami pembaca setia tulisan Kakak dari awal! Tulisan Kakak benar-benar menyelamatkan aku dari masa-masa sulit," ucap gadis itu sambil menyodorkan buku tersebut dan sebuah pulpen.

"Boleh kami minta tanda tangan di buku ini? Kami tidak menyangka bisa bertemu Kakak di sini!"

Relia tertegun melihat bukunya sendiri ada di tangan orang asing di pinggir pantai.

Ia menatap Ariel sejenak, dan Ariel memberikan anggukan mantap sambil membukakan tutup pulpen tersebut untuk istrinya.

"Tentu saja boleh," jawab Relia lembut.

Dengan beralaskan paha sendiri, Relia menggoreskan tanda tangannya.

Ia tidak hanya menuliskan nama, tapi juga sebuah pesan pendek:

"Terima kasih sudah bertahan. Matahari selalu terbit setelah malam yang paling gelap."

"Terima kasih banyak, Kak! Dan, terima kasih Dokter Ariel sudah menjaga Kak Relia untuk kami!" seru teman gadis itu sambil melambai sebelum mereka pergi dengan wajah sumringah.

Ariel mencolek dagu Relia yang tampak masih terharu.

"Lihat? Kamu sudah jadi selebriti pantai sekarang. Habis ini mungkin penjual kelapanya juga minta tanda tangan."

Relia tertawa, tawanya lepas menyatu dengan suara deburan ombak Kuta.

"Rasanya luar biasa, Mas. Ternyata dikenal karena sesuatu yang baik itu tidak menakutkan seperti yang aku bayangkan."

Ariel kemudian berdiri, mengulurkan tangan kirinya untuk membantu Relia bangkit.

"Sudah cukup sesi tanda tangannya. Sekarang, bagaimana kalau kita jalan ke arah air? Aku ingin melihat kakimu terkena buih ombak untuk pertama kalinya sebagai Nyonya Arkatama yang merdeka."

Matahari di ufuk barat mulai menyentuh garis laut, menciptakan gradasi warna jingga dan ungu yang memukau di langit Kuta.

Ariel mendekatkan wajahnya ke telinga Relia, embusan napasnya yang hangat terasa kontras dengan angin pantai yang sejuk.

"Sayang, jangan terlalu kenyang dengan bakwan tadi," bisik Ariel dengan suara rendah yang menggoda.

"Aku sudah menyiapkan sesuatu yang spesial. Sebuah kapal pesiar kecil sudah menunggu kita di pelabuhan Benoa. Kita akan makan malam romantis di tengah laut untuk merayakan tangan ini yang mulai bisa menggenggammu lagi."

Relia tersentak kecil, matanya membelalak bahagia.

"Makan malam di atas yacht, Mas? Benarkah?"

Ariel mengangguk mantap, menunjukkan binar penuh kemenangan di matanya.

"Hanya kita berdua, bulan, dan bintang."

Sambil berjalan kembali menuju mobil SUV yang dijaga Satrio, Relia tidak bisa menahan desakan inspirasi yang muncul di kepalanya.

Ia segera mengeluarkan iPad Pro barunya dari tas, jemarinya menari dengan cepat di atas layar yang jernih, mengabaikan guncangan kecil saat langkahnya membelah pasir pantai.

Dulu, satu-satunya perjalanan yang aku tahu adalah lorong gelap antara kamar dan ruang bawah tanah.

Batas duniaku hanyalah tembok beton yang dingin. Namun hari ini, pria ini membawaku ke batas yang tak terhingga—pertemuan antara laut dan langit.

Dia merayakan kesembuhannya dengan memberiku dunia yang lebih luas.

Dia ingin aku tahu bahwa cinta kami setinggi langit yang kami terbangi kemarin, dan sedalam samudra yang akan kami arungi malam ini.

Tangan yang dulu terluka karena melindungiku, kini sedang menuntunku menuju dermaga baru.

Di atas kapal itu nanti, aku tidak hanya akan menikmati hidangan mewah, tapi aku akan meminum setiap detik kebebasan yang telah ia perjuangkan untukku.

Terima kasih, Mas Ariel. Di atas yacht itu nanti, aku akan menuliskan nama kita di atas air, agar laut pun tahu bahwa cinta kita telah menang.

Relia menutup iPad-nya saat Satrio membukakan pintu mobil untuk mereka.

Ia menatap Ariel dengan tatapan yang penuh cinta dan kekaguman.

"Aku sudah tidak sabar, Mas," ucap Relia lembut.

Ariel menggenggam tangan Relia, kali ini dengan tekanan yang sedikit lebih kuat dari biasanya—sebuah tanda bahwa saraf tangannya memang mulai pulih dengan pesat.

"Malam ini akan menjadi malam yang tidak akan pernah kamu lupakan, Relia Arkatama."

1
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!