NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Lampu-lampu di dek utama perlahan meredup saat yacht itu melaju pelan menuju perairan yang lebih tenang untuk membuang sauh.

Ariel membimbing Relia turun ke lantai bawah, menuju kabin utama yang lebih menyerupai kamar hotel bintang lima daripada sebuah ruangan di atas kapal.

Kabin itu berdinding kayu mahoni yang hangat dengan jendela-jendela besar yang memperlihatkan kegelapan samudra yang sesekali berkilau terkena cahaya bulan.

Di tengah ruangan, sebuah tempat tidur luas dengan seprai sutra putih telah disiapkan, menebarkan aroma lavender yang menenangkan.

"Masih merasa seperti mimpi?" bisik Ariel sambil membantu Relia melepaskan kalung berliannya dan meletakkannya dengan aman di atas meja rias.

Relia berbalik, melingkarkan lengannya di pinggang Ariel.

"Jika ini memang mimpi, aku mohon jangan bangunkan aku, Mas."

Ariel terkekeh rendah, ia merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk dan menarik Relia ke dalam dekapan tangan kirinya yang kuat.

Ia memposisikan kepala Relia di dadanya, tempat di mana istrinya bisa mendengar detak jantungnya yang tenang dan stabil.

Suara air laut yang menghantam lambung kapal menciptakan melodi alami yang sangat ritmis, seolah-olah samudra sedang menyanyikan lagu pengantar tidur khusus untuk mereka berdua.

Perlahan, ketegangan yang tersisa di otot-otot Relia menguap.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak perlu mengunci pintu atau merasa waspada dengan suara sekecil apa pun.

"Tidurlah, Relia," gumam Ariel sambil mengecup keningnya.

"Besok pagi, saat kamu bangun, aku akan tetap di sini. Dan matahari akan bersinar jauh lebih terang."

Relia mengangguk kecil, matanya perlahan memberat.

Di tengah ayunan lembut kapal yang menenangkan, ia akhirnya jatuh terlelap dalam tidur paling nyenyak yang pernah ia alami.

Malam itu, bukan hanya tubuh mereka yang beristirahat, tapi juga jiwa mereka yang telah melewati badai besar.

Matahari pagi di Ubud menyambut kepulangan mereka ke villa dengan cahaya yang menembus celah pepohonan tropis.

Setelah malam yang magis di atas yacht, wajah Relia tampak jauh lebih segar.

Mereka duduk di beranda, menikmati sarapan nasi kuning hangat dan buah-buahan segar, ditemani suara gemericik air sungai yang menenangkan. Namun, ketenangan itu pecah saat ponsel Ariel yang tergeletak di meja bergetar hebat. Nama Satrio muncul di layar.

Ariel mengangkatnya, dan perlahan raut wajahnya berubah menjadi serius.

"Ada apa, Mas?" tanya Relia, tangannya yang memegang sendok terhenti di udara.

Ariel meletakkan ponselnya, ia menatap Relia dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Satrio baru saja mendapat kabar dari Jakarta. Sarah, dia dilarikan ke rumah sakit semalam. Kondisinya kritis karena overdosis obat penenang. Sepertinya dia tidak kuat menghadapi tekanan pemeriksaan polisi dan rasa bersalahnya."

Relia tertegun. Sendok di tangannya berdenting saat bersentuhan dengan piring porselen. Nama Sarah selalu membawa luka lama—kakak kandungnya sendiri yang justru menjadi jembatan penderitaannya di tangan Markus.

Ariel meraih tangan Relia, mengusapnya lembut.

"Apakah kamu mau kita pulang ke Jakarta sekarang? Kita bisa memesan penerbangan tercepat jika kamu ingin menemuinya."

Relia terdiam cukup lama, matanya menatap hamparan sawah di depan mereka, namun pikirannya terbang ke masa lalu yang kelam. Perlahan, ia menggelengkan kepalanya dengan mantap.

"Tidak, Mas," jawab Relia lirih namun tegas.

"Aku tidak mau bertemu dengannya. Bukan karena aku ingin dia mati, tapi karena aku belum sanggup melihat wajah yang mengingatkanku pada setiap detik penderitaanku dulu."

"Tapi dia kakakmu, Relia..."

"Dia kakakku yang membiarkan adiknya dihancurkan, Mas," potong Relia dengan suara bergetar.

"Aku sudah memaafkannya di dalam hatiku agar aku bisa tenang, tapi untuk menemuinya, itu terlalu berat. Aku ingin egois sekali saja. Aku ingin menikmati kebahagiaan ini tanpa bayang-bayang mereka."

Ariel mengangguk paham. Ia tidak memaksa. Ia menarik kursi lebih dekat dan memeluk Relia dari samping.

"Baiklah. Kita tetap di sini. Aku akan meminta tim medis terbaik di rumah sakit kita untuk menanganinya, tapi kita tidak akan pulang sampai kamu benar-benar siap."

Relia menyandarkan kepalanya di bahu Ariel. Ia meraih iPad-nya dan mulai mengetik sebuah kalimat baru:

Memaafkan bukan berarti harus kembali merangkul racun yang pernah membunuhmu. Terkadang, menjaga jarak adalah cara terbaik untuk mencintai diri sendiri.

Ariel mengerti bahwa batin Relia sedang berperang.

Berita tentang Sarah adalah ombak yang mencoba mengeruhkan air ketenangan yang baru saja mereka bangun.

Tanpa banyak bicara, Ariel menuntun Relia menuju sebuah paviliun kayu di tepi tebing villa, tempat di mana pemandangan lembah Ubud terbentang luas tanpa batas.

Di sana, di atas matras yang sudah disiapkan, mereka melakukan gerakan yoga sederhana. Ariel, meskipun tangannya masih terbatas, fokus membimbing pernapasan Relia.

"Tarik napas, Sayang. Bayangkan udara bersih dari lembah ini masuk dan menyapu semua sisa sesak di dadamu," bisik Ariel dengan suara baritonnya yang menenangkan.

"Buang perlahan, biarkan kenangan tentang Sarah terbawa angin."

Relia mengikuti setiap instruksi Ariel. Perlahan, detak jantungnya yang tadi memburu mulai melambat.

Otot-otot bahunya yang tegang mulai rileks. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini bukan hanya suami dan pelindungnya, tapi juga penyembuh jiwanya.

Setelah sesi yoga berakhir, mereka duduk bersila saling berhadapan.

Relia menatap mata Ariel yang jernih, lalu ia memajukan tubuhnya dan mendaratkan sebuah ciuman lembut namun penuh perasaan di bibir suaminya.

Ciuman itu terasa manis dan menenangkan, sebuah cara Relia untuk mengatakan bahwa ia baik-baik saja selama Ariel ada di sana.

"Terima kasih, psikiaterku," bisik Relia pelan saat tautan bibir mereka terlepas, ia menyunggingkan senyum tipis yang tulus.

Ariel tertawa kecil, ia mengusap pipi Relia yang mulai kembali merona.

"Aku bukan psikiatermu, Relia. Aku adalah pria yang sedang merawat hartanya yang paling berharga. Psikiater akan memberimu resep obat, tapi aku hanya akan memberimu resep kebahagiaan setiap hari."

Relia terkekeh, rasa hambar karena berita Sarah perlahan hilang.

"Resepnya sangat manjur, Dokter."

Ariel kemudian menarik Relia ke dalam pelukannya, membiarkan mereka berdua hanyut dalam suara air terjun dari kejauhan.

"Ingat, kamu tidak berutang apa pun pada masa lalumu, bahkan pada Sarah sekalipun. Hari ini adalah milikmu."

Relia mengambil ponselnya, mengarahkan kamera ke arah mereka berdua dengan latar belakang lembah Ubud yang berkabut indah.

Ariel merangkulnya posesif, wajahnya tampak segar dan bahagia meskipun tangan kanannya masih terbalut perban.

Relia tersenyum lebar, binar matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar telah "pulang" ke tempat yang aman.

Ia mengunggah foto itu dengan caption singkat namun bermakna:

Penyembuhanku bukan hanya tentang waktu, tapi tentang siapa yang menggenggam tanganku. Terima kasih sudah menjadi pelabuhan dan psikiater pribadiku, Mas. #HealingInBali #NewChapter"

Hanya dalam hitungan menit, kolom komentar media sosialnya meledak.

Ribuan orang yang selama ini mengikuti kisah dramatis mereka di berita nasional langsung menyerbu dengan beragam reaksi.

@Netizen_Sejati 'Masya Allah, Kak Relia auranya beda banget! Jauh lebih cantik kalau lagi bahagia begini. Dokter Ariel, tolong jaga bidadari kami ini selamanya ya!'

@Pejuang_MentalHealth 'Lihat foto ini aja udah bikin tenang. Terima kasih sudah menginspirasi kami bahwa korban trauma bisa punya akhir yang bahagia. Semangat Kak Relia!'

@Dunia_Sastra 'Penulis favoritku sedang jatuh cinta! Ditunggu bab terbarunya di iPad baru ya, Kak. Pasti tulisannya makin penuh cinta!'

@Rekan_Ariel 'Cepat sembuh tangannya, Bro! Ternyata resep paling manjur buat Dokter Ariel cuma senyum istrinya ya? Hahaha.'

@Anti_Pelakor 'Tuh lihat, yang tulus akhirnya menang. Biarkan yang jahat membusuk di sana, yang penting kalian bahagia di Bali!'

Relia membaca komentar-komentar itu sambil tersenyum, sesekali ia tertawa kecil melihat netizen yang menggoda mereka soal "debay" (bayi) Arkatama.

Ariel yang ikut mengintip dari balik bahunya hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum gemas.

"Sepertinya seluruh Indonesia sedang memantau bulan madu kita, Sayang," bisik Ariel sambil mencium pelipis Relia.

"Biarkan saja, Mas," jawab Relia sambil meletakkan ponselnya.

"Sekali-kali, aku ingin mereka tahu bahwa kegelapan tidak pernah menang melawan cahaya."

Relia kembali meraih iPad Pro barunya, jemarinya yang lentik mulai menari di atas layar dengan ritme yang lebih cepat, didorong oleh gelombang energi positif dari ribuan doa netizen.

Ariel yang melihat istrinya begitu bersemangat, memilih untuk duduk tenang di sampingnya, membiarkan istrinya tenggelam dalam dunia imajinasi yang kini tak lagi menakutkan.

Dukungan Semesta

Dulu, aku selalu merasa berjalan sendirian di lorong yang sempit dan gelap.

Aku mengira dunia adalah tempat yang jahat, di mana semua orang hanya akan menunjuk luka tanpa pernah mau membantu menyembuhkannya.

Aku mengunci diri, bukan hanya dalam ruangan, tapi dalam sangkar pikiranku sendiri. Namun hari ini, layar kecil di tanganku menunjukkan hal yang berbeda.

Ribuan kata semangat, doa dari orang-orang yang bahkan tak pernah menjabat tanganku, mengalir seperti sungai yang menyejukkan.

Mereka menyebutku inspirasi, padahal merekalah yang memberiku napas baru.

Ternyata, saat kita berani melangkah keluar dari kegelapan, semesta tidak tinggal diam.

Ia menggerakkan hati orang-orang asing untuk menjadi perisai doa.

Semesta mengirimkan pelindung dalam wujud seorang suami yang sabar, dan mendukungku melalui jemari-jemari anonim yang mengetikkan kata 'semangat'.

Aku tidak lagi sendirian. Dukungan semesta ini membuktikan bahwa cinta selalu lebih besar daripada benci, dan keberanian untuk bersuara adalah kunci untuk membuka pintu keajaiban.

Relia menghentikan ketikannya sebentar, ia menoleh ke arah Ariel yang memperhatikannya dengan tatapan penuh pemujaan.

"Mas, aku baru sadar. Bahkan orang-orang yang tidak mengenalku pun ingin aku bahagia. Kenapa dulu aku begitu takut ya?" tanya Relia pelan.

Ariel menarik Relia ke dalam pelukannya. "Karena trauma itu seperti kabut, Sayang. Dia menutupi semua keindahan yang ada di depan mata. Sekarang kabut itu sudah hilang, dan kamu bisa melihat betapa banyak orang yang menyayangimu."

Relia tersenyum, ia menambahkan satu kalimat terakhir di babnya sebelum menekan tombol simpan:

Terima kasih, Semesta. Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk dicintai dengan cara yang paling indah.

1
Yuningsih Nining
😭😭
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!