Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Rapat Perdana & Tatapan Maut
"Ini konyol! Kenapa ada orang sipil di ruang taktis? Ini pelanggaran kode etik berat, Komandan!"
Suara bentakan itu menggelegar di Ruang Rapat Utama Divisi Kriminal. Pak Herman, penyidik senior yang perutnya buncit dan rambutnya mulai memutih, menggebrak meja dengan wajah merah padam. Dia menunjuk Zoya yang baru saja melangkah masuk dengan santai, seolah wanita itu adalah wabah penyakit.
Zoya tidak berhenti. Dia mengenakan kemeja sutra hitam polos dengan lengan digulung rapi, celana bahan warna krem, dan sepatu hak tinggi yang bunyinya menggema tegas di lantai keramik: tak, tak, tak.
Tanpa permisi, Zoya berjalan lurus ke ujung meja—posisi kehormatan, kursi singgasana yang biasanya diduduki pemimpin rapat.
"Minggir," ucap Zoya datar pada Raka yang kebetulan berdiri di dekat kursi itu.
Raka gelagapan, melirik Kalandra. "Eh... tapi Bu, ini kursi..."
Zoya tidak menunggu. Dia menarik kursi kulit hitam yang besar itu, lalu duduk dengan tenang. Dia menyilangkan kaki, meletakkan tabletnya di meja, dan menatap sekeliling ruangan dengan aura dominan yang mencekik.
Kalandra, yang masuk di belakang Zoya, hanya menghela napas pasrah. Dia menarik kursi lipat biasa di sebelah Zoya, lalu duduk tanpa protes.
Hening. Satu ruangan melongo. Komandan mereka—Singa Reskrim yang ditakuti—baru saja rela duduk di kursi 'ajudan' dan membiarkan istrinya mengambil alih tahta.
"Komandan! Anda membiarkan istri Anda main rumah-rumahan di sini?" protes Pak Herman lagi, merasa harga dirinya sebagai senior diinjak-injak. "Kita sedang membahas pembunuh berantai, bukan arisan!"
"Duduk, Pak Herman," perintah Kalandra dingin, matanya menyorot tajam. "Dia Konsultan Khusus yang ditunjuk langsung oleh Jenderal Bramantyo. Kalau Bapak tidak suka, silakan ajukan pensiun dini sekarang juga."
Pak Herman kicep. Dia mendengus kasar, lalu duduk dengan ogah-ogahan.
"Baiklah, kalau memang dia ahli," tantang Pak Herman sinis. "Coba kita dengar pendapat Nyonya Besar ini. Tim saya menyimpulkan bahwa pelaku adalah orang kidal, berdasarkan luka tusuk di bahu korban pertama. Kami sudah menyisir data dokter kidal di tiga rumah sakit, tapi hasilnya nihil. Menurut saya, pelaku bukan dokter, tapi tukang jagal hewan."
Zoya menatap Pak Herman lekat-lekat, lalu tersenyum tipis—senyum yang meremehkan.
"Tukang jagal?" ulang Zoya pelan. "Analisis yang sangat... dangkal. Pantas saja kasus ini mangkrak tiga bulan."
"Jaga bicara kamu!"
"Bapak yang harusnya buka mata," potong Zoya cepat, suaranya menajam. Dia mengetuk meja dengan pulpen mahal. "Tukang jagal memotong kasar, merusak tulang. Pelaku ini memisahkan daging dari tulang tanpa menggores periosteum sedikit pun. Itu butuh keahlian bedah mikro, bukan golok daging."
Zoya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dan soal kidal? Itu salah total. Pelaku bertangan kanan dominan. Luka tusuk itu miring karena dia menyerang dari belakang dengan posisi pisau terbalik—teknik militer atau pembunuh bayaran, bukan teknik jagal sapi. Kalian membuang waktu menyisir data orang kidal, sementara pelaku yang sebenarnya sedang tertawa melihat kebodohan kalian."
"Tahu apa kamu soal teknik membunuh?" cibir Pak Herman, masih tidak mau kalah. "Kamu cuma dokter mayat, bukan detektif."
"Justru karena saya dokter mayat, saya tahu bahasa tubuh orang mati, Pak," balas Zoya telak. "Mayat itu jujur. Tidak seperti Bapak yang sibuk cari muka tapi minim data."
"Kurang ajar!" Pak Herma hendak berdiri, tapi Kalandra menahan bahunya kuat-kuat.
"Cukup," lerai Kalandra tegas. Dia menoleh ke Zoya. "Zoya, tunjukkan profil pelakunya. Biar mereka paham."
Zoya mengangguk. Dia menoleh ke arah Sinta yang duduk di pojok dekat proyektor, bertugas sebagai operator laptop.
"Sinta, tampilkan file yang saya kirim tadi pagi. Folder 'Analisis Puppeteer'," perintah Zoya.
Sinta tersenyum manis, senyum yang terlalu lebar dan mencurigakan. "Siap, Bu."
Jari Sinta menari di atas keyboard. Layar proyektor berkedip-kedip sebentar. Semua mata tertuju ke layar putih besar di dinding.
Namun, bukan data profil atau foto tersangka yang muncul. Justru layar biru dengan tulisan besar: FILE CORRUPTED.
"Waduh!" seru Sinta dengan nada kaget yang dibuat-buat. "Maaf banget, Bu Zoya. Sepertinya file-nya rusak atau kena virus. Ibu sih, kirim datanya pakai email pribadi yang nggak aman. Duh, gimana dong? Padahal kita butuh datanya sekarang."
Sinta menatap Zoya dengan tatapan penuh kemenangan tersembunyi. Rasain lo, batin Sinta. Tanpa slide presentasi, lo cuma bakal kelihatan kayak orang bego yang ngomong kosong.
Pak Herman tertawa mengejek. "Nah kan. Belum apa-apa sudah tidak becus. Teknis dasar saja gagal. Sudah, bubar saja rapatnya. Buang-buang waktu."
Kalandra mengeram marah. Dia tahu ini ulah Sinta. "Sinta, coba cek di backup! Jangan main-main!"
"Nggak ada, Ndan. Hilang semua," jawab Sinta polos.
Suasana ruangan menjadi canggung. Kalandra hendak berdiri untuk memeriksa laptop itu sendiri, tapi sebuah tangan halus menahan lengannya.
Zoya masih duduk tenang di kursinya. Tidak ada kepanikan di wajahnya. Dia menutup tabletnya perlahan, lalu menatap Sinta yang sedang menyeringai.
"Kamu pikir saya butuh powerpoint murahan untuk menjelaskan isi otak saya?" tanya Zoya dingin.
Sinta terdiam, senyumnya luntur sedikit.
Zoya berdiri perlahan, berjalan menuju papan tulis putih yang kosong. Dia mengambil spidol hitam, membuka tutupnya dengan satu tangan.
"Matikan proyektornya. Berisik," perintah Zoya.
Tanpa melihat catatan, tanpa menyontek file, Zoya mulai menulis di papan tulis. Gerakan tangannya cepat, tegas, dan terstruktur.
"Pelaku: Laki-laki, 30-35 tahun. Obsessive-Compulsive Personality Disorder. Riwayat medis: Pernah bekerja di unit gawat darurat atau kamar jenazah, kemungkinan dipecat karena malpraktik etika, bukan teknis. Lokasi persembunyian: Radius 5 kilometer dari pelabuhan, area dengan akses pendingin industri untuk menyimpan dry ice."
Zoya terus bicara sambil menulis, memuntahkan data mendetail—mulai dari jenis obat bius yang dipakai, durasi pembunuhan, sampai merek sepatu yang kemungkinan dipakai pelaku berdasarkan jejak mikroskopis di lumpur TKP. Semua keluar dari kepalanya begitu saja. Hafal di luar kepala.
"Dia menggunakan obat pelemas otot untuk melumpuhkan otot korban sebelum menyuntikkan sianida. Zat ini sulit didapat kecuali dia punya akses login lama di sistem rumah sakit yang belum dicabut," lanjut Zoya, lalu berbalik menatap Sinta yang kini pucat pasi.
"Jadi, Sinta," ucap Zoya sambil menunjuk Sinta dengan spidol. "Kamu bisa hapus file di laptop sepuasmu. Tapi kamu nggak bisa hapus ingatan fotografis saya. Ada pertanyaan?"