NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Di Dalam Mobil Mewah Garvi. Begitu pintu mobil tertutup, Sava langsung menyentak tangannya.

"Apa yang kamu lakukan, Mas Garvi?! Kamu mempermalukanku di depan klien!"

Garvi membanting pintu mobil, memberi tanda pada sopir untuk segera jalan. Ia berbalik menatap Sava dengan mata yang berkilat marah.

"Mempermalukanmu? Lalu apa sebutannya untuk wanita yang asyik tertawa dan disentuh tangannya oleh mantan kekasihnya di tempat umum saat dia masih menyandang status istriku?!"

"Dia tidak menyentuhku! Dan aku tidak asyik tertawa! Kami sedang bekerja!" teriak Sava.

"Bekerja?" Garvi tertawa hambar. "Roy memberitahuku segalanya, Ave. Arkan Wiratama. Cinta monyetmu di SMA. Kamu pikir aku bodoh? Kamu sengaja memilih restoran itu, memilih waktu itu, agar bisa bertemu dengannya, kan? Kamu ingin membalas dendam soal kejadian di Beijing?"

"Aku bahkan tidak tahu kalau dia yang akan datang!" Sava membuang muka ke jendela, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dan meskipun aku tahu, itu bukan urusanmu. Kamu punya Jia, kamu punya Desi, kamu punya ratusan wanita lain. Kenapa kamu begitu terobsesi padaku?!"

Garvi mencengkeram dagu Sava, memaksanya untuk menatap mata gelapnya yang penuh obsesi.

"Karena kamu milikku, Alsava. Hanya milikku. Aku bisa tidur dengan seribu wanita, tapi tidak akan ada satu pria pun yang boleh menyentuh satu ujung rambutmu. Jika kamu mencoba pergi dariku, apalagi kembali pada masa lalumu... aku akan menghancurkan pria itu, dan aku akan mengurungmu di mansion hingga kamu lupa cara menyebut namanya."

Sava menatap Garvi dengan tatapan hancur. "Kamu bukan mencintaiku, Mas. Kamu hanya mencintai kekuasaanmu atas diriku. Tapi dengar ini baik-baik... semakin kamu mengekangku, semakin aku ingin menghilang dari hidupmu."

Garvi tidak menjawab. Ia justru menarik Sava ke dalam pelukan paksa, membenamkan wajahnya di leher istrinya, menghirup aroma Sava seolah ingin menghapus aroma Arkan atau siapa pun yang berani mendekatinya.

**

Lobi Gedung Skyline Group, Medan. Pukul 15.00 WIB.

Suasana di lobi utama Skyline Group mendadak mencekam saat mobil Rolls-Royce hitam milik sang CEO berhenti tepat di depan pintu kaca. Garvi Darwin keluar dari mobil dengan wajah yang mengeras, auranya begitu gelap hingga staf keamanan yang biasanya sigap memberi salam pun memilih untuk menunduk sedalam mungkin.

Tanpa melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Sava, Garvi menarik wanita itu masuk. Langkah kaki mereka yang terburu-buru bergema di atas lantai marmer, menciptakan irama yang mengintimidasi.

"Mas... lepas. Ini di kantor!" desis Sava dengan gigi terkatup. Ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar di depan para karyawan, meski pergelangan tangannya mulai terasa kebas.

Garvi tidak menjawab. Ia terus melangkah menuju lift pribadi, menyeret Sava masuk ke dalam kotak logam itu sebelum menekan tombol lantai paling atas.

Di depan meja sekretaris, Desi yang melihat kedatangan mereka langsung berdiri. Ia melihat wajah merah padam Garvi dan tangan Sava yang dicengkeram kuat. Dengan niat yang entah tulus atau sekadar mencari perhatian, Desi mencoba mendekat.

"Mr. Garvi, ada dokumen yang harus Anda tan—"

"Berhenti di situ, Desi."

Suara dingin Roy memotong langkah Desi. Roy berdiri tegak, menghalangi jalan sekretaris baru itu dengan tatapan tajam yang tidak menyisakan ruang untuk debat.

"Tapi Pak Roy, Mr. Garvi sepertinya sedang—"

"Sadar posisimu, Desi," potong Roy lagi, kali ini lebih tajam. "Kamu adalah sekretaris Miss Sava, bukan asisten pribadi Mr. Garvi. Mereka memiliki urusan tingkat tinggi yang tidak boleh diganggu oleh siapa pun, termasuk kamu. Kembali ke mejamu sekarang."

Desi tersentak, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal. Ia terpaksa berbalik, namun matanya tetap melirik benci ke arah pintu ruangan CEO yang baru saja tertutup rapat.

Brak!

Pintu ruang kerja Garvi tertutup dengan dentuman keras. Namun, Garvi tidak berhenti di sana. Ia menarik Sava melewati meja kerjanya yang luas, menuju sebuah pintu tersembunyi di balik rak buku—sebuah suite pribadi yang mewah, lengkap dengan ranjang king size yang biasanya hanya digunakan untuk istirahat singkat di tengah kesibukan.

"Mas Garvi, lepas!" Sava meronta, namun tenaga Garvi jauh lebih besar.

Garvi menghempaskan tubuh Sava ke atas ranjang empuk itu. Belum sempat Sava bangkit, tubuh tegap Garvi sudah menindihnya, mengunci pergerakan wanita itu di bawah beban tubuhnya yang atletis.

"Berani sekali kamu tertawa dengan pria itu di depanku, Ave?" desis Garvi. Suaranya rendah, bergetar karena amarah yang ditahan. (Ave adalah panggilan kesayangan Garvi untuk Sava)

"Itu urusan pekerjaan! Lepaskan aku!"

Garvi tidak mendengarkan. Ia langsung membungkam bibir Sava dengan ciuman yang menuntut. Bukan ciuman lembut yang penuh cinta, melainkan ciuman yang kasar, sebuah klaim kekuasaan yang ingin membuktikan siapa pemilik sah dari wanita di bawahnya ini.

Sava mencoba mendorong dada bidang Garvi, namun pria itu dengan cepat menangkap kedua pergelangan tangan Sava dan menguncinya di atas kepala dengan satu tangan.

Ciuman itu semakin panas, menguras oksigen dari paru-paru Sava. Garvi baru melepaskan pagutan itu saat ia merasakan tubuh Sava mulai lemas. Ia menyatukan keningnya dengan kening Sava, membiarkan napas mereka yang memburu saling beradu dalam jarak yang sangat intim.

Satu bulir air mata jatuh dari pelupuk mata Sava, mengalir melewati pelipisnya.

Melihat air mata itu, sorot mata Garvi yang tadinya liar perlahan melunak. Ia melepaskan kuncian tangan Sava, lalu dengan lembut menghapus jejak air mata itu menggunakan ibu jarinya.

"Kenapa kamu selalu mencoba melukai harga diriku, Ave?" tanya Garvi dengan nada yang tiba-tiba berubah sedih. "Aku menghabiskan waktu berjam-jam di Beijing hanya untuk membelikanmu perhiasan terbaik. Tiga puluh miliar untuk membuktikan bahwa aku memikirkanmu. Tapi kamu membuangnya seolah itu sampah."

Sava tertawa pahit, meski napasnya masih tersenggal. Ia menatap mata suaminya dengan keberanian yang hancur.

"Harga diri? Apa kamu pernah memikirkan harga diriku saat kamu membiarkan Jia menciummu? Apa kamu memikirkan perasaanku saat kamu sengaja menggoda Desi hanya untuk melihatku kesal?"

Sava menjeda, suaranya bergetar. "Aku tidak pernah memarahimu karena wanita-wanita itu, Garvi. Aku diam karena aku tahu itu sifatmu. Tapi kenapa saat aku bertemu teman lama untuk urusan pekerjaan, kamu bersikap seperti kesetanan? Bagaimana aku bisa berdiri tegak sebagai COO Skyline Group jika CEO-nya sendiri memperlakukanku seperti barang simpanan di depan klien?"

Garvi menyeringai, sebuah senyum manipulatif yang kembali muncul. "Justru karena pria itu orang yang kamu kenal, Ave. Justru karena dia punya sejarah denganmu. Jika dia pria asing, aku tidak akan peduli. Tapi melihat matanya menatapmu... aku ingin menghancurkan dunianya."

"Kamu egois, Garvi. Kamu benar-benar egois!" teriak Sava frustrasi.

"Memang. Dan aku tidak akan pernah membiarkan egoku terluka lagi," sahut Garvi dingin.

Kemarahan Garvi kini bermutasi menjadi gairah yang posesif. Ia kembali mencium bibir Sava, kali ini lebih dalam dan membakar. Tangannya mulai bergerak melepas satu per satu kancing blus sutra Sava.

"Mas, jangan... ini masih di kantor," rintih Sava, namun tubuhnya mulai mengkhianati logikanya. Sentuhan Garvi selalu memiliki cara untuk menghancurkan pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.

"Biarkan mereka tahu bahwa Miss Sava adalah milikku, meski mereka tidak tahu status kita yang sebenarnya," bisik Garvi di ceruk leher Sava.

Garvi memberikan kelembutan yang memabukkan, namun di balik kelembutan itu ada maksud tersembunyi. Ia meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang kontras di atas kulit putih pucat Sava—di leher, di tulang selangka, hingga ke dadanya. Jejak yang tidak akan bisa disembunyikan oleh makeup atau kerah baju mana pun.

Desahan kenikmatan yang bercampur dengan rasa putus asa terdengar di ruangan yang kedap suara itu. Di luar, dunia bisnis Medan terus berputar, orang-orang menganggap mereka adalah dua pemimpin hebat yang sedang mendiskusikan masa depan perusahaan. Namun di dalam sini, hanya ada seorang pria yang terobsesi untuk mengunci istrinya dalam sangkar emas, dan seorang wanita yang mulai merasa jiwanya perlahan mati meski tubuhnya dipenuhi kenikmatan.

Setelah semuanya berakhir, Garvi memeluk tubuh Sava yang lunglai dari belakang, menyembunyikan wajahnya di rambut brunette curly yang berantakan itu.

"Jangan pernah berpikir untuk bercerai dariku, Ave," bisik Garvi posesif. "Karena semakin kamu mencoba lari, semakin dalam aku akan menandaimu sebagai milikku."

Sava hanya diam, menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. Ia tahu, tanda-tanda merah di tubuhnya ini adalah rantai baru yang dipasang Garvi. Dan esok hari, ia harus kembali memakai topeng "Miss Sava" dengan leher yang tertutup syal, menyembunyikan dosa dan luka di balik kemegahan Skyline Group.

***

1
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
Murnia Nia
lanjut thor aku kirim vote ni untuk karyamu
Umi Kolifah
buat gavi menyesal Thor , ave pergi sejauh mungkin
Desi Santiani
menarikk alurnya semangat thor
merry
cinta tp menlukai psagann y,,
Nda
selalu mampir thor
Nda
ditunggu double up-nya thor 😍
Nda
ditunggu kelanjutanya thor,ceritanya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!