Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingerie Di Tas Suamiku
Di dalam kamar, Nadira membongkar tas berisi pakaian Ardian yang belum sempat ia rapikan sejak beberapa hari lalu. Tangannya bergerak cepat, hingga tiba-tiba terhenti.
Sehelai kain tipis terselip di antara kemeja-kemeja suaminya.
Nadira menariknya perlahan. Kain itu ia bentangkan di tangannya. Terlalu tipis, dan terlalu transparan.
Nadira terpaku, dahinya mengernyit. Tatapannya penuh tanya.
“Inikan… lingerie?” gumamnya lirih. Tenggorokannya terasa kering. “Apakah punya Siska? Atau...”
Dadanya berdenyut.
“Gak mungkin,” desis Nadira. Tangannya bergetar.
“Nadira.”
Suara itu membuat tubuhnya menegang. Nadira menoleh. Ardian sudah berdiri di ambang pintu, tatapannya dingin seperti biasa.
Ia berdiri, menatap suaminya lurus tanpa berkedip. “Mas,” suaranya rendah, bergetar.
“Kamu sedang apa?” tanya Ardian, sambil berjalan mendekat.
Nadira tak langsung menjawab, ia masih setia menatap suaminya yang bersikap biasa saja, seakan tak menyembunyikan apapun.
“Nadira, kamu kenapa menatapku seperti itu?” tanya Ardian, penuh keheranan.
“Itu gak benar kan, Mas?” tanya Nadira, menuntun penjelasan.
Ardian mengernyit. “Maksudmu?”
Nadira melempar kain itu ke arah dada Ardian. “Kamu dan Wisnu bermain serong, kan?”
“Apa yang kamu bicarakan?” suara Ardian meninggi.
“Siska bilang semuanya ke aku tadi siang,” ucap Nadira tajam. “Katanya… Mas itu—”
“Jaga bicaramu!” Ardian memotong keras. Tangannya meraih lingerie itu, menggenggamnya kuat.
“Kalau memang Mas gak benar melakukannya, kenapa Mas marah?”
Ardian terdiam sesaat. Rahangnya mengeras.“Itu karena kamu ngomong yang aneh-aneh, menuduhku tanpa bukti. Itu fitnah namanya.”
“Sudahlah,” lanjutnya nadanya kesal. “Aku lembur malam ini. Gak pulang, jadi gak perlu menungguku.”
Ia berbalik, sebelum sampai diambang pintu, Ardian menghentikan langkahnya dan menatap Nadira.
“Ucapan Siska yang gak terbukti kebenarannya, jangan kamu dengarkan. Wanita itu cuma mau menghancurkan rumah tangga kita.”
Pintu tertutup.
Nadira masih berdiri di tempat, menatap kosong ke arah pintu yang tak lagi terbuka. Tangannya mengepal. Dadanya terasa sesak, bukan karena marah, tapi karena ketakutan yang perlahan menjalar.
Meki begitu, ia tak tenang sama sekali. Maka Nadira meraih jaketnya, lalu bergegas keluar. Di luar, mobil Ardian sudah melaju meninggalkan halaman rumah.
“Pak,” ucap Nadira cepat pada sopir. “Ikuti mobil Mas Ardian.”
“Baik, Bu.”
Mobil pun bergerak, membelah malam. Mata Nadira tak lepas dari lampu merah mobil di depan.
Jalannya menuju perusahaan.
Jadi benar lembur?
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di pelataran gedung perusahaan. Area parkir tampak sepi, hanya beberapa motor karyawan yang tertinggal.
Nadira turun.
Langkahnya cepat, nyaris berlari saat masuk ke dalam gedung. Ia memilih tangga, menapakinya satu per satu, napasnya sedikit memburu.
Menuju ruangan Ardian.
Beberapa saat kemudian, Nadira tiba di lantai tujuan. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruangan Ardian.
Ia menarik napas, lalu menekan tuas pintu dan mendorongnya masuk.
Sunyi.
Ruangan itu kosong.
Pandangan Nadira menyapu sekeliling, meja kerja, sofa kecil di sudut, hingga jendela yang gelap. Tak ada Ardian.
“Gak ada…” gumamnya. “Terus di mana Mas Ardian?”
Ia melangkah masuk lebih dalam.
Kling.
Suara notifikasi memecah keheningan. Nadira menoleh ke arah meja kerja. Sebuah ponsel menyala di atasnya. Dadanya mengencang saat membaca nama pengirim pesan yang terpampang di layar.
Nama itu.
Nama yang sama seperti terakhir kali ia lihat.
Mine.
Nadira mendekat, lalu meraih ponsel itu dengan tangan gemetar. Layar terbuka. Sebuah foto baru saja masuk.
Belum sempat ia melihatnya dengan jelas—
Sebuah tangan tiba-tiba merenggut ponsel itu dari genggamannya.
Nadira tersentak dan menoleh cepat.
“Mas Ardian.”
Tatapan Ardian terasa dingin, menusuk. Berbeda dari yang biasanya.
“Sedang apa kamu di sini?” tanyanya datar.
Nadira tercekat. Lidahnya seolah kelu, ia berusaha menahan kegugupannya. “A-aku cuma ingin—”
“Kamu masih mencurigai ku, soal lingerie itu? Makanya kamu ingin memastikan, apakah aku berselingkuh?” potong Ardian.
Dadanya menegang. Nadira menggeleng cepat, meski memang benar. Kecurigaannya terhadap sang suami belum hilang sepenuhnya. Perasaannya saling tarik-menarik, antara percaya dan ingin memastikan sendiri.
Ia merogoh tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak obat. Tangannya sedikit gemetar saat menyodorkannya.
“Ini… aku bawakan obat buat Mas. Biar tetap fit, saat Mas lembur.”
Ardian menatap kotak itu sekilas, tanpa ekspresi.
Kling.
Nadira refleks menoleh ke ponselnya. Layar menyala, satu nama muncul.
Gama.
Pesan masuk.
‘Mbak, besok siang aku berangkat ke luar negeri. Jangan lupa masakin buat aku sebelum berangkat.’
Nadira menarik napas, lalu mengangkat wajah menatap Ardian.
“Mas, aku pergi dulu ya,” ucapnya lembut. “Mas jangan capek-capek.”
Ardian hanya berdeham, bahkan tanpa menatapnya.
Nadira pun berjalan melewatinya. Langkahnya terasa ringan tapi hatinya justru berat. Ia membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.
Begitu pintu tertutup, Nadira berhenti sejenak di luar. Jemarinya menggenggam tali tas lebih erat.
Sementara itu, Ardian. Ia menghela napas panjang, kemudian menatap pintu ruangan kamarnya sekilas.
“Keluarlah,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan tegas.
Belum sempat ia melangkah, sebuah tangan melingkar di pinggangnya dari belakang. Sentuhannya membuat rahangnya mengeras.
“Apa kamu sengaja memasukkan lingerie itu ke dalam tasku?” tanya Ardian, nada suaranya turun, tajam.
“Mau bagaimana lagi?”
Ardian berbalik. Pandangannya jatuh pada wajah di depannya. Tangannya terangkat, mengelus rahangnya perlahan, tapi tatapannya dingin, penuh peringatan.
“Jangan lagi,” ucapnya lirih namun menekan. “Hampir saja ketahuan. Apalagi perusahaan masih atas nama Ayahku.”
“Maaf, Mas.”
Ardian memejamkan mata sesaat. Bukan lega yang ia rasakan, melainkan kegelisahan yang makin menebal.
Di luar gedung, langkah Nadira melambat sesaat, tatapan berhenti di lantai ruangan suaminya yang masih menyala.
“Loh, Bu. Sudah selesai? Cepat sekali?” tanya sopir itu heran.
Nadira menoleh kearah sopir, ia mengangguk kecil. “Sudah, Pak.” Tanpa menunggu, ia masuk ke dalam mobil.
Tak lama kemudian, mobil melaju meninggalkan halaman perusahaan. Lampu-lampu kota berganti menjadi garis-garis samar di balik kaca jendela. Nadira menatap jalanan malam yang lengang, pikirannya justru semakin riuh.
Tatapannya, gerak geriknya terlintas jelas di benaknya. Jarinya mengerat di pangkuan.
“Apa benar yang Siska katakan?” gumamnya lirih.
Tak ada jawaban. Hanya suara mesin mobil dan kegelisahan yang pelan-pelan mengendap di dadanya.
“Bu Nadira, Anda terlihat gelisah?”
Nadira menoleh kearah sopir. “Saya gak tahu Pak, mau percaya ke siapa.”
“Maksud Bu Nadira?”
“Siang tadi...” Nadira terdiam, ia menatap lekat tatapan sopirnya. “Gak ada Pak, hanya masalah rumah makan saya saja.”
“Lalu, kenapa Bu Nadira ke perusahaan Pak Ardian?”
"Saya hanya mengantarkan obat. Kan Mas Ardian lembur, saya takut Mas Ardian malah sakit," jelas Nadira, namun tatapannya masih menatap kearah sopir.
Keningnya mengernyit. ‘Apa hanya perasaanku saja?’
Ia menghela napas, lalu mengalihkan pandangannya kearah jalanan kota yang hampir sepi.