Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Perasaan Asoka
Bab 21
“Sa, tunggu dulu!” Asoka menarik tangan Lisa. Baru keluar dari pintu IGD untuk pulang.
“Kenapa dok?”
“Hm, itu ….”
Asoka menggaruk kepalanya. Tidak bisa berkata-kata dan bukan pria yang romantis. Mengingat ucapan Lisa mengatakan Cecep mengajaknya pergi dan Lisa seolah menantang kalau lain kali akan mempertimbangkan ajakan pria itu. Padahal tidak serius. Jangankan pergi bersama, melihat Cecep saja hampir sawan. Nyatanya pernyataan itu cukup mengganggu Asoka. ia perlu meyakinkan dan memastikan gadis itu tidak melirik apalagi menerima ajakan pria manapun. Enak saja, pikir Asoka.
“Ayo, ih, aku mau mandi terus mau kerok4n sama Yuli.” Lisa mengajak pulang merasa tubuhnya tidak fit, mungkin efek kehujanan tadi malam.
Lisa terkejut karena Asoka menahan tangannya
“Aku nggak suka kamu pergi sama Cecep kades atau Cecep lain karena aku yang duluan sayang sama kamu. Kalau kemarin aku bilang kangen, itu jujur Sa bukan candaan apalagi ngegombal,” tutur Asoka sukses membuat Lisa heran dan mengernyitkan dahi. “Sumpah, aku nggak bisa romantis dan nyatakan perasaan. Tapi aku serius suka sama kamu, bukan Cuma cinta-cintaan atau pacaran nggak jelas.”
“Maksudnya … dokter tembak aku?”
“Mungkin. Yang jelas aku sayang dan cinta kamu.”
Bilang ini bukan mimpi, demi apa Asoka cinta sama gue. Sejak kapan dan … oh Tuhan, dia Asoka, batin Lisa. Jantungnya bukan sekedar berdetak. Mungkin sedang dangdutan karena iramanya bukan hanya dag dig dug. Rasa menggelitik karena rasa bahagia, entah sudah semerah apa pipinya karena malu-malu mau.
Asoka yang sering dibicarakan para coass dan perawat, Asoka yang dinginnya melebihi es batu. Berusaha untuk tidak baper meski ia sudah baper, nyatanya Asoka serius bilang cinta. Marimar, kelaut aja. Kayaknya Cuma halu ngaku mau jalan sama abang dokter.
“Ya ampun, anti mainstream banget sih dok. Mentang-mentang tenaga medis masa bilang cinta di depan IGD begini,” ejek Lisa. Entah dia harus jawab apa. Mana mungkin bilang, aku mau dok. Nikahi sekarang juga nggak nolak.
Asoka mendekat dan berdecak. “Aku serius Sa. Lain kali kita kencan atau pergi ke kota yang lebih indah dan romantis dari tawaran si Encep itu.”
Peduli set4n sama Cecep, dia itu Cuma bubuk ranginang dan udah alot. “Terus Marimar gimana, eh dokter Marina.”
“Marina kenapa?” Asoka balik tanya dengan dahi mengernyit.
“Lah bukannya suka komunikasi. Dia bilang kalian mau pergi ke air terjun.”
“Dia memang ngajak, tapi aku tolak. Biar aja dia pergi sama Cecep, bukan urusan aku. Nggak percaya kamu cek sendiri.” Asoka mengeluarkan ponselnya dan diulurkan pada Lisa.
“Ish, nggak gitu juga kali. Memang aku siapa ngecek ponsel orang, meski kita pacaran. Kecuali istri, itu juga ada batasannya.”
Asoka kembali tersenyum. “Nggak pa-pa, anggap aja kamu istri aku. Kamu boleh cek semua yang ada di ponsel juga dompet, termasuk m-banking. Apa sih yang nggak buat kamu.”
Lisa malah berekspresi ingin munt4h. “Lebay tau dok. Ayo, ah, pulang.”
“Loh, nggak jadi makan.”
“Nanti aja di rumah, badan aku nggak enak.”
Asoka menuju mobilnya membuka kabin tengah dan mengeluarkan se kantong penuh cemilan.
“Buat stok, ya dok?”
“Buat pacar aku,” sahut Asoka. “Ayo,” ajaknya lalu menutup pintu mobil dan menekan kunci sensor.
Mobil Asoka diparkir di puskes karena jalan ke rumah hanya bisa untuk motor saja. Perasaan Lisa campur aduk, antara bahagia dan tidak nyaman karena tidak fit. Akhirnya hanya diam, tidak mungkin dia teriak-teriak menjelaskan statusnya sebagai kekasih Asoka.
Berpapasan dengan Sapri di beranda.
“Kabari saja kalau ada pasien,” ujar Asoka.
“Siap, dok. Saya jalan dulu,” pamit Sapri.
“Baek-baek ya Mas Sapri, kalau ada yang cekikan nggak usah nelpon kita.”
Asoka tersenyum karena ulah Lisa mengejek Sapri sambil mengusap kepalanya. Lisa menyimpan sepatu di rak diikuti oleh Asoka. Terdengar teriakan Yuli dan suara Rama dari ruang tengah, sudah biasa mereka begitu.
“Please deh, untung rumah tetangga agak jauh. Coba kalau dekat, udah disiram air kalian berdua dipikir kucing lagi berantem.”
Lisa langsung mendudukan diri di karpet depan tv bergabung dengan penghuni lainnya.
“Sudah nggak mempan pakai mulut Sa, aku pun udah malas nasehati mereka. Harusnya kita nikahi saja biar berantem lah di ranjang, penasaran aku seberisik apa kalau di kamar.”
“Ish, Bang Beni, usul bagus.”
Asoka meletakan kantong yang dia bawa dekat Lisa lalu menuju kamarnya. Tentu saja langsung dibongkar dan Yuli ikut mendekat.
“Jajan lo banyak amat, bagi dong.”
Rama tanda basa basi mengambil coklat dan diteriaki Lisa agar jangan dihabiskan. Yuli mengambil salah satu botol yogurt sedangkan Beni satu kantong snack.
“Banyak duit lo, jajan segini banyak,” cetus Rama berbarengan dengan Asoka keluar dari kamar sudah berganti kaos dan training.
“Duit aku nggak banyak, tapi ada penyokong. Kayaknya duit dia banyak.”
“Dok, lama-lama Lisa ngelunjak. Nanti pengen ganti motor sama hp deh.” Sudah bisa diduga kalau penyokong yang dimaksud adalah Asoka. apalagi sekarang duduk di samping Lisa.
“Bawel Ram, nikmati aja kali. Bersyukurlah temen kita punya donatur royal,” seru Yuli lalu mencibir pada Rama.
Lisa agak merangkak mendekat ke Rama lalu merebut coklat dari tangan pria itu.
“Ini tuh spesial buat aku yang manis dan imut.”
Rama mendelik lalu fokus dengan ponsel. “Dok,mau lihat foto Lisa waktu dia SMA nggak. Tampangnya nggak banget tahu.”
“Rama jangan berani lo, hapus nggak.” Lisa akan berdiri, tapi tangan Asoka lebih cepat menahan tubuhnya. Melingkar di pinggang tanpa ragu.
“Kirim Ram,” ujar Asoka.
“Nggak, jangan. Ram, sumpah gue acak-acak muka lo ya,” kesal Lisa lalu menoleh pada Asoka. “Lepas, ih.”
Beni hanya menggeleng pelan sedangkan Yuli sudah berpindah mengintip foto Lisa di ponsel Rama lalu tertawa.
“Bahaya ini kalau ditinggal, lagi pada kasmaran,” keluh Beni melihat Rama dan Yuli sedang tertawa menatap ponsel di sebelah kanan sedangan Lisa dan Asoka di sebelah kiri. Apalagi tangan Asoka masih bertahan di pinggang dan Lisa mendorong dad4 pria itu.
“Heh, coba kondisikan monc0ng dan tangan kalian itu, masa harus aku siram kayak ngusir kucing atau aku panggil blambir sekalian, hah.”
jangan-jangan si marimas mah dulu lulus dokternya cuma modal ngang kang kali🤔
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆