Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Lantai batu yang keras ini terasa seperti menelan seluruh keberadaanku. Aku memandangi pintu sel yang baru saja tertutup, membiarkan bayangan Jang Mi memudar dari penglihatanku. Kata-katanya tentang He Ran terus berputar, menusuk-nusuk kesadaranku tanpa henti. Aku tahu dia berbohong, atau setidaknya memutarbalikkan kenyataan, namun ketakutan itu tetap nyata.
Aku mencoba menggerakkan pergelangan tanganku. Rantai hitam ini berderak pelan, mengeluarkan suara logam yang menyebalkan. Setiap inci dari rantai ini telah dirajah dengan mantra penekan tenaga dalam yang sangat kuat. Aku bisa merasakan energi Asura di dalam jantungku meringkuk, seolah-olah sedang tertidur di bawah tumpukan salju yang sangat tebal.
"Kau terlihat sangat menyedihkan," celetuk sebuah suara dari sudut kegelapan.
Pria misterius itu muncul kembali. Dia duduk bersandar pada dinding sel, melipat tangan di depan dada dengan wajah yang sangat santai. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa menembus segel penjara ini tanpa memicu alarm sedikit pun.
"Jika kau datang hanya untuk menghinaku, sebaiknya kau pergi saja," sahutku dengan nada bicara yang kasar.
Dia tertawa pendek. Suara tawanya terdengar sangat parau, seolah-olah dia jarang sekali menggunakan tenggorokannya untuk bicara. "Aku datang untuk melihat apakah kau sudah siap melepaskan kemanusiaanmu yang tidak berguna itu."
Aku menatapnya dengan saksama. Wajahnya yang usang itu tidak menunjukkan emosi apa pun. "Jang Mi mengambil sistemku. Dia memiliki kekuatan itu sekarang."
"Sistem itu hanya alat bantu, Han Wol," tukasnya sembari bangkit berdiri secara perlahan. "Kekuatan Asura yang sesungguhnya berasal dari amarah dan rasa hausmu akan keadilan. Kau tidak butuh modul digital untuk merobek leher wanita itu."
Aku mencoba memacu energiku sekali lagi. Rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari pergelangan tangan hingga ke bahu, membuatku mendesis tertahan. Segel di rantai ini benar-benar bekerja dengan sangat efektif.
"Bagaimana aku bisa bertarung jika tanganku bahkan tidak bisa kugerakkan?" tanyaku sembari menunjukkan borgol hitam yang melilitku.
Pria itu berjalan mendekat. Dia berhenti tepat di depanku, lalu berjongkok hingga mata kami sejajar. "Gunakan darahmu yang sudah terkontaminasi oleh Patahan Asura. Berikan perintah langsung pada sel-selmu, bukan pada sistem yang sudah hilang."
Aku mengerutkan dahi. "Aku tidak tahu caranya."
"Maka kau akan mati besok pagi di tangan wanita yang kau benci," sahutnya dengan nada bicara yang sangat dingin.
Dia mengulurkan tangannya, menyentuh tanda bunga teratai perak di pergelangan tanganku. Rasa hangat yang sangat nyaman tiba-tiba menyebar ke seluruh tubuhku, meredakan rasa sakit akibat segel penjara. Cahaya perak mulai berpendar redup dari tanda itu, seolah-olah He Ran sedang berbisik kepadaku dari kejauhan.
"He Ran meninggalkan ini untukmu bukan hanya sebagai kenang-kenangan," jelasnya sembari menatap tanda itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ini adalah jangkar. Selama tanda ini masih ada, kau bisa berubah menjadi monster tanpa perlu takut kehilangan akal sehatmu."
Aku merasakan getaran energi yang sangat stabil mulai mengalir kembali di dalam meridianku. "Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Makanlah energi dari segel ini," bisiknya sembari menunjuk ke arah rantai hitam.
Aku tertegun. Memakan segel penekan energi terdengar seperti bunuh diri. Namun, pria itu hanya mengangguk kecil, memberikan keyakinan yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Aku mendekatkan bibirku ke arah rantai besi di tangan kanan. Aku bisa merasakan rasa pahit yang menyengat dari mantra yang terukir di sana. Aku menggigit logam keras itu, membiarkan darah dari gusiku bercampur dengan ukiran mantra.
Seketika, rasa panas yang luar biasa meledak di dalam mulutku. Aku merasa seolah-olah baru saja menelan bara api yang sedang membara. Namun, bukannya menghancurkan organ tubuhku, energi panas itu justru diserap oleh jantung Asura-ku dengan rakus.
"Teruslah mengunyah," perintahnya sembari mengamati proses tersebut.
Suara geraman rendah mulai keluar dari tenggorokanku. Aku tidak lagi peduli pada rasa sakit atau rasa logam di mulutku. Aku bisa merasakan kekuatan segel itu mulai melemah, berubah menjadi nutrisi bagi evolusi Vanguard-ku yang sempat tertunda.
[Otoritas Darah diaktifkan.]
Kalimat itu muncul di depan mataku, namun kali ini bukan dalam bentuk jendela sistem yang rapi. Huruf-huruf itu tampak seperti guratan darah yang mengambang di udara, liar dan tidak beraturan.
"Kau berhasil," gumam pria itu sembari melangkah mundur.
Aku menarik tanganku sekuat tenaga. Suara retakan logam terdengar sangat nyaring di dalam sel yang sunyi ini. Rantai hitam yang tadinya terasa begitu kokoh kini hancur berkeping-keping, jatuh ke lantai menjadi serpihan debu yang tidak berharga.
Aku berdiri tegak. Tubuhku terasa jauh lebih ringan dan padat. Sisik emas mulai muncul di sepanjang lenganku, namun kali ini warnanya sedikit lebih gelap, bercampur dengan guratan perak dari esensi He Ran.
"Sekarang, tunggulah sampai pagi tiba," saran pria itu sembari mulai menghilang ke dalam kegelapan.
"Kenapa kau membantuku sejauh ini?" tanyaku sembari menatap bayangannya yang memudar.
"Karena aku ingin melihat apakah kau bisa menghancurkan dunia yang sudah membuang kita berdua," jawabnya sebelum benar-benar menghilang.
Aku terduduk kembali di lantai sel, menjaga agar penampilanku tetap terlihat seperti tahanan yang tidak berdaya. Aku memejamkan mata, membiarkan energi baru ini bersirkulasi dengan sempurna di dalam tubuhku.
Pagi pun tiba dengan suara terompet yang memekakkan telinga. Pintu sel dibuka dengan kasar oleh sekelompok pengawal berbaju zirah merah. Mereka membawa tombak panjang dan menatapku dengan tatapan yang sangat merendahkan.
"Waktunya pergi, Pembantai," hardik pemimpin pengawal sembari menarik rantai di leherku.
Aku mengikuti mereka tanpa melakukan perlawanan. Langkah kakiku sengaja dibuat lunglai, seolah-olah aku benar-benar sudah kehilangan seluruh tenagaku. Kami berjalan melewati lorong-lorong penjara yang panjang menuju ke arah alun-alun kota yang sudah dipenuhi oleh ribuan orang.
Panggung eksekusi sudah berdiri tegak di tengah alun-alun. Jang Mi berdiri di sana, mengenakan pakaian resmi yang sangat megah. Di tangannya, ia memegang sabit besar yang kini sepenuhnya tertutup oleh energi ungu gelap.
"Lihatlah, rakyat Guntur! Hari ini kita akan mengakhiri riwayat monster yang sudah menebar ketakutan di tanah kita!" teriak Jang Mi dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru alun-alun.
Massa bersorak sorai, melemparkan berbagai macam benda ke arahku saat aku menaiki tangga panggung. Aku tetap menundukkan kepala, membiarkan mereka menikmati momen kemenangan palsu mereka.
"Berlututlah!" perintah Jang Mi sembari menendang bagian belakang lututku.
Aku menjatuhkan diri ke lantai panggung. Jang Mi menarik rambutku dengan kasar, memaksaku untuk menatap wajahnya yang dipenuhi dengan kesombongan.
"Kau siap untuk mati, Han Wol?" bisik Jang Mi sembari mengangkat sabitnya tinggi-tinggi.
Aku mendongak, menatap langsung ke dalam mata merahnya yang kini bergetar kecil. "Kau yang seharusnya bersiap, Jang Mi."
Tepat saat ia hendak mengayunkan sabitnya, aku melepaskan seluruh energi yang selama ini kupendam. Ledakan energi hitam dan perak menghantam panggung eksekusi hingga hancur berkeping-keping.
Rantai di leherku putus dalam sekejap. Aku berdiri di tengah kepulan debu, membiarkan sayap hitamku membentang lebar di hadapan ribuan orang yang kini terdiam karena ketakutan.
"Algojo?" tanyaku sembari mencengkeram leher Jang Mi sebelum ia sempat bereaksi. "Kurasa kau butuh latihan lebih banyak lagi."
Aku bisa melihat ketakutan murni di wajahnya. Energi ungu di sabitnya perlahan mulai memudar, kalah oleh tekanan aura Vanguard-ku yang sudah berevolusi sepenuhnya. Di kejauhan, aku melihat sosok He Ran berdiri di atas atap bangunan, ia tersenyum tipis sembari memegang ikat rambutnya yang kini sudah kembali ke tangannya.
"Permainanmu berakhir di sini, Jang Mi," tandasku sembari mempererat cengkeramanku di lehernya.