NovelToon NovelToon
Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.

Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.

Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Acara rutin keluarga besar

"Acara? Acara apa mas?" tanya Helena menoleh sebentar ke arah suaminya yang sedang bersiap untuk meeting dadakan di hari minggu.

"Setiap tahun memang diadakan acara keluarga secara besar-besaran, mungkin nanti akan diadakan di tempat mama dan papa, kamu nanti bawa anak-anak belanja untuk pakaian acara di sana!" Farhan menjelaskan sembari membenarkan dasinya yang sedikit miring, Helena yang sedang merapikan kasur langsung menghampiri suaminya dan membantu membenarkan dasinya.

"Nanti aku ajak anak-anak belanja," ucap Helena sembari tersenyum ke arah suaminya.

"Kamu juga belanja saja, beli apapun yang kamu mau, kartunya baru aku isi kemarin,"

"Apa tidak boros mas, aku masih banyak baju-baju baru yang belum aku pakai di lemari?" tanya Helena, karena memang ia masih banyak baju baru yang belum terpakai di dalam lemarinya, bagaimana Helena mau memakainya jika ia saja lebih banyak beraktivitas di dalam rumah, ke luar hanya sesekali saja saat mengajak Nael jalan-jalan sore.

"Tidak boros sama sekali, Kamu pakai uang yang mas beri untuk diri kamu sendiri, jangan berfikir boros, mas sengaja memberinya agar kamu tetap bisa membeli apapun yang kamu inginkan,"

Helena menatap Farhan dengan tatapan memuja, sungguh baik sekali suaminya, ia bahkan diberikan nafkah ratusan juta setiap bulannya, dan sampai saat ini pun, Helena hanya memakai beberapa juta saja untuk membeli keperluan rumah.

"Mas," lirih Helena menatap mata Farhan dengan penuh cinta.

Farhan tersenyum dan membalas tatapan istrinya, "ada apa, hmm?" tanya Farhan sembari mengusap-usap lembut pipi Helena dengan ibu jarinya.

"Terima kasih sudah memilihku untuk menjadi pendamping di kehidupanmu,"

Farhan tersenyum dan mengecup pelan dahi istrinya, "tidak perlu berterima kasih,"

Helena menggeleng dan memeluk suaminya, "tetap harus berterima kasih, karena mas sudah membawaku keluar dari rumah neraka itu, aku bahagia bisa hidup sebagai pendamping mas, aku tidak akan mempermasalahkan sikap anak-anak terhadapku, asalkan tetap ada mas di sisiku, tetap menyayangi juga mencintaiku, tetap memperlakukan aku sangat baik, aku bisa menahan semuanya asalkan mas selalu ada di sini, untukku," ucap Helena mengeratkan pelukannya. Rasanya sangat nyaman ia bisa mengutarakan isi hatinya kepada Farhan.

Farhan tidak membalas apapun, ia hanya diam sembari mengelus lembut punggung istrinya.

'maaf' batinnya pilu.

***

Helena menghempaskan tubuhnya ke ranjang kasur, hari ini ia benar-benar sangat lelah, tubuhnya juga batinnya, rasanya ia masih ingat dengan jelas bagaimana Freya memaki juga membentak dirinya di mall tadi, rasanya Helena ingin menghilang saja dari sana tapi tidak bisa.

Orang-orang di sekitarnya pun mulai berbisik-bisik kecil dan mengatakan jika Freya tidak memiliki sopan santun terhadap orang tuanya, Freya yang mendengarnya marah dan dengan lantang ia mengatakan jika Helena bukan ibunya, ia hanya wanita yang papanya pungut entah dimana.

Hati Helena rasanya sangat sakit mendengar kata-kata menyakitkan dari Freya yang bahkan umurnya masih 14 tahun. Helena hanya diam saja menunduk tidak berniat menghentikan Freya yang meneriaki dirinya dengan emosi, entah apa yang akan terjadi selanjutnya jika Kenzo tidak menghentikan Freya saat ia hendak menyerang Helena karena benar-benar sangat kesal dengannya.

Diam-diam Helena menangis sesenggukan di dalam kamar, rasanya benar-benar sangat campur aduk, kesal, marah, malu, kecewa juga sakit hati menjadi satu, entah apa yang salah dari dirinya sampai Freya tidak sesuka itu kepadanya, bahkan tidak segan-segan memaki dirinya.

Dan kini, jika Freya membentak dirinya di depan Farhan, Farhan hanya akan sekedar menegurnya tanpa melakukan apapun lagi. Rasanya Helena sudah tidak sanggup melanjutkan statusnya sebagai mama tiri dari anak-anak suaminya.

"Kenapa mereka semua melakukan hal ini kepadaku," monolog Helena memukul-mukul dadanya yang terasa semakin sesak.

"Ya Allah, apakah Engkau benar ada? Dimana aku akan mendapatkan keadilan di dunia ini?"

Keimanan dan kepercayaannya kepada Allah, sebagai Tuhan dari orang-orang yang memeluk agama islam selama setengah tahun ini mulai sedikit pudar.

"Apakah selama ini sholat dan doaku sia-sia?"

"Apakah aku sudah benar untuk memeluk agama ini? Kenapa rasanya sama saja seperti aku masih memeluk agamaku sebelumnya?" teriak Helena meluapkan semuanya. Batinnya benar-benar terasa sangat lelah, rasanya dunia tidak pernah memberikan keadilan kepadanya.

Perlahan Helena bangkit dari ranjangnya dan menatap dirinya sendiri di cermin, memperhatikan pantulan dirinya. rasanya masih sama seperti dulu, tubuhnya makin kurus, padahal dia di sini bahagia hidup dengan Farhan, walaupun tetap saja pikirannya selalu terpaku kepada Freya dan Kenzo yang entah sudah berapa kali mereka mereka perasaan Helena.

"Apa wajahku buruk rupa sehingga mereka membenciku sebegitu besarnya?" tanya Helena kepada dirinya sendiri.

Jari-jarinya menelusuri wajahnya yang tampak tirus dari terakhir kali ia menangis.

"Aku harus bagaimana lagi agar mereka menyukaiku? Haruskah ku korbankan dulu sesuatu yang berharga? Atau bagaimana?"

Helena menghela napas kesal, mungkin ia memang harus lebih bersabar lagi, mungkin semua orang masih membutuhkan waktu untuk bisa menerima sesuatu yang baru di dalam hidupnya.

***

Dengan mata sedikit sembab, Helena menggandeng tangan Farhan begitu mereka sampai di depan rumah orang tua dari suaminya, alias mertuanya.

Ternyata rumah mertuanya jauh lebih besar dari rumah Farhan, jauh lebih mewah juga modern.

Helena menoleh ke belakang dan melihat Widya yang sedikit kesulitan membawa barang-barang Nael juga menggandeng tangan Nael.

"Mas sebentar!"

Farhan menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang melihat Helena yang mengambil alih Nael dari babysitternya.

"Nael senang ke rumah oma dan opa?" tanya Helena mengajak Nael bicara agar tidak lagi mengantuk, kerena sempat tertidur saat di perjalanan dan rasa kantuknya belum benar-benar menghilang seutuhnya.

"Tentu saja senang, kau buta ya, Nael yang paling excited ke rumah oma dan opa," maki Freya yang mendengar pertanyaan Helena kepada adiknya.

Helena hanya menaggapinya dengan senyuman, matanya sedikit melirik Farhan yang hanya diam saja, padahal ia jelas-jelas mendengar putrinya memaki Helena.

"Mama gendong saja ya?" tawar Helena yang hanya diangguki lemas oleh Nael, nyawanya masih belum terkumpul semua.

Helena terkekeh kecil dan langsung menggendong Nael, ia mensejajarkan langkahnya dengan Farhan, sebenarnya ia sedikit takut juga gugup karena akan bertemu keluarga besar Farhan, apalagi ia sempat terkejut jika Farhan memiliki banyak saudara sepupu juga keponakan, tapi tidak ada satu pun yang datang saat pernikahan dirinya juga Farhan. Apa hubungan mereka kurang baik? pertanyaan itu terus saja terngiang-ngiang di kepala Helena, tidak mau pergi.

"Kok tangan mama dingin cih?" tanya Nael dengan polosnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!