NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Komedi / Action / Cinta Seiring Waktu / Disfungsi Ereksi / Enemy to Lovers
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya

Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".

Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.

"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-

"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-

"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Malam itu kastil terasa lebih sunyi dari biasanya. Alecio masih dirawat di ruang medis. Francisco bersikeras ia belum boleh kembali ke kamar utama. Patrick berjaga bergantian. Para pengawal mondar-mandir dengan langkah berat.

Sementara itu, Sandrina duduk sendirian di kamar Alecio. Kamar itu besar dan mewah. Terlalu besar untuk satu orang. Tempat tidurnya luas seperti lapangan bulu tangkis mini. Lampunya temaram. Tirai panjang menjuntai anggun.

Dan entah kenapa suasananya terasa kosong. Sandrina duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Ia menghela napas panjang.

“Ya Allah, Ayah di kampung pasti panik sekarang,” gumam Sandrina pelan.

Bayangan ayahnya muncul di kepalanya. Wajah cemas. Telepon yang tidak aktif. Polisi yang mungkin sudah didatangi.

Air mata Sandrina menggenang tanpa permisi. “Maaf, ya, Ayah … Sandrina belum bisa pulang.”

Sandrina membaringkan diri, menatap langit-langit kamar Alecio. Mau kabur? Ia melirik jendela. Malam di luar sangat gelap. Belum lagi ada benteng tinggi dan pos penjaga.

Terbayang lagi kejadian dirinya nyasar subuh kemarin. Tersesat, hampir pingsan, ditemukan sambil menangis.

Sandrina mendesah. “Jangan bodoh dua kali, Sandrina.”

Gadis itu berguling ke kanan. Lalu berguling ke kiri. Ke kanan lagi. Tetap tidak bisa tidur.

“Ini kasur empuk banget, tapi kenapa rasanya kayak tidur di atas pikiran sendiri, sih!”

Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di sofa panjang dekat jendela. Beberapa paper bag berjejer rapi. Ia bangkit pelan, berjalan mendekat.

“Oh, iya, ini baju dari Marcela.”

Sandrina membuka salah satunya. Matanya membulat ketika melihat gamis yang modelnya sangat cantik. Ukurannya juga longgar di badannya, sehingga tidak membentuk lekuk tubuhnya. Warnanya lembut, tidak menyala bikin mata silau. Terlebih lagi lengkap dengan jilbab dan cadar yang serasi.

Sandrina memegang kainnya. “Ya, ampun ... ini bagus banget!”

Sandrina membuka paper bag lain. Isinya gamis dengan model berbeda dan warna berbeda pula. Semua tertutup, sopan, elegan. Sejak diculik ke Italia, Sandrina merasa sedikit dihargai.

“Setidaknya aku bisa ganti baju tiap hari. Tidak pakai tali gorden lagi,” gumam gadis itu tersenyum kecil.

Namun, senyum itu perlahan memudar, Sandrina membeku. Tangannya berhenti membuka paper bag berikutnya. Ia mengobrak-abrik isinya lagi satu per satu. Semua isinya gamis, jilbab, dan cadar.

“Loh?”

Sandrina membuka lagi. Membalik semua paper bag itu, mengguncang-guncang.

Sandrina menegakkan badan perlahan. Lalu, bicara dengan suara yang makin meninggi.

“PAKAIAN DALAMNYA MANA?!”

Sandrina menutup mulutnya cepat-cepat. Saat ini jam sudah lewat tengah malam. Ia menoleh ke pintu. Takut ada anak buah Alecio yang tiba-tiba mendobrak pintu. Namun, suasana tetap hening.

Sandrina kembali memeriksa satu per satu paper bag dengan ekspresi makin dramatis.

“Gamis ada. Jilbab ada. Cadar ada. Tapi dalemannya nggak ada?! Ini gimana konsepnya sih?!”

Sandrina berkacak pinggang di tengah kamar besar itu. “Masa aku harus pakai … astaghfirullah, jangan sampai pakai punya Alecio!”

Sandrina menoleh pelan ke arah lemari besar pria itu. Wajahnya langsung berubah jijik, secara bentuk saja sudah beda, apalagi ukurannya.

“Tidak. Tidak mungkin. Harga diri masih ada.” Sandrina mulai mondar-mandir.

“Ini orang-orang detail banget soal halal-haram makanan, tapi lupa yang beginian?” Sandrina menunjuk paper bag dengan kesal.

“Marcelaaa ... kenapa kamu beli luarannya saja, dalemannya lupa! Aku ini bukan boneka etalase!”

Sandrina kembali duduk di kasur, memijat pelipisnya. “Ya Allah, cobaan hidupku sekarang bukan cuma diculik mafia, tapi juga krisis pakaian dalam.”

Sandrina merebahkan diri, menatap langit-langit lagi. Beberapa detik hening. Lalu, ia kembali duduk.

“Enggak bisa. Ini harus diomongin.”

Sandrina membayangkan dirinya besok pagi harus berkata pada Alecio, “Excuse me, Mr. Mafia. You forget my underwear.”

Wajah Sandrina langsung merah sendiri. “Tidak! Malu banget!”

Gadis itu menutup wajahnya dengan bantal. Beberapa detik kemudian terdengar suara teredam.

“Kenapa hidupku jadi kayak sinetron absurd begini, sih!”

Sandrina berguling lagi. Dia tidak bisa tidur. Pikiran tentang ayahnya datang lagi. Tentang rumah, tentang negaranya Indonesia, yang punya banyak pemandangan alam indah. Lalu, masjid dekat rumahnya yang adzan subuh, suka membangunkan dirinya.

Matanya kembali panas. Namun, kali ini Sandrina menahan tangisnya.

“Aku harus kuat,” bisik Sandrina pelan. “Kalau aku nangis terus, siapa yang marahin Alecio suruh makan obat?”

Entah kenapa memikirkan pria keras kepala itu membuat bibir Sandrina sedikit terangkat. “Dasar manusia yang ngaku-ngaku kuat. Sombong banget.”

Sandrina menarik selimut dan berbaring miring. Namun, sebelum benar-benar memejamkan mata, ia bergumam lagi pelan.

“Besok aku harus cari cara supaya bisa hubungi Ayah.”

Lalu beberapa detik kemudian, “dan cari solusi soal daleman ini.”

Akhirnya, menjelang dini hari, Sandrina tertidur dengan posisi meringkuk, dikelilingi paper bag gamis mahal yang lengkap dari atas sampai bawah, kecuali satu bagian yang sangat penting.

Pagi hari di kastil dimulai dengan cahaya matahari lembut dan kegelisahan tingkat tinggi dari seorang wanita berkebangsaan Indonesia. Sandrina berdiri di depan cermin kamar Alecio sambil menatap dirinya sendiri yang sudah memakai gamis baru warna sage. Dia terlihat cantik, anggun, dan sopan. Lengkap dengan jilbab rapi dan cadar yang menutupi wajahnya.

Sandrina mengangguk puas. “Alhamdulillah, minimal luarannya aman.”

Lalu wajahnya berubah serius. “Sayangnya, dalemannya tidak aman.”

Sandrina menghela napas panjang. “Ini harus dibicarakan. Tapi ngomongnya gimana coba?!”

Di koridor kastil, Sandrina melihat Marcela sedang memberi instruksi pada pelayan.

“Marcela,” panggil Sandrina pelan.

Marcela berbalik dengan senyum profesional. “Good morning, Sandrina. You look beautiful.”

Sandrina tersenyum kaku. “Thank you. I need talk.”

Marcela langsung fokus. “Yes?”

Sandrina menarik napas panjang. “Oke. Tenang. Cari bahasa yang sopan,” batinnya.

“About ... clothes.”

Marcela mengangguk. “You need different color?”

“No. No color problem.”

Sandrina mendekat sedikit, suaranya merendah. “Inside clothes.”

Marcela mengernyit. “Inside?”

Sandrina mulai panik. Tangannya bergerak tak tentu arah.

“You know, inside ... under ... very under.”

Marcela semakin bingung. “Under ... what?”

Sandrina memejamkan mata sebentar lalu berbisik cepat, “Underwear!”

Marcela membeku. “Oh.”

Sunyi dua detik. Tiga detik. Lalu Marcela menutup mulutnya, menahan tawa.

“Oh my God! I am so sorry.”

Sandrina langsung menutup wajahnya dengan tangan. “Please don’t laugh.”

“I didn’t think about that! I only focus on modest outfit!”

Sandrina mengangguk dramatis. “Yes. Outside very modest. Inside ... very crisis.”

Marcela akhirnya tertawa kecil, tapi sopan. “I will fix it immediately.”

Sandrina hampir pingsan lega. “Thank you. Thank you very much. You save my dignity.”

Sayangnya di ujung koridor itu, Alecio sedang berjalan perlahan menuju ruang makan setelah mengganti perban. Ia tidak berniat menguping, tetapi ia mendengar satu kata yang sangat jelas.

“Underwear.”

Langkah pria itu langsung berhenti. Alisnya terangkat. Alecio mendengar potongan kalimat lain, “Very crisis.”

Wajah Alecio berubah serius.

1
Nar Sih
sdh bisa di pasti kan nih alecio bnr ,,udah jatuh cinta
Cindy
lanjut
Sugiharti Rusli
dan apakah cinta Alecio bisa terbalas dengan tingginya tembok yang akan menghalangi mereka bersatu dalam ikatan
Sugiharti Rusli
apa nanti Alecio akan memenuhi janjinya mengurus dokumen Sandrina dan membiarkan dia pulang ke Indonesia,,,
Sugiharti Rusli
terkadang pertengkaran bukan jadi sesuatu yang meresahkan, tapi sesuatu yang bahkan dirindukab di kala salah satu jauh atau sakit,,,
Sugiharti Rusli
meski Sandrina awalnya adalah gadis biasa yang tersesat di sarang mafia, dan Alecio yang sudah lama ga pernah kenal kata cinta sama perempuan manapun bisa saling tertarik sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang yah istilah Jawa, 'witing tresno soko kulino' itu memang benar adanya yah
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
kenapa Alecio tidak coba untuk ikut sandrina pulang ke indo
Lilis Yuanita
👍
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya bakalan nikah yah 🤭
ken darsihk
Fix lah kalean jadian ajaaa , dan di resmikan di Indonesia 👏👏👏
Naufal Affiq
nikah aja sama alicio sandrina,biar kau bisa mudik,sebentar lagi kita lebaran lho
🌸Santi Suki🌸: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
ken darsihk
Alecio kebanyakan drama inti nya ya Alecio ngajak maried Sandrina 😂😂😂
Sugiharti Rusli
padahal kan bisa saja kalo si Alecio mau, si Sandrina diantarkan ke kedutaan Indonesia di Italia,,,
Sugiharti Rusli
dan alasan tentang dokumen si Sandrina yang hilang juga bisa dia manfaatkan dengan sangat baik sih yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yang belum Sandrina ketahui adalah kenyataan kalo seorang Alecio bisa jatuh cinta padanya karena tingkahnya yang unik dan cerewetnya😝😝😝
Sugiharti Rusli
bahkan mana ada dalam pikirannya kalo dia jadi tawanan seorang mafia di negara asing yah😅😅😅
Sugiharti Rusli
memang ajaib sih yah apa yang terjadi sama si Sandrina sekarang😅😅😅
gaby
Kasih lah mudik si Sandrina, tp kawal sampai tujuan. Lamar di dpn ortunya. Emang sampai kapan Alecio sanggup menahan sesak di dada & di celana stiap berdekatan dgn Sandrina. Segera halalkan biar lega dr rasa sesak itu😄😄
Aditya hp/ bunda Lia
kesempatan dalam kesempatan 🤭
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!