NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CINTA YANG MENYAMAR JADI AMARAH

Perjalanan Bagas kembali ke Tegal kali ini terasa jauh lebih singkat karena hatinya dipenuhi semangat yang membuncah. Namun, setibanya ia di halaman rumah Mas Anto, suasana haru yang tak terbayangkan justru menyambutnya. Kabar bahwa Kanaya akan segera dibawa pulang ke Bandung telah sampai lebih dulu melalui telepon, dan rupanya, kehadiran bayi mungil itu dalam waktu singkat telah mencuri seluruh hati penghuni rumah tersebut.

Di ruang tamu, suasana pecah seketika. Mbak Susan memeluk Kanaya erat-erat sambil terisak, seolah berat melepaskan bayi yang sudah ia anggap seperti darah dagingnya sendiri. Bahkan, orang tua Mbak Susan—kakek dan nenek dari pihak istri Mas Anto—yang sedang berkunjung pun ikut menyeka air mata dengan sapu tangan.

"Gas, apa tidak bisa lebih lama sedikit lagi? Mbak baru saja membelikan baju baru untuk Kanaya," ucap Mbak Susan di sela tangisnya, sambil menciumi pipi Kanaya yang tampak bingung melihat semua orang menangis.

Anak-anak Mas Anto adalah yang paling terpukul. Icha menangis sesenggukan di pojok sofa, sementara si kembar, Arda dan Ardi, memegang kaki Bagas dengan erat seolah berusaha menahan langkah paman mereka.

"Om Bagas jahat! Jangan bawa Adik bayi pulang! Nanti siapa yang Arda kasih robot-robotan?" tangis Arda pecah, membuat suasana semakin mengharu biru. Ardi pun ikut menimpali sambil terisak, "Iya Om, nanti rumah jadi sepi lagi... nggak ada yang lucu lagi."

Mas Anto, yang biasanya paling tenang dan logis, kali ini tampak berkaca-kaca. Ia merangkul Bagas sambil menepuk pundaknya berkali-kali. "Kami semua berat melepasnya, Gas. Tapi kami tahu, tempat terbaik bagi seorang anak adalah di samping ayahnya. Apalagi Maya sudah membuka hatinya, itu mukjizat yang tidak boleh kamu sia-siakan."

Mbak Susan kemudian menyerahkan Kanaya ke pelukan Bagas dengan tangan yang masih gemetar. "Ini, Gas... semua perlengkapannya sudah Mbak packing. Ada susu, popok, dan baju-baju dari nenek juga. Tolong jaga dia baik-baik ya. Kalau kamu kewalahan di Bandung, telepon kami. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk Kanaya."

Bagas ikut meneteskan air mata melihat betapa besarnya cinta yang diberikan keluarga kakaknya untuk putri kecilnya. Ia berlutut di depan Icha dan si kembar, berjanji bahwa mereka akan sering berkunjung. "Icha, Arda, Ardi... terima kasih ya sudah jaga Adik Kanaya. Ayah harus bawa Kanaya pulang supaya Kanaya bisa kenal sama kakek dan nenek di Bandung juga. Nanti kita main lagi ya?"

Momen perpisahan itu diakhiri dengan pelukan keluarga yang sangat erat di depan mobil. Bagas melangkah pergi meninggalkan Tegal bukan lagi sebagai pria yang kalah, melainkan sebagai seorang ayah yang membawa kembali "hartanya" yang paling berharga menuju rumah yang kini sudah siap menerimanya dengan cinta yang utuh.

Suasana malam di lingkungan rumah orang tua Bagas sudah sangat sepi saat taksi yang membawanya berhenti tepat di depan gerbang. Jam di pergelangan tangan Bagas menunjukkan pukul satu dini hari. Udara Bandung yang dingin menusuk hingga ke tulang, membuat Bagas semakin erat mendekap Kanaya yang tertidur pulas dalam balutan selimut tebal dan gendongan kain.

Bagas melangkah pelan, berusaha tidak membuat suara gaduh di atas kerikil halaman. Namun, baru saja ia hendak mengetuk pintu, daun pintu kayu itu sudah terbuka lebih dulu. Ternyata, tidak ada satu pun penghuni rumah yang bisa tidur nyenyak malam itu.

Di balik pintu, Mbak Maya berdiri dengan mengenakan daster panjang dan jaket rajut. Wajahnya tampak tegang, matanya sembab seperti habis menangis diam-diam, namun gengsinya tetap terlihat dari cara ia melipat tangan di dada. Di belakangnya, Ibu dan Ayah Bagas juga muncul dengan wajah penuh harap.

"Lama sekali kamu," ketus Maya pelan, mencoba menutupi rasa leganya. "Bayinya kedinginan itu, cepat masuk!"

Bagas melangkah masuk ke ruang tamu yang hanya diterangi lampu kuning redup. "Maaf Mbak, tadi busnya sempat tertahan di Linggapura," bisik Bagas lelah.

Begitu Bagas duduk di sofa, suasana mendadak hening dan sakral. Ibunya mendekat dengan tangan gemetar karena rindu, tapi secara mengejutkan, Maya justru yang lebih dulu melangkah maju. Ia berdiri di depan Bagas, menatap gumpalan selimut di dekapan adiknya.

"Sini... biar aku yang bawa ke kamar," ucap Maya dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.

Bagas perlahan menyerahkan Kanaya yang masih terlelap ke lengan Maya. Saat kulit halus bayi itu bersentuhan dengan lengannya, pertahanan Mbak Maya runtuh seketika. Ia menatap wajah mungil Kanaya yang tenang—bibir yang mirip dengan Bagas dan hidung yang mirip dengan ibunya. Air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh tepat di pipi Maya.

"Kasihan sekali kamu, Nak... harus menempuh perjalanan jauh begini," bisik Maya sambil mengecup kening Kanaya dengan tulus. Ia tidak lagi peduli pada amarahnya kemarin. Di pelukannya sekarang bukan lagi "anak dari adik yang nakal", melainkan seorang keponakan tak berdosa yang butuh perlindungan.

Ibu Bagas memeluk pundak Maya dari belakang, ikut menangis haru melihat kedua anaknya mulai berdamai lewat kehadiran bayi itu. Ayah Bagas yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menghela napas panjang dan tersenyum tipis. Malam itu, di tengah kegelapan Bandung, rumah itu terasa lebih terang dari biasanya.

"Bagas, kamu mandi sana pakai air hangat. Sudah Ibu siapkan," ujar ibunya. "Kanaya biar tidur sama Mbakmu malam ini. Dia sudah siapkan kasur bayi di kamarnya."

Bagas mengangguk, hatinya terasa sangat ringan. Saat ia melihat Mbak Maya membawa Kanaya masuk ke dalam kamar dengan langkah yang sangat hati-hati—seolah membawa berlian yang mudah pecah—Bagas tahu bahwa perjuangan jalan kakinya lima belas kilometer beberapa hari lalu telah terbayar lunas. Keluarga ini sudah utuh kembali.

Bagas yang baru saja hendak melangkah ke kamar mandi langsung terhenti, bahunya merosot mendengar teguran tajam itu. Ia menoleh dan melihat Mbak Maya sedang menyingkap sedikit topi rajut Kanaya di bawah lampu ruang tengah. Maya menunjuk dengan raut wajah antara jijik dan kasihan pada bagian ubun-ubun Kanaya yang memang tampak menguning dan bersisik—bekas keringat dan kotoran yang menumpuk karena Bagas hanya berani mengusapnya pelan dengan air selama di pelarian.

"Bu, besok beli perlengkapan bayi yang lengkap. Lihat ini, kepalanya berkerak seperti lumut begini! Bagas nggak bener urusannya, sembrono sekali!" ucap Maya dengan nada bicara yang tinggi namun tertahan agar tidak membangunkan bayi itu.

Ibunya mendekat, ikut memeriksa kepala cucunya. "Iya, ini namanya cradle cap, Maya. Memang harus dibersihkan pakai minyak khusus," sahut ibunya tenang.

Bagas tertunduk lesu di ambang pintu dapur. "Maaf, Mbak... Bagas takut kalau gosok terlalu keras nanti Kanaya kesakitan. Bagas cuma pakai sabun seadanya kemarin," ucapnya dengan nada penuh penyesalan.

Maya mendengus kasar sambil menimang Kanaya yang mulai menggeliat. "Ya itulah kalau cuma tahu bikinnya saja tapi nggak tahu cara ngerawatnya! Besok pagi-pagi, uang yang aku kasih tadi dipakai Ibu buat beli sabun bayi, minyak kelapa, sisir halus, sama baju yang bahannya beneran katun. Jangan kasih dia baju kasar begini, lihat lehernya sampai merah-merah karena keringat."

Meskipun kata-katanya pedas merobek hati, Bagas melihat Mbak Maya justru dengan sangat telaten mengusap dahi Kanaya menggunakan ujung jarinya yang lembut. Maya bahkan tidak mau meletakkan Kanaya di kasur, ia terus menggendongnya sambil mondar-mandir kecil, seolah sedang mengambil alih tugas sebagai "ibu" kedua di rumah itu.

"Sudah, Gas, jangan dimasukkan hati. Mbakmu itu memang cerewet kalau soal kebersihan, apalagi dia guru," bisik ibunya sambil menepuk lengan Bagas. "Sana mandi, besok kamu kan harus masuk shift pagi di pabrik laundry. Biar Kanaya Ibu sama Maya yang urus malam ini."

Malam itu, Bagas tidur dengan perasaan yang lebih tenang meski telinganya panas mendengar omelan kakaknya. Ia menyadari bahwa kritikan Mbak Maya adalah cara kakaknya itu untuk "memperbaiki" semua kesalahan yang telah Bagas lakukan selama ini. Di balik omelan soal "kepala berlumut" itu, terselip janji bahwa Kanaya tidak akan lagi hidup kotor dan terlantar.

Pagi-pagi sekali, saat matahari baru saja mengintip di balik awan Bandung, suasana rumah sudah riuh dengan suara air dari kamar mandi dan aroma kopi. Bagas sedang merapikan seragam safarinya yang biru gelap, bersiap berangkat ke pabrik laundry, sementara Mbak Maya terlihat sibuk menyiapkan buku-buku pelajarannya di meja makan.

Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu yang cukup mantap. Ibu Bagas yang sedang menyeduh susu untuk Kanaya segera berjalan ke depan dan membuka pintu. Di sana berdiri Mbok Darmi, tetangga lama mereka yang memang sering bekerja serabutan di lingkungan itu.

"Ya Allah, Mbok Darmi? Ada apa pagi-pagi begini, Mbok?" tanya Ibu Bagas heran.

Mbok Darmi tersenyum sambil membetulkan letak selendangnya. "Anu, Bu... semalam Bu Maya telepon saya. Katanya, Bu Maya cari pembantu buat urus bayi sama bersih-bersih rumah mulai hari ini. Saya disuruh datang jam enam pagi tadi, katanya biar kalau Bu Maya berangkat mengajar, sudah ada yang bantu Ibu jaga bayinya Bagas."

Suara Mbok Darmi yang cukup keras membuat Bagas dan ayahnya keluar dari ruang tengah dengan wajah penuh keheranan. Semuanya terdiam, mata mereka tertuju pada Mbak Maya yang sedang tenang-tenangnya mengoles selai ke roti tawarnya, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Maya? Kamu beneran panggil Mbok Darmi?" tanya Ibunya dengan suara tidak percaya.

Mbak Maya melirik sekilas, lalu menyeruput teh hangatnya. "Iya. Ibu itu sudah sepuh, kaki Ibu sering sakit kalau kelamaan berdiri. Bagas juga mau kerja jadi satpam, mana sempat dia bersih-bersih rumah dan cuci popok yang jumlahnya seambrek itu? Aku nggak mau rumah ini jadi berantakan cuma karena ada bayi," ucapnya dengan nada datar dan ketus, tipikal Mbak Maya.

Ia berdiri, merapikan rok kerjanya, lalu menoleh ke arah Bagas yang masih mematung dengan sepatu di tangan. "Jangan GR kamu, Gas. Aku panggil Mbok Darmi itu supaya Ibu nggak kelelahan, bukan buat manjakan kamu. Gaji Mbok Darmi biar aku yang tanggung tiap bulan. Kamu fokus saja kerja yang bener di pabrik laundry itu, jangan bikin malu lagi!"

Setelah berkata begitu, Mbak Maya mengambil tas kerjanya dan mencium tangan kedua orang tuanya. Sebelum keluar, ia menyempatkan diri mengintip Kanaya di kamar sejenak. "Mbok Darmi, tolong ya... itu kepala bayi dibersihkan pelan-pelan pakai minyak yang sudah saya beli di meja," pesannya tegas sebelum berangkat.

Bagas hanya bisa menarik napas panjang, ada rasa haru yang sesak di dadanya. Di balik sikap galak dan kata-katanya yang tajam, Mbak Maya ternyata sudah memikirkan semuanya hingga detail terkecil. Ia rela mengeluarkan gajinya sendiri demi memastikan Kanaya terurus dan ibunya tidak jatuh sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!