"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."
Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.
Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.
Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.
Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Tipu Daya Anita
Rumah besar itu seakan kehilangan jiwanya sejak pertengkaran hebat malam itu. Fandy lebih banyak menghabiskan waktu di kantor atau di balkon ruang kerjanya, menghindari tatapan mata Nida yang dirasanya terlalu sarat dengan permintaan yang mustahil. Syabila pun menjadi pendiam, menutup diri di kamar dengan buku-bukunya, sebuah protes bisu atas rencana ibunya. Di tengah keretakan ini, Anita Sasmira melihat celah yang sempurna. Baginya, kehancuran mental Nida adalah karpet merah menuju posisi "Nyonya Fandy" yang sudah lama ia incar.
Pagi itu, saat Fandy sudah berangkat kerja dan anak-anak sudah di sekolah, Anita datang tanpa diundang. Kali ini ia tidak membawa makanan, melainkan membawa sebuah map kulit berwarna hitam. Wajahnya tidak lagi secerah biasanya; ia memasang raut muka yang sangat prihatin, sebuah akting yang telah ia latih di depan cermin berjam-jam.
"Kak Nida, aku tahu Kakak sedang sangat tertekan. Aku juga tahu soal rencana Kakak mencarikan istri untuk Mas Fandy," Anita memulai pembicaraan di ruang tengah. Ia duduk sangat dekat dengan Nida, mencoba menunjukkan keakraban yang palsu.
Nida menatapnya datar. Tubuhnya terasa sangat lemah pagi ini, pusing yang luar biasa membuatnya sulit berkonsentrasi. "Lalu? Apa urusannya denganmu, Anita?"
Anita menghela napas panjang, sangat dramatis. "Urusannya adalah... aku ingin melindungi Mas Fandy. Aku dengar Kakak sedang mendekati seorang perempuan bernama Hana? Guru mengaji itu?" Anita mengeluarkan beberapa lembar foto dari mapnya. "Kakak yakin sudah mengenal dia? Aku punya teman yang tinggal di lingkungan Hana. Katanya, Hana itu hanya berpura-pura alim. Dia punya masa lalu yang kelam di kampungnya."
Nida tertegun sejenak. Ia mengambil foto-foto itu. Di sana terlihat Hana sedang berbicara dengan seorang pria di tempat remang-remang. Kualitas fotonya buruk, sengaja diambil dari jarak jauh dan tampak kabur. "Aku tidak percaya fitnah tanpa bukti, Anita. Foto ini tidak membuktikan apa pun."
"Oh, Kak... Kakak terlalu baik," Anita menyeringai tipis, sebuah seringai yang sangat cepat hilang. "Tapi bukan itu yang terpenting sekarang. Mas Fandy sedang sangat goyah. Semalam dia menelepon Mama sambil menangis. Dia bilang dia merasa Kak Nida sudah tidak mencintainya lagi. Dia merasa... Kakak sedang mencoba 'membuangnya' agar Kakak bisa mati dengan tenang tanpa beban rasa bersalah."
Kalimat itu menghujam jantung Nida. "Dia bilang begitu?" bisiknya, suaranya hampir hilang.
"Iya, Kak. Dan Mama sangat marah. Mama bilang, kalau Kak Nida memang sudah tidak sanggup mengurus keluarga, lebih baik Kak Nida fokus pengobatan di rumah sakit saja, biarkan rumah ini diurus oleh orang yang sehat. Mama bahkan sudah menyiapkan pengacara untuk membahas hak asuh Syabila dan Syauqi. Mama tidak ingin anak-anak tumbuh dengan melihat ibunya menderita setiap hari, itu akan merusak psikologis mereka, Kak."
Nida merasakan dunianya berputar. Strategi Anita sangat licik; ia menyerang di titik terlemah Nida, yaitu rasa sayangnya pada anak-anak dan rasa bersalahnya pada Fandy. Anita ingin Nida merasa bahwa keberadaannya di rumah itu justru menjadi racun.
"Kamu bohong, Anita. Mama Rosa memang keras, tapi dia tidak akan sejahat itu padaku," bantah Nida, meski keraguan mulai menyusup di hatinya.
Anita hanya mengangkat bahu. "Tanya saja pada Mas Fandy nanti malam. Oh, tapi jangan bilang aku yang kasih tahu ya. Aku cuma ingin membantu Kakak agar tidak salah langkah. Daripada memberikan Mas Fandy pada orang asing seperti Hana yang tidak jelas asal-usulnya, bukankah lebih baik jika 'pengganti' itu adalah orang yang sudah dikenal keluarga? Seseorang yang Mas Fandy sudah merasa nyaman..."
Anita belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat asisten rumah tangga Nida masuk membawakan minum. Anita segera mengubah ekspresinya menjadi lembut kembali. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai.
Siang harinya, Nida yang merasa gelisah memutuskan untuk memeriksa sesuatu di ruang kerja Fandy. Ia mencari charger ponselnya yang tertinggal, namun ia justru menemukan sesuatu yang membuatnya membeku. Di laci meja Fandy yang tidak terkunci, terdapat sebuah surat perjanjian pra-nikah yang sudah ditandatangani oleh Anita Sasmira, namun kolom untuk suami masih kosong. Di sampingnya, ada beberapa dokumen perpindahan aset perusahaan yang drafnya sudah disusun.
Nida menyadari bahwa Anita bukan hanya sekadar ingin menjadi istri; dia ingin menguasai kerajaan bisnis Fandy. Anita telah memanipulasi Mama Rosa agar menekan Fandy dari sisi keluarga, sementara di sisi lain, ia mencoba merusak mental Nida.
Tiba-tiba, ponsel Nida bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya adalah sebuah rekaman suara. Dengan tangan gemetar, Nida membukanya. Itu adalah suara Anita yang sedang berbicara dengan seseorang, kemungkinan asisten pribadinya atau teman dekatnya.
*"...Tenang saja. Nida itu sudah sekarat. Dia tidak punya kekuatan untuk melawan. Aku hanya perlu membuatnya merasa bersalah pada anak-anaknya, lalu dia sendiri yang akan meminta Fandy menikahiku. Begitu aku masuk ke rumah itu, anak-anak akan kukirim ke boarding school di luar negeri. Aku tidak mau hidupku direcoki oleh anak-anak manja itu. Yang penting aset Fandy jatuh ke tanganku sebelum dia sadar apa yang terjadi."*
Nida terjatuh di kursi kerja Fandy. Air matanya mengalir, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang sangat besar. "Ya Allah... Engkau tunjukkan kebusukannya tepat di saat aku hampir menyerah," bisiknya.
Namun, kejutan belum berakhir. Di balik pintu ruang kerja, Fandy ternyata sudah berdiri di sana. Ia baru saja pulang karena lupa membawa dokumen penting, dan ia telah mendengar rekaman itu bersama Nida. Wajah Fandy sangat pucat, matanya memancarkan kemarahan yang belum pernah Nida lihat sebelumnya.
"Mas... sejak kapan kamu di sana?" Nida terperanjat.
Fandy tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, mengambil ponsel Nida, dan mendengarkan kembali rekaman itu sekali lagi. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Jadi ini... ini 'bantuan' yang Mama banggakan? Ini wanita yang Mama inginkan untuk menggantikanmu?" suara Fandy terdengar berat dan dalam.
"Mas, aku..."
"Maafkan aku, Nida," Fandy berlutut di hadapan istrinya, membenamkan wajahnya di pangkuan Nida. "Maafkan aku karena sempat ragu padamu. Maafkan aku karena menganggap idemu itu hanya ketakutan yang berlebihan. Aku tidak pernah membayangkan ada manusia sejahat itu di dekat kita."
Di saat yang bersamaan, terdengar suara Anita dari arah ruang tamu. "Mas Fandy? Mas sudah pulang? Tadi aku lihat mobil Mas di depan..."
Fandy berdiri. Ia mengusap air matanya dan menatap Nida dengan pandangan yang kini penuh tekad. "Tetaplah di sini, Nida. Biar aku yang selesaikan ini."
Fandy berjalan keluar menuju ruang tamu. Nida mengikuti dari kejauhan, bersandar pada pilar koridor. Ia melihat Fandy berdiri tegak di depan Anita yang masih memasang senyum manisnya.
"Anita, keluar dari rumahku sekarang," suara Fandy sangat tenang, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Anita tersentak. "Mas? Ada apa? Aku baru saja bicara dengan Kak Nida tentang..."
"Aku sudah mendengar semuanya. Rekaman suaramu, rencana dokumen asetmu, dan bagaimana kamu berencana 'membuang' anak-anakku ke luar negeri," Fandy melemparkan draf dokumen yang ia ambil dari laci ke meja di depan Anita. "Jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi. Dan jangan pernah berani menelepon Mamaku untuk menghasutnya lagi, atau aku sendiri yang akan memastikan kamu kehilangan segalanya."
Anita ternganga. Topeng malaikatnya runtuh seketika, berganti dengan wajah yang dipenuhi kebencian dan kepanikan. "Mas, itu fitnah! Rekaman itu pasti editan Nida! Dia ingin menyingkirkanku karena dia iri padaku!"
"Keluar!" bentak Fandy.
Anita tersentak, ia menyambar tasnya dan berlari keluar dengan langkah serampangan, meninggalkan aroma parfumnya yang kini terasa menyesakkan.
Fandy berbalik dan melihat Nida. Ia berjalan menghampiri istrinya, memeluknya dengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya lagi. "Nida... kamu benar. Aku terlalu buta. Dunia ini memang jahat, dan anak-anak butuh perlindungan."
Nida menangis di dada suaminya. "Lalu, bagaimana dengan rencanaku, Mas? Tentang Hana?"
Fandy terdiam cukup lama. Ia menghirup aroma rambut Nida, aroma yang ia tahu mungkin tak akan lama lagi bisa ia rasakan. "Bawa aku bertemu dengannya, Nida. Bukan sebagai calon suaminya untuk saat ini... tapi sebagai ayah yang ingin memastikan siapa yang akan menjaga anak-anaknya kelak. Aku akan mencoba membuka hati, demi kamu, dan demi mereka."
Kejutan hari itu belum berakhir. Saat mereka sedang berpelukan, Syabila berdiri di tangga, memperhatikan semuanya. Ia turun perlahan, lalu ikut memeluk kedua orang tuanya. "Maafkan Syabila, Ibu... Syabila tidak mau Anita jadi ibu Syabila. Syabila mau siapapun yang Ibu pilih, asal dia baik seperti Ibu."
Sore itu, untuk pertama kalinya setelah vonis dokter, ada secercah cahaya yang masuk ke rumah itu. Tipu daya Anita justru menjadi katalis yang menyatukan kembali visi keluarga mereka. Nida tahu, fisiknya mungkin kian rapuh, tapi batinnya kini memiliki pasukan yang lengkap. Ia tidak lagi berjuang sendirian. Perjalanan mencari "Istri untuk Suamiku" kini bukan lagi sebuah ide yang menyakitkan, melainkan sebuah misi suci yang disepakati bersama. Namun, di kejauhan, Hana sendiri belum tahu bahwa sebuah takdir besar sedang bergerak menuju arahnya, membawa tanggung jawab yang akan mengubah hidupnya selamanya.
---