NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 13

Anna Barthley, 21 tahun.

Di usia ketika sebagian besar gadis masih sibuk merancang mimpi, tertawa bersama teman, dan memikirkan masa depan yang cerah—Anna justru dihantui tagihan dan ancaman para penagih utang.

Gloria Barthley dan March Barthley—dua nama yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung—justru meninggalkannya bersama tumpukan utang akibat perjudian mereka.

Mereka menghilang.

Tanpa pesan. Tanpa rasa bersalah.

Dan Anna… menjadi jaminan.

Rumah kecil penuh kenangan itu telah dijaminkan. Jika utang tak terbayar, ia akan terusir dari satu-satunya tempat yang menyimpan sisa hidupnya.

Sejak saat itu, hidupnya berubah menjadi putaran tanpa henti.

Pagi hari ia bekerja sebagai pelayan di kafe.

Siang hingga malam ia menjadi staf di bar hotel bintang tiga.

Selepas itu, ia masih berdiri di minimarket 24 jam hingga mendekati tengah malam.

Tangannya kasar.

Kakinya sering gemetar menahan lelah.

Namun ia tak pernah mengeluh.

Karena jika ia runtuh—

tak ada siapa pun yang akan menyelamatkannya.

Dan setiap malam, saat ia sendirian di kamar sempitnya, hanya satu pertanyaan yang terus berputar dalam benaknya:

Mengapa anak harus membayar dosa orang tuanya?

Semua data itu dengan mudah didapatkan oleh Jackman.

Ia melemparkan berkas-berkas tersebut tepat ke wajah Drew yang masih bertumpu pada lututnya. Wajah Drew telah lebam, bibirnya pecah, tubuhnya penuh luka.

Beberapa lembar kertas berhamburan di lantai. Foto Anna terjatuh paling depan.

Malam itu, halaman Mansion utama berubah menjadi medan senyap yang mematikan.

Mobil-mobil hitam berhenti berderet. Lampu depan mereka menyorot tajam ke arah gerbang besi yang terbuka perlahan.

Jay turun lebih dulu.

Di belakangnya, para pengawal ikut keluar. Jas gelap. Wajah tanpa ekspresi. Tangan mereka tak jauh dari senjata.

Jay tahu betul arti langkahnya malam ini.

Jika ia membawa orang-orang bersenjata ke wilayah kekuasaan ayahnya sendiri, itu bukan lagi sekadar perlawanan kecil.

Itu adalah deklarasi.

Namun ia juga tahu satu hal—

ia tak bisa membiarkan Drew mati.

Karena jika Drew jatuh malam ini…

gadis yang ia lindungi diam-diam bisa menjadi target berikutnya.

Dan itu tidak akan pernah ia izinkan.

Di sisi lain halaman, para pengawal Jackman sudah berjajar rapi.

Satu gerakan kecil saja.

Klik.

Senjata terangkat.

Pengawal Jay refleks mengangkat pistol mereka juga.

Dalam hitungan detik, dua kubu berdiri saling menodongkan laras.

Udara terasa berat.

Angin malam pun seakan enggan berembus.

“Turunkan senjata kalian,” salah satu komandan pengawal Jackman memperingatkan.

“Suruh tuanmu berhenti menyiksa orang kami,” balas pengawal Jay dingin.

Jay melangkah maju satu langkah.

“Buka jalan.” Perintah Jay.

“Maaf Tuan Muda. Perintah langsung dari Tuan Jackman. Tak seorang pun masuk tanpa izinnya.”

Jay mengangkat dagunya sedikit.

“Kalau begitu, sampaikan padanya bahwa aku sudah di sini.”

Tak ada yang bergerak.

Jari-jari di pelatuk semakin menegang.

Satu percikan saja cukup untuk membuat halaman itu berubah menjadi lautan darah.

Jay menoleh sedikit pada anak buahnya.

“Jangan tembak kecuali aku perintahkan.”

Nada suaranya tenang.

Namun semua orang tahu—itu bukan permintaan.

Di atas balkon lantai dua, tirai tipis tersibak perlahan.

Helena berdiri di balik jendela besar kamarnya.

Ia menatap pemandangan itu dengan senyum sinis.

Cahaya lampu halaman memantulkan kilau kemenangan di matanya.

“Akhirnya…” gumamnya pelan.

Anak tiri yang selalu dibanggakan oleh Jackman.

Yang selalu dianggap paling rasional.

Paling setia.

Paling layak mewarisi segalanya.

Kini berdiri membawa senjata melawan ayahnya sendiri.

Helena menyilangkan tangan di dada.

“Lihatlah, Jackman… Anak emasmu sendiri yang menantangmu.”

Di bawah, ketegangan memuncak.

Pintu utama Mansion terbuka perlahan.

Langkah berat terdengar menyusuri tangga marmer.

Pintu ruangan kerja milik Jackman tiba-tiba di buka dengan keras.

Jay masuk tanpa ragu. Langkahnya mantap, tatapannya tajam.

Sepatunya tanpa sengaja menginjak satu berkas yang menampilkan wajah Anna beserta detail kehidupannya.

Jay menelan ludah.

“Anda memang hebat,” ucapnya dingin.

Jackman menyandarkan tubuhnya pada kursi, tatapannya tidak berpindah dari Drew.

“Aku tidak akan menyentuhnya sebelum acara amal selesai. Aku tidak ingin ada kegaduhan.”

Ia bangkit perlahan.

“Tapi jika kau merusak acara amal besok…” suaranya merendah, penuh tekanan, “kau tidak akan pernah lagi bisa membuntuti dan mengawasinya.”

Drew terbatuk, darah menetes dari sudut bibirnya.

“Dia tidak ada hubungannya dengan ini…”

Jackman tersenyum tipis.

“Semua orang selalu punya hubungan. Hanya saja, mereka belum menyadarinya.”

Jay mengepalkan tangan.

“Jadi ini ancaman?”

Jackman menoleh padanya.

“Ini peringatan.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Namun ketegangan di antara mereka—

baru saja dimulai.

Halaman Mansion masih dipenuhi ketegangan yang belum sepenuhnya reda.

Tatapan Jackman tertuju lurus pada putranya.

“Bawa dia,” ucap Jackman akhirnya, suaranya datar namun sarat tekanan. “Tapi ingat, Jay… setiap pilihan memiliki harga.”

Beberapa detik terasa seperti keabadian.

Lalu dua pengawal Jackman menyeret Drew keluar dari dalam. Tubuh Drew nyaris tak mampu berdiri tegak. Wajahnya penuh luka, darah mengering di sudut bibirnya, satu matanya membengkak.

Jay melangkah cepat.

Untuk sesaat, emosinya hampir pecah melihat kondisi itu.

“Lepaskan dia,” kata Jay dingin.

Pengawal itu mendorong Drew ke depan. Tubuhnya limbung.

Jay sigap menangkapnya sebelum terjatuh.

“Maaf, Tuan…” suara Drew parau, hampir tak terdengar.

“Diam,” potong Jay pelan, namun tegas. “Kau tidak melakukan kesalahan.”

Di atas balkon, Helena menyaksikan dengan mata berbinar tipis. Ia tak perlu berbuat banyak. Malam ini sudah cukup untuk menanam benih perpecahan.

Jay memapah Drew menuju mobil.

Para pengawal kedua kubu masih saling menatap tajam, namun senjata telah diturunkan. Tidak ada peluru yang dilepaskan—namun harga yang dibayar jauh lebih mahal dari sekadar darah.

Sebelum masuk ke mobil, Jay berhenti.

Ia menoleh kembali pada ayahnya.

“Acara amal besok akan berjalan lancar,” ucapnya. “Aku pastikan itu.”

Jackman tersenyum tipis tanpa mengatakan sepatah katapun.

Jay kemudian membantu Drew masuk ke kursi belakang, lalu ikut masuk.

Pintu mobil tertutup.

Mesin menyala.

Konvoi perlahan meninggalkan Mansion utama.

Di dalam mobil, Drew terbatuk kecil.

“Tuan… mereka tahu tentang dia.”

Jay menegang.

“Aku tahu.”

Lampu jalan silih berganti menyinari wajahnya yang kini tak lagi setenang biasanya.

Malam ini ia berhasil membawa Drew keluar.

Namun ia juga baru saja menyalakan perang yang tak mungkin lagi dipadamkan.

Dan jauh di dalam hatinya, satu tekad mengeras—

Jika ayahnya menyentuh gadis itu…

maka bukan hanya Drew yang akan ia selamatkan.

Ia akan menghancurkan segalanya.

Mobil melaju stabil membelah malam. Di dalamnya, suasana masih dipenuhi ketegangan yang belum sepenuhnya reda.

Jay menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Lampu jalan yang bergantian menyinari wajahnya memperlihatkan keputusan yang sudah bulat.

Ia mengambil ponselnya.

“Sambungkan aku dengan tim inti.”

Beberapa detik kemudian, suara di seberang terdengar siap.

Jay berbicara tanpa ragu.

“Tempatkan pengawal sebanyak apa pun di sekitar Anna.”

Ia berhenti sejenak, memastikan setiap kata dipahami.

Bersambung

1
@emak aisyah
keren,tidak ada kata selain keren,KEREN KALI THOR semangat di tunggu updatenya 🙏
@emak aisyah
cas cis cus pokoknya gas torr
@emak aisyah
satu kesalan satu ciuman bikin kesalahan trs aahhh🤣🤣
@emak aisyah
lah jadi kacau,kasihan Anna nggk tau apa² jadi sasaran semua orang gerak cepat Jay simpan jangn sampai ada yang menyentuhnya
@emak aisyah
nggk bisa nafas aku bacanya
@emak aisyah
masuk babak menegangkan,apakah Jay masih diam saja saat di tindas zavier
@emak aisyah
blm terjadi tapi aku udah kasihan Ama Anna
@emak aisyah
lah kirain tak sama,ternyata sama² psikopat
@emak aisyah
ko bisa orng berbahaya kaya Jay bisa kuat diam saja di siksa😔😔
@emak aisyah
keren tidak salah kalian author terbaik semangat thor💪💪
@emak aisyah
halo kakak author salam kenal saya fans NEWBEE HK mau ikut nimbrung di sini🙏🙏
eva nindia
makasih up nya thor...
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
eva nindia
baguss kluar ajaa jay,,, bangun dinasti baru mu....
eva nindia
🙄 knapa insting c jackman gak jalan
eva nindia
cba tahta itu d serahin ke zavier djamin ancurr 🤭🤭
eva nindia
haduhh mreka berhasil ngadu domba jack am jay....
awas ya zavier jgn jtuh cnta am anna klo kmi udh liat dia
eva nindia
yahhh gagal 🤣🤣
udh masuk part dar der dorrr
eva nindia
astagaaa 🤣🤣🤣 untung baca.a skrg 😄
eva nindia
astagaa langsung nyosor z jayy🤣🤣😍
eva nindia
bnerkan c anna gak inget am jay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!