Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang terasa asing
“Kamu serius?” tanyanya lagi.
“Kenapa? Gak boleh?”
Ia diam.
Benar-benar diam.
Tidak ada jawaban. Hanya napasnya yang terdengar lebih berat dari biasanya.
Beberapa detik terasa panjang.
Aku akhirnya tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana.
“Bercanda kok, Mas. Santai aja. Gitu doang kok kelihatan tegang banget.”
Ia melirikku sekilas. “Kamu berani banget ya sekarang.”
“Berani gimana?”
“Beda banget waktu kita pertama kali ketemu.”
Aku tertawa kecil. “Iya juga ya… dulu aku cuma bisa nunduk.”
Aku masih ingat jelas hari itu. Aku bahkan sulit menatap matanya lebih dari tiga detik. Suaraku pelan, tanganku selalu saling menggenggam karena gugup.
Sekarang?
Aku berani menggoda. Berani menantang. Berani meminta dipanggil “sayang”.
Ia menggeleng kecil, tapi ada senyum tipis di sudut bibirnya.
“Perubahannya cepat.”
“Buruk ya?”
“Enggak.” Jawabannya cepat. “Cuma… aku gak nyangka.”
Mobil tiba-tiba melambat.
Aku menoleh ke depan.
Gang kecil itu. Pohon mangga yang sama. Dinding pagar yang catnya mulai mengelupas.
Dan kemudian mobil berhenti.
Sudah sampai.
Rumah ibuku.
Mesin dimatikan. Suara di dalam mobil mendadak sunyi.
Ia melepas sabuk pengamannya. “Ayo.”
Aku tidak bergerak.
Tanganku masih memegang ujung baju yang tadi ia bilang cocok di tubuhku.
“Zahra?” panggilnya pelan.
Aku menatap rumah itu.
Aneh.
Sangat aneh.
Harusnya ini tempat paling nyaman di dunia buatku. Tempat aku tumbuh, menangis, tertawa, dimarahi, dipeluk.
Tapi sekarang… rasanya seperti melihat rumah orang lain.
Seolah-olah ada jarak yang tak terlihat.
“Aku…” suaraku pelan. “Rasanya kayak bukan rumahku.”
Ia tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengamatiku.
“Apa karena sudah lama gak pulang?” tanyanya akhirnya.
Aku menggeleng pelan. “Bukan itu.”
“Terus?”
Aku menelan ludah. “Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut Ibu lihat aku dan sadar aku sudah berubah.”
Ia terdiam.
Angin pagi meniup daun-daun di halaman. Ada suara sendok beradu dengan piring dari dalam rumah tetangga. Semua terasa biasa.
Tapi di dalam dadaku, tidak biasa.
“Aku bukan Zahra yang dulu lagi, Mas,” kataku pelan. “Dan aku gak tahu Ibu siap atau enggak melihat itu.”
Ia membuka pintu mobilnya lebih dulu, lalu berjalan memutar ke arahku.
Ia tidak memaksaku turun.
Ia berdiri di samping pintu mobilku yang masih tertutup.
“Kamu gak berubah jadi orang lain,” katanya tenang. “Kamu cuma bertambah.”
Aku mengangkat wajahku.
“Bertambah?”
“Iya. Bertambah berani. Bertambah dewasa.”
Aku terdiam.
Ia membuka pintu mobil perlahan.
“Ayo,” katanya lebih lembut. “Aku di sini.”
Aku turun.
Kakiku menyentuh tanah halaman yang dulu sering kupijak dengan sandal sekolah.
Langkahku terasa berat.
Setiap jengkal mendekat ke pintu membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Aku berdiri di depan pintu kayu itu.
Catnya sedikit mengelupas di bagian bawah. Bekas goresan lama masih ada.
Tanganku terangkat untuk mengetuk.
Tapi berhenti di udara.
“Mas…” suaraku hampir tak terdengar.
Ia berdiri sedikit di belakangku, memberi ruang.
“Iya?”
“Kalau nanti Ibu marah… atau kecewa…”
Ia menatapku beberapa detik, lalu berkata pelan, “Kecewa karena apa? Ibu dan ayahmu nanti pasti akan terpaku melihatmu yang sekarang.”
“Terpaku?” ulangku bingung.
Ia tidak menjawab.
Alih-alih menjelaskan, ia melangkah sedikit maju, mengetuk pintu dengan tenang.
Tok. Tok. Tok.
“Assalamu’alaikum.”
Suara langkah kaki terdengar dari dalam. Semakin mendekat.
Jantungku mendadak tak terkendali.
Aku meremas ujung bajuku tanpa sadar.
Pintu terbuka.
“Wa’alaikumussalam—”
Kalimat itu terhenti.
Ibuku berdiri di ambang pintu, menatapku dari ujung kepala sampai kaki.
Lalu kedua tangannya spontan menutup mulutnya sendiri.
“MasyaAllah…” suaranya bergetar. “Cantik banget putriku…”
Pipiku langsung memerah.
Bukan karena pujian semata. Tapi karena cara ia mengucapkannya—penuh bangga. Penuh haru.
“Ibu…” suaraku melemah.
Tanpa menunggu lama, ia menarikku ke dalam pelukannya.
Hangat.
Sangat hangat.
Aroma rumah yang dulu begitu akrab langsung memenuhi indra penciumanku. Sabun yang biasa ia pakai. Wangi dapur yang samar.
Semua kenangan seperti menumpuk dalam satu detik.
Ia melepas pelukannya sedikit, masih memegang kedua pundakku.
“Kamu sehat? Kamu bahagia?”
Aku mengangguk pelan.
Matanya berkaca-kaca.
Lalu tiba-tiba ia menoleh ke dalam rumah dan berseru dengan suara setengah gemetar, setengah bangga—
“Ayah! Putri cantikmu datang… sama suaminya!”
Jantungku berhenti sepersekian detik.
Suaminya.
Kata itu terasa nyata saat keluar dari mulut ibu.
Langkah kaki berat terdengar dari dalam.
Ayahku muncul dari ruang tengah, wajahnya tetap tegas seperti biasa—tapi matanya langsung berubah saat melihatku.
“Zahra…”
Aku tak sempat berkata apa-apa.
Ia sudah memelukku lebih dulu.
Pelukan ayah berbeda. Lebih kuat. Lebih kokoh.
Seperti tembok yang dulu selalu membuatku merasa aman.
“Sudah dewasa kamu…” katanya pelan di dekat kepalaku.
Aku menahan air mata.
Ayah melepas pelukannya perlahan, lalu menatap pria di sampingku.
Tatapan itu tidak tajam. Tapi penuh penilaian.
Schevenko berdiri tegak. Tenang. Tidak menunduk, tapi juga tidak menantang.
Ia melangkah sedikit maju dan menyalami ayahku dengan sopan.
“Assalamu’alaikum, Yah.”
Ayah menjabat tangannya dengan mantap. “Wa’alaikumussalam.”
Satu detik.
Dua detik.
Seolah ada percakapan diam di antara genggaman itu.
Lalu ayah mengangguk kecil.
“Masuk dulu.”
Kami melangkah masuk ke ruang tamu yang sama seperti dulu. Sofa lama itu masih ada. Lemari kaca berisi piala sekolahku masih berdiri di sudut ruangan.
Tapi rasanya berbeda.
Aku duduk di sofa, tepat di tempat yang dulu sering kupakai belajar.
Ibu duduk di sampingku, memegang tanganku seperti takut aku akan menghilang lagi.
Ayah duduk di kursi seberang, sementara Schevenko duduk dengan jarak yang sopan di sampingku.
“Ayah kira kamu masih kecil,” ayah berkata pelan. “Ternyata sudah seperti ini.”
Aku tersenyum kecil. “Zahra juga kadang masih merasa kecil, Yah.”
Ibu menatap wajahku lekat-lekat.
“Bahagia?” tanyanya lagi.
Aku melirik sekilas ke samping.
Schevenko duduk tenang, tapi aku bisa melihat jemarinya saling menggenggam di atas lututnya—tanda ia juga tegang.
“Iya, Bu,” jawabku pelan. “Aku bahagia.”
Ibu tersenyum lega, lalu berdiri. “Ibu buatkan minum dulu. Kamu pasti capek.”
Saat ibu ke dapur, suasana sedikit lebih sunyi.
Aku menatap sekeliling rumah.
Foto-foto lama masih terpajang. Ada fotoku saat masih berseragam SMP dengan poni berantakan. Ada foto keluarga saat liburan sederhana ke pantai—aku berdiri di tengah, memegang tangan ayah dan ibu sambil tersenyum malu.
Aku merasa seperti melihat versi diriku yang lain.
Zahra yang dulu pemalu.
Zahra yang selalu menunduk.
Zahra yang bahkan tak berani membantah ayah soal jam pulang.
Sekarang aku duduk di tempat yang sama… dengan seseorang di sampingku yang membuatku berani.
Ayah tiba-tiba berkata pelan, hampir seperti gumaman—
“Rumah ini selalu terbuka buat kamu.”
Aku menoleh.
“Tapi kamu memang harus tumbuh di tempat lain,” lanjutnya.
Dadaku menghangat.
Namun tiba-tiba ayah mengalihkan pandangannya pada Schevenko.
Tatapannya berubah. Bukan lembut lagi. Ada kilatan yang berbeda.
“Aku sangat rindu sekali padamu,” katanya pelan tapi jelas. “Aku belum sempat balas dendam.”
Aku membeku. “Hah? "
Schevenko justru tersenyum tipis.
“Yah… masa masih diingat juga?”
Aku menoleh cepat ke arahnya. “Diingat apa?”
Ia bersandar sedikit lebih santai. “Ayahmu kalah main catur denganku waktu itu. Gak terima.”
Ayah langsung mengangkat alis. “Bukan gak terima.”
“Oh bukan?” balas Schevenko santai.
“Waktu itu saya lagi tidak fokus.”
Aku menatap ayah dengan mata membesar. “Ayah kalah catur? Masa iya ayah kalah?”
Sejak kecil aku tahu ayah jago catur. Tidak pernah ada tetangga yang bisa mengalahkannya lebih dari sekali.
Ayah berdeham kecil. “Iya, suamimu pintar banget.”
Suamimu.
Lagi.
Kata itu terasa seperti gema di kepalaku.
Tadi ibu. Sekarang ayah.
Aku menunduk sedikit, mencoba menyembunyikan reaksi yang tiba-tiba membuat napasku tersendat.
“Tapi,” lanjut ayah cepat, “suamimu itu beruntung. Ayah saat itu tidak terlalu fokus.”
Schevenko terkekeh kecil. “Alasan klasik orang yang kalah.”
Ayah menatapnya tajam—tapi jelas bercanda.
Aku masih membeku dengan kata itu.
Suami.
Tiba-tiba, di saat aku sedang mencoba mengurai pikiranku sendiri, Schevenko sedikit mendekat.
Sangat dekat.
Lalu bibirnya bergerak pelan di dekat telingaku—
“Ya gitulah orang kalau gak menerima kekalahan.”
Suaranya rendah. Hangat.
Aku langsung menoleh padanya dengan mata melebar.
Ia tersenyum tipis, puas karena berhasil membuatku tersenyum juga.
Ayah menyipitkan mata. “Kalian bisik-bisik apa itu?”
Aku buru-buru duduk tegak. “Enggak kok, Yah!”
Schevenko malah santai. “Saya cuma bilang, nanti siap-siap kalah lagi.”
Ayah langsung berdiri. “Sekarang juga?”
Aku tertawa kecil melihat mereka tiba-tiba seperti dua anak kecil yang sedang adu gengsi.
“Ibu belum datang,” kataku.
“Lebih bagus,” jawab ayah cepat. “Kalau Ibu lihat saya kalah lagi, bisa jadi bahan cerita sebulan.”
Schevenko berdiri perlahan. “Baiklah. Tapi kali ini saya tidak akan beri ampun.”
Aku menatap mereka bergantian, tak percaya suasana yang tadi tegang bisa berubah sehangat ini.
Ayah mengambil papan catur dari lemari kecil dekat televisi.
Aku ingat betul papan itu. Sudutnya sedikit tergores karena dulu pernah tak sengaja kujatuhkan.
Mereka duduk berhadapan.
Aku duduk di samping, memperhatikan.
Langkah pertama dimulai.
Bidak putih bergerak.
Ayah menatap papan dengan serius, alisnya berkerut. Schevenko tak kalah fokus, tapi sudut bibirnya masih menyimpan senyum tipis.
“Ayah gak akan kalah lagi,” gumam ayah.
“Kita lihat saja,” jawab Schevenko ringan.
Aku menahan tawa.
Beberapa langkah berlalu cepat. Suasana ruang tamu berubah jadi medan perang kecil.
Ibu keluar dari dapur membawa nampan berisi teh hangat dan kue.
“Astaga… baru lima menit ditinggal sudah mulai lagi?”
“Ayah mau balas dendam,” jawabku cepat.
Ibu menggeleng sambil tersenyum.
“Ayahmu itu memang begitu. Kalau kalah sekali, bisa kepikiran seminggu.”
“Ayah dengar itu,” protes ayah tanpa mengalihkan pandangan dari papan.
Aku memperhatikan Schevenko.
Ia terlihat jauh lebih santai sekarang. Tidak sekaku tadi saat pertama masuk. Tidak setegang di mobil.
Ia tertawa kecil saat ayah salah langkah.
“Ayah,” katanya pelan, “itu blunder.”
Ayah terdiam.
Menatap papan.
Lalu mendesah panjang.
Beberapa langkah kemudian—
“Skak.”
Ruangan hening.
Ayah menatap papan catur lama sekali.
Lalu akhirnya bersandar dan tertawa.
“Baiklah. Kali ini saya kalah lagi.”
Aku ternganga. “Serius?”
Ibu terkekeh kecil.
Ayah menatap Schevenko dengan senyum lebar. “Kamu memang pintar.”
Schevenko langsung merendah. “Saya cuma beruntung.”
“Tidak,” ayah menggeleng. “Saya bisa lihat orang yang bermain asal-asalan dan yang bermain dengan pikiran tenang. Kamu yang kedua.”
Suasana berubah menjadi lebih hangat dari sebelumnya.
Ayah berdiri dan menepuk bahu Schevenko.
“Jaga anak saya dengan pikiran setenang itu juga.”
Kalimat itu tidak keras. Tapi penuh makna.
Schevenko berdiri ikut, lalu menjawab dengan serius, “InsyaAllah, Yah.”
Aku menatap mereka berdua.
Tiba-tiba perasaan asing yang tadi sempat mengganggu perlahan memudar.
Rumah ini memang tempat aku tumbuh.
Tapi hari ini…
Aku melihat dua dunia yang berbeda—masa laluku dan masa depanku—duduk berhadapan di meja yang sama.
Dan tidak ada pertentangan.
Yang ada hanya tawa kecil, gengsi catur, dan kata “suami” yang kini tak lagi terdengar menakutkan… melainkan seperti sesuatu yang perlahan menemukan tempatnya.
Aku tersenyum sendiri.
Mungkin ayah benar.
Aku memang harus tumbuh di tempat lain.
Tapi aku tidak pernah benar-benar pergi dari rumah ini.