Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun pengantin
"A- apa?" suaranya nyaris tercekat.
"Kau akan menemui Arel?"
Ethan tetap menatap lurus ke depan, kedua tangannya mantap di setir.
"Ya."
Jawaban itu pendek dan tegas. Seolah tidak ada yang perlu diperdebatkan. Jantung Dira berdegup lebih cepat.
"Kenapa tiba-tiba, kau baru tahu kemarin?" tanya Dira pelan. Lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil kembali melaju.
"Karena dia putraku," jawab Ethan datar.
Dira terdiam. Memang benar yang pria itu katakan. Tapi ... Ia menatap pria di sampingnya. Rahangnya tegas, sorot matanya lurus ke jalan.
"Tapi, bukankah terlalu cepat? Aku takut Arel akan kaget."
"Kita tidak punya banyak waktu lagi. Kau dan aku akan segera menikah. Arel harus tahu secepatnya tentang aku. Tentang ayah kandungnya." kata Ethan tanpa menatap Dira. Pandangannya terus fokus ke depan.
Dira tidak bicara lagi sampai mobil itu berhenti di sebuah butik besar dengan dinding kaca. Dari kejauhan ia bisa lihat puluhan gaun pengantin yang terpampang indah di manekin.
Dira menelan ludah. Jadi di tengah semua keputusan besar ini, tentang Arel, tentang pernikahan, mereka tetap harus melanjutkan agenda hari ini.
Ethan turun lebih dulu, lalu berjalan memutari mobil, membukakan pintu untuknya. Sikapnya formal. Terlatih. Tidak terlalu lembut, dan aura dinginnya terasa sekali.
"Ayo," katanya singkat.
Dira mengangguk pelan dan turun. Begitu pintu kaca butik terbuka, udara sejuk menyambut mereka. Gaun-gaun putih tergantung anggun. Semuanya tampak mewah dan mahal. Seorang pramuniaga menyambut dengan senyum profesional.
"Selamat siang, sudah membuat janji temu?"
Ethan mengangguk.
"Atas nama Ethan Ravello."
Dira meliriknya sekilas. Nada suaranya berubah otomatis saat berbicara soal urusan formal, tegas dan berwibawa. Mereka dipersilakan masuk lebih dalam. Gaun-gaun itu begitu indah, dengan detail renda, payet halus, dan ekor panjang yang menyapu lantai. Dira merasa kecil berdiri di tengah semuanya.
"Kami sudah menyiapkan beberapa desain sesuai permintaan anda, tuan," ujar pramuniaga itu lagi.
Permintaan Anda.
Dira menoleh pada Ethan.
"Kau yang memilih?"
"Konsepnya," jawabnya singkat.
"Sisanya terserah kau."
Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya tertahan. Sejak awal, pernikahan ini terasa seperti proyek yang disusun rapi. Jadwal. Tempat. Gaun. Bahkan waktu untuk memberitahu Arel pun sudah ia tetapkan.
"Silakan coba yang ini dulu, nona," perempuan itu menyerahkan gaun dengan potongan klasik, sederhana namun elegan.
Dira mengangguk dan masuk ke ruang ganti. Saat pintu tertutup, ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Jari-jarinya menyentuh kain putih itu perlahan. Pernikahan. Haruskah ia merasa bahagia? Gugup? Atau hanya pasrah?
Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan langkah pelan. Ethan yang duduk di sofa langsung berdiri tanpa sadar. Gaun itu jatuh pas di tubuh Dira. Sederhana, tanpa terlalu banyak kilau, tapi justru menonjolkan wajahnya yang lembut. Rambutnya tergerai alami di bahu. Untuk beberapa detik, Ethan tidak bicara.
Dira salah tingkah.
"Bagaimana?"
Ethan mengedip pelan, seolah baru tersadar.
"Bagus." Hanya itu.
Tapi tatapannya tidak biasa. Tidak sekadar menilai. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang membuat jantung Dira kembali berdetak tak beraturan tapi ia cepat-cepat berusaha tenang. Toh Ethan saja tidak menunjukkan sikap yang berlebihan. Kenapa dia harus?
"Yang itu saja. Cocok denganmu." kata Ethan akhirnya. Dira mengangguk. Dia juga lelah memilih-milih dan harus coba-coba terus. Yang penting sudah pas dan cocok dengan bentuk tubuhnya.
Pramuniaga itu tersenyum.
"Baik, nona. Kami akan lanjut ke tahap pengukuran akhir."
Dira kembali masuk ke ruang ganti untuk melepas gaun itu. Saat ia hendak menurunkan ritsleting, tiba-tiba resleting itu tersangkut. Dira menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Jarinya gemetar saat menyentuh resleting yang tersangkut itu. Ia menarik perlahan, tapi kain gaun menahan. Hatinya ikut tegang.
Aduh, jangan sampai dia merusak gaun mahal ini. Tadi ia sempat dengar kisaran harga gaun di butik ini. Di atas tiga ratus juta. Dia hampir pingsan baru dengar harganya. Dira mencoba lagi dengan amat perlahan, tapi gagal. Ia mulai berkeringat.
"Ada apa?" tiba-tiba suara Ethan terdengar dari luar bilik. Dira kaget, bahkan hampir melompat.
Insting laki-laki itu kuat sekali? Bagaimana dia bisa tahu ada yang salah dengannya coba di dalam sini? Tapi dia memang butuh bantuan seseorang kan? Apa harus minta bantuan pada laki-laki itu? Dira menggigit bibirnya, menutup matanya dalam-dalam, menelan ludah, sebelumnya akhirnya buka suara.
"R-ritsletingnya tersangkut …" jawabnya pelan, suaranya nyaris berbisik.
Tanpa suara, Ethan langsung membuka ruang bilik. Dira sampai kaget. Pandangan pria itu fokus ke ritsleting gaunnya pengantinnya. Dira bisa lihat wajah seriusnya dari balik kaca.
"Jangan bergerak," ucap Ethan tenang.
Nada suaranya rendah, terkontrol, tapi tegas. Dira otomatis mematung. Ia berdiri membelakangi pria itu, jemarinya mengepal kecil di sisi tubuhnya. Ia bisa merasakan jarak mereka yang begitu dekat. Terlalu dekat.
Ethan mengangkat kedua tangannya, hati-hati menyentuh bagian punggung gaun itu. Ujung jarinya menyibakkan sedikit kain yang terlipat di sela ritsleting.
Dira menahan napas. Sentuhan Ethan terasa hangat meski hanya sekilas mengenai kulitnya. Bulu kuduknya meremang. Ia tidak tahu mana yang lebih membuatnya gugup, harga gaun ratusan juta itu … atau kedekatan pria di belakangnya.
"Kenapa kau berkeringat?' tanya Ethan tiba-tiba.
Dira refleks menjawab,
"Karena gaun ini mahal sekali!"
Ethan terdiam sepersekian detik. Lalu, tanpa diduga, terdengar embusan napas yang hampir seperti … tawa kecil.
"Kau datang denganku tapi masih memikirkan harga uang? Kau kira aku akan menyuruhmu membayar gaun pengantinmu sendiri?"
Dira langsung mematung.
Klik.
Ritsleting akhirnya turun dengan mulus. Ethan berhasil membantunya. Dira mengembuskan napas panjang, nyaris lemas karena tegang.
Ethan belum bergerak dari tempatnya. Ia masih berdiri tepat di belakangnya, terlalu dekat hingga Dira bisa merasakan hangat napasnya di tengkuk. Dira bisa merasakan detak jantungnya sendiri, keras dan tidak teratur. Ia bahkan takut Ethan bisa mendengarnya.
"Sudah selesai," ucap Ethan pelan.
Tapi ia belum juga menjauh.
Dira perlahan berbalik. Gerakan itu membuat jarak mereka semakin tipis. Punggungnya hampir menyentuh dinding bilik, sementara Ethan berdiri tegak di depannya. Tatapan pria itu turun sekilas ke wajahnya, lalu kembali bertemu dengan matanya.
"Cepat ganti bajumu." ucap Ethan akhirnya, lalu keluar. Setelah pria itu keluar, barulah Dira bisa bernafas lega. Astaga, canggung sekali.
terimakasih thor udah up