NovelToon NovelToon
Menjadi Madu Dalam Semalam

Menjadi Madu Dalam Semalam

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Poligami / Tamat
Popularitas:73k
Nilai: 4.8
Nama Author: Siti Marina

kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.

"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Langkah kaki Alendra terseret saat memasuki gerbang rumah besar keluarga Suhadi. Rumah yang biasanya terasa megah, kini tak ubahnya sebuah penjara marmer yang dingin dan mati. Najwa dan Monika mencoba menyentuh lengannya, namun Alendra menepisnya dengan halus. Ia tidak menuju ke kamar utamanya, tempat kenangannya bersama mendiang Kirana, melainkan melangkah ke arah Samping, menuju paviliun yang dulu menjadi tempat Patricia tinggal.

Di sanalah, di ruangan kecil yang sunyi itu, pertahanan Alendra benar-benar runtuh.

Begitu pintu paviliun terbuka, Alendra langsung disambut oleh keheningan yang menyesakkan. Ruangan itu rapi, terlalu rapi, karena Patricia pergi tanpa membawa apa pun selain luka. Alendra menjatuhkan dirinya di atas lantai, tepat di samping tempat tidur Patricia yang masih tertutup sprei putih polos.

Ia membenamkan wajahnya ke bantal Patricia, mencari sisa aroma yang mungkin masih tertinggal.

Suaranya tercekik isak tangis "Sayang... kamu di mana? Kenapa kamu begitu dekat tapi seolah berada di dunia yang berbeda? Aku melihatmu tadi... aku tahu itu kamu..."

Tangannya mencengkeram sprei itu hingga kukunya memutih. Alendra merasa seperti sedang dikuliti hidup-hidup oleh rasa bersalah. Di rumah ini, ia telah membiarkan Patricia menderita, dan di pemakaman tadi, ia kembali gagal mendekapnya.

Alendra mulai mengamuk dalam keputusasaan yang sunyi. Ia menarik laci meja kecil, mencari sesuatu, apa saja, yang bisa membuktikan bahwa Patricia pernah benar-benar ada di hidupnya. Ia menemukan sebuah mukena kecil yang terlipat rapi. Ia memeluk mukena itu, lalu meraung pelan, sebuah suara yang timbul dari relung jiwa yang hancur.

"Aku laki-laki paling brengsek, Cia!...hiks ....Aku membiarkanmu pergi sendirian... sementara aku di sini hanya bisa meratap seperti pengecut hiks hiks hiks...kamu dimana sayang, kembalilah....!"

Di luar pintu paviliun, Ardiansyah berdiri mematung. Ia mendengar suara abangnya yang sedang menghancurkan dirinya sendiri di dalam sana. Ardiansyah menyandarkan kepalanya ke pintu, matanya sendiri berkaca-kaca.

Ardiansyah Berbisik lirih "Maafkan Ardi, Bang. Ardi tidak bisa mengejar mobil itu tadi. Maaf..."

Alendra kini bersandar di kaki tempat tidur, matanya yang merah menatap kosong ke sudut ruangan. Ingatannya kembali ke momen di pemakaman tadi. Sosok wanita bercadar yang melangkah dengan begitu anggun namun penuh beban.

Ia teringat betapa Patricia melangkah sedikit lebih lambat, tangan wanita itu sesekali memegang pinggang atau perutnya dengan gerakan yang sangat halus, gerakan yang saat itu tidak disadari Alendra karena kepanikannya.

Alendra menggumam sendiri, dahi berkerut "Kenapa tadi kamu memegang perutmu seperti itu, Pat? Apa kamu sakit? Apa kamu juga merasakan perih yang sama di ulu hati ini?"

Alendra tidak tahu, dan mungkin belum saatnya tahu, bahwa di dalam rahim Patricia, ada sebuah kehidupan yang sedang berjuang tumbuh, sebuah rahasia yang dijaga ketat oleh Tuhan dan alam semesta di dalam sebuah pesantren yang jauh.

Alendra mengambil cadar hitam yang ia temukan di nisan Kirana. Ia mengikatkan kain tipis itu ke pergelangan tangannya dengan sangat kencang, seolah-olah jika ia melepaskannya, maka koneksinya dengan Patricia akan terputus selamanya.

Ia meringkuk di lantai, di posisi janin, di tengah paviliun yang dingin. Tidak ada lampu yang dinyalakan. Ia membiarkan kegelapan menelannya.

"Aku tidak akan kembali ke rumah utama, Ardi. Aku akan tetap di sini... di tempat yang seharusnya aku lindungi dulu." gumam Alendra setelah melihat Ardiansyah berdiri mematung di dekat pintu.

" pergi.....Aku ingin sendiri" suara Alendra berubah dingin, datar, tanpa emosi, sebuah tanda bahwa jiwa Alendra sudah mencapai titik nadir. Ia telah kehilangan segalanya, istri pertamanya dijemput maut, dan istri keduanya menghilang bersama rahasia besar yang belum terungkap.

Sementara itu, di dalam mobil Sedan yang sudah memasuki wilayah Jawa Timur, Patricia menempelkan keningnya ke kaca jendela yang dingin. Tangannya mengusap perutnya yang masih rata namun terasa hangat.

Patricia berbisik di sela isaknya "Maafkan Ibu, Nak... Ibu harus menjauhkanmu dari Ayahmu untuk sementara. Biarkan Ayahmu menyelesaikan duka dan penyesalannya. Kita akan kuat di rumah Allah nanti."

Mobil itu terus melaju, membelah malam menuju pondok Gus Azmi, membawa rahasia yang suatu saat nanti akan menjadi hantaman paling dahsyat bagi kehidupan Alendra Suhadi.

***

Dua bulan berlalu, namun waktu bukannya menyembuhkan, justru menguliti sisa-sisa kemanusiaan di dalam diri Alendra Suhadi. Paviliun belakang kini menjadi tempat tinggal permanennya; ia menolak menginjakkan kaki di rumah utama yang terlalu banyak menyimpan memori tentang Kirana dan aroma pengkhianatan terhadap Patricia.

Sosok Alendra yang dulu dikenal suka melempar lelucon konyol, pria yang tawanya bisa mencairkan suasana rapat paling tegang sekalipun, kini telah mati. Yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang dingin, kaku, dan tanpa ampun.

Di lantai teratas gedung Suhadi Group, atmosfer terasa mencekam. Suara detak jarum jam terdengar seperti dentuman palu godam. Sepuluh jajaran manajer duduk dengan punggung tegak dan napas tertahan. Di ujung meja, Alendra duduk dengan jas hitam yang sangat rapi, namun matanya yang tajam dan kelam menatap lurus ke arah seorang manajer muda yang sedang gemetar.

Suaranya rendah, nyaris berbisik namun menusuk "Ulangi. Berapa persen kerugiannya?" tanya Alendra dingin.

Manajer: "Ma-maaf, Pak Alendra... karena kesalahan teknis di lapangan, kita kehilangan sekitar tiga persen dari target kuartal ini—"

Brak!

Alendra tidak berteriak, tapi ia menghempaskan tumpukan dokumen ke meja hingga suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi itu. Ia bangkit, melangkah perlahan mengelilingi meja, membuat setiap orang di sana merasa seperti sedang diburu predator.

Alendra berhenti tepat di belakang kursi sang manajer, tangannya mencengkeram sandaran kursi "Tiga persen? Kamu pikir aku membayar gajimu untuk sebuah kata 'maaf'? Tiga persen itu adalah kegagalan. Dan di perusahaan ini, aku tidak mentoleransi sampah."

Manajer: "Tapi Pak... kami sudah berusaha—"

Alendra mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu, suaranya sangat dingin "Berusaha itu untuk anak sekolah. Di dunia nyata, hanya ada hasil. Kemasi barangmu sebelum matahari terbenam. Kamu dipecat."

Pria itu mematung, wajahnya pucat pasi. Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang berani membela. Alendra melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan jejak ketakutan yang pekat.

Di lorong kantor, Ardiansyah sudah menunggu. Ia melihat karyawannya keluar dari ruang rapat dengan wajah hancur. Dengan langkah cepat, Ardi mengejar abangnya.

"Bang! Apa-apaan itu? Dia salah satu karyawan terbaik kita, kesalahannya minim! Kenapa harus dipecat secara tidak hormat begitu?" tanya Ardiansyah yang benar-benar tidak tahu dengan sikap kakaknya sekarang.

Alendra terus berjalan, langkahnya tegap dan tanpa ekspresi. "Kalau kamu mau jadi pahlawan kesiangan, silakan buat perusahaan sendiri, Ardi. Di sini, aku yang memegang kendali."

Ardiansyah menarik lengan Alendra, memaksanya berhenti "Lihat dirimu, Bang! Kamu bukan Alendra yang aku kenal! Kamu berubah jadi monster! Apa karena Patricia? Apa karena kamu gagal menemukannya, kamu jadi melampiaskan amarahmu pada semua orang?!"

Mendengar nama itu, rahang Alendra mengeras. Matanya yang tadinya dingin mendadak berkilat penuh amarah yang tertahan. Ia mencengkeram kerah kemeja adiknya, mendorong Ardi hingga punggungnya membentur dinding koridor.

Napasnya memburu, suaranya bergetar karena emosi "Jangan. Pernah. Sebut. Nama. Itu. Di kantor ini. Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku rasakan, Ardi! Kamu tidak tahu rasanya menjadi mayat hidup setiap hari!"

Alendra langsung berjalan ke ruangan nya, sementara Ardiansyah mengejar karyawan yang tadi di pecat untuk di pindahkan ke kantor cabang ,

1
Atmita Gajiwi
pendek tapi ceritanya bagus
Mazree Gati
kasihan kirana,, mentang2 sebatangkara di bikin mati,,,
cinta semu
bagus juga
cinta semu
selamat menunaikan ibadah puasa juga Thor ...jangan lupa sampaikan salam Ramadhan buaya kang Alen-asep sm mbk Patricia-cia ...🙏♥️
Tika
gitu ya laki2...meski disini pemwran utama disini patricia..
tapi aku sebagai istri sah yg gak mau dimadu,,gak setuju sama sikap alendra.. dia lebih mikirken hilangnya istri muda,padahal istri pertama sdg koma...
Khodijah
novel nya sangat bagus menarik
Tika
kirana...semoga dapat hidayah sebelum maut...
Alice Chaiza
diawal ceritanya bagus semakin kesini semakin malas baca, patrecia terlalu melow harga diri ditindas diam saja, realistis aja thor klo buat cerita. ga mungkinlah orang kaya mau hidup mlarat apalagi harga diri ditindas diam aja bisanya cuma nangis😮‍💨
Alice Chaiza
ingat guys ini hanya di novrl, didunia nyata mana ada orang kaya rela hidup susah+miskin, kurasa cerita ini sedikit memaksa
fsf
baru kali ini ada orang bosen punya harta
fsf
100juta dia pikir alendra orang miskin ya, kamu salah sasaran 🤣🤣🤣
Tika
najwa..bantu kirana,,biar matinya baik2...
kasian juga ya...
ceuceu
Alhamdulillah tamat,walaw endingnya tetep.alen di desa ikut apa kata istri,setidaknya mama monica memberi peralatan rumah tangga ,ga ikut kemauan cia hidup sederhana ga kasian suami cuci baju manual.
ceuceu
hidup sederhana boleh cia,tapi suamimu imam yg harus kamu patuhi,di ajak pindah ya pindah ke kota krn suami mu CEO.
contoh najwa patuh sm suami tetap sederhana.
greget sama karakter patricia.
ceuceu
cia egois keras kepala/Panic/
ceuceu
Gus azmi harusnya menasehati cia agar patuh kepada auami.
sudah terlalu lama dia kabur tanpa ijin suami.
di saat suami sudah berubah terima maafnya,agama islam melarang istri keluar tanpa ijin suami,apa lg kabur ke pesantren,ada rukayya ada gus azmi yg bsa memberi nasehat memaafkan.
ceuceu
Cinta sejati wlw jauh akan tetap di hati.

kiran tdk pernah memiliki cinta alen.
ceuceu
bab menyedihkan/Sob/
Masyaa Allah patricia benar" hijrah/Rose/
ceuceu
harusnya di sisa umur kirana menjadi baik melayani suami,agar ketika pergi meninggalkan kesan baik di keluarga suhadi
haifa zaky
kami tggu kisah yg lain thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!