NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Gang sempit menuju rumah Citra mendadak heboh sore itu. Bukan karena ada artis dangdut yang datang, melainkan karena sebuah mobil sedan hitam mengkilap yang harganya mungkin setara dengan biaya makan satu kampung selama setahun berhenti tepat di depan pagar rumah Bu Sari yang catnya mulai mengelupas.

Di dalam rumah, Citra Anindya sedang sibuk mematut diri di depan cermin kamarnya yang retak di ujung. Ia mengenakan kebaya sederhana berwarna pink pastel milik ibunya yang sudah dipermak sedikit agar pas di tubuh mungilnya.

"Aduh, Citra... napas, napas," gumamnya pada pantulan dirinya sendiri. Ia memoleskan sedikit lip tint agar bibirnya terlihat merah merona usaha kecil dari sisi centil-nya untuk tetap terlihat cantik meski hatinya ketar-ketir. "Siapa tahu aslinya Om Mahesa nggak sejahat itu. Siapa tahu dia cuma... kurang kasih sayang?"

Namun, harapan naif itu hancur berkeping-keping begitu ia melangkah keluar kamar.

Di ruang tamu yang sempit itu, Putra Mahesa Aditama sudah duduk. Pria itu mengenakan batik lengan panjang bernuansa gelap yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambutnya ditata rapi tanpa satu helai pun yang berantakan. Wajahnya tampan, sangat tampan, dengan rahang tegas dan hidung mancung.

Tapi, astaga... auranya.

Jika ruang tamu itu memiliki AC, mungkin suhunya sudah anjlok ke minus sepuluh derajat. Putra duduk dengan kaki disilangkan, punggung tegak kaku, dan tatapan mata yang lurus ke depan kosong, datar, dan sedingin es di kutub utara. Ia sama sekali tidak menyentuh teh manis hangat dan pisang goreng yang sudah disuguhkan Bu Sari dengan penuh hormat.

"Eh, Nak Putra, diminum dulu tehnya," tawar Bu Sari ramah, mencoba mencairkan suasana yang membeku.

Putra hanya melirik gelas teh itu sekilas, lalu kembali menatap lurus. "Saya tidak minum manis, Bu. Gula itu racun," jawabnya singkat, padat, dan menusuk.

Bu Sari tersenyum kecut, bingung harus menjawab apa. Suasana hening lagi.

Saat itulah Citra muncul dari balik tirai kamar. Langkahnya ragu-ragu. Ia membawa nampan berisi toples kue kering, mencoba berperan sebagai tuan rumah yang baik.

"Permisi..." cicit Citra pelan.

Semua mata tertuju padanya. Pak Aditama tersenyum lebar, tampak senang melihat calon menantunya. Namun, Putra? Pria itu menoleh perlahan, gerakannya kaku seperti robot.

Mata elang Putra memindai Citra dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya bukan tatapan memuja, melainkan tatapan menilai barang dagangan di pasar loak. Ia melihat kebaya pink itu, lalu make-up tipis Citra, dan berhenti tepat di mata gadis itu.

Dingin. Kejam. Tanpa minat.

Citra merasa lututnya lemas. Ia meletakkan toples kue di meja dengan tangan gemetar. Trang! Suara toples beradu dengan meja kaca terdengar nyaring di keheningan itu.

"Ma-maaf," ucap Citra gugup, matanya mulai berkaca-kaca karena kaget sendiri.

"Ceroboh," gumam Putra pelan, nyaris tak terdengar, tapi telinga Citra menangkapnya dengan jelas.

Acara lamaran pun dimulai. Pak Aditama yang lebih banyak berbicara, menyampaikan niat baik untuk melamar Citra bagi putranya. Putra sendiri hanya diam, sesekali melihat jam tangan mahalnya dengan gestur tidak sabar, seolah ia ingin berada di mana saja asal bukan di rumah sempit ini. Ia bahkan sempat melirik sinis ke arah foto-foto keluarga di dinding yang bingkainya miring, seakan menilai betapa rendahnya selera orang-orang di rumah ini.

Tiba saatnya penyematan cincin.

Bu Sari memberikan kotak cincin beludru merah kepada Putra. Dengan enggan, Putra mengambil cincin emas putih bertahtakan berlian kecil itu. Ia berdiri, menjulang tinggi di hadapan Citra yang mungil.

Citra mendongak, menatap wajah calon suaminya. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba tersenyum, sebuah senyum manis dan sedikit manja, berharap Putra akan luluh sedikit saja.

"Mas Putra..." panggilnya lirih.

Tapi Putra tidak membalas senyum itu. Wajahnya tetap datar, sedatar tembok beton. Ia meraih tangan kiri Citra dengan gerakan cepat dan kasar, seolah ia sedang memegang benda kotor yang harus segera diletakkan kembali.

Tanpa kata-kata manis, tanpa tatapan lembut, Putra mendorong cincin itu masuk ke jari manis Citra.

"Aduh, sakit..." ringis Citra pelan saat cincin itu bergesekan agak keras dengan kulitnya.

Putra tidak peduli. Ia melepaskan tangan Citra begitu cincin terpasang, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Citra. Aroma parfum maskulin yang mahal dan menyengat langsung menyergap indra penciuman gadis itu.

"Jangan berpikir macam-macam," bisik Putra dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Citra meremang. "Cincin ini cuma borgol. Jangan harap saya akan memperlakukanmu sebagai istri. Kamu cuma anak kecil yang menyusahkan."

Setelah membisikkan kalimat berbisa itu, Putra menarik diri. Wajahnya kembali datar tanpa ekspresi, seolah ia tidak baru saja menghancurkan hati gadis di depannya.

Mata Citra memanas. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mendesak keluar. Ia menunduk, menatap cincin indah di jarinya yang terasa berat seperti batu besar. Ia ingin menangis kencang, ingin lari ke pelukan ibunya, tapi ia tahu ia tidak bisa mempermalukan keluarganya. Cincin berlian itu berkilau indah di bawah lampu ruang tamu yang remang, kontras dengan nasib gelap yang membayang di depan mata.

"Terima kasih... Mas," ucap Citra dengan suara bergetar menahan isak. Ia menghapus sudut matanya dengan cepat, berpura-pura terharu, padahal hatinya perih. Citra meremas kebaya pink-nya kuat-kuat, menyadari bahwa mulai detik ini, air matanya mungkin akan menjadi teman setia menggantikan tawa renyahnya yang perlahan mati dibekukan oleh sikap suaminya.

Putra hanya mendengus pelan melihat tingkah cengeng itu. Ia merapikan jasnya, lalu menoleh pada ayahnya.

"Sudah selesai, kan? Saya ada meeting penting setengah jam lagi. Saya harus pergi sekarang," ucap Putra tanpa basa-basi.

"Lho, Nak Putra nggak makan malam dulu? Ibu sudah masak opor ayam..." cegah Bu Sari kaget.

"Tidak perlu. Saya sibuk," potong Putra cepat. Ia bahkan tidak menyalami Bu Sari, hanya mengangguk kaku sekilas, lalu berbalik badan dan melangkah lebar keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi pada tunangannya yang masih berdiri mematung.

Mobil mewah itu menderu pergi, meninggalkan debu dan keheningan yang menyakitkan.

Citra menatap pintu yang terbuka. Di jari manisnya kini melingkar cincin pertunangan, tapi di hatinya, ia merasa baru saja menandatangani kontrak masuk ke dalam penjara es yang paling dingin di dunia.

"Ibu..." Citra berbalik dan memeluk ibunya erat-erat, menumpahkan tangisnya di sana. "Dia jahat banget... mukanya kayak tembok... Citra takut..."

Malam itu, Citra menangis sampai tertidur, sementara di tempat lain, Putra sedang membersihkan tangannya dengan hand sanitizer berkali-kali, merasa jijik karena baru saja menyentuh tangan gadis yang menurutnya penuh dengan kuman kemiskinan dan kenaifan yang memuakkan.

1
partini
lanjut Thor makin penasaran happy ending atau sad ending
atau happy bersama lelaki lain
Rani Manik: semangat thour💪
total 1 replies
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!