"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampah
"Dilan! A...aku mohon, ijinkan aku membawa putraku ke dokter!" Teriak Lily kala dua orang pengawal memeganginya. Menatap ke arah Meiji yang merintih memegangi perutnya terbaring di lantai.
Plak!
Pipinya ditampar oleh wanita yang tersenyum, pelayannya yang kini telah resmi menikah dengan Dilan, suaminya.
"Dia hanya anak di luar nikah. Biar dia mati pelan-pelan. Lagipula arsenik tidak memiliki penawar." Kalimat dari wanita yang tersenyum arogan. Rini, pelayan yang dulunya dianggap saudara olehnya.
"Kamu meracuni putraku!? Dia masih kecil! Umurnya baru 5 tahun. Kenapa? Padahal aku memperlakukanmu seperti saudara sendiri!" Teriak Lily menitikan air matanya. Berusaha melawan lebih keras, tapi sayangnya tenaga dua orang security yang memeganginya lebih besar.
"Ma...mama..." Wajah Meiji terlihat begitu pucat, memegangi perutnya sendiri. Air mata anak itu mengalir. Tapi bagaikan tidak ada satupun orang di ruangan ini yang peduli."Mama... sakit. Mama..."
"Meiji, tenang ya? Kita ke rumah sakit." Kembali Lily meronta. Tapi kedua tangannya masih saja dipegangi dua orang security."Lepas! Putraku sekarat. Aku mohon! Aku akan memberikan apapun."
Matanya melirik ke arah ayah dan ibunya.
"Ayah! Itu cucu kalian! Tolong bawa Meiji aku mohon..." Teriak Lily pada ayah kandungnya.
"Ibu... Meiji---" Kalimatnya disela.
"Bagaimana kamu bisa menjadi anak yang begitu buruk. Di hari pernikahan tidur dengan saudara iparmu sendiri. Hingga lahir anak sialan ini. Anak ini pembawa sial! Ibu sudah bilang gugurkan saja!" Teriak Sari pada putrinya.
"Meiji tidak memiliki kesalahan pada ibu, bagaimana ibu bisa berkata---" Kalimat Lily terhenti kala Sari menarik rambutnya.
"Pernikahanmu adalah pernikahan bisnis! Karena kelakuan kurang ajar mu di hari pernikahan Dilan menghentikan semua kerjasama bisnis. Kamu tau kenapa putramu masih diijinkan hidup? Itu karena Neiji (kakak Dilan) bersedia bekerja keras untuk perusahaan. Sekarang Neiji mati! Itu artinya lebih baik Meiji mati menyusul ayah kandungnya!" Bentak Sari menatap nyalang ke arah putrinya.
"Ta...tapi Meiji cucu ibu, aku mohon tolong Meiji. Ada darah ibu di dalam tubuhnya dia..."
"Ma..mamaaa ...." Tangan anak berusia 5 tahun itu terlihat lemas. Terjatuh di lantai, nadi yang mungkin tidak lagi berdenyut. Matanya tertutup bagaikan malaikat yang telah tertidur lelap dalam dekapan Tuhan.
"Meiji!" Teriak Lily.
Air matanya mengalir. Tidak ada satu orang pun di tempat ini yang ikut bersedih dengan kepergian putranya. Sama sekali tidak ada tangis, mungkin hanya dirinya yang menitikan air mata untuk anak ini.
Dirinya menikah dengan Dilan, tapi entah apa yang terjadi, di malam pernikahan Neiji yang memasuki kamar pengantin dalam kondisi setengah sadar. Dirinya juga seperti terpengaruh sesuatu. Mereka menjalin hubungan yang tidak seharusnya di malam pernikahannya dan Dilan.
Anehnya, setelahnya beberapa orang mendobrak masuk, memergoki mereka tanpa pakaian di kamar pengantin, lebih tepatnya di bawah selimut.
Dilan membencinya, seperti jijik padanya. Tidak bercerai, tapi tidak pernah ingin tidur dengannya lagi. Kemudian mengangkat Rini sebagai istri kedua.
Hubungan yang membawa Meiji kecil dalam hidupnya. Nama yang diberikan Neiji, pria itu tidak banyak bicara, berkata dapat bertanggung jawab padanya dan anaknya. Namun, dirinya menolak, masih percaya pada hati Dilan dan keluarganya yang akan luluh.
Tapi.
"Meiji!" Teriaknya dalam tangisan.
"Pikirkan lagi, Lily... setelah anak ini mati sama seperti ayahnya kamu dapat bercerai dengan Dilan. Dan menikah dengan pria lain, ibu sudah menyiapkan pria lain yang memiliki karier sukses untukmu." Kalimat Sari terhenti, kala Lily dapat melepaskan dirinya dari dua pengawal yang memeganginya.
"Meiji..." Gumamnya memeluk tubuh putranya yang mulai mendingin, begitu lemas, senyuman ceria itu tidak terlihat lagi. Hanya tubuh kurus putranya dengan wajah yang begitu damai."Me... Meiji." Panggilnya mengguncang tubuh itu pelan, berharap putranya akan menjawab. Tapi, mulut kecil itu tidak menjawab lagi.
Tidak ada tawa kecil yang begitu manis.
Matanya menelisik, mengamati sekitarnya. Orang-orang yang ada di ruangan ini hanya ingin mengambil keuntungan darinya dan putranya. Mengepalkan tangannya.
Ayahnya... menjualnya untuk pernikahan bisnis.
Ibunya... lebih menyukai Rini yang hanya pembantu diangkat olehnya menjadi saudara.
Dilan... berharap mendapatkan hati pemuda yang dulu mencintainya? Semuanya hanya omong kosong.
Kakaknya... bahkan menyimpan perasaan memalukan pada Rini.
Tidak ada tempat untuknya, tidak ada tempat untuknya di dunia ini. Hingga Rini mendekatinya, kemudian berbisik."Lily, kamu tau apa yang terjadi di malam pernikahan? Aku dan Dilan yang merencanakan semua ini. Merencanakan untuk membuatmu dan Neiji kehilangan nama baik. Hingga aku dapat masuk menjadi istri kedua."
Kalimat yang membuat tubuhnya gemetar. Jadi semuanya ini rencana mereka. Dan dengan bodohnya dirinya mempertahankan pernikahan ini? Pernikahan yang membuatnya kehilangan segalanya.
Wanita yang meletakkan tubuh putranya pelan. Kemudian meraih pisau yang ada di atas meja.
"Kalian pantas mati!" Teriaknya penuh dendam, hendak menyerang Rini.
Tapi.
Sruk!
Tubuhnya ditusuk menggunakan pisau oleh Dilan. Pria yang berucap."Pergilah ke neraka bersama dengan putramu."
Lily memuntahkan darah dari mulutnya. Mungkin pisau mengenai lambung atau paru-parunya? Entahlah dirinya kesulitan bernapas.
Tapi kala jatuh terbaring di lantai yang dingin, dirinya menatap ke arah tubuh putranya yang terbaring tanpa nyawa di lantai.
Perlahan wajahnya tersenyum, ceceran darah mengalir deras di lantai. Jemari tangannya yang berlumuran darah mencoba meraih putranya. Dirinya tersenyum dan berucap dalam hatinya.
'Kamu tidak akan sendirian. Ibu akan terus ada memeluk dan mencintaimu. Putraku...'
Memendam dendam dan janji dalam hatinya. Jika ada kehidupan yang lain, dirinya akan membuang semua sampah ini.
Tapi.
Suara tembakan tiba-tiba terdengar. Semua orang yang ada dalam ruangan itu roboh. Seorang pria memeluk tubuh Meiji.
"Cucuku..." Teriaknya.
Hal yang membuat Lily di akhir hidupnya tidak mengerti. Dirinya mengenal semua anggota keluarga Dilan. Lalu orang ini siapa? Tapi dari pakaiannya terlihat seperti bukan orang biasa. Mafia atau sejenisnya. Yang jelas dendam putranya terbalaskan...
"Terimakasih..." Batinnya memejamkan mata. Tenggelam dalam kematian.
Tapi.
***
Kala dirinya membuka mata, wanita itu menatap ke arah sekitarnya. Matanya menelisik, bukankah ini rumahnya?
Tangannya masih memegang beberapa perhiasan yang dikeluarkannya dari kotaknya.
"Lily? Jadi perhiasan yang mana yang akan kamu berikan pada Rini?" Tanya Sari pada putrinya.
"I...ibu ini dimana? Tanggal---" Kalimatnya terhenti, kala melihat di TV berita perampokan viral dimana satu keluarga tewas.
Menyipitkan matanya melihat ke arah kalender. Ini 7 tahun lalu, lebih tepatnya satu tahun sebelum pernikahannya.
"Lily, terimakasih sebelumnya membiarkan saya hadir di perjamuan." Ucap Rini memegang jemari tangannya."Tapi, saya mengalami pembullyan di acara sebelumnya. Karena tidak memiliki perhiasan."
Lily mencoba mengingat lagi. Ini hari dimana dirinya dibujuk oleh Sari untuk memberikan sebagian perhiasannya pada Rini.
Ibu kandung yang menjerumuskan anaknya.
"Ingin perhiasan?" Tanya Lily.
"Sebenarnya tidak, saya hanya takut akan menerima pembullyan lagi." Jawab Rini.
"Baguslah kalau tidak mau. Kamu masih sadar diri tidak mengemis." Lily kembali menutup kotak perhiasannya.
"Bukan begitu maksud saya---" Kalimat Rini dipotong.
"Bukan begitu? Lalu bagaimana?"
"Saya menginginkannya." Jawab Rini pada akhirnya.
Plak!
"Pembantu yang menginginkan milik majikannya adalah sampah." Anehnya Lily tiba-tiba tertawa mengerikan dengan air mata mengalir, kala menampar wajah Rini.
dasar Lisa bikin geram aja, setelah semua terbongkar bahwa Neiji bukan anak kandung gmn ya
ervan ati2 mulutmu kelak bakal kena slepet kembaran istrimu....
tp masa sihhh si raja iblis g ngerasa tu muka jelek anakny
masa baktinya udah selesai saat kau melukai Lily
selamat menikmati hari hari sedih mu yaa
jadi bayangin lagi muka nelangsa nya
kasiaaan 😜🤣🤣
lepaskan lah...yg harus dilepaskan 😜🤣🤣