NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Menjadi Pengusaha / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.

Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.

Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.

Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.

⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyamar Menjadi Sesuatu yang Indah dan Menggoda

Aroma anggrek bulan dan disinfektan bercampur aneh di dalam Private Greenhouse milik GKR Dhaning.

KMA Rangga Wisanggeni meletakkan tas ransel anti-air itu di atas meja marmer dengan gerakan teatrikal.

Di seberang meja, GKR Dhaning duduk dengan punggung tegak sempurna.

Matanya yang tajam menatap tas itu dengan sorot tidak sabar. Kekalahan memalukan di Pendopo dua hari lalu masih membekas seperti luka bakar di egonya.

"Kau yakin ini barang yang sama, Rangga?" tanya Dhaning dingin.

"Aku tidak mau ada kesalahan lagi. Anak itu licin."

Rangga tertawa renyah, membuka ritsleting tas perlahan.

"Mbakyu tenang saja. Si Belut mengambilnya langsung dari meja kerjanya. Masih hangat dari lab."

Rangga mengeluarkan kotak kayu jati itu. Di samping Dhaning, Dr. Setyo, yang jabatannya kini terancam di bawah bayang-bayang Sekar, memajukan tubuhnya dengan gugup.

Dia mengenakan sarung tangan lateks, trauma dengan kehebatan bioteknologi Sekar sebelumnya.

"Cepat periksa, Setyo," perintah Dhaning. "Pastikan itu bukan tanaman hias biasa yang dia pakai untuk menipu kita."

Dr. Setyo membuka kotak itu dengan hati-hati.

Di dalamnya, enam tabung reaksi berdiri tegak. Tanaman kecil di dalamnya tampak segar, hijau tua, dengan daun lebar yang memiliki tekstur beludru halus dan tulang daun kemerahan.

Dr. Setyo mengamati dengan kaca pembesar, keringat dingin menetes di pelipisnya.

"Bagaimana?" desak Rangga.

"Morfologinya identik, Gusti," jawab Dr. Setyo, suaranya bergetar antara kagum dan benci.

"Lihat pola tulang daun sekunder ini... sama persis dengan spesimen yang dia pamerkan di depan Sultan. Struktur rosette-nya, warna merah di pangkal batang... ini pasti Pudak Wangi hasil kultur jaringan itu."

Dhaning menghembuskan napas lega, lalu senyum licik perlahan terukir di bibirnya.

"Bagus. Dengan ini di tangan kita, kita bisa membalikkan narasi. Besok pagi, kita umumkan bahwa bibit di tangan Sekar mati karena kontaminasi amatir, dan Tim Botani Keraton, di bawah arahanmu, Setyo—berhasil 'menyelamatkan' kloningannya."

Rangga menepuk tangan gembira. "Jenius! Sultan pasti akan mencabut mandat gadis itu."

Rangga, yang merasa kemenangannya sudah di depan mata, menjadi gegabah. Dia melihat salah satu tabung yang tutupnya sedikit miring.

"Biar kulihat lebih dekat calon tiketku menuju kursi menteri ini," ujar Rangga.

"Den Mas, jangan disentuh langsung! Kita harus pakai pinset steril!" cegah Dr. Setyo panik. Dia ingat betul betapa sterilnya prosedur Sekar waktu itu.

"Ah, cerewet! Ini cuma sebentar. Aku ingin merasakan teksturnya. Katanya daun para raja, kan?"

Rangga mengabaikan protokol. Tangan kanannya yang terawat langsung menjepit batang tanaman kecil itu dan mengeluarkannya dari tabung.

Jari-jarinya menyentuh permukaan daun yang berbulu halus itu.

"Lembut..." gumam Rangga.

"Seperti beludru."

Namun, kekaguman itu hanya bertahan tiga detik.

Tiba-tiba, alis Rangga berkerut.

"Setyo... tanaman ini... kenapa rasanya hangat?"

"Hangat?" Dr. Setyo bingung.

"Bukan... bukan hangat..." Rangga mulai mengibaskan tangannya.

"Panas. Pedas!"

Wajah Rangga berubah drastis. Dari arogan menjadi panik.

Sensasi di ujung jempol dan telunjuknya meledak.

Rasanya seperti ada ribuan jarum mikro yang menancap sekaligus, lalu menyuntikkan air cabai langsung ke dalam pembuluh darah.

"ARGH!"

Rangga refleks melempar tanaman itu.

Tabung kaca pecah menghantam lantai.

PRANG!

"Tanganku! Tanganku terbakar!" Rangga menjerit, mencengkeram pergelangan tangannya.

Dia mulai menggaruk dengan brutal. Kulit halusnya langsung memerah, bengkak, dan melepuh dalam hitungan detik.

"Apa yang terjadi?!" Dhaning berdiri, mundur menjauh dengan wajah pucat.

Dr. Setyo yang berada di dekat pecahan kaca membeku.

Matanya terkunci pada tanaman yang tergeletak di lantai.

Dia melihat cairan bening keluar dari bulu-bulu halus daun itu.

Otak botaninya bekerja cepat. Dia mengenali mekanisme pertahanan itu.

"Itu... itu bukan Pudak Wangi!" pekik Dr. Setyo horor.

"Apa maksudmu?! Kau bilang identik!" bentak Dhaning.

"Itu Mimikri! Penyamaran!" Dr. Setyo mundur ketakutan.

"Itu Laportea! Jelatang Gajah! Gadis itu... dia memutasi tanaman racun agar terlihat seperti tanaman obat!"

Rangga kini berguling di lantai, mengerang kesakitan.

Racun neurotoksin itu bekerja sangat cepat, mengirim sinyal rasa sakit ekstrem ke otak.

Wajahnya mulai bengkak karena reaksi alergi.

"Air! Tolong air! Panas sekali!" rintih Rangga.

Kekacauan pecah di rumah kaca yang elegan itu.

Sang pencuri baru saja menyentuh 'pagar listrik' biologis yang disiapkan sang profesor.

Di Rumah Sekar di Pagi yang sama, Sekar sedang menuangkan teh melati ke cangkir Pangeran Arya dengan tenang.

Sekar Ayu menuangkan teh panas ke dalam cangkir tanah liat.

Uap tipis mengepul, membawa aroma jasmine yang pekat. Gerakannya tenang, presisi, dan terkontrol.

Di hadapannya, Pangeran Arya justru tampak seperti kucing di atas seng panas.

Dia mondar-mandir di lantai kayu pendopo, langkah kakinya berat dan gelisah.

"Sekar, kamu terlalu santai!" seru Arya, akhirnya berhenti dan menatap gadis itu.

"Laporan Pak Man pagi ini jelas: Kaca jendela lab-mu dicungkil. Ada jejak kaki lumpur di lantai. Lab-mu dibobol, Sekar!"

Arya mengusap wajahnya kasar. "Ini gila, Sekar. Nyi Ratri melapor padaku pagi ini dengan wajah pucat karena merasa bersalah. Dia bilang semalam kamu sengaja memintanya menjauh dari pos jaga."

Arya menatap Sekar tajam, menuntut jawaban. Nada suaranya meninggi karena khawatir bercampur bingung.

Semalam, Nyi Ratri, tiba-tiba melapor bahwa dia mendapat perintah dari Sekar untuk "mensterilkan area" radius 100 meter dari rumah, yang artinya Nyi Ratri harus pergi berpatroli jauh ke perbatasan desa.

Sekar meletakkan teko tehnya dengan bunyi tuk pelan. Dia mendongak, menatap Arya dengan senyum tipis yang misterius.

"Duduklah dulu, Gusti. Tehnya keburu dingin. Katekin dalam teh hijau ini bagus untuk menurunkan hormon kortisol Anda yang sedang tinggi," ujar Sekar tenang, menggunakan nada profesornya.

"Sekar, jawab aku. Kenapa kamu mengusir pengawalmu sendiri di malam yang paling krusial?"

Sekar menghela napas pelan.

"Karena tikus tidak akan keluar dari lubangnya jika ada kucing yang berjaga di depan pintu, Mas Arya."

Arya tertegun. Dia perlahan duduk di kursi rotan di depan Sekar. "Maksudmu... kamu sengaja?"

"Nyi Ratri adalah prajurit hebat. Aura keberadaannya terlalu kuat. Pencuri bayaran sekelas 'Si Belut' itu punya insting tajam. Jika Nyi Ratri ada di sini, dia tidak akan berani masuk," jelas Sekar sambil menyodorkan cangkir teh.

Sekar menyesap tehnya, matanya menerawang ke arah pepohonan.

"Saya butuh pencurian itu terjadi. Saya membuka pintu gerbangnya lebar-lebar."

"Tapi resikonya!" potong Arya.

"Bagaimana kalau mereka berhasil mengembangkan bibit itu? Dr. Setyo ada di pihak mereka. Sekecil apapun bibit itu, Setyo punya sumber daya Keraton untuk membesarkannya. Kamu memberikan senjata pada musuhmu!"

Sekar terkekeh pelan. Tawa yang terdengar dingin dan penuh perhitungan.

"Mas Arya," panggil Sekar lembut. "Dalam biologi evolusioner, ada konsep pertahanan yang disebut Batesian Mimicry. Dimana organisme yang tidak berbahaya berevolusi menyerupai organisme yang mematikan untuk menakuti predator. Atau sebaliknya... organisme mematikan yang menyamar menjadi sesuatu yang indah dan menggoda."

Sekar mengambil toples kaca kecil dari saku kebayanya. Di dalamnya tersimpan sehelai daun kering.

"Dr. Setyo memang ahli botani, tapi dia ahli botani klasik. Dia hanya melihat makro-anatomi: bentuk daun, tulang daun, dan warna. Matanya tidak terlatih melihat struktur mikroskopis Trichomes, bulu-bulu halus di permukaan daun."

"Maksudmu?"

"Bibit yang dicuri Mas Rangga memang saya rekayasa di agar terlihat identik secara visual dengan Pudak Wangi. Tapi secara genetik..."

Mata Sekar berkilat tajam.

"...itu adalah Laportea decumana. Daun Gatal Gajah, Saya telah meningkatkan kadar Asam Format dan Histamin di dalam kelenjar racunnya hingga 300%."

Mata Arya membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka.

"Daun gatal? Yang kalau kena sedikit saja..."

"...efeknya neurotoksik lokal," sambung Sekar cepat.

"Sensasi terbakar seperti disiram air keras, gatal yang membuat ingin menguliti diri sendiri, dan pembengkakan jaringan yang bertahan minimal 48 jam. Tidak mematikan, tapi cukup traumatis."

Sekar menunjuk ke arah Keraton yang tampak jauh di ufuk timur.

"Dr. Setyo tidak akan sempat menanamnya. Karena saya yakin, sepupu Anda yang memiliki ego setinggi langit dan rasa ingin tahu yang tak terkontrol itu, pasti tidak akan tahan untuk tidak memegangnya."

"Begitu Mas Rangga menyentuh daun itu dengan tangan halusnya yang biasa memegang gelas wine..."

Sekar memberi jeda dramatis, membayangkan hukum Newton ketiga bekerja.

"...reaksi berantainya mungkin sudah dimulai sekarang."

Keheningan melanda selama beberapa detik.

Arya mencoba memproses informasi itu. Dia membayangkan Rangga, sepupunya yang flamboyan dan licik, kini mungkin sedang berguling-guling sambil menjerit gatal.

Perlahan, sudut bibir Arya terangkat. Tawa kecil lolos dari bibirnya, lalu berubah menjadi tawa lepas yang melegakan dada. Dia tertawa sampai memegang perutnya.

"Dinda Sekar... kamu... benar-benar mengerikan," ujar Arya di sela tawanya, menatap Sekar dengan kekaguman yang makin dalam.

1
Annisa fadhilah
bagus bgt
tutiana
ya ampun mimpi apa semalam Thor, trimakasih crazy up nya
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
tutiana
gass ken arya,,, tumbangin rangga
🌸nofa🌸
butuh energi buat menghadapi Dhaning
🌸nofa🌸
mantap arya
tutiana
wuenakkk banget kan ,,Rangga,,Rangga kuapok
Aretha Shanum
upnya good
borongan
lin sya
keren sekar, bkn hnya jenius tp cerdik, mental baja, pandai membalikan situasi yg hrusnya dia kalah justru musuhnya yang balik menjdi pelindung buat para kacungnya daning 💪
gina altira
menunggu kehancuran Rangga
🌸nofa🌸
waduh malah nantangin😄
🌸nofa🌸
judulnya keren banget😄
sahabat pena
kapan nafasnya? teror trs .hayo patah kan sayap musuh mu sekar.. biar ga berulah lagi
INeeTha: seri 2 ini memang di stel mode tahan nafas ka🙏🙏🙏
total 1 replies
INeeTha
Yang nyariin Arya, dia nungguin kalian di bab selanjutnya 🤣🤣🤣
gina altira
Aryanya kemana inii,, kayakanya udah dijegal duluan sama Dhaning
sahabat pena
kurang greget sama Arya ya? kasian sejar selalu berjuang sendiri
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Sekar keren banget 😍😍😍😍😘
sahabat pena
rasakan itu rangga 🤣🤣🤣🤣rasanya mau bersembunyi di lubang semut🤣🤣🤣🤣malu nya.. euy🤣🤣
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Rangga terlalu bodoh untuk melawan seorang profesor 😏😏🙄🙄
🌸nofa🌸
wkwkwkwkwk
kena banget jebakan sekar buat rangga😄
🌸nofa🌸
kebalik padahal😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!