NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1- desa yang dilupakan langit

Bab 1 – Desa yang Dilupakan Langit

Di wilayah paling pinggir Kekaisaran Tianluo, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe.

Desa itu tidak tercatat dalam peta resmi kekaisaran. Tidak memiliki tambang spiritual, tidak dilalui jalur dagang, dan tidak pernah melahirkan kultivator terkenal. Jika bukan karena asap dapur yang masih mengepul setiap pagi, orang luar mungkin mengira tempat itu sudah lama ditinggalkan.

Qing Lin lahir dan tumbuh di desa itu.

Pagi hari selalu dimulai dengan suara ayam berkokok dan desir angin gunung. Qing Lin bangun sebelum matahari muncul, mengenakan pakaian kain kasar berwarna abu-abu, lalu mengambil kapak kayu yang gagangnya sudah retak. Ia keluar rumah tanpa suara, agar tidak membangunkan bibinya yang masih tertidur.

Sejak orang tuanya meninggal karena penyakit beberapa tahun lalu, Qing Lin tinggal bersama bibinya. Wanita itu lemah dan sering sakit-sakitan. Karena itu, sebagian besar pekerjaan berat di rumah jatuh ke pundaknya.

Namun Qing Lin tidak pernah mengeluh.

Ia berjalan ke pinggir hutan, memilih pohon kering, lalu menebangnya dengan sabar. Setiap ayunan kapak tidak cepat, tidak lambat—hanya cukup. Nafasnya teratur, pikirannya kosong. Sesekali, ia berhenti untuk memastikan arah jatuh kayu tidak membahayakan jalur desa.

Bagi Qing Lin, hidup sesederhana itu sudah cukup.

"Lin!" teriak seseorang dari kejauhan.

Qing Lin menoleh. Seorang pemuda desa melambaikan tangan sambil berlari mendekat.

"Hari ini orang sekte datang!" katanya terengah. "Sekte Awan Biru! Katanya mau seleksi pemuda lagi!"

Beberapa tahun lalu, kabar seperti ini pasti akan membuat Qing Lin penasaran. Tapi sekarang, reaksinya hanya anggukan kecil.

"Oh," jawabnya.

Pemuda itu mengernyit. "Oh? Cuma itu? Semua orang ke sana, Lin. Kalau lolos, hidupmu bisa berubah!"

Qing Lin mengangkat kayu ke bahunya. "Aku tidak punya akar spiritual."

Kalimat itu diucapkan tanpa emosi, tanpa penyesalan.

Di Kekaisaran Tianluo, kebenaran itu sederhana dan kejam. Tanpa akar spiritual, seseorang tidak bisa menyerap qi dengan benar. Tidak peduli seberapa rajin atau berbakat secara fisik—pintu kultivasi akan tertutup rapat.

Qing Lin sudah diuji sejak kecil.

Batu giok penguji tidak pernah bersinar.

Pemuda desa itu terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Yah… tetap saja, semoga beruntung."

Qing Lin mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Siang hari, desa ramai. Kereta sekte berhenti di lapangan. Bendera biru berkibar. Para tetua desa membungkuk hormat. Anak-anak muda berbaris dengan wajah penuh harap.

Qing Lin hanya lewat untuk mengantar kayu bakar ke rumah seorang nenek tua.

"Terima kasih, Nak," kata nenek itu sambil tersenyum.

Qing Lin membalas senyum kecil. "Hati-hati jalannya."

Saat ia berjalan pergi, sorak sorai terdengar dari lapangan. Seseorang berhasil memicu cahaya hijau dari batu giok.

Qing Lin tidak menoleh.

Bukan karena sombong atau iri. Ia hanya tahu itu bukan jalannya.

Malam hari, desa kembali sunyi. Lampu minyak satu per satu dipadamkan. Qing Lin duduk di dalam gubuk kecilnya, menyiapkan obat untuk bibinya, lalu memastikan pintu tertutup rapat.

Setelah semuanya tenang, ia duduk bersila di atas tikar jerami.

Ini adalah kebiasaan aneh yang ia lakukan sejak kecil.

Ia tidak tahu namanya. Tidak pernah ada yang mengajarinya. Ia hanya merasa nyaman duduk diam, mengatur napas, dan membiarkan pikirannya mengendap.

Tarik napas.

Hembuskan perlahan.

Awalnya, tidak terjadi apa-apa.

Lalu, seperti embun yang menempel di daun saat fajar, Qing Lin merasakan sesuatu yang sangat tipis.

Dingin.

Lembut.

Sesuatu itu bergerak mengikuti napasnya, masuk dan keluar tubuhnya, nyaris tak terasa.

Qing Lin membuka mata.

"Perasaanku saja…" gumamnya.

Ia hampir berhenti. Tapi entah kenapa, ia melanjutkan.

Malam semakin larut.

Di luar gubuk, angin gunung berdesir. Di kejauhan, serigala melolong.

Dan di dalam tubuh Qing Lin, butiran qi paling lemah yang seharusnya tidak bisa bertahan…

perlahan mulai menetap.

Tanpa cahaya.

Tanpa suara.

Tanpa diketahui siapa pun.

Langit di atas Desa Qinghe tetap gelap.

Namun jauh di dalam tubuh seorang pemuda polos, sesuatu mulai tumbuh—

pelan,

sunyi,

dan tak bisa dihentikan.

1
Jade Meamoure
🤔🤔🤔 🤣🤣aneh koq dah brapa chapter tp kata-kata di ulang dari chapter sebelumnya 🤔🤔🤔🤣🤣 kehabisan ide ya thor
Jade Meamoure
aku masih ingin hidup pelan tapi pasti itu terulang di tiap chapter
Jade Meamoure
koq kata katanya d ulang mulu dah bbrpa chapter 🥱🥱🥱
Jade Meamoure
masih bingung 😕😕
Jade Meamoure
haduh apa itu ya ?? apa Qing Lin bakalan jadi iblis ya 🤔🤔🤔
Jade Meamoure
apa Qing Lin bisa jd sesat ya 🤔🤔
Rifandi Hds
kok kata nya sama terus 🙏
Wiji Lestari
gimana dgn bibinya
Rohanifah: aman bro
total 1 replies
Wiji Lestari
ceritanya sangat Bagus thor💪💪
Hardware Solution
suka dgn karakter qing Lin dan cara perkuat dirinya
Endang Suryana
mantap Thor,, ringkas dan sarat pemahaman
Rohanifah: makasih bg
total 1 replies
Endang Suryana
optimis Thor,, alur narasinya,, top,, no problem
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!