Menikah kemudian bahagia adalah impian semua orang. Begitu juga dengan Soraya. Namun dapatkah dia bahagia saat menikah dengan seorang player?
Apakah harapan Soraya bahwa Ardan akan berubah bisa menjadi kenyataan?
Ataukah pernikahan mereka akan kandas karena wanita lain?
Lalu siapa Soraya sebenarnya? Benarkah dia hanya seorang wanita sebatang kara? Bagaimana jika seandainya waktu mengungkapkan jati dirinya?
Cerita ini penuh dengan intrik, dendam, perselingkuhan, perebutan kekuasaan dan kekuatan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijjatul Helna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan
"Jangan.... Jangan... !
Suara Soraya terdengar serak karena terus menerus berteriak.
Tapi para penjahat itu tidak peduli. Mereka terus menggerayangi tubuhnya. Pria di depannya mulai menarik turun celana piyamanya.
" Jangan... Aku mohon... Jangan lakukan ini padaku!"
Kini yang tersisa di tubuhnya hanya bra dan celana dalam.
Soraya meronta semakin keras tapi pegangan di kedua tangannya juga semakin erat.
"Cepat, Di! Aku sudah tak tahan!" Kata pria yang memegang tangan kanannya. Matanya jelalatan melihat daging putih mulus di depannya. Beberapa kali dia meneguk ludahnya. Jakunnya turun naik.
"Sabar, Gung! Nanti juga dapat. Yang penting kan dinikmati. Kapan lagi kita dapat tangkapan 'istimewa' seperti ini".
Kata pria yang dipanggil Di sambil melorotkan celananya. Tampak 'senjatanya' mengacung dengan gagahnya.
Soraya memekik dan memejamkan matanya. Dia mencoba menendang. Pria yang dipanggil 'Di' dalam keadaan lengah.
Buk...
Tubuh pria itu terjengkang ke belakang.
Kedua temannya menertawakannya, membuatnya sangat berang.
"Wanita kurang ajar... Plak... Plak!"
Pria itu menampar wajah Soraya kanan dan kiri. Kepala Soraya oleng karena tamparan yang keras itu. Air matanya berderai menghadapi pelecehan terhadap dirinya.
Tinggal satu langkah lagi. Jika celana dalamnya terenggut, Soraya berpikir dia lebih baik mati.
Samar-samar terdengar perkelahian di luar.
"Ada apa?" Tanya Angel saat melihat Gentara yang mengintip keluar menuju ke arahnya.
"Kita harus segera pergi!"
"Tidak! Aku ingin membunuh wanita itu".
" Kita bisa melakukannya lain waktu. Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan diri".
Gentara meraih pergelangan Angel dan menariknya menuju pintu samping.
Angel mengikuti langkah-langkah Gentara setengah terseret.
Setelah mereka menghilang, pintu depan dibuka paksa.
Brak!
Tampak seorang pria bermantel hitam berdiri dengan gagah. Wajahnya menyiratkan kemarahan.
"Bawa mereka!"
Perintahnya pada anak buahnya yang segera meringkus dan membawa para penjahat yang mengerubuti Soraya.
Soraya tak berani membuka mata. Tubuhnya meringkuk ke samping, terlihat gemetar hebat. Entah karena angin yang memang terasa sangat dingin malam ini atau karena shock.
Pria itu segera melepaskan mantelnya dan menghampirkannya ke tubuh Soraya yang nyaris telanjang.
"Tidaak... Jangan sentuh aku!
Reflek Soraya berteriak ketika seseorang menyentuhnya.
" Sstt... Kau sudah aman sekarang".
Kata pria itu.
Soraya membuka matanya. Tatapannya terlihat sendu. Dia kenal pria yang menolongnya.
"Antoni ... Mereka mau memperkosaku. Huu ... Huu ... ".
"Sudah ... Sudah. Mereka sudah ditangkap. Kau aman sekarang".
Antoni memeluk tubuh Soraya dan menenangkannya.
Dia mengangkat tubuh Soraya yang masih lemah dan gemetar. Dan membawanya ke mobil. Anak buahnya akan membereskan tempat itu.
Antoni memasukkan Soraya ke bangku belakang. Merebahkannya di sana. Soraya terkulai lemah dan tak sadarkan diri.
Antoni merasa cemas. Dia menepuk-nepuk pipi Soraya tapi Soraya tak juga bangun.
Antoni duduk di samping sopir dan menyuruhnya menuju ke rumah sakit.
Perjalanan mencapai rumah sakit cukup jauh. Berkali-kali Antoni menengok Soraya ke belakang. Tapi wanita itu masih tergeletak pingsan.
Mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan pintu rumah sakit. Antoni mengangkat tubuh Soraya dan membawanya masuk.
Perawat bergerak cepat mendorong brankar setelah tubuh Soraya dibaringkan di sana.
"Bertahanlah Soraya!" Bisik Antoni sebelum Soraya menghilang di balik pintu emergency.
Antoni mondar-mandir. Dia merasa sangat gelisah sekaligus khawatir.
Kemudian dia teringat sesuatu. Dia mengambil ponsel dari saku celananya, dan menekan sebuah nomor. Tersambung dan diangkat pada dering yang kelima.
{Halo! }
{Halo, Om! Ini Antoni. Soraya sekarang berada di rumah sakit. Aku tak bisa menceritakan di telpon. Lebih baik Om hubungi Ardan sekarang!"
{Oke ... Terima kasih, Om segera menghubungi Ardan}
Sambungan telepon diputus.
Seorang pria datang dan menghampiri Antoni.
"Bagaimana?" Tanya Antoni.
"Maaf, Bos ... Angel dan kekasihnya berhasil kabur!
"Sialan! Sebarkan anak buah untuk mencari jal*ng itu. Cari ke penjuru negeri ini. Jangan biarkan dia terlepas kali ini".
Rahang Antoni mengeras. Wanita itu berani bermain-main dengan keluarga Baldwin.
Kalaupun dia bisa meloloskan diri dari Baldwin, masih ada kekuasaan Hadisaputra yang tak akan melepaskan wanita itu. Mereka akan mengejarnya walaupun harus mencari ke lubang semut.
Antoni memang menugaskan mata-mata untuk mengawasi kekasih gelap Ardan itu. Dia juga tahu kalau Angel memiliki kekasih lain selain Ardan. Gentara, pria yang tergila-gila pada Angel, dia selalu menuruti semua kemauan Angel, tak peduli apapun meski harus melompat ke neraka sekalipun mungkin akan diturutinya juga.
Mengingat Gentara, Antoni merasa harus meningkatkan penjagaan pada Soraya. Gentara, pemimpin mafia "Socrety" yang sangat kejam. Dia haus kekuasaan dan tak ada belas kasih. Setiap musuhnya pasti dihancurkannya tanpa ampun.
Ditambah dengan kebencian Angel pada Soraya. Gentara bisa menjadi kaki tangan Angel yang sangat berbahaya.
Derap langkah mendekati Antoni yang masih duduk di kursi yang menghadap pintu emergency.
Antoni menunduk sambil memegang kepalanya. Dia memanjatkan doa, agar Tuhan melindungi Soraya.
Sebuah tepukan di pundaknya membuat dia mengangkat kepalanya. Tampak Permana dan Ardan sedang menatap ke arahnya.
"Om ... ".
" Bagaimana dengan Soraya?"
"Dokter masih memeriksanya".
"Apa yang terjadi?" Permana menatap Antoni dengan tatapan penasaran.
"Untung aku datang tepat waktu. Para ******** itu mencoba memperkosanya".
"Brengsek!" Umpat Ardan, dia meninju dinding rumah sakit. Tak dapat dia bayangkan apa yang telah dialami Soraya. Dan itu karena dirinya. Karena dia lah rumah tangga mereka di ambang kehancuran.
Jika dia tidak bermain-main dengan Angel, ular betina itu tidak akan menyentuh Soraya.
Dia bertekad akan membalas Angel atas semua perbuatannya pada Soraya.
Pintu emergency terbuka. Seorang Dokter keluar didampingi beberapa perawat yang membawa peralatan dan berkas.
"Bagaimana dokter?"
Dokter menghampiri mereka. Dia menggeleng dan menghela napas berat.
Ardan semakin khawatir melihat ekspresi dokter itu.
"Kami sudah berusaha yang terbaik. Kita masih harus menunggu. Kami sudah memeriksa seluruh tubuh Nona Soraya. Tak ada luka serius. Meski perkosaan itu belum terjadi karena cepat diselamatkan. Namun yang dikhawatirkan adalah tekanan mental akibat dari apa yang sudah yang terjadi. Untuk hal itu kita masih harus menunggu Nona Soraya siuman. Agar kita bisa melihat seberapa besar kejadian itu mempengaruhi mentalnya".
"Anda yakin mereka belum melakukan itu?" Tanya Ardan memastikan.
Antoni menatap tajam pada Ardan. Apa maksud pertanyaan itu, pikir Antoni.
"Ya ... Kami sudah memastikan itu melalui pemeriksaan pada organ intimnya. Tidak ada jejak kekerasan di sana, terlebih tidak ada bekas air mani. Dan kami menyimpulkan perkosaan itu memang belum sempat dilakukan. Tapi tetap akan besar pengaruhnya pada mental Nona Soraya karena pelecehan itu".
"Apakah kami harus membawanya ke psikiater?" Sela Permana.
Dokter itu menggeleng.
"Belum. Seperti yang saya katakan tadi. Kita harus menunggu Nona Soraya siuman. Baru setelahnya kita dapat menentukan pengobatan apa yang diperlukan Nona Soraya".
" Bisakah aku menemui Soraya sekarang?"
"Nona Soraya masih belum siuman. Nanti akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kalian bisa bergilir menjenguknya. Baiklah, saya permisi dulu. Masih ada pasien yang membutuhkan saya".
"Terima kasih dokter". Kata Permana mewakili Ardan yang tampak terpaku.
Permana menepuk-nepuk pundak Ardan.
"Papa harap kamu bisa bersabar menghadapi ujian ini".
"Tapi aku akan membalas Angel atas semua ini".
"Itu harus ... Tidak ada yang boleh bermain-main dengan keluarga Hadisaputra. Kau harus memberinya pelajaran. Tapi yang terpenting adalah Soraya. Kau harus berada di sampingnya untuk menguatkan dirinya".
"Iya, Pa. Aku tahu dan aku akan berusaha".
Bersambung...
sukses
semangat
mksh
mksh cerita nya kk 🤗
kerennnn 👌👍
tetap semangat berkarya ✍️✊