NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:110.1k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang

Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.

Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Token Pengenal Harta Langit

Gao Rui tersentak. Seakan akhirnya menemukan jawaban.

“Itu dia…” jawabnya bergetar.

Tanpa ragu lagi, ia segera menurunkan pena dan menuliskan dua kata terakhir di bagian paling bawah daftar itu. Ginseng Hitam.

Begitu nama itu tertulis, seluruh rangkaian bahan terasa lengkap. Ketegangan di dadanya perlahan mengendur, digantikan napas lega yang hampir tak terdengar. Ia menatap daftar itu sekali lagi, memastikan tidak ada yang terlewat, lalu mendorong kertas itu ke arah pelayan.

“Sudah selesai,” kata Gao Rui dengan nada sopan.

Pelayan itu melangkah mendekat dan menerima kertas tersebut dengan kedua tangan. Tatapannya menyapu daftar bahan itu sekilas. Pada awalnya ekspresinya tetap netral, terlatih. Namun saat matanya jatuh pada baris terakhir, ada perubahan yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.

Sedikit keterkejutan melintas di wajahnya. Ginseng hitam.

Meski hanya sepersekian detik, Gao Rui menangkapnya. Tetua Peng Bei pun tidak luput memperhatikan reaksi halus itu. Namun pelayan tersebut segera menundukkan kepala, ekspresinya kembali terkendali, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Mohon tunggu sebentar,” katanya sopan. “Saya akan menyampaikan daftar ini.”

Ia lalu membungkuk ringan dan pamit keluar dari ruangan, menutup pintu dengan hati-hati hingga bunyinya nyaris tak terdengar.

Ruangan kembali sunyi. Tetua Peng Bei yang telah membuka mata sepenuhnya dan menoleh ke arah Gao Rui.

“Rui’er,” ucapnya dengan suara tenang, “tadi kau tampak ragu cukup lama.”

Gao Rui tersenyum kecil, sedikit malu. Ia menundukkan kepala.

“Maaf, Tetua. Ada beberapa bahan yang sempat terlupakan,” katanya jujur. “Dulu… guruku pernah menunjukkannya. Aku hanya perlu waktu untuk mengingat semuanya.”

Tetua Peng Bei mengangguk pelan. Tidak ada nada menyalahkan dalam suaranya.

“Wajar,” katanya. “Pembuatan pil memang bukan perkara sepele. Terutama jika menyangkut keselamatan orang.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap Gao Rui lebih dalam.

“Namun tadi… apakah ada sesuatu yang sempat terlewat sebelum kau menyerahkan daftar itu?”

Gao Rui menghela napas ringan.

“Iya,” jawabnya tanpa berusaha menutupi. “Untungnya aku akhirnya ingat.”

Tatapan Tetua Peng Bei menjadi sedikit lebih lembut. Ia tidak bertanya lebih jauh.

Waktu berlalu beberapa saat. Suasana tetap tenang, hingga akhirnya terdengar ketukan pelan di pintu.

Tok.

“Silakan masuk,” kata Tetua Peng Bei.

Pintu terbuka. Seorang pria paruh baya melangkah masuk dengan sikap tenang dan penuh percaya diri. Pakaiannya rapi, jubah dagang berwarna gelap dengan sulaman emas sederhana di bagian lengan. Wajahnya ramah, matanya tajam namun tidak menusuk.

Begitu melihat Tetua Peng Bei, pria itu segera tersenyum dan memberi hormat dengan sopan.

“Salam hormat, Tetua Peng Bei,” katanya. “Saya Tao Jiya, kepala Toko Harta Langit cabang Kota Yanjing.”

Tetua Peng Bei mengangguk.

“Jadi kau Tao Jiya.”

“Sungguh kehormatan besar bisa bertemu langsung dengan Tetua,” ujar Tao Jiya dengan nada tulus.

Ia lalu melirik Gao Rui sekilas, namun tidak bertanya apa pun. Sikapnya tetap terjaga.

“Daftar bahan telah saya periksa,” lanjut Tao Jiya. Senyumnya sedikit memudar, digantikan ekspresi serius. “Sebagian besar bahan dapat kami sediakan tanpa masalah. Namun… ada satu bahan yang saat ini tidak bisa kami berikan.”

Tetua Peng Bei mengangkat alisnya sedikit.

“Yang mana?”

Tao Jiya menarik napas kecil, lalu membungkuk lebih dalam.

“Dengan segala kerendahan hati, izinkan saya meminta maaf. Ginseng hitam… saat ini tidak tersedia.”

Nada suaranya sungguh-sungguh. Tidak ada kesan arogan sedikit pun. Ia tahu betul siapa yang duduk di hadapannya, seorang pendekar suci tingkat tinggi dari Sekte Bukit Bintang. Kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal bagi tokonya.

Wajah Tetua Peng Bei tampak berubah. Bukan marah, namun jelas ada kekecewaan.

“Tidak tersedia?” ulangnya pelan. “Apakah benar-benar tidak ada?”

Tao Jiya menggeleng.

“Stok ginseng hitam memang sangat langka belakangan ini, Tetua. Jika pun ada yang muncul di pasar gelap, harganya melambung tinggi. Hari ini… saya tidak mengetahui tempat yang pasti memilikinya.”

Tetua Peng Bei terdiam sejenak. Di sisi lain, Gao Rui menunduk, namun pikirannya bergejolak. Kata-kata dua pekerja yang tadi ia dengar kembali terngiang jelas di telinganya.

“Stok ginseng itu benar-benar menipis… Banyak keluarga bangsawan sudah memesan lebih dulu…”

Ia mengerutkan alis. Dalam hatinya, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan. Jika memang tidak ada… lalu apa yang dimaksud dengan stok yang menipis?

Jelas-jelas ada ginseng hitam. Jumlahnya mungkin sedikit, namun tetap ada. Lalu mengapa Tao Jiya mengatakan tidak tersedia? Gao Rui merasakan perasaan tidak enak merayap di dadanya. Ia melirik Tetua Peng Bei, melihat kekecewaan samar di wajah orang tua itu.

“Apakah pantas aku ikut berbicara? Siapakah aku di sini? Hanya seorang bocah yang diajak ikut serta,” ujar Gao Rui dalam hatinya.

Tangannya mengepal pelan di bawah meja. Ia ragu. Sangat ragu. Namun saat melihat Tetua Peng Bei menarik napas pelan, seakan menerima kenyataan dengan berat hati, Gao Rui akhirnya menguatkan diri. Ia mengangkat kepala.

“Maaf,” katanya pelan namun jelas, memecah keheningan.

Tao Jiya dan Tetua Peng Bei sama-sama menoleh ke arahnya.

“Tadi…” Gao Rui menelan ludah. “Aku sempat mendengar perbincangan beberapa pekerja Toko Harta Langit. Mereka menyebutkan bahwa masih ada sedikit stok ginseng hitam di toko ini.”

Wajah Tao Jiya berubah seketika. Sekilas, keterkejutan nyata terpancar di matanya. Namun sebagai pedagang kawakan, ia segera menguasai diri.

“Ah… itu,” katanya cepat, seolah sudah menyiapkan jawaban. “Memang benar masih ada sedikit stok. Namun ginseng hitam tersebut sudah dipesan oleh keluarga lain. Jumlahnya bahkan masih kurang dari total permintaan mereka.”

Ia berbicara cepat, jelas berusaha mencegah kesalahpahaman.

“Kami sama sekali tidak berniat menipu Tetua. Namun pesanan itu… tidak boleh disentuh.”

Tetua Peng Bei mendengarkan dengan tenang. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Justru ia mengangguk pelan, tanda bahwa ia memahami situasi tersebut.

“Begitu rupanya,” ucapnya.

Ia lalu berpikir sejenak, sebelum kembali menatap Tao Jiya.

“Jika aku hanya mengambil sedikit saja, sesuai dengan permintaan kami… apakah itu memungkinkan?”

Kalimat itu membuat Tao Jiya terdiam. Wajahnya menunjukkan kebingungan nyata. Di satu sisi, pesanan keluarga lain adalah urusan besar yang sesuai peraturan kelompok dagang ini tidak boleh dilanggar. Namun di sisi lain… permintaan dari Tetua Peng Bei adalah sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.

Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Ruangan itu kembali sunyi. Ketegangan perlahan mengendap di udara.

Tao Jiya terdiam cukup lama sebelum akhirnya menghela napas pelan. Raut wajahnya yang semula bimbang kini berubah menjadi serius dan penuh kehati-hatian, seolah setiap kata yang akan keluar dari mulutnya harus ditimbang berkali-kali.

“Permintaan Tetua Bei… bukan mustahil,” ujarnya akhirnya. “Namun ini sudah melampaui wewenang saya sebagai kepala toko.”

Ia mengangkat pandangan, menatap langsung ke arah Tetua Peng Bei tanpa sedikit pun niat berkelit.

“Untuk ginseng hitam yang telah dipesan itu, saya harus mendapatkan izin langsung dari pemilik Harta Langit. Nyonya Lan Suya.”

Nama itu membuat ruangan seakan kembali menegang. Tetua Peng Bei tentu mengenal siapa Lan Suya.

“Jika Tetua Bei berkenan menunggu,” lanjut Tao Jiya dengan nada sangat hormat, “saya akan segera mengirim orang untuk meminta persetujuan beliau.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan jujur,

“Namun… mengingat jarak dan kesibukan Nyonya, paling cepat keputusan itu akan sampai ke toko ini dalam tiga hari.”

Tiga hari. Tetua Peng Bei memejamkan mata sejenak. Waktu selama itu… terlalu lama. Ia tidak mungkin berlama-lama di Kota Yanjing. Ia harus segera kembali bersama Gao Rui.

Ia membuka mata kembali, tatapannya mengeras oleh pertimbangan yang berat.

“Tiga hari ya…” gumamnya pelan.

Situasi benar-benar menjadi serius. Di sampingnya, Gao Rui ikut terdiam. Ia merasakan tekanan yang sama. Logika Tao Jiya masuk akal, bahkan sangat masuk akal. Dalam posisi kepala toko, keputusan yang tidak wajar ini memang tidak bisa diambil sembarangan. Namun rasa tidak berdaya tetap menggerogoti dadanya.

“Apa yang harus kulakukan…?” pikirnya kacau.

Saat itulah, tanpa peringatan, sebuah suara dari masa lalu bergema jelas di benaknya. Suara yang tenang, namun sarat makna.

“Apa yang bisa kau dapat, bukan hanya karena kekuatan. Namun bisa juga karena kekuasaan…”

Itu adalah nasehat dari gurunya, Boqin Changing.

Napas Gao Rui tertahan. Kata-kata itu dulu terdengar seperti petuah umum. Namun kini, di ruangan ini, di hadapan pilihan yang genting, maknanya terasa begitu nyata.

Ia menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan seluruh keberaniannya. Jika keputusan ini salah, konsekuensinya mungkin tidak kecil. Namun jika ia tidak melakukan apa pun… ia akan mungkin akan menyesalinya.

Ia menggerakkan cincin ruang di jarinya. Cahaya samar berkilat.

Sebuah token emas muncul di telapak tangannya. Permukaannya halus dan berat, memantulkan cahaya lampu dengan kilau lembut namun berwibawa. Di satu sisinya terukir lambang awan dan langit yang saling bertaut, simbol Harta Langit. Di sisi lain, tertera tulisan yang jelas dan tegas.

Gao Rui. Harta Langit.

Token itu adalah pemberian Lan Suya kepadanya dan gurunya saat mereka menandatangani peralihan kepemilikan saham Harta Langit beberapa waktu lalu. Selama ini, Gao Rui hanya mengira itu sekadar tanda pengenal, mungkin semacam simbol keanggotan. Kini, ia berharap maknanya lebih dari itu.

Dengan mantap, Gao Rui mengulurkan token emas tersebut ke arah Tao Jiya.

“Tuan Jiya,” ucapnya sopan namun tegas, “bisakah urusan ini tidak perlu sampai ke Bibi Ya? Aku dan Tetua Bei tidak punya banyak waktu.”

Begitu token pengenal itu berpindah tangan, Tao Jiya refleks menunduk untuk melihatnya, lalu tubuhnya seakan membeku. Matanya membelalak.

Wajahnya mendadak pucat, lalu berubah menjadi keterkejutan yang nyaris tak bisa ia sembunyikan. Jari-jarinya sedikit bergetar saat merasakan bobot token itu, seolah sedang memegang sesuatu yang jauh lebih berat dari emas murni.

1
Zainal Arifin
joooooooosssss 💪💪💪
Kadek Erdiyasa
semangat thor💪💪 perbanyak lgi upnya mkin seru critanya ni
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Eko Lana
mantap ayooo tunjukkan kemampuan mu Gao Rui
Andi Heryadi
ayo Gao Rui basmi semua siluman,biar mereka tahu kehebatanmu.
Tosari Agung
persis seperti gurunya chang er muridmu berkembang
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
Pria sejati 😈💥
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
💥
Mamat Stone
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!