NovelToon NovelToon
Setelah Kepergianmu

Setelah Kepergianmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: naisa strong

Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.

"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.

Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.

Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Armand pergi ke luar negeri

Degup jantung Alma sudah tidak karuan bersamaan dengan membuka pintu bedroom. Mendapati Armand tidak ada di ruangan, Alma bergegas mencarinya ke bath room namun Armand juga tak ada. Setelahnya lega, ternyata hanya suara tv yang lupa Armand matikan. Alma masih belum sadar jika Armand meninggalkan pesan di ponsel nya. Saat ia ingin menghubungi suaminya, Alma tersadar jika Armand berusaha melakukan panggilan telepon terhadap nya, namun Alma lagi-lagi lupa membesarkan speakernya sehingga tidak terdengar olehnya. Dan benar saja, Armand sudah meninggalkan pesan di aplikasi WhatsApp nya bahwa hari ini dia berangkat ke Amerika untuk 3 sampai maximal 6 bulan kedepan. Alma sedikit terkejut, karena terkesan mendadak lalu berusaha menghubungi suaminya, namun sayang, mungkin Armand tengah berada di penerbangan pesawat sehingga tidak bisa dihubungi. Guratan kecewa pun terbesit di wajah Alma. Mencoba bersabar menunggu jam dimana nanti akan dia coba kembali menghubungi Armand.

Di kediaman Zahrin.

Seperti janjinya dalam hati. Zahrin akan sangat lebih perhatian terhadap suaminya. Regi merasakan bahkan Zahrin terkesan berlebihan dalam merawatnya.

"Besok aku mulai berangkat ke Toko Olivia." Celetuk Regi yang mengundang rasa heran istrinya.

"Sayang, kamu kan masih dalam tahap pemulihan. Kalau kamu bosan di rumah, aku bisa antar kamu jalan-jalan. Kamu mau kemana?" Tanya Zahrin yang tidak mau Regi ke Toko Olivia mengingat pasti akan bertambah pusing terkait pekerjaan di Toko Olivia berikut laporan-laporan nya.

Regi hanya geleng-geleng dengan ekspresi datar.

"Yaudah, kalau kamu bosan di rumah, pagi kita antar Arsyad dan Arsyla ke sekolah. Bagaimana?"

"Boleh." Jawab Regi manggut-manggut.

Dimana waktu makan malam sudah tiba dan mereka bersiap di meja makan. Namun baru saja Zahrin menyiapkan makanan diatas meja makan, Alma datang dan membuat Zahrin heran. Berbeda dengan Regi yang meminta Alma makan malam semeja sekalian. Dimana setelah makan malam mereka masih berbincang santai di ruang utama sampai dimana Alma pamit pulang dan diantar Regi sampai depan pagar. Alma tidak membahas kepergian Armand ke Amerika. Alma hanya selalu menguatkan Regi untuk tetap berpikir selalu ada harapan berumur panjang tanpa melupakan rasa sakit yang di deritanya.

"Besok pagi, aku buatkan bubur ayam lagi ya, kak?"

"Em, nggak usah, Al. Kamu sekarang sedang mengandung. Jadi kamu tidak boleh capek-capek. Ingat, kamu harus menjaga kandungan kamu. Lagi pula, Zahrin mengajak aku antar anak-anak berangkat sekolah. Palingan juga kita sarapan di luar."

"Yah, padahal aku happy lho kak, kalau kakak mau makan masakan buatan aku. Em, begini saja. Sorenya aku bawain kakak menu baru, ya? Biar nggak rugi lah kak, jauh-jauh aku ke London kursus memasak. Yang ada bukannya membuka resto malah mungkin rezekinya jadi pewaris perusahaan furniture dan Toko busana muslim yang aku tidak bisa hitung cabangnya itu." Alma terkekeh.

Regi manggut-manggut tertawa mengakui dewi fortuna berpihak pada hidup wanita di hadapan nya itu.

Dimana setelahnya Alma pamit pulang dan Regi masuk ke dalam.

Seperti biasa, Zahrin melupakan rasa ingin tahunya, terkait pembicaraan mereka sedari tadi pagi. Melupakan semua hal dimana Alma memeluk suaminya, memperlihatkan sesuatu yang Zahrin sebenarnya penasaran tapi tidak dia pertanyakan.

Zahrin mengubur dalam egonya. Mengingat kondisi kesehatan suaminya tidaklah baik-baik saja. Tidak menumpahkan airmata setiap detik saja, sudah lega. Tidak mendengar rintihan sakit yang diderita suaminya saja, Zahrin sudah bersyukur, apalagi Regi bisa menjalani hari-hari lebih lama. Mungkin itulah harapan di hati kecilnya.

Bulan berlalu berganti matahari yang mulai muncul dari ufuk timur. Baik Zahrin, Regi, Arsyad dan Arsyla sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Dimana Zahrin menyuruh Regi memberhentikan mobil di depan gerobak bubur ayam Jakarta spesial Haji Ibrut.

"Karena pagi ini kita tidak sarapan bubur ayam nya tante Alma, kita sarapan bubur ayam di sini saja, ya?" Sindiran halus untuk suaminya. Namun Zahrin sebenarnya tidak benar-benar marah kepada sikap Alma. Hanya saja terkadang sedikit kesal. "Nggak apa-apa kan, sayang?" Imbuh Zahrin.

Regi manggut-manggut. Dalam hatinya berani taruhan, jika pemenang nya tetap lah Alma terkait resep bubur ayam yang hampir semua sudah dia coba. Resep Alma lah, yang paling membuat terkesan dengan cita rasanya.

Mereka berempat masuk dan menyantap bubur ayam spesial yang sudah tersaji di hadapan mereka. Arsyad dan Arsyla tampak lahap memakannya. Zahrin yang mencoba nya, tidak mau berbohong jika bubur ayam buatan Alma lah yang memang terspesial pernah dimakan nya.

Dan benar saja, Regi sudah menduganya. Bubur ayam yang dimakan nya bukan tidak enak. Akan tetapi buatan Alma lebih enak.

Dan bukan hanya Zahrin dan Regi, Arsyad dan Arsyla juga mengakui jika bubur ayam milik Alma lebih enak dari yang baru saja disantapnya.

Usai sarapan bubur ayam, Regi melajukan mobilnya menuju sekolah Arsyad dan Arsyla. Mereka bertemu Akhyar yang seolah sudah menjadi rumah bagi Arsyad dan Arsyla.

Hal yang sama pun dilakukan ke Akhyar, mencium punggung tangan Akhyar sama persis yang dilakukan ke Zahrin dan Regi.

Akhyar mendatangi Zahrin dan Regi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tidak lama bel sekolah berbunyi dan pagar sekolah perlahan ditutup.

"Sudah sembuh?" Tanya Akhyar yang menjabat tangan Regi. "Aku ikut prihatin dengan penyakit yang kamu derita. Aku harap kamu selalu sehat dan panjang umur." Imbuhnya.

"Terimakasih." Jawab Regi dengan anggukan kepalanya.

"Aku mau bicara sebentar, mas." Zahrin yang berbalik arah menuju bawah pohon asam Jawa diikuti oleh Akhyar. "Mas, mau sampai kapan kamu akan seperti ini? Maksud aku, bukan aku tidak suka kamu perhatian sama Arsyad dan Arsyla. Tapi menurutku itu berlebihan, mas. Rumah kamu itu lumayan jauh jaraknya dari sekolah ini. Aku cuma tidak ingin kamu terlalu berlebihan. Sebelumnya aku juga terimakasih, kamu sudah perhatian sama Arsyad dan Arsyla. Tapi maksud aku, kamu nggak harus setiap pagi dan siang berada di sekolah Arsyad dan Arsyla yang jelas-jelas pasti aku jemput. Kalaupun aku telat jemput, ada ibu Olivia dan supir. Jadi menurut aku berhenti deh mas, kamu lakukan ini." Zahrin panjang lebar berusaha menjelaskan ke Akhyar untuk tidak perlu lagi ke sekolah Arsyad dan Arsyla.

"Mau berapa kali kamu bilang untuk melarang aku bertemu dengan Arsyad dan Arsyla, Rin? Aku akan tetap akan melakukannya." Akhyar bersikukuh dengan apa yang dikatakan nya, tidak peduli apa yang disampaikan mantan istrinya. "Terlebih saat-saat seperti ini, kamu sibuk dengan merawat suami kamu yang sakit. Dan apa kamu tahu? Arsyad dan Arsyla sangat sedih hingga tidak ada tempat bercerita selain aku."

Zahrin terdiam sejenak. "Vonis dokter mengatakan umur Regi tidak lama lagi. Harapanku anak-anak bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan daddy nya tanpa bayang-bayang kamu, mas."

Akhyar tidak menimpali.

"Bagiku, kamu masih dunianya Arsyad dan Arsyla. Kamu segalanya dibanding aku dan Regi. Jadi aku mohon mas." Pinta Zahrin yang membuat Akhyar tak ada pilihan.

"Nanti aku bicarakan sama mereka." Jawabnya meragukan.

"Kamu bisa alasan ada pekerjaan luar kota untuk waktu yang lama. Aku yakin mereka mengerti." Zahrin yang memberikan idenya.

Akhyar yang sesekali menoleh ke arah Regi yang sudah masuk ke dalam mobil. "Iya." Jawab Akhyar setelahnya yang membuat Zahrin lega.

Berbeda di kediaman Alma. Alma meringis kesakitan di bagian perutnya. Alma bahkan sampai tidak kuat lagi dimana akhirnya Alma jatuh pingsan dengan panggilan telepon kepada Regi yang tidak terselesaikan.

Regi membunyikan klakson untuk Zahrin supaya segera kembali ke mobil. Karena firasat Regi tidak enak terkait panggilan seluler Alma yang tidak ada jawaban.

"Halo, Al. Alma." Begitu seterusnya, namun anehnya tidak ada sahutan dari balik panggilan tersebut yang membuat Regi bertambah panik. "Kita coba ke rumah, Alma." Regi yang bicara ke Zahrin dan Zahrin meminta Regi untuk tidak panik yang berlebihan karena sedang menyetir.

Mobil yang dilajukan Regi tiba di depan rumah Alma. Dan benar saja, Alma pingsan dan tidak seorang pun ada di rumah. Regi tak mendapati mbak yang biasanya di rumah Alma. Armand yang mungkin sudah berangkat ke kantor membuat suasana rumah tampak sepi.

Zahrin dan Regi panik bukan main. Apalagi Zahrin histeris melihat darah yang menembus pakaian yang dikenakan Alma. Regi mengecek denyut nadinya lalu memapah nya ke dalam mobil tanpa pikir panjang. Dimana sempat beradu tegang dengan Zahrin untuk memanggil ambulance saja mengingat kondisi Regi juga tidaklah baik-baik saja.

Regi bahkan sempat memarahi Zahrin karena kalau Alma terlambat diselamatkan, khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Ketegangan keduanya mencair. Zahrin membiarkan suaminya memapah Alma, padahal dia sendiri meringis kesakitan memegangi perut bagian hati nya yang nyeri karena masih dalam tahap pemulihan. Zahrin hanya bisa pasrah. Padahal biasanya mungkin dia akan mengomel tidak ada ujungnya, namun karena Regi yang bersikukuh, Zahrin yang kemudian berlari membuka kan pintu mobil dan memangku kepala Alma. Beberapa kali langkah Regi sempat terhenti, karena dia juga meringis kesakitan berulang kali memegangi perut kanan bawah akibat penyakit yang di deritanya.

Sekitar lima belas menitan mobil yang ditumpangi ketiganya pun sampai di rumah sakit. Alma langsung di larikan ke Unit Gawat Darurat untuk segera ditangani.

Zahrin dan Regi menunggu dokter yang sedang memeriksa Alma. Berbeda dengan Regi yang cemas berusaha menghubungi mama nya. Zahrin yang berusaha menenangkan suaminya untuk tidak terlalu panik mengingat Regi baru keluar dari rumah sakit dan perlu diingat bahwa penyakitnya bukanlah penyakit ringan melainkan serius.

"Apa? Alma di rumah sakit." Ibu Olivia begitu syok mendengarnya. Menutup panggilan telepon dan bergegas menghubungi suaminya, pak Hanung untuk memberitahukan keadaan putrinya.

Tidak berselang lama, diawali dengan ibu Olivia yang lebih dulu datang, sekitar lima menit kemudian pak Hanung datang dan menghampiri istrinya. Begitu paniknya dia bertanya kronologi bagaimana bisa itu terjadi. Mengapa Alma sampai terbaring di Unit Gawat Darurat. Lalu dimana Armand?

"Aku nggak tahu pastinya, om. Yang jelas Alma menghubungi ponselku, tapi tidak ada suaranya. Aku merasakan ada hal janggal yang kebetulan kami sedang berada di luar setelah mengantar Arsyad dan Arsyla. Jadi aku dan Zahrin tanpa pikir panjang menuju rumah Alma dan mendapati Alma sudah tergeletak di lantai bedroom nya. Kami juga tidak melihat Armand, yang mungkin Armand sudah berangkat ke kantor." Panjang lebar Regi menjelaskan.

Pak Hanung dengan segera mengambil ponsel di saku celananya dan menghubungi menantunya. Namun ternyata panggilan sedang dialihkan dan beberapa kali dia coba namun hasilnya sama hingga akhirnya pak Hanung menyerah.

Tidak lama dokter keluar dengan wajah serius. "Bagaimana dokter dengan keadaan anak saya?" Pak Hanung sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Alma.

"Iya, saya juga akan memberitahukan hal penting disini." Dokter dengan wajah seriusnya.

Bersambung

1
Vanni Sr
semua novel ny saling berkaitan , jd hrus baca semua ny. g seru. hrus ny stop pke crta baru tp ini saling berkaitan yg di wjibkn baca judul sblm nya biar ngerti hadeeeuh
naisa strong: 😄😄😄trik marketing kak🤣🤣 supaya kakak juga baca yang sebelumnya dan semakin banyak novel penulis yang terbaca oleh pembaca yang alhasil kalau banyak yang koment suka dan baca penulis dapat cuan kak....hehehhehe🤣🤣😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!