"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Jejak yang tertinggal
Udara sore di pinggiran Tokyo itu terasa semakin dingin, namun anehnya, aku tidak merasa menggigil. Ada kehangatan aneh yang menjalar dari telapak kakiku setiap kali bersentuhan dengan lantai kayu jembatan merah ini.
Aku masih mematung, menatap ruang kosong di sampingku. Suara riuh Ken yang mengeluh soal kakinya yang pegal dan tawa kecil Mona terasa sangat jauh, seolah-olah aku sedang berada di dalam sebuah gelembung kaca yang memisahkanku dari kenyataan.
"Alexian, selamat datang..."
Kalimat itu terus muter-muter di otakku, gak mau berhenti. Suaranya lembut, tapi bikin merinding di setiap Tulang. Aku mencoba mengatur napas, menenangkan debaran jantungku yang liar.
Aku tersenyum paksa menanggapi candaan Ken yang sedari tadi sibuk memamerkan pose-pose konyolnya di depan kamera ponsel.
Namun, saat aku melangkah hendak mengikuti mereka menjauh dari jembatan, sebuah kilatan cahaya dari sudut mata menghentikan gerakanku.
Mataku tidak sengaja menangkap sesuatu yang terselip di celah pagar kayu merah itu. Sesuatu yang berwarna jingga pudar, berkibar pelan tertiup angin musim semi.
Aku berhenti mendadak, membuat Ken hampir menabrak punggungku. Tanpa memedulikan gerutuan sahabatku itu, aku berjalan mendekati pagar kayu. Jariku meraih benda kecil yang terselip di sana dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca yang mudah pecah.
Ternyata, itu adalah selembar pita kain berwarna jingga senja yang sangat indah. Kainnya terasa sangat halus, namun yang paling mengejutkan adalah aroma wangi bunga sakura yang masih sangat segar, seolah baru saja dipetik dari pohonnya.
Saat kulitku bersentuhan dengan pita itu, dunia di sekitarku seolah memudar. Pandanganku mengabur dan digantikan oleh kilas bayangan yang sama persis seperti mimpiku semalam. Aku melihat siluet wanita itu berdiri membelakangiku, rambutnya yang panjang tertiup angin, dan dia sedang mengikatkan sesuatu di pagar ini.
Lalu, suara bisikan itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas dan tenang:
"Aku tinggalkan pita jinggaku di sini. Kelak, aku akan menemukan siapa pria yang melihatku di sana..."
Seketika, air mata jatuh tanpa bisa kubendung. Bukan air mata kesedihan, melainkan sebuah kelegaan yang luar biasa. Dadaku sesak oleh rasa syukur yang membuncah. Ternyata, wanita di mimpiku itu bukanlah bayangan biasa yang diciptakan oleh otakku yang kelelahan. Dia benar-benar ada di dunia nyata. Dia sedang menungguku. Dia sedang mencariku. Dia... sama sepertiku.
"Jadi, ini nyata," ucap batinku sambil mengusap air mata dengan punggung tangan.
"Kamu benar-benar ada."
"Lex? Apa itu? Eh, Kok nangis?" Mona tiba-tiba sudah berada di sampingku. Wajah yang biasanya tenang kini dipenuhi raut penasaran sekaligus khawatir.
Aku segera mengerjapkan mata, mencoba menyembunyikan getaran di suaraku. Aku menunjukkan pita itu padanya dengan mata yang masih berbinar, meski kemerahan.
"Gapapa, Mona. Mataku cuma kelilipan tadi. Lihat ini..."
Aku membentangkan pita jingga itu di telapak tanganku.
"Lihat, Mona. Ini bukan mimpi. Pita ini... warnanya persis seperti sinar senja di mata wanita itu. Aku menemukannya terselip di sini."
Mona tertegun. Ia mendekat dan menyentuh ujung pita itu dengan ujung jarinya. Ia tampak merenung, seolah sedang memanggil kembali semua memori tentang legenda tua yang pernah ia baca. Kemudian, ia tersenyum tipis sebuah senyum yang penuh arti.
"Yume no Ukihashi benar-benar memberimu oleh-oleh, Lex," ucap Mona pelan.
"Dalam legenda kuno, jembatan ini bukan hanya tempat pertemuan mimpi, tapi juga tempat pertukaran janji. Kalau kamu menemukan benda milik seseorang dari dunia itu, itu artinya dia juga sedang mencarimu di dunia nyata. Benang merah kalian baru saja mulai terjalin secara fisik."
Mendengar penjelasan Mona, jantungku berdegup kencang karena bahagia. Rasa takut yang sempat menghampiriku tadi lenyap tak berbekas. Aku segera memasukkan pita itu ke saku overcoat-ku dengan sangat hati-hati, memastikannya aman di dalam sana. Rasanya seolah aku baru saja memenangkan harta karun paling berharga di seluruh dunia.
"Wah..gila sih, karena pita doang kau ampe nangis!" Ken tiba-tiba muncul dan merangkul bahuku dengan semangat, hingga aku hampir terhuyung.
"Gila ya, gara-gara pita doang kau ampe nangis? Udahlah, urusan jodoh nanti dulu, perut gue udah demo nih. Traktir Aku ramen pokoknya!"
Kami bertiga tertawa bersama, memecah kesunyian taman yang mulai meremang. Aku melangkah meninggalkan jembatan itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Beban di pundakku seolah hilang dibawa terbang angin sore.
Lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu, menggantikan cahaya matahari yang telah sepenuhnya tenggelam. Kami bertiga berjalan beriringan menuju stasiun terdekat. Suasana Tokyo di malam hari selalu terasa berbeda—lebih sibuk, lebih dingin, namun entah mengapa malam ini terasa begitu bersahabat bagiku.
"Aduh, Lex, kau benar-benar harus traktir aku porsi ekstra!" Ken mengeluh sambil memijat bahunya, meskipun wajahnya tetap terlihat ceria.
"Berjalan dari stasiun ke taman tadi itu setara dengan latihan maraton tahu tidak? Lemak di perutku rasanya sudah terbakar habis!"
Mona tertawa kecil, ia merapatkan mantelnya.
"Berhenti mengeluh, Ken. Bukankah tadi kau yang paling semangat mengambil foto di sana? Aku yakin galeri ponselmu sekarang penuh dengan foto selfie di depan jembatan merah itu."
"Hehe, itu kan aset masa depan, Mona. Siapa tahu tempat itu jadi viral karena pencarian jodoh Alexian yang legendaris ini," jawab Ken sambil mengedipkan sebelah mata ke arahku.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar perdebatan kecil mereka. Tanganku masih berada di dalam saku overcoat, jemariku mengusap lembut permukaan kain pita jingga itu. Rasanya sangat halus, seperti sutra.
Setiap kali aku menyentuhnya, ada sensasi listrik kecil yang menenangkan merambat ke dadaku. Aku merasa seolah sedang memegang tangan wanita itu.
Kami menaiki kereta yang cukup padat.
Di dalam gerbong yang bergoyang pelan, aku berdiri bersandar pada tiang, menatap pantulan diriku di jendela kaca yang gelap. Di sampingku, Mona tampak sibuk dengan ponselnya, mungkin ia sedang mencari artikel lebih dalam tentang penemuan benda dari dunia mimpi.
"Lex," panggil Mona pelan,
cukup hanya aku yang bisa mendengar di tengah deru mesin kereta.
"Pita itu... jangan sampai hilang. Di Jepang, ada kepercayaan bahwa benda seperti itu adalah 'omamori' atau jimat pelindung. Selama kamu menyimpannya, jalanmu menuju dia tidak akan tertutup."
Aku menoleh ke arah Mona dan mengangguk mantap.
"Aku tidak akan membiarkannya lepas, Mona. Rasanya seperti... ini satu-satunya peganganku pada kenyataan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi."
Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah gang kecil di daerah Shinjuku yang dipenuhi dengan papan nama neon berwarna-warni. Bau kaldu babi yang gurih dan aroma bawang goreng mulai menusuk hidung—sebuah aroma yang sangat menggoda di malam yang dingin ini.
"Nah! Itu dia! Ramen Ichiraku cabang rahasia!"
seru Ken menunjuk sebuah kedai kecil dengan tirai kain noren merah yang melambai di depan pintu.
Kami masuk ke dalam kedai yang hangat dan sempit itu. Suara uap air mendidih dan denting mangkuk yang beradu menciptakan simfoni yang menyenangkan. Kami duduk di depan meja counter kayu yang sudah tua.
"Pesan tiga porsi spesial dengan telur setengah matang dan chashu ekstra!" teriak Ken tanpa melihat menu lagi.
Sambil menunggu pesanan datang, aku kembali merogoh ponselku di bawah meja. Aku membuka galeri melihat foto jembatan dan bunga sakura yang baru saja aku potret. Cahaya dari layar ponsel menyinari wajahku di kegelapan bawah meja. Di foto itu, Aku melihat betapa indahnya jembatan yang mirip sekali di mimpiku semalam.
Ken yang menyadari aku sedang asyik sendiri, tiba-tiba melongokkan kepalanya.
"Woi!!!, senyum-senyum sendiri! Lagi liatin foto siapa? Coba lihat!"
Aku buru-buru mematikan layar ponsel, membuat Ken cemberut.
"Rahasia," jawabku singkat sambil tertawa.
"Pelit! Pasti ngebayangin wanita misterius itu ya? Wah, Lex, kau benar-benar sudah jatuh cinta pada bayangan!" Ken menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menerima semangkuk besar ramen yang mengepulkan asap wangi.
Aku hanya tertawa. "Bukan bayangan, Ken," ucapku dalam hati. Dia nyata. Dan dia sedang menungguku di suatu tempat di kota yang luas ini.
Malam itu, di tengah hiruk-pikuk kedai ramen yang hangat, aku merasa untuk pertama kalinya sejak pindah ke Tokyo, aku tidak lagi merasa sendirian. Aku memiliki pita di sakuku, dua sahabat di sampingku, dan sebuah janji dari dunia mimpi yang menantiku di hari esok.
Sambil berjalan menuju stasiun, rasa penasaran membuatku merogoh ponsel. Aku ingin melihat kembali foto-foto jembatan yang kuambil tadi. Aku menggeser layar satu per satu, foto Ken yang konyol, foto pemandangan sungai, hingga aku sampai pada sebuah foto yang kuambil saat aku berdiri sendirian di tengah jembatan.
Jantungku berhenti berdetak sejenak.
Di salah satu foto itu, di kejauhan di balik dahan sakura yang menjuntai, terlihat siluet samar seorang wanita. Dia mengenakan Overcoat berwarna cokelat, persis seperti dalam mimpiku.
Dia tidak membelakangiku kali ini. Dia sedikit menoleh ke arah kamera, dengan senyum tipis yang sangat lembut terukir di wajahnya.
Dia nyata. Dia ada di sana saat aku memotretnya, meski mataku tadi tidak melihatnya.
Aku berhenti berjalan, menatap layar ponselku dengan tangan bergetar. Sebuah senyum lebar terkembang di wajahku.
Kini aku punya bukti. Aku punya pita di sakuku, dan fotonya di ponselku.
"Tunggu aku," bisikku pelan ke arah layar ponsel.
"Aku akan menemukanmu."
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.