Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam yang Canggung
Udara di kantor pusat Dirgantara Group di pusat Uptown terasa lebih berat dari biasanya bagi Raisa. Sejak pemindahan meja kerjanya ke dalam ruangan Arash, privasi menjadi kemewahan yang mustahil ia gapai. Namun, siang itu, keberuntungan berpihak padanya saat Arash harus menghadiri rapat tertutup di lantai bawah.
Vino, yang sudah beberapa hari ini bergerak seperti bayangan di balik pilar-ilar kantor, melihat kesempatan itu. Ia mencegat Raisa di dekat area pantry, tepat saat wanita itu hendak mengambil air mineral.
"Raisa," bisik Vino, suaranya penuh kecemasan yang tertahan. "Kau terlihat semakin tertekan. Aku tidak bisa membiarkanmu terus seperti ini."
Raisa menoleh waspada, matanya melirik ke arah pintu lift eksekutif. "Vino, tolong jangan di sini. Pak Arash bisa muncul kapan saja."
"Malam ini," potong Vino cepat. "Rayakan kesembuhanmu denganku. Hanya makan malam biasa, di restoran Italia kecil dekat pusat kota. Aku ingin memastikan kau baik-baik saja, Raisa. Tanpa pengawasan dia."
Raisa ragu. Jantungnya berdegup kencang antara keinginan untuk menghirup udara kebebasan sejenak dan ketakutan akan kemarahan Arash. Namun, melihat sorot mata Vino yang tulus, pertahanan Raisa runtuh. "Baiklah. Pukul tujuh malam. Tapi kita harus pergi secara terpisah."
Malam itu, restoran Bella Notte di pinggiran Uptown terlihat romantis dengan cahaya lilin yang temaram. Raisa duduk di sudut yang paling tersembunyi, mengenakan gaun sederhana berwarna biru gelap. Vino duduk di depannya, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rindu dan amarah yang terpendam.
"Kau terlihat cantik malam ini, Raisa," ujar Vino pelan. Ia meraih tangan Raisa di atas meja. "Aku tahu ada yang tidak beres antara kau dan Pak Arash. Aku melihat kalian di apartemen itu semalam. Katakan padaku, apakah dia mengancammu soal pekerjaan?"
Raisa menarik tangannya perlahan, menunduk menatap taplak meja putih. "Vino, ini rumit. Tolong jangan tanya lebih jauh. Aku hanya ingin menikmati malam ini tanpa memikirkan kantor."
"Aku tidak bisa diam saja melihatmu diperlakukan seperti itu! Aku akan membantumu keluar dari—"
KLING.
Bunyi lonceng di pintu restoran memotong kalimat Vino. Raisa mendongak, dan seketika wajahnya berubah menjadi sepucat kertas.
Arash melangkah masuk dengan aura yang begitu mendominasi. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap, tanpa dasi, memberikan kesan santai namun tetap berbahaya. Ia tidak sendirian; ia diikuti oleh seorang pria asing yang tampak seperti kolega bisnis, namun mata Arash langsung mengunci posisi Raisa.
Tanpa keraguan sedikit pun, Arash melangkah menuju meja mereka.
"Kebetulan yang sangat menarik," suara bariton Arash menggema. "Nona Raisa, saya tidak menyangka asisten pribadi saya memiliki selera restoran yang sama dengan klien bisnis saya malam ini."
Vino berdiri, wajahnya memerah karena emosi. "Pak Arash, ini adalah waktu pribadi kami. Kami sedang merayakan kesembuhan Raisa."
Arash tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Ah, perayaan kesembuhan? Kalau begitu, tidak keberatan bukan jika saya dan kolega saya bergabung? Meja lain di sini tampaknya sudah penuh, dan saya tidak ingin mengecewakan Mr. Robert dengan mencari tempat lain."
Tanpa menunggu persetujuan, Arash menarik kursi di sebelah Raisa, memojokkan wanita itu di antara dirinya dan dinding. Ia meletakkan tangannya di sandaran kursi Raisa, sebuah gestur yang sangat posesif di depan umum.
"Pelayan!" panggil Arash dengan lambaian tangan yang angkuh.
Seorang pelayan datang dengan terburu-buru. Arash mengambil menu tanpa melihatnya.
"Dua porsi Risotto ai Funghi, tapi pastikan tanpa taburan keju parmesan, tanpa minyak truffle, dan sama sekali jangan ada jejak bawang putih mentah di piring ini," ujar Arash dengan nada memerintah yang sangat detail.
Vino mengernyitkan dahi. "Pak, saya baru saja akan memesankan pasta untuk Raisa."
Arash menoleh ke arah Vino dengan pandangan meremehkan. "Jangan. Raisa memiliki sistem pencernaan yang sangat sensitif pasca demam tinggi. Keju parmesan akan membuatnya mual, minyak truffle akan memicu sakit kepalanya kembali, dan bawang putih mentah adalah pemicu utama alergi kulitnya yang akan membuatnya sesak napas dalam waktu sepuluh menit."
Raisa terpaku. Arash mengingat detail alerginya bahkan saat ia sendiri sering melupakannya.
Vino terdiam sejenak, namun kecurigaannya kini memuncak. Ia menatap Arash dengan tajam, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.
"Bagaimana Bapak bisa tahu sedalam itu?" tanya Vino, setiap kata ditekankan dengan penuh selidik. "Alergi makanan adalah hal yang sangat pribadi. Sebagai atasan, perhatian Bapak terhadap detail fisik Raisa sudah melewati batas kewajaran. Bagaimana Bapak bisa tahu apa yang memicu sesak napasnya?"
Arash menyesap air mineralnya dengan tenang, matanya menatap Vino dengan sorot yang mematikan. "Seorang CEO yang baik harus mengenal setiap asetnya dengan sempurna, Vino. Aku tahu kapan mesin kantorku butuh oli, dan aku tahu kapan staf pribadiku berada di ambang bahaya karena kecerobohan pria seperti kau yang ingin mengajaknya makan malam tanpa tahu riwayat kesehatannya."
"Ini bukan soal profesionalisme!" bentak Vino. "Bapak tahu detail itu karena ada sesuatu yang Bapak sembunyikan, bukan? Aku melihat kalian masuk ke gedung apartemen mewah itu semalam! Apa yang sebenarnya Bapak lakukan pada Raisa?!"
Raisa mencengkeram kain gaunnya, air mata mulai menggenang. "Vino, hentikan ...."
Arash meletakkan gelasnya dengan denting yang keras. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Vino, suaranya merendah namun tajam.
"Kau ingin tahu rahasianya, detektif kecil?" desis Arash. "Aku tahu detail itu karena aku adalah orang yang paling bertanggung jawab atas dirinya di luar kantor. Aku yang mengawasi masa pemulihannya secara langsung agar dia bisa kembali bekerja. Jadi, berhentilah bertingkah seolah kau mengenalnya. Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di balik perlindungan yang kuberikan padanya."
Vino terbelalak, wajahnya menunjukkan rasa sakit yang luar biasa. Ia menoleh ke arah Raisa, berharap wanita itu akan membela diri, namun Raisa hanya bisa menunduk dan terisak pelan.
"Kau ... kau memanfaatkannya," bisik Vino dengan suara pecah.
"Aku menjaganya dari orang-orang sepertimu," balas Arash tegas. Ia berdiri, menarik tangan Raisa agar ikut berdiri bersamanya. "Pertemuan bisnis ini dibatalkan, Robert. Saya punya urusan penting yang harus diselesaikan segera."
Arash menarik Raisa keluar dari restoran dengan langkah kasar, meninggalkan Vino yang terpaku. Di dalam mobil menuju apartemen di Uptown, suasana hening dan mencekam. Begitu pintu apartemen mewah mereka tertutup, Arash menyudutkan Raisa di dinding lobi unit mereka.
"Kau pikir kau bisa melarikan diri dariku dengan makan malam romantis?" bentak Arash. "Kau hampir mencelakai dirimu sendiri dengan makanan itu jika aku tidak datang!"
"Kau mempermalukanku, Arash! Kau membuat Vino curiga!" tangis Raisa pecah.
"Aku tidak peduli pada kecurigaannya! Aku hanya butuh kau tetap hidup dan tetap berada di bawah pengawasanku!" Arash mencengkeram bahu Raisa, matanya berkilat penuh obsesi. "Jika kau sangat ingin makan malam mewah, aku akan membelikan restoran itu untukmu. Tapi jangan pernah berani duduk di satu meja dengan pria itu lagi."
Arash menurunkan wajahnya, mencium leher Raisa dengan kasar—sebuah tanda kepemilikan yang kuat. Raisa hanya bisa memejamkan mata, menyadari bahwa semakin ia mencoba mencari kebebasan, semakin erat Arash akan mengikatnya dalam dunianya yang posesif.