NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Kandang Macan

Aroma kopi arabika yang pekat membangunkan Alana sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Ia mengerjapkan mata, butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa langit-langit kamar yang ia tatap bukanlah plafon berjamur di kontrakan Rini, bukan pula langit-langit gypsum mewah di rumah ayahnya. Ini adalah kamar tamu di penthouse Elang Pradipta. Langit-langit tinggi, dinding kaca yang menampilkan panorama Jakarta yang tertutup kabut pagi, dan suhu ruangan yang diatur presisi di angka 20 derajat celcius.

Alana mencoba duduk, namun ringisan tertahan lolos dari bibirnya. Rasa nyeri menghantam bahu kiri dan rusuk kanannya—oleh-oleh dari besi scaffolding yang menghantamnya kemarin. Meski dokter bilang tidak ada tulang yang patah, memar yang mulai membiru di kulit pucatnya mengatakan hal lain.

Ia memaksakan diri turun dari ranjang king size itu. Kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Alana berjalan tertatih menuju cermin besar di sudut ruangan. Pantulan di cermin memperlihatkan sosok wanita dengan piyama sutra abu-abu—yang disiapkan asisten rumah tangga Elang—dengan perban menempel di pelipis. Ia terlihat babak belur, tapi sorot matanya tidak lagi menyiratkan ketakutan seperti saat ia diusir dari rumah ayahnya. Sorot mata itu kini tajam, dingin, dan penuh perhitungan.

"Siska benar-benar ingin aku mati," gumamnya pelan. Fakta itu tidak lagi membuatnya menangis. Justru, itu memvalidasi dugaannya: Siska sedang ketakutan setengah mati.

Alana keluar kamar, menyusuri koridor apartemen yang didominasi warna monokrom dan aksen kayu gelap. Apartemen Elang terasa seperti pemiliknya: efisien, mahal, dan sedikit mengintimidasi. Tidak ada foto keluarga, tidak ada hiasan dinding yang personal. Hanya seni abstrak dan perabot Italia.

Di dapur bersih yang menyatu dengan ruang tengah, Elang sudah berdiri di balik kitchen island. Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan yang harganya mungkin bisa membeli satu blok perumahan di pinggiran Jakarta. Satu tangannya memegang tablet, tangan lainnya mengaduk kopi.

"Sudah bangun?" sapa Elang tanpa menoleh, seolah ia memiliki mata di belakang kepala.

"Bau kopinya memanggilku," jawab Alana, berusaha terdengar normal meski setiap langkah mengirimkan sinyal nyeri ke punggungnya. Ia menarik kursi bar tinggi dan duduk perlahan.

Elang meletakkan tabletnya, lalu mendorong secangkir kopi hitam dan piring berisi omelet dan roti gandum ke hadapan Alana. "Makan. Kamu butuh protein untuk perbaikan jaringan otot."

"Terima kasih," ucap Alana, menerima piring itu. "Kau tidak punya asisten untuk menyiapkan ini?"

"Aku tidak suka orang asing berkeliaran di area pribadiku sebelum jam delapan pagi," jawab Elang datar. Ia menyesap kopinya, lalu menatap Alana dengan intensitas yang membuat Alana sedikit salah tingkah. Tatapan itu bukan tatapan menggoda, melainkan tatapan seorang jenderal memeriksa kondisi prajuritnya. "Bagaimana lukamu?"

"Bisa ditahan. Ototku kaku, tapi aku bisa bekerja hari ini."

"Tidak," potong Elang cepat. "Kau tidak akan ke kantor atau ke lokasi proyek hari ini. Rico masih berkeliaran."

Nama itu membuat udara di ruangan terasa lebih berat. Rico. Pria masa lalu Siska. Eksekutor lapangan.

"Justru karena dia berkeliaran, kita harus bergerak, Elang. Kalau aku sembunyi, Siska akan merasa dia menang. Dia akan berpikir terornya berhasil."

Elang meletakkan cangkirnya dengan sedikit hentakan. Suara keramik beradu dengan marmer terdengar nyaring. "Ini bukan soal ego, Alana. Ini soal strategi. Kalau pionmu sedang cedera, kau tidak memaksanya maju ke garis depan hanya untuk pamer keberanian. Kau menariknya mundur, menyembuhkannya, dan membiarkan bentengmu bekerja."

Alana terdiam, mengunyah omeletnya dengan pelan. Ia tahu Elang benar, tapi diam di tempat membuatnya gelisah.

Elang menggeser tabletnya ke arah Alana. "Lihat ini."

Di layar tablet, terpampang profil lengkap seorang pria. Rico Santoso. 32 tahun. Catatan kriminal: penjudian, penganiayaan ringan, dan dugaan keterlibatan dalam jaringan prostitusi kelas menengah. Ada juga foto-foto terbaru yang diambil secara candid—Rico sedang merokok di depan sebuah ruko, Rico masuk ke pegadaian, dan Rico bertemu seseorang di parkiran motor.

"Tim keamananku bekerja cepat tadi malam," jelas Elang. "Rico punya utang judi sebesar seratus lima puluh juta pada rentenir di Mangga Besar. Jatuh temponya dua hari lagi. Itu sebabnya dia nekat mengambil pekerjaan kotor dari Siska."

"Seratus lima puluh juta..." Alana tertawa miris. "Nyawaku hanya dihargai segitu?"

"Bagi pecandu judi yang terdesak, lima puluh juta pun cukup untuk membuatnya membunuh," sahut Elang dingin. Ia mengetuk layar tablet, memperbesar sebuah foto yang menunjukkan bukti transfer bank. "Siska mentransfer uang muka lima puluh juta. Sisanya dijanjikan setelah 'pekerjaan' selesai."

"Karena aku masih hidup, berarti dia belum dapat pelunasannya," simpul Alana. Otaknya mulai berputar, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya. "Rico pasti sedang panik sekarang. Dia gagal membunuhku, Siska pasti menolak membayar sisanya, sementara penagih utang mengejarnya."

"Tepat," ujar Elang, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang berbahaya. "Musuh yang panik adalah musuh yang mudah diprediksi."

"Apa rencanamu?" tanya Alana.

"Aku sudah membeli utangnya."

Alana tersedak kopinya. Ia menatap Elang dengan mata terbelalak. "Apa?"

"Pagi ini, orang kepercayaanku mendatangi rentenir di Mangga Besar itu. Aku melunasi utang Rico dan mengambil alih surat perjanjiannya. Secara teknis, nyawa Rico sekarang milikku."

Alana menggeleng tak percaya. Cara Elang menyelesaikan masalah benar-benar di luar nalar orang biasa. Efektif, brutal, dan menggunakan uang sebagai senjata utama. "Jadi... kita akan menagihnya?"

"Kita akan memberinya pilihan," koreksi Elang. Ia berjalan memutari meja bar, berdiri di samping Alana. Aroma parfum maskulin yang bercampur wangi sabun menguar darinya. "Dia bisa menghadapi polisi atas tuduhan percobaan pembunuhan—yang berarti penjara seumur hidup mengingat bukti rekaman CCTV yang kita punya—atau dia bekerja untuk kita."

"Untuk apa?"

"Untuk menjadi bom waktu bagi Siska," jawab Elang. "Siska berpikir Rico adalah alatnya. Kita akan membalikkan keadaan. Biarkan Rico tetap menagih Siska, menerornya, membuatnya semakin stres hingga dia melakukan kesalahan fatal lainnya. Wanita hamil dengan tekanan mental tinggi... dia akan hancur dengan sendirinya."

Alana merasakan dorongan adrenalin. Rencana ini kejam, sangat kejam. Tapi ketika ia mengingat senyum Siska saat mengusirnya, atau saat Siska dengan bangga memakai kalung ibunya, rasa kasihan di hati Alana menguap. "Aku setuju. Tapi aku punya satu syarat."

"Katakan."

"Aku ingin bicara dengan Rico. Langsung."

Elang mengerutkan kening. "Terlalu berisiko."

"Tidak kalau dia sudah diikat di kursimu, kan?" tantang Alana. "Aku perlu dia melihat mataku. Aku perlu dia tahu bahwa orang yang dia coba bunuh sekarang memegang nasibnya. Itu akan memastikan loyalitasnya karena rasa takut, bukan hanya karena uang."

Elang menatap Alana lama, menilai keseriusan wanita di hadapannya. Ia melihat transformasi itu lagi. Alana bukan lagi putri manja Hendra Wardhana. Dia adalah penyintas yang sedang belajar menjadi predator. Dan Elang harus mengakui, ia menyukai apa yang ia lihat.

"Baik," putus Elang akhirnya. "Malam ini. Di gudang logistik Sagara Group di Cakung. Tapi kau tidak boleh menyentuhnya. Biar orang-orangku yang melakukan intimidasi fisik jika diperlukan."

"Deal," jawab Alana cepat.

Sisa pagi itu dihabiskan Alana di apartemen Elang. Ia bekerja secara remote, meninjau ulang desain Blue Coral Resort. Sesuai instruksi Elang, Rini yang datang mengantarkan laptop dan berkas kerja Alana ke lobi apartemen, tidak diizinkan naik. Rini sempat histeris melihat wajah Alana yang memar lewat panggilan video, tapi Alana berhasil menenangkannya dengan alasan ia jatuh dari tangga—kebohongan yang diperlukan agar Rini tidak panik dan melapor polisi.

Menjelang sore, Elang memberikan sebuah kotak kepada Alana. "Pakai ini nanti malam."

Alana membuka kotak itu. Isinya bukan gaun mewah, tapi setelan blazer hitam dengan potongan tegas, celana bahan yang nyaman, dan sepasang sepatu boots datar. Pakaian tempur. Pakaian yang mengatakan 'aku yang berkuasa di sini', bukan 'lihat aku'.

"Terima kasih," ucap Alana tulus.

"Jangan salah paham," Elang memasang kancing manset di pergelangan tangannya. "Aku hanya tidak mau kau masuk angin di gudang itu."

Pukul tujuh malam, mobil SUV hitam berlapis baja membawa mereka menembus kemacetan Jakarta menuju pinggiran kota. Suasana di dalam mobil hening. Alana memandang keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang memudar berganti dengan deretan pabrik dan gudang gelap di kawasan industri.

Ketika mobil berhenti di depan sebuah gudang tua dengan pintu besi berkarat, jantung Alana berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena antisipasi. Dua orang penjaga bertubuh kekar membukakan pintu mobil.

Di dalam gudang yang luas dan remang-remang, di tengah ruangan yang hanya disinari satu lampu gantung, seorang pria terikat di kursi kayu. Wajahnya lebam, bibirnya pecah. Rico.

Rico mendongak saat mendengar langkah kaki mendekat. Matanya yang bengkak membelalak saat melihat Elang, dan kemudian menyipit ketakutan saat melihat Alana berjalan di sampingnya.

Elang berhenti tiga meter dari kursi Rico, membiarkan Alana mengambil langkah maju. Alana berdiri tegak, mengabaikan nyeri di rusuknya. Ia menatap pria yang kemarin nyaris merenggut nyawanya demi uang lima puluh juta.

"Rico Santoso," suara Alana menggema di gudang kosong itu. Tenang, namun menusuk.

"Mbak Alana... ampun, Mbak... saya cuma disuruh..." Rico mulai merengek, suaranya serak dan gemetar. Keangkuhan preman pasarnya lenyap tak berbekas di hadapan kekuasaan uang yang sesungguhnya.

"Aku tahu kau disuruh," potong Alana dingin. Ia melangkah lebih dekat, hingga ia bisa mencium bau keringat dan darah kering dari tubuh Rico. "Siska Damayanti. Dia membayarmu lima puluh juta di muka, kan? Dan sisanya belum kau terima karena aku masih berdiri di sini."

Rico mengangguk cepat, air mata bercampur darah mengalir di pipinya. "Dia bilang ini bakal gampang... cuma kecelakaan kerja... saya butuh uangnya buat bayar utang..."

"Utangmu sudah lunas," sela Elang dari belakang, suaranya berat dan berwibawa. "Aku sudah membelinya. Sekarang, kau berutang nyawa padaku."

Rico menatap Elang dengan horor. Ia tahu reputasi Sagara Group. Ia tahu Elang bukan orang yang bisa diajak main-main.

Alana membungkuk sedikit, menatap lurus ke mata Rico. "Kau punya dua pilihan, Rico. Masuk penjara dan membusuk di sana karena percobaan pembunuhan berencana, atau... kau kembali pada Siska."

"Maksud... maksud Mbak?" Rico bingung.

"Kau akan menghubunginya," bisik Alana. "Kau akan bilang padanya bahwa kau butuh uang pelunasan itu sekarang juga, atau kau akan buka mulut soal siapa ayah bayi yang dikandungnya. Kau akan menerornya setiap hari, setiap jam. Kau akan meminta uang lebih banyak. Kau akan menjadi mimpi buruknya."

"Kau akan memerasnya sampai kering," tambah Elang. "Dan semua rekaman percakapanmu, semua bukti transfer darinya, kau serahkan pada kami."

"Kalau saya lakukan itu... utang saya lunas?" tanya Rico ragu.

"Kalau kau lakukan itu dengan baik, kau bisa hidup bebas di luar Jakarta setelah ini selesai. Kalau kau berkhianat..." Alana membiarkan kalimatnya menggantung, menoleh pada penjaga kekar di sudut ruangan.

Rico menelan ludah susah payah. "Saya paham. Saya lakukan. Siska... perempuan itu memang licik. Dia juga yang ngusulin buat longgarin baut itu."

Mendengar konfirmasi langsung itu, rahang Alana mengeras. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Rico dengan jijik. "Mulai besok. Buat dia tidak bisa tidur."

Alana berbalik dan berjalan keluar gudang tanpa menoleh lagi. Elang memberikan isyarat pada anak buahnya untuk membereskan sisanya, lalu menyusul Alana.

Di luar, udara malam terasa lebih segar dibandingkan bau amis di dalam gudang. Alana bersandar pada badan mobil, napasnya sedikit memburu. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena pelepasan adrenalin.

Elang mendekatinya. Tanpa kata, ia menyampirkan jasnya ke bahu Alana. Kehangatan jas itu, yang masih menyimpan suhu tubuh Elang, membuat gemetar Alana perlahan mereda.

"Kau melakukannya dengan baik," puji Elang pelan. Itu adalah pujian tulus, tanpa nada merendahkan.

Alana menatap Elang. Di bawah sinar bulan yang samar, wajah tegas pria itu terlihat lebih lunak. "Aku merasa kotor," aku Alana jujur. "Memeras, mengancam... ini bukan duniaku, Elang. Dulu aku hanya peduli soal sketsa dan maket."

"Duni aini memang kotor, Alana. Ayahmu dan Siska sudah menyeretmu ke lumpur. Pilihannya hanya dua: tenggelam dalam lumpur itu, atau belajar berenang di dalamnya supaya kau bisa naik ke daratan."

Alana merapatkan jas Elang di tubuhnya. Ia menatap kegelapan malam. "Aku akan berenang," bisiknya. "Dan aku akan menenggelamkan mereka."

Elang membukakan pintu mobil untuknya. Saat Alana masuk, ia sadar satu hal: batas antara dirinya dan Elang semakin kabur. Mereka bukan lagi sekadar mitra bisnis. Mereka adalah sekutu dalam kejahatan yang diperlukan. Dan anehnya, di samping pria berbahaya ini, Alana merasa lebih aman daripada saat ia berada di rumah ayahnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!