NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilang Ingatan

Shahinaz memegangi kepalanya yang terasa pusing, merasakan dunia berputar hebat di sekelilingnya. Dia berusaha memusatkan penglihatan, dan mengernyit bingung saat menyadari dirinya berada di tempat yang asing. Ini seperti bukan bagian dari rumahnya?

Ruang di sekelilingnya tampak buram dan bercahaya redup. Dinding-dindingnya bercat kelabu dengan lukisan-lukisan abstrak yang menggantung tak teratur. Disisi itu, bau antiseptik yang kuat menyengat hidungnya membuatnya tak bisa konsentrasi. Namun Shahinaz berusaha mengingat bagaimana dia bisa sampai di sini!

Tiba-tiba, pintu terbuka dan seorang perempuan berpakaian seragam sekolah asing masuk di matanya. "Shahinaz? Lo udah sadar? Pasti tadi lemparan bola basket Kak Dreven keras banget ya?" tanya perempuan itu dengan raut penuh khawatir.

Shahinaz bingung? Tentu saja iya. Apalagi seragam sekolah yang dikenakan perempuan di hadapannya sekarang sangat bagus dan asing. Jika diperkirakan, perempuan itu mungkin bersekolah di sekolah yang cukup bergengsi. Eh, tapi bukannya Shahinaz terakhir kali berada di rumah ya?

"Kebakaran! Rumah gue kebakaran! Lo yang nolongin gue dari kebakaran?" Shahinaz mendadak panik, dia jadi teringat kejadian terakhir kali sebelum akhirnya kesadarannya dibabat habis.

"Kebakaran apa sih, lo lagi ngigau ya? Jelas-jelas lo ada di UKS sekolah, baru aja kena lemparan bola basket Kak Dreven yang keras tajam itu. Lo baru aja mimpi rumah lo lagi kebakaran ya?" tanya perempuan itu lagi.

Shahinaz melotot mendengar penjelasan perempuan itu. "Mimpi? Gue inget dengan mata kepala gue sendiri kalau rumah gue kebakaran, dan nggak sempat buat menyelamatkan diri. Bahkan gue masih inget betul kalau gue kejatuhan beton rumah sebelum pingsan. Eh... Kalau gitu harusnya gue udah mati ya?"

Perempuan berseragam nyentrik itu akhirnya terdiam sejenak, tampak bingung dengan ucapan Shahinaz. "Shahinaz, lo mungkin masih setengah sadar. Coba tenangin diri dulu, lo kayaknya masih setengah ngigau sekarang."

Shahinaz menepuk kepalanya berkali-kali, berusaha mencoba memahami situasi. Dia melihat sekeliling ruangan UKS dengan lebih seksama. Ruangan itu jelas bukan bagian dari rumahnya yang kebakaran. UKS sekolahnya juga tidak mungkin sebagus ini karena dia berada di sekolah negeri dan bukan sekolah bergengsi.

Lalu rasa sakit di kepala yang katanya terkena bola basket, itu sangat diluar nalar otaknya sekarang! Harusnya jika dia terkena bara api, posisinya sekarang juga ada di rumah sakit kan?

"Lo siapa?" pertanyaan itu muncul dari mulut Shahinaz begitu saja.

Perempuan itu mendelik, lalu menyentil dahi Shahinaz secara tidak berperasaan, "Lo lupa sama sahabat lo sendiri? Gue Auretheil, jangan bilang karena bola basket tadi juga ngebuat lo hilang ingatan?"

Hilang ingatan dari mana coba? Dia masih ingat siapa jati dirinya. Lagipula siapa tadi? Auretheil? Shahinaz tidak merasa memiliki sahabat bernama Auretheil dalam hidupnya. Hanya Venelattie, sahabat dan keluarga yang satu-satunya dia punya.

Shahinaz menarik napas dalam-dalam, mencoba tetap tenang. "Auretheil, gue gak kenal lo. Gue gak pernah punya sahabat namanya Auretheil. Sahabat gue cuma Venelattie."

Auretheil tampak terkejut. "Venelattie? Siapa Venelattie? Shahinaz, lo jangan buat gue parno deh. Gue sahabat lo dari kecil, dan kita selalu bareng-bareng sampai sekarang."

Shahinaz menggelengkan kepalanya. "Nggak, itu nggak mungkin. Venelattie satu-satunya sahabat gue, kita udah kayak saudara."

"Shahinaz, lo serius nggak inget gue? Jahat banget lo ngeginiin gue? Tapi gini aja deh, mending lo tidur aja, barangkali ingatan lo tiba-tiba balik lagi setelah lo bangun tidur. Gue pergi deh." kata Auretheil yang kemudian pergi dari hadapannya dengan wajah yang sedikit errr tersakiti?

Mendadak ada rasa sedikit tidak enak yang masuk ke dalam relung hatinya. Tapi apa pedulinya, dia merasa tidak memiliki sahabat bernama Auretheil? Lagipun dia seharusnya pergi ke rumah sakit jika memang dia masih hidup, tapi kenapa dia justru dibawa ke UKS sekolah?

"Kena basket apaan, orang gue tadi kebakar di bara api kok. Lagian siapa yang ngide bawa gue ke UKS, kayak nggak ada rumah sakit aja." kata Shahinaz menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, lalu ketika dia meneliti setiap inci tubuhnya, dia baru tersadar, "Gue pakai seragam apaan? Ini kenapa sih? Gue lagi nggak dikerjain sama program TV kan? Gue inget seratus persen, seharusnya kalau gue nggak mati, ya gue di rumah sakit kan?"

Shahinaz akhirnya panik juga setelah sekian lama dia tersadar. Dia berusaha bangkit dari tempat tidur, tetapi kepalanya masih terasa berdenyut kuat, membuatnya limbung dan hampir jatuh. Tapi dia tidak ingin berada di sini, dia harus memastikan sesuatu sekarang.

Dia berdiri dengan tegap, lalu menghembuskan napas berkali-kali berusaha untuk terlihat kuat. Saat dia hendak keluar, saat itulah pintu UKS terbuka lagi, dan beberapa laki-laki berseragam sekolah yang sama dengan Auretheil masuk dengan langkah penuh wibawa dan tegas.

Shahinaz menunggu orang-orang itu masuk dulu agar Shahinaz bisa leluasa keluar, tapi Shahinaz sudah tidak memiliki kesabaran yang cukup banyak sekarang, apalagi mereka tak kunjung menyingkir dari jalannya juga!

"Kalian kalau mau masuk, masuk aja. Gue mau keluar, jangan buat gue makin stress deh dengan ngehalangin jalan kayak gini!" kesal Shahinaz yang kesabarannya seolah sedang diuji untuk yang kesekian kali. "Aishhh, minggir kampret!"

Hilang sudah kesabarannya itu. Dia mendorong seseorang yang terlalu menghalangi jalannya, lalu pergi dari sana dengan tatapan yang semakin sulit diartikan.

"Tuh cewek kenapa deh? Padahal kita niatnya baik, mau minta maaf. Jarang-jarang loh pangeran sekolah kayak kita mau minta maaf." kata salah seorang dengan kernyitan heran didahinya.

"Hooh tuh. Lagian jarang loh seorang Dreven Veir Kingsley merasa bersalah dan menurunkan harga dirinya buat minta maaf. Bahkan ini kali pertama Dreven mau minta maaf sama orang." lanjut yang lain turut berkomentar.

Sedangkan Dreven Veir Kingsley, lelaki yang sedang diperbincangkan sekarang, sampai saat ini belum mengeluarkan suaranya. Dia tipikal laki-laki dingin, berbicara kalau ada pentingnya saja. Dan benar, kalau baru kali ini dia mau menurunkan harga dirinya karena merasa sedikit bersalah.

Dia memiliki banyak musuh, memiliki banyak saingan, banyak orang yang membencinya juga jika dipikir-pikir lebih dalam lagi. Banyak orang yang sudah dia sakiti karena berani mengusiknya juga, tapi dia tidak pernah merasa bersalah dan meminta maaf. Padahal dia melakukan semuanya dengan kesadaran penuh.

Baru kali ini saja, dia ingin tau dengan siapa yang baru saja dia buat pingsan. Entahlah, hatinya mengatakan jika dia bukan salah satu dari banyak perempuan yang selalu memujanya dimana-dimana!

"Anjirrrr, ini gue lagi mimpi apaan deh! Gue nggak gila kan? Ini gue nyasar dimana?!" teriak Shahinaz yang belum berjalan jauh dari sana, dia menampar pipinya sendiri untuk membuktikan semua opini yang bersarang dikepalanya, dan dia mengaduh kesakitan karena ternyata dia tidak sedang bermimpi sekarang, "Tenang Shahinaz tenang, mari kita pikirkan dengan baik-baik. Lo nggak boleh gila di usia muda, paham!"

Dreven bersama antek-anteknya, menatap Shahinaz dengan tatapan aneh. Dreven sendiri tersenyum sekilas tanpa antek-anteknya sendiri, merasa jika gadis tidak dikenal itu sedikit lucu dimatanya.

"Dia, siapa?" tanya Dreven singkat.

"Nggak tau, kita juga nggak kenal. Dia bukan salah satu anak yang terlihat mencolok di sekolah, dia kayaknya bukan tipikal cewek yang suka cari perhatian." jawab yang lain.

Shahinaz sendiri, dengan tatapan tak tau arah, memilih untuk mencari sesuatu yang dapat menguatkan kecurigaannya. Apa dia sudah mati dan berpindah raga? Jika Iya, dia perlu cermin sekarang juga untuk memastikan wajahnya!

"Ini gue, tapi bukan kayak gue. Maksudnya, gue dulu nggak secantik ini deh. Emang sih masih banyak yang suka dengan versi kusam gue, tapi kalau ini versi kinclongnya." gumam Shahinaz lirih, sambil menatap pantulan wajahnya di depan jendela dibarengi dengan memiringkan wajahnya bingung.

Bukan maksud Shahinaz terlalu membanggakan dirinya sendiri, tapi percaya diri memang harus nomor satu di dalam diri Shahinaz selama ini. Jelas agar setiap kesedihan dan penderitaan bisa hempas dalam hidupnya, setidaknya ada yang perlu dibanggakan dari dalam hidup sebatang karanya bukan? Jadi dia terlalu membanggakan wajahnya sendiri selama ini.

"Mana kepala gue masih pusing, ini kepala kenapa sih? Apa perlu gue jedotin kepala ini ke tembok sekarang juga." kata Shahinaz sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri lagi.

Namun mendadak penglihatan Shahinaz semakin buram. Pusingnya terlalu menyakitkan, dia tidak bisa menahannya hingga akhirnya membuat Shahinaz kembali pingsan di tempat!

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!