Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Pertama
Bulan keempat pernikahan. Ada yang mulai berubah. Nayara lagi memberikan ASI pada Aldi, di sofa ruang tamu sambil nonton TV. Jam udah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Bima belum juga kunjung pulang.
Dia ambil hp. Buka chat terakhir sama Bima jam tujuh tadi.
"Mas, pulangnya jam berapa?"
"Bentar lagi sayang. Ada meeting sama klien. Tunggu ya."
Udah tiga jam. Belum pulang juga.
Nayara coba telepon. Nada tunggu panjang. Gak diangkat.
Nayara mulai khawatir. Jangan-jangan kenapa-kenapa?
Aldi udah selesai nyusu. Nayara rebahan dia di box. Terus duduk lagi di sofa. Nunggu.
Jam setengah sebelas, pintu rumah akhirnya kebuka. Bima masuk dengan langkah agak gontai. Wajah merah. Mata sayu.
"Mas, akhirnya pulang," Nayara langsung berdiri. Tapi begitu Bima mendekat, Nayara nyium sesuatu.
Bau alkohol.
Bau yang khas. Menyengat.
Jantung Nayara langsung berdegup kencang. Napas sesak sebentar.
"Mas, mas abis dari mana?" Nayara nanya dengan suara bergetar sedikit.
"Kan udah bilang. Meeting sama klien," Bima jawab sambil lepas sepatu. Suaranya agak pelo.
"Meeting atau, atau yang lain?" Nayara nanya hati-hati.
Bima noleh. Natap Nayara dengan alis terangkat. "Maksudnya?"
"Mas, mas minum alkohol?" Nayara tanya langsung ke inti.
Bima terdiam sebentar. Terus ketawa. "Oh itu. Iya. Cuma segelas dua gelas kok. Buat ngobrol aja."
"Tapi, tapi Mas kan gak biasa minum," Nayara ngomong pelan.
"Iya. Tapi ini kan situasional. Klien-nya yang nawarin. Gak enak nolak. Nanti proyek gak jadi," Bima jelasin sambil jalan ke kamar.
Nayara ikut dari belakang. "Tapi tetep aja Mas. Alkohol itu haram. Gak boleh diminum walau alasan apapun."
Bima berhenti di depan pintu kamar. Berbalik natap Nayara. "Nayara, aku tau. Tapi ini bisnis. Kadang kita harus agak, gimana ya, fleksibel."
"Fleksibel? Maksudnya gimana?" Nayara bingung.
"Maksudnya ya kadang kita harus ngikutin aturan main mereka biar dapat kepercayaan. Gitu," Bima jawab sambil masuk kamar. Mulai lepas baju.
Nayara berdiri di pintu kamar. Dadanya gak enak. Ada perasaan aneh yang dia gak bisa jelasin.
"Mas, tapi tetep aja. Aku gak suka Mas minum alkohol. Haram Mas," Nayara ngomong lagi dengan nada lebih tegas.
Bima menghela napas panjang. "Nayara, jangan lebay. Cuma segelas dua gelas. Gak sampe mabok kok. Lihat aku masih sadar kan?"
"Tapi tetep salah Mas."
"Iya iya aku tau. Gak akan lagi. Udah ya jangan dibahas terus. Aku capek," Bima ngomong dengan nada mulai kesel.
Nayara terdiam. Gak berani lanjutin. Takut Bima marah.
Bima mandi. Keluar lima belas menit kemudian dengan handuk melilit pinggang. Langsung tidur tanpa ngajak Nayara ngobrol lagi.
Nayara duduk di tepi kasur. Natap punggung Bima yang udah membelakangi dia. Perasaan gak enak makin kuat. Tapi dia coba tenangkan diri sendiri.
Mungkin emang buat bisnis. Mungkin emang terpaksa. Jangan overthinking. Tapi kenapa rasanya familiar banget?
Rasanya kayak dulu waktu sama Gilang. Waktu Gilang mulai sering pulang malem dengan alasan rapat terus ternyata selingkuh. Nayara menggeleng cepat. Jangan samain Bima sama Gilang. Mereka beda. Bima gak mungkin kayak Gilang.
Nayara rebahan di samping Bima. Natap langit-langit kamar. Matanya gak bisa merem. Pikirannya kemana-mana.
Minggu depan, kejadian yang sama terulang. Bima pulang malem lagi. Jam sebelas lebih. Bau alkohol lagi.
"Mas lagi meeting sama klien yang kemarin?" Nayara nanya pas Bima baru masuk.
"Enggak. Ini klien baru. Dari Surabaya. Lumayan gede proyeknya," Bima jawab sambil lepas dasi.
"Oh. Tapi kenapa harus malem-malem? Gak bisa siang aja?" Nayara tanya lagi.
Bima noleh. Natap Nayara dengan tatapan mulai gak suka. "Nayara, mereka yang atur jadwal. Aku yang butuh proyek. Jadi ya ngikut mereka."
"Iya sih. Tapi, tapi Mas minum lagi kan?" Nayara nunjuk dengan nada hati-hati.
Bima ngusap wajah kasar. "Iya. Emang kenapa? Kan aku udah jelasin. Ini buat bisnis."
"Tapi udah dua kali Mas dalam seminggu. Aku khawatir jadi kebiasaan," Nayara ngomong dengan jujur.
"GAK AKAN JADI KEBIASAAN! INI CUMA KALAU ADA KLIEN AJA!" Bima bentak tiba-tiba.
Nayara tersentak. Kaget. Ini pertama kalinya Bima bentak dia.
Bima natap Nayara yang kaget. Ekspresinya agak menyesal. "Maaf. Aku gak bermaksud bentak. Cuma, aku capek Nayara. Seharian kerja keras. Pulang malah ditanyain macam-macam."
"Aku, aku cuma khawatir Mas," Nayara bilang dengan suara pelan.
"Aku tau. Tapi percaya sama aku dong. Aku gak akan ngapa-ngapain kok," Bima ngomong dengan nada lebih lembut sekarang. Dia peluk Nayara dari depan. "Maafin aku ya. Aku janji gak akan bentak lagi."
Nayara ngangguk di pelukan Bima. Tapi hatinya masih gak tenang. Ada yang berubah dari Bima. Ada yang beda. Nayara gak tau apa. Tapi dia ngerasa ada yang gak beres.
Minggu ketiga, Bima pulang malem lagi. Kali ini lebih parah. Jam dua belas lewat. Bau alkoholnya lebih kenceng. Jalan limbung waktu masuk rumah.
"Mas! Kamu kenapa?" Nayara langsung bantuin Bima yang hampir jatuh.
"Gak papa. Cuma agak pusing," Bima jawab sambil pegangan di pundak Nayara.
"Mas mabuk?" Nayara nanya dengan nada khawatir campur kesel.
"Enggak. Cuma minum dikit lebih banyak dari biasa," Bima jawab sambil ketawa kecil.
Nayara bantuin Bima duduk di sofa. "Mas, aku serius. Ini udah ketiga kalinya minggu ini. Kenapa sih Mas jadi sering minum?"
Bima menghela napas panjang. "Nayara, jangan cerewet. Aku lagi capek."
"Aku gak cerewet! Aku khawatir! Kamu suamiku! Wajar kan aku khawatir?" Nayara mulai emosi.
"KHAWATIR APANYA? AKU BAIK-BAIK AJA!" Bima bentak lagi. Kali ini lebih keras.
Aldi yang lagi tidur di kamar terbangun. Nangis kenceng.
"Nah kan. Aldi kebangun," Nayara langsung berdiri mau ke kamar Aldi.
"Biarin! Dia juga harus belajar tidur sendiri!" Bima bilang dengan nada kesel.
"Dia masih kecil Mas! Masih butuh perhatian!" Nayara balik ngomong sambil jalan ke kamar.
Nayara angkat Aldi yang nangis. Gendong-gendong sambil menenangkan. "Udah sayang. Gak papa. Mama di sini."
Bima masuk kamar dengan wajah kusut. "Kamu selalu manjain dia. Nanti dia jadi manja."
"Dia masih 15 bulan Mas! Wajar kalau dia nangis pas kebangun sendirian!" Nayara balik ngomong dengan nada kesel juga sekarang.
"Ya udah terserah kamu!" Bima naik ke kasur. Tidur membelakangi Nayara.
Nayara berdiri sambil gendong Aldi yang masih sesegukan. Natap punggung Bima yang udah ditutup selimut.
Air mata Nayara jatuh pelan. Ini, ini kayak dejavu. Kayak terulang lagi. Suami yang pulang malem. Bau alkohol. Bentak-bentak. Cuek.
Kayak Gilang dulu.
Tapi Nayara coba yakinkan diri sendiri. Ini beda. Bima cuma lagi stress karena kerjaan. Nanti juga balik lagi kayak dulu. Sabar aja. Tapi perasaan gak enak di dadanya makin kuat. Kayak ada yang mencekik leher pelan-pelan.
Nayara rebahan Aldi yang udah tenang. Terus dia duduk di sofa kamar. Natap Bima yang tidur. Megang dadanya yang sesak.
"Ya Allah, jangan ujian aku lagi. Kumohon. Aku gak kuat kalau harus ngalamin yang kayak dulu lagi," Nayara berbisik sambil nangis pelan.
Tapi Allah punya rencana lain. Ujian baru baru saja dimulai. Dan kali ini akan lebih berat dari yang pertama. Karena Nayara udah terlanjur percaya penuh. Dan harapan yang dikhianati itu lebih sakit dari apapun.
begitu lah kalau org candu judi🤭
nayara jg keras kepala ngapain takut gagal lgi emang sdh nasib jln satu2 nya lebih baik plg ke rmh ibu dari pada mati di tangan bima kasian aldi trauma seumur hidup 🤭🤣🤣🤣
langsung kabur plg ke rmh ibu nya 🤭
bima tak bakal berubah nama jg sdh kecanduan judi 🤭
nayara plg aja ke rmh ibu tinggal kan aja bima biar tau rasa 🤭