"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kejutan di Tanah Para Nabi
Gurun dan Rindu
Di bawah langit Kairo yang kian menyengat,
Ada doa yang kupeluk dengan sangat erat.
Seringkali langkahku goyah didera penat,
Namun bayangmu selalu hadir sebagai penguat.
Ternyata benar, jarak bukan sekadar angka,
Melainkan ruang untuk membuktikan setia yang baka.
Bungah mengembuskan napas panjang sembari merapikan tumpukan kitab di pelukannya. Kelas Syarah Ibnu Aqil baru saja usai, dan kepalanya terasa sedikit berdenyut karena harus membedah tata bahasa Arab yang begitu kompleks. Ia berjalan menyusuri lorong kampus Al-Azhar yang megah, langkahnya anggun tertutup gamis hitam yang menjuntai.
"Bungah!"
Sebuah suara bariton yang sangat familiar memanggilnya dari balik pilar besar. Belum sempat Bungah menoleh, sebuah tangan menjulur dan menarik ujung tasnya dengan jahil.
"Astagfirullah!" Bungah tersentak, hampir saja menjatuhkan kitab-kitabnya. Ia mundur dua langkah dengan jantung yang berdegup kencang karena kaget.
Di hadapannya, berdiri seorang pria muda dengan setelan kemeja rapi dan kacamata bertengger di hidungnya. Senyumnya lebar, penuh kemenangan karena berhasil mengejutkan sang adik bungsu.
"Mas Azam!" seru Bungah di balik cadarnya. Meski wajahnya tertutup, matanya yang menyipit menunjukkan bahwa ia sedang cemberut. "Mas Azam ih! Kalau kitab Bungah jatuh bagaimana? Kalau Bungah jantungan bagaimana?"
Mas Azam, kakak keduanya yang baru saja menyelesaikan S3-nya, tertawa renyah. Ia mengusap kepala adiknya yang tertutup jilbab lebar. "Habisnya kamu jalan sambil melamun. Melamunkan apa? Masih memikirkan 'Kutub Utara' di Jawa Timur itu?"
Pipi Bungah di balik cadar langsung terasa panas. "Apa sih, Mas! Enggak ya. Bungah lagi mikirin tugas dari Syeikh tadi."
"Halah, alasan," goda Azam sambil mengambil alih tumpukan kitab dari tangan adiknya. "Ayo ikut Mas. Mas punya kejutan buat kamu. Anggap saja hadiah karena kamu sudah bertahan satu tahun di sini tanpa menangis minta pulang setiap hari."
Bungah mengerutkan kening. "Kejutan apa? Mas mau traktir makan Koshary di dekat Hussein?"
"Lebih dari sekadar makanan, dek," Azam berjalan mendahului dengan langkah santai. "Ada kiriman paket dari Indonesia. Tapi bukan lewat kantor pos, melainkan dibawa langsung oleh seseorang."
Langkah Bungah terhenti. Jantungnya kembali berdebar, kali ini bukan karena kaget, tapi karena sebuah harapan yang tiba-tiba membuncah.
"Seseorang? Siapa, Mas? Jangan bilang kalau..."
Azam menoleh, menatap adiknya dengan tatapan misterius. "Ayo cepat jalan, jangan banyak tanya. Nanti paketnya 'mencair' kalau kelamaan nunggu di bawah terik matahari Kairo."
Mendengar kata "mencair", pikiran Bungah langsung melesat pada satu nama. Mungkinkah? Mungkinkah pria yang ia rindukan itu benar-benar menyeberangi lautan demi menemuinya? Atau ini hanya cara Mas Azam untuk menjahilinya lagi?
Bungah mempercepat langkahnya, berusaha menyamai langkah Mas Azam yang lebar. Hatinya tidak tenang. Kata "mencair" yang diucapkan kakaknya tadi terus berdengung di telinga. Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa dari berbagai belahan dunia yang memadati pelataran masjid, Bungah merasa dunianya mendadak menyempit, hanya tertuju pada satu kemungkinan.
Mereka sampai di sebuah kafe kecil di sudut distrik Al-Darrasah, tempat yang biasa digunakan para mahasiswa Indonesia untuk melepas penat. Mas Azam menunjuk ke arah meja di pojok ruangan yang agak temaram.
"Itu kejutanmu," bisik Mas Azam sambil mengerlingkan mata.
Bungah terpaku. Di sana, duduk seorang pria yang mengenakan kemeja koko berwarna biru dongker. Pria itu sedang menyesap teh manis khas Mesir dengan tenang. Meskipun wajahnya terlihat lebih dewasa dan sedikit lebih tegas dari terakhir kali mereka bertemu, Bungah tidak mungkin salah mengenali sorot mata teduh itu.
"U-ustadz Zidan?" suara Bungah bergetar di balik cadarnya.
Pria itu meletakkan gelas tehnya, lalu berdiri. Zidan menatap gadis di depannya—gadis yang kini telah tumbuh dewasa, yang keindahannya tersimpan rapi di balik kain hitam yang menutupi wajahnya.
"Assalamu’alaikum, Bungah. Apa kabar?" suara Zidan terdengar begitu nyata, tidak lagi lewat pesan singkat atau mimpi di malam hari.
Bungah merasa lututnya lemas. Ia refleks bersembunyi di balik punggung Mas Azam, rasa malunya tiba-tiba memuncak. "Mas Azam... ini beneran Kak Zidan? Bungah nggak lagi pusing karena kebanyakan hafal nahwu kan?"
Mas Azam tertawa terbahak-bahak. "Ini nyata,dek. Gus Zidan sedang ada urusan kerja sama pesantren dengan Al-Azhar, jadi Mas minta beliau sekalian mampir."
Zidan tersenyum tipis, matanya menatap Bungah dengan penuh penghargaan. "Saya membawakan amanah dari Umi dan ibumu. Tapi sepertinya, melihat kamu sehat dan masih semangat belajar di sini, itu adalah kabar paling baik yang bisa saya bawa pulang nanti."
Bungah memberanikan diri keluar dari balik punggung Mas Azam. Matanya yang bulat kini berkaca-kaca. "Ustadz... kenapa nggak bilang mau ke sini? Bungah kan belum persiapan... Bungah tadi habis ujian, muka Bungah pasti kelihatan capek banget."
"Saya ke sini bukan untuk melihat wajahmu, Bungah," ucap Zidan dengan nada yang sangat dalam, membuat suasana di meja itu mendadak hening. "Saya ke sini untuk memastikan bahwa mentari saya masih bersinar terang, meski ia berada di belahan bumi yang berbeda."
Bungah tertunduk dalam. Jarak ribuan kilometer yang selama ini terasa menyiksa, seolah terhapus hanya dengan satu kalimat itu. Di bawah langit Kairo yang gersang, Bungah merasa hatinya kembali dialiri air pegunungan yang sejuk.
"Terima kasih sudah datang, Kak... eh, Ustadz," bisik Bungah malu-malu.
Zidan mengangguk pelan. "Panggil saya Zidan saja, Bungah. Karena hari ini, saya di sini bukan sebagai gurumu, tapi sebagai seseorang yang datang untuk menagih janji... janji untuk menunggumu selesai belajar."