NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

🏆🥉 Juara 3, Yaww 2026, Periode 1 Kategori 1, dan Juara Tema Kreatif.



Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru eg

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Setelah Alvar dan Pak Yono meninggalkan meja makan, dapur kembali dipenuhi suara air mengalir dan denting piring. Kiara berdiri di samping Sulastri, menggulung lengan bajunya. Tangannya masih canggung saat memegang spons, tapi ia berusaha rapi.

Sulastri memperhatikannya sekilas.

Bukan cara mencuci piring Kiara yang menarik perhatiannya, melainkan kesungguhan yang tak dibuat-buat.

Beberapa saat mereka hanya diam. Hingga akhirnya Sulastri membuka suara.

“Tadi kamu tanya soal Hesti…”

Kiara menoleh cepat, sedikit terkejut dan dia mengangguk pelan.

“Maaf kalau Kiara lancang, Bu. Kiara cuma … nggak enak dengar orang-orang ngomongin ibu.”

Sulastri tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia tetapi lebih seperti senyum orang yang sudah terlalu sering mengikhlaskan. Ia meletakkan piring terakhir di rak, lalu menyeka tangannya dengan lap kain.

“Ibu sebenarnya nggak berniat cerita,” katanya lirih.

“Tapi kamu sudah jadi istri Alvar.”

Sulastri menatap Kiara, kali ini lebih lama.

“Dan ibu nggak mau kamu dengar kisah ini dari mulut orang lain.”

Kiara menelan ludah, tangannya berhenti bergerak. Sulastri kembali membelakangi wastafel, seolah lebih mudah bicara tanpa menatap langsung.

“Dulu … Alvar dan Hesti memang dekat. Bahkan, sangat dekat.”

Air keran kembali dinyalakan suaranya seperti menutup getar di suara Sulastri.

“Waktu Alvar memutuskan kuliah ke luar negeri, mereka berjanji saling menunggu. Ibu tahu itu dsn ibu mendukungnya.”

Kiara menahan napas.

“Tapi manusia … tidak selalu sekuat janji.”

Sulastri berhenti mencuci, tangannya gemetar halus.

“Suatu hari, warga menangkap Hesti sedang berduaan dengan Supradi ... anak juragan dan itu di tempat sepi.”

Kiara membeku.

“Di desa ini,"

“sekali nama perempuan tercemar, tak ada yang mau dengar penjelasan.”

Sulastri menelan ludah, suaranya menurun.

“Mereka dipaksa menikah hari itu juga.”

Kiara merasakan dadanya sesak.

“Dan Hesti … marah.”

“Bukan pada keadaan, tapi pada Alvar yang tak mau membelanya.”

Sulastri akhirnya menoleh pada Kiara. Matanya berkaca-kaca.

“Ibu lalu mengirim kabar pada Alvar. Ibu mengatakan bahwa perempuan yang ingin dia nikahi telah mengkhianatinya.”

Kiara terdiam, tangannya mengepal tanpa sadar.

“Alvar hampir hancur, Nak,” lanjut Sulastri pelan.

“Kuliahnya hampir gagal. Hidupnya nyaris berantakan.”

Sulastri menghela napas panjang.

“Ibu yang memintanya belajar ikhlas. Ibu yang menahan dia agar tidak pulang dan menghancurkan masa depannya.”

Hanya suara air yang kembali mengalir.

Kiara menatap punggung ibu mertuanya, seorang perempuan yang selama ini terlihat tegas, ternyata menyimpan luka yang sangat dalam.

“Sejak hari itu,” ujar Sulastri lirih,

“ibu belajar satu hal.”

Dia berhenti, lalu menatap Kiara dengan tatapan yang tenang tapi penuh arti.

“Perempuan tidak boleh dibandingkan. Karena setiap luka punya ceritanya sendiri.”

Kiara menunduk, dadanya hangat dan perih bersamaan.

“Terima kasih sudah cerita, Bu,” ucapnya pelan.

“Kiara janji … nggak akan menghakimi.”

Sulastri tersenyum kecil, kali ini lebih tulus.

“Ibu tahu.”

“Dan mungkin … itu sebabnya ibu mulai tenang meninggalkan Alvar di tanganmu.”

Dapur kembali sunyi namun untuk pertama kalinya, keheningan itu terasa damai.

Setelah kata-kata itu menggantung di antara mereka, Sulastri kembali membilas piring terakhir. Air mengalir pelan, seirama dengan detak hati Kiara yang tak karuan.

Sulastri lalu mematikan keran, dia tidak langsung menoleh, hanya bertanya dengan suara yang sangat tenang.

“Kiara…” Kiara mengangkat wajahnya.

“Apak Kamu mulai nyaman sama Alvar?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi rasanya seperti menyentuh sudut hati yang selama ini Kiara sembunyikan rapat-rapat.

Kiara tidak langsung menjawab dia menunduk. Jemarinya saling bertaut, gugup. Pipinya memanas, napasnya sedikit tertahan. Sulastri menangkap bahasa tubuh itu tanpa perlu jawaban.

“Nggak apa-apa,” katanya lembut.

“Kalau kamu belum mau jujur sama ibu.”

Kiara menoleh cepat, sedikit panik.

“Bu—”

Sulastri menggeleng pelan.

“Yang penting kamu jujur sama diri kamu sendiri.”

Ia melangkah lebih dekat.

“Perasaan itu nggak bisa dipaksa, tapi juga nggak bisa dibohongi.”

Kiara menelan ludah, dadanya bergetar oleh perasaan yang bahkan belum berani ia beri nama. Sulastri lalu berkata lagi, nadanya lebih dalam.

“Soal Alvar dokter … kenapa ibu nggak cerita dari awal…”

Kiara menatapnya.

“Bukan karena ibu ingin menutupi,” lanjut Sulastri.

“Tapi karena ibu tahu.”

Ia menyentuh tangan Kiara pelan.

“Kalau kamu menyukai Alvar, kamu akan menerima dia apa adanya. Bukan karena gelarnya, bukan karena pekerjaannya.”

Mata Kiara berkaca-kaca.

“Dan ibu juga tahu,” Sulastri tersenyum hangat,

“kamu bukan perempuan yang menilai lelaki dari status.”

Kiara mengangguk pelan.

“Terima kasih, Bu…” suaranya nyaris berbisik.

“Terima kasih sudah menerima Kiara.”

Sulastri menatap menantunya itu lama, seolah memastikan satu hal dalam hatinya. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka kedua tangannya.

Kiara terdiam sepersekian detik, sebelum akhirnya melangkah maju dan memeluk ibu mertuanya itu.

Sulastri mengusap punggung Kiara pelan.

“Pelan-pelan saja,” katanya lirih.

“Cinta yang baik nggak perlu terburu-buru.”

Kiara memejamkan mata.

1
Rini Benny
suka ceritax thor
Nuril Shafi
kalian lanjut aja deh, aku mau nyari yg lain, ngapa jadi pembakaran, pembunuhan, penculikan,, 🤦‍♂️🤦‍♂️
martabak rujak rasa kari
gimana kaga trauma orang ciuman juga, tatapan, nolongin mantan suruh nunggu istri mau beliin air katanya😒
Nanik Kusno
Akhirnya....
semua bahagia dengan jalan hidup masing masing
Nanik Kusno
Ikut tersipu2.....☺️☺️☺️😌😌😌😌
Nanik Kusno
Salah terka...🤭🤭🤭🤭🤭
Nanik Kusno
Mungkin Rome yang bertunangan ma Delia...
Nanik Kusno
Semua ibu sama....g tega lihat anaknya disuntik...
Nanik Kusno
Aduuuhhhhhh....😇😇😇😇😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Nanik Kusno
Semoga ibu dan twins selamat ...🤲🤲🤲🤲🤲
Nanik Kusno
Delia emang top markotop.....👏👏👏👏👍👍👍👍
Nanik Kusno
Berbahagialah liliput.... sekarang kamu dah bersama Yoga lagi..... selamat 👏👏👏
Nanik Kusno
Tamat riwayatmu liliput....
eeehhh......dia bareng ma Yoga dunk....👏👏👏👏👏👏👏
Nanik Kusno
Si liliput ini pasti sedang tertawa terbahak-bahak...dia mendapatkan momen yang tepat untuk menjatuhkan keluarga Kiara...
Nanik Kusno
Aduuuhhhhhh.... bakalan viral nih....
Nanik Kusno
Kenapa sih sekarang sering ketemu Liliput ini....😏😏😏😏😏😏😏
Nanik Kusno
Alvar....aq ikutan bingung nih ....😇😇😇😇😇
Anggi Ganteng
bsngke si Hesti,,
Mika Alpianus
mampus ko pelaso🤣🤣
Mika Alpianus
sini Kiara Ama ak aja biar CPT hamil nya itu bocah bego amat dah kalo kisah nyata udah ku ajak singel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!