Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Setelah Alvar dan Pak Yono meninggalkan meja makan, dapur kembali dipenuhi suara air mengalir dan denting piring. Kiara berdiri di samping Sulastri, menggulung lengan bajunya. Tangannya masih canggung saat memegang spons, tapi ia berusaha rapi.
Sulastri memperhatikannya sekilas.
Bukan cara mencuci piring Kiara yang menarik perhatiannya, melainkan kesungguhan yang tak dibuat-buat.
Beberapa saat mereka hanya diam. Hingga akhirnya Sulastri membuka suara.
“Tadi kamu tanya soal Hesti…”
Kiara menoleh cepat, sedikit terkejut dan dia mengangguk pelan.
“Maaf kalau Kiara lancang, Bu. Kiara cuma … nggak enak dengar orang-orang ngomongin ibu.”
Sulastri tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia tetapi lebih seperti senyum orang yang sudah terlalu sering mengikhlaskan. Ia meletakkan piring terakhir di rak, lalu menyeka tangannya dengan lap kain.
“Ibu sebenarnya nggak berniat cerita,” katanya lirih.
“Tapi kamu sudah jadi istri Alvar.”
Sulastri menatap Kiara, kali ini lebih lama.
“Dan ibu nggak mau kamu dengar kisah ini dari mulut orang lain.”
Kiara menelan ludah, tangannya berhenti bergerak. Sulastri kembali membelakangi wastafel, seolah lebih mudah bicara tanpa menatap langsung.
“Dulu … Alvar dan Hesti memang dekat. Bahkan, sangat dekat.”
Air keran kembali dinyalakan suaranya seperti menutup getar di suara Sulastri.
“Waktu Alvar memutuskan kuliah ke luar negeri, mereka berjanji saling menunggu. Ibu tahu itu dsn ibu mendukungnya.”
Kiara menahan napas.
“Tapi manusia … tidak selalu sekuat janji.”
Sulastri berhenti mencuci, tangannya gemetar halus.
“Suatu hari, warga menangkap Hesti sedang berduaan dengan Supradi ... anak juragan dan itu di tempat sepi.”
Kiara membeku.
“Di desa ini,"
“sekali nama perempuan tercemar, tak ada yang mau dengar penjelasan.”
Sulastri menelan ludah, suaranya menurun.
“Mereka dipaksa menikah hari itu juga.”
Kiara merasakan dadanya sesak.
“Dan Hesti … marah.”
“Bukan pada keadaan, tapi pada Alvar yang tak mau membelanya.”
Sulastri akhirnya menoleh pada Kiara. Matanya berkaca-kaca.
“Ibu lalu mengirim kabar pada Alvar. Ibu mengatakan bahwa perempuan yang ingin dia nikahi telah mengkhianatinya.”
Kiara terdiam, tangannya mengepal tanpa sadar.
“Alvar hampir hancur, Nak,” lanjut Sulastri pelan.
“Kuliahnya hampir gagal. Hidupnya nyaris berantakan.”
Sulastri menghela napas panjang.
“Ibu yang memintanya belajar ikhlas. Ibu yang menahan dia agar tidak pulang dan menghancurkan masa depannya.”
Hanya suara air yang kembali mengalir.
Kiara menatap punggung ibu mertuanya, seorang perempuan yang selama ini terlihat tegas, ternyata menyimpan luka yang sangat dalam.
“Sejak hari itu,” ujar Sulastri lirih,
“ibu belajar satu hal.”
Dia berhenti, lalu menatap Kiara dengan tatapan yang tenang tapi penuh arti.
“Perempuan tidak boleh dibandingkan. Karena setiap luka punya ceritanya sendiri.”
Kiara menunduk, dadanya hangat dan perih bersamaan.
“Terima kasih sudah cerita, Bu,” ucapnya pelan.
“Kiara janji … nggak akan menghakimi.”
Sulastri tersenyum kecil, kali ini lebih tulus.
“Ibu tahu.”
“Dan mungkin … itu sebabnya ibu mulai tenang meninggalkan Alvar di tanganmu.”
Dapur kembali sunyi namun untuk pertama kalinya, keheningan itu terasa damai.
Setelah kata-kata itu menggantung di antara mereka, Sulastri kembali membilas piring terakhir. Air mengalir pelan, seirama dengan detak hati Kiara yang tak karuan.
Sulastri lalu mematikan keran, dia tidak langsung menoleh, hanya bertanya dengan suara yang sangat tenang.
“Kiara…” Kiara mengangkat wajahnya.
“Apak Kamu mulai nyaman sama Alvar?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi rasanya seperti menyentuh sudut hati yang selama ini Kiara sembunyikan rapat-rapat.
Kiara tidak langsung menjawab dia menunduk. Jemarinya saling bertaut, gugup. Pipinya memanas, napasnya sedikit tertahan. Sulastri menangkap bahasa tubuh itu tanpa perlu jawaban.
“Nggak apa-apa,” katanya lembut.
“Kalau kamu belum mau jujur sama ibu.”
Kiara menoleh cepat, sedikit panik.
“Bu—”
Sulastri menggeleng pelan.
“Yang penting kamu jujur sama diri kamu sendiri.”
Ia melangkah lebih dekat.
“Perasaan itu nggak bisa dipaksa, tapi juga nggak bisa dibohongi.”
Kiara menelan ludah, dadanya bergetar oleh perasaan yang bahkan belum berani ia beri nama. Sulastri lalu berkata lagi, nadanya lebih dalam.
“Soal Alvar dokter … kenapa ibu nggak cerita dari awal…”
Kiara menatapnya.
“Bukan karena ibu ingin menutupi,” lanjut Sulastri.
“Tapi karena ibu tahu.”
Ia menyentuh tangan Kiara pelan.
“Kalau kamu menyukai Alvar, kamu akan menerima dia apa adanya. Bukan karena gelarnya, bukan karena pekerjaannya.”
Mata Kiara berkaca-kaca.
“Dan ibu juga tahu,” Sulastri tersenyum hangat,
“kamu bukan perempuan yang menilai lelaki dari status.”
Kiara mengangguk pelan.
“Terima kasih, Bu…” suaranya nyaris berbisik.
“Terima kasih sudah menerima Kiara.”
Sulastri menatap menantunya itu lama, seolah memastikan satu hal dalam hatinya. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka kedua tangannya.
Kiara terdiam sepersekian detik, sebelum akhirnya melangkah maju dan memeluk ibu mertuanya itu.
Sulastri mengusap punggung Kiara pelan.
“Pelan-pelan saja,” katanya lirih.
“Cinta yang baik nggak perlu terburu-buru.”
Kiara memejamkan mata.