Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Staycation Mencekam dan Hilangnya Kedaulatan Guling
Jika ada hal yang lebih menakutkan bagi Arga Wiratama daripada audit pajak dari negara, itu adalah kalimat,
"Mama sudah pesankan kamar Presidential Suite untuk kalian akhir pekan ini."
Nara Amelinda menatap tiket reservasi di tangannya dengan horor yang sama.
"Ga, ini beneran? Hotel bintang lima di Puncak? Tanpa rombongan keluarga? Cuma kita berdua?"
"Secara teknis, ini adalah bentuk 'hadiah' paksa yang tidak bisa ditolak tanpa menimbulkan kecurigaan bahwa rumah tangga kita sedang dalam masa resesi," jawab Arga sambil melipat kemeja linennya ke dalam koper dengan presisi milimeter.
"Tapi masalahnya, Ga... hotel begini biasanya tempat tidurnya cuma satu. Dan tipe kamar begini biasanya... minimalis dalam hal bantal guling." Nara membayangkan kasur tanpa pembatas Tembok Berlin mereka.
"Ini namanya jebakan batman berkedok liburan!"
Begitu mereka masuk ke kamar hotel, kecemasan Nara terbukti. Kamar itu luar biasa mewah. Lantainya marmer, balkonnya menghadap langsung ke lembah yang berkabut, dan di tengah ruangan, bertahta sebuah tempat tidur King Size dengan sprei sutra yang terlihat sangat licin dan tidak ada guling sama sekali.
Nara langsung berlari menuju tempat tidur, membongkar tumpukan bantal.
"Gulingnya mana? Kok cuma ada bantal gepeng empat biji? Ini hotel bintang lima apa asrama polisi?"
Arga meletakkan kopernya di rak kayu. Ia memeriksa lemari.
"Hasil audit lemari, tidak ada guling dan sepertinya kebijakan hotel ini adalah memaksa penghuninya untuk saling berbagi panas tubuh demi efisiensi pemanas ruangan."
"Efisiensi matamu!" Nara panik.
"Terus kita tidurnya gimana? Semalam aja aku udah hampir masuk ke dalam kaus kamu pas kamu sakit. Sekarang nggak ada pembatasnya sama sekali!"
Arga berjalan mendekat, berdiri di depan Nara yang sedang duduk frustrasi di pinggir kasur.
"Nara, mari kita hadapi ini secara logis. Kita sudah sah. Secara hukum, tidak ada pelanggaran wilayah yang bisa diperkarakan. Namun, jika kamu memang takut... saya bisa tidur di sofa."
Nara melirik sofa di sudut ruangan. Sofanya mewah, tapi ukurannya sangat pendek. Kaki panjang Arga pasti akan menggantung seperti jemuran.
"Nggak usah sok pahlawan. Nanti kamu sakit lagi, aku lagi yang repot nyuapin bubur hambar. Udah, kita bagi kasur aja. Tapi... ada aturannya!"
Malam harinya, setelah makan malam yang penuh dengan aksi saling tendang di bawah meja karena Nara terlalu banyak memesan pencuci mulut, mereka harus menghadapi kenyataan pahit yaitu waktunya tidur.
Nara sudah memakai piyama beruang kutub andalannya, lengkap dengan kaos kaki tebal. Sementara Arga hanya memakai kaos polos hitam dan celana pendek, menampilkan lengan berotot yang membuat Nara berkali-kali menelan ludah secara tidak sengaja.
"Oke, Ga. Garis imajiner dimulai dari jahitan sprei yang ini sampai ke ujung sini," Nara menunjuk sebuah garis lurus di tengah kasur.
"Siapa yang lewat, denda lima ratus ribu per senti!"
Arga merebahkan diri, tangannya menyangga kepala.
"Hanya lima ratus ribu? Saya rasa itu nilai yang murah untuk sebuah 'pelanggaran'."
"Ih! Kamu ya!" Nara ikut berbaring, menarik selimut sampai ke dagu.
Keheningan malam di Puncak sangat berbeda dengan Jakarta. Di sini sunyi, hanya ada suara jangkrik dan embusan angin dingin yang menembus celah jendela. Suasana yang terlalu romantis untuk pasangan yang seharusnya tidak punya perasaan.
"Ga," bisik Nara.
"Hmm?"
"Kamu... beneran nggak punya perasaan apa-apa sama aku? Maksudku, setelah semua kejadian... masak gosong, mobil mogok, sampai aku ngerawat kamu?"
Arga tidak langsung menjawab. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap.
"Nara, dalam manajemen risiko, perasaan adalah variabel yang paling sulit diprediksi. Saya sudah mencoba menghitungnya, tapi setiap kali saya melihat kamu tidur sambil mangap, kalkulasi saya selalu error."
"Arga! Aku nggak mangap!" Nara memukul bahu Arga pelan.
Arga menangkap tangan Nara dalam kegelapan. Ia tidak melepaskannya. Genggaman itu kuat tapi lembut.
"Maksud saya... kamu adalah satu-satunya variabel yang tidak mau tunduk pada logika saya. Dan anehnya, saya mulai menikmati ketidakteraturan itu."
Suhu di Puncak merosot drastis saat tengah malam. Nara, yang memang sangat sensitif terhadap dingin, mulai meringkuk dalam tidurnya. Secara naluriah, ia mencari sumber panas terdekat.
Garis imajiner seharga lima ratus ribu per senti itu hancur berantakan.
Nara mulai bergeser sepuluh senti, dua puluh senti. Hingga akhirnya, ia menempel sempurna di punggung Arga. Tangannya menyelinap, memeluk pinggang Arga dari belakang, dan wajahnya menempel di punggung kaku suaminya.
Arga yang sebenarnya belum tidur sepenuhnya karena detak jantungnya sendiri sedang melakukan rapat pleno yang sangat ricuh yang membeku. Ia bisa merasakan napas teratur Nara di punggungnya.
"Nara... kamu melanggar garis investasi," bisik Arga serak.
Nara hanya menggumam,
"Anget... jangan pindah..."
Arga menghela napas pasrah. Ia berbalik pelan, membuat posisi mereka sekarang saling berhadapan. Di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui gorden yang tersingkap sedikit, Arga bisa melihat wajah Nara yang sangat damai.
Tanpa sadar, Arga menarik Nara ke dalam dekapannya. Ia menyembunyikan wajahnya di rambut Nara yang harum stroberi.
"Dendanya sudah mencapai puluhan juta, Nara. Saya rasa saya harus menagihnya dengan cara lain."
Cahaya matahari menyinari kamar nomor 909. Nara menggeliat, merasa sangat nyaman dan hangat. Ia merasa kakinya sedang menindih sesuatu yang sangat empuk tapi kokoh.
Matanya terbuka.
Ia melihat Arga sedang menatapnya sambil tersenyum tipis, senyum yang sangat jarang keluar dari laboratorium wajahnya.
"Selamat pagi, Pelanggar Garis Perbatasan," sapa Arga dengan suara khas bangun tidur yang sangat berat.
Nara tersadar. Ia sedang memeluk Arga dengan kaki melilit di paha Arga, dan hidung mereka hanya berjarak satu inci.
"HUWAAAA!" Nara berteriak, mencoba berguling menjauh tapi malah terlilit selimut dan jatuh dari kasur dengan bunyi
DUBRAK!
"Nara!" Arga langsung melongok ke bawah kasur.
"Secara fisika, gaya gravitasi kamu memang tidak pernah mengecewakan."
Nara bangkit dengan rambut yang lebih berantakan dari sarang burung kena puting beliung.
"Arga! Kamu... kamu pasti sengaja narik aku pas aku tidur kan?! Kamu mau curang biar aku bayar denda!"
Arga bangkit dari tempat tidur, berdiri dengan gagahnya meski rambutnya juga sedikit berantakan.
"Nara, coba cek ponselmu. Saya baru saja mengirimkan rincian pelanggaran kamu semalam."
Nara membuka ponselnya. Ada sebuah foto yang dikirim Arga yaitu foto selfie Arga saat tengah malam, memperlihatkan Nara yang sedang memeluknya sangat erat dengan caption,
"Subjek melintasi batas sejauh 50 cm. Total denda: 25 Juta. Dibayar dengan menemani saya jalan-jalan tanpa mengeluh selama 24 jam."
"ARGA WIRATAMA!!! Kamu bener-bener licik ya!" Nara melempar bantal ke arah Arga.
Arga menangkap bantal itu, lalu mendekati Nara yang masih terduduk di lantai. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Nara berdiri. Saat Nara meraih tangannya, Arga menariknya dengan cepat hingga Nara berdiri tepat di depan dadanya.
"Dendanya bisa dihapus," bisik Arga, matanya berkilat jahil.
"Gimana caranya?" tanya Nara gugup.
"Akui kalau kamu sebenarnya lebih suka tidur di pelukan saya daripada di samping bantal guling paha ayam itu."
Nara membuang muka, tapi pipinya merah padam.
"Nggak akan! Paha ayam nggak pernah nagih denda!"
Arga tertawa, tawa yang lepas dan hangat. Ia mengecup hidung Nara singkat.
"Ayo mandi. Kita punya jadwal liburan yang harus saya audit kesenangannya."
Nara mengomel sepanjang jalan menuju kamar mandi, tapi dalam hatinya, ia merasa Tembok Berlin mereka memang sudah seharusnya dihancurkan untuk selamanya.