Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASALAH DI SEKOLAH
Hari ini aku datang ke sekolah dengan hati yang penuh semangat. Aku baru saja menerima rumah baru dari keluarga Rafi dan merasa sangat bahagia.
Namun perasaan bahagia itu segera sirna ketika aku masuk ke kelas dan menemukan teman-temanku sedang berkumpul dan berbicara dengan suara rendah sambil menatapku dengan pandangan yang tidak ramah.
“Apa yang terjadi?” tanyaku pada Maya yang berdiri di dekat pintu kelas dengan wajah yang penuh kesedihan.
Maya menarik tanganku dan membawaku ke luar kelas. “Caca, ada berita yang sedang beredar di sekolah. Beberapa orang mengatakan bahwa kamu berteman dengan anak mafia dan bahkan menerima rumah dari mereka.”
Aku merasa seperti terkena petir. “Siapa yang menyebarkan berita itu?”
“Anak-anak dari sekolah sebelah yang dulu pernah mengganggumu,” jawab Maya dengan suara pelan. “Mereka datang ke sekolah dan memberitahu semua orang tentang latar belakang keluarga Rafi. Sekarang semua orang melihatmu dengan cara yang berbeda.”
Saat aku kembali masuk ke kelas, semua mata tertuju padaku. Beberapa orang mengoceh dan membicarakan diriku dengan suara rendah. Aku merasa sangat malu dan ingin segera pergi dari sana.
Namun saat aku mau pergi, salah satu teman sekelas ku bernama Rina berdiri dan berbicara dengan suara yang cukup keras agar semua orang bisa mendengar.
“Apakah benar kamu menerima rumah dari keluarga mafia, Caca?” tanyanya dengan nada yang menyakitkan. “Kamu selalu bilang Rafi adalah teman baik, tapi ternyata keluarganya adalah orang jahat!”
“Aku tidak punya apa-apa untuk dikatakan,” jawabku dengan suara yang sedikit gemetar. Aku segera mengambil tas sekolahku dan berlari keluar dari kelas menangis.
Aku berlari ke taman belakang sekolah yang sunyi dan duduk di bawah pohon besar tempat aku dulu sering bersembunyi.
Air mata mengalir deras di pipiku. Kenapa mereka harus berpikir buruk tentang Rafi dan keluarganya? Mereka sudah berubah dan menjadi orang baik.
Tiba-tiba aku merasa ada orang yang duduk di sebelahku. Aku melihat ke samping dan menemukan Rafi sedang melihatku dengan wajah yang penuh kesedihan.
“Kamu sudah tahu tentangnya ya?” tanyaku dengan suara yang masih bergetar karena menangis.
“Rio memberitahuku,” jawabnya dengan suara lembut sambil mengusap air mataku dengan lembut. “Aku segera datang ke sekolah setelah mendengarnya. Aku sangat menyesal karena kamu harus mengalami hal ini karena aku.”
“Itu bukan kesalahanmu, Rafi,” jawabku dengan cepat. “Mereka tidak mengerti bahwa keluargamu sudah berubah dan menjadi orang baik.”
Rafi menghela napas panjang. “Aku tahu ini sulit untuk mereka pahami. Banyak orang masih melihat kita dengan cara lama. Tapi kita dengan cara lama. Tapi kita tidak bisa menyerah begitu saja ya, Caca. Kita harus menunjukkan pada mereka bahwa kita adalah orang baik.”
Saat itu pula, Maya datang dengan membawa beberapa teman sekelas ku yang masih mempercayai aku. Mereka berdiri di depan kita dengan wajah yang penuh rasa minta maaf.
“Kami minta maaf, Caca,” ujar Rina dengan suara pelan dan mata yang berkaca-kaca. “Kami tidak seharusnya mempercayai cerita orang lain tanpa bertanya pada kamu terlebih dahulu. Kamu adalah teman baik kami dan kami tidak boleh meninggalkanmu begitu saja.”
Aku merasa lega dan tersenyum pada mereka. “Tidak apa-apa. Aku mengerti kalau kamu semua bingung mendengarnya.”
Rafi kemudian berdiri dan berbicara pada semua orang dengan suara yang jelas dan tegas. “Saya mengerti kalau kalian semua merasa khawatir atau bahkan takut setelah mengetahui latar belakang keluarga saya. Tapi saya ingin kalian tahu bahwa keluarga saya sudah keluar dari semua bisnis yang tidak baik dan sekarang menjalankan usaha yang hukum dan bermanfaat bagi masyarakat. Kami telah membantu banyak orang di kampung dan memberikan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan.”
Beberapa teman sekelas ku mulai mengangguk dengan pemahaman. Mereka mulai bertanya tentang keluarga Rafi dan usaha yang mereka jalankan. Rafi menjawab semua pertanyaan dengan sabar dan jujur.
“Saya juga ingin mengundang kalian semua untuk datang ke acara pembukaan usaha baru keluarga saya minggu depan,” ujar Rafi dengan senyum. “Kalian bisa melihat sendiri bagaimana keluarga saya bekerja dan membantu orang lain. Saya berharap kalian bisa datang dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kami bukan orang jahat seperti yang kalian pikirkan.”
Teman-temanku berpikir sebentar kemudian semua mengangguk dengan senyum. Mereka menyatakan bahwa mereka akan datang ke acara tersebut dan bersedia untuk mengetahui keluarga Rafi dengan lebih baik.
Setelah itu, kita semua kembali ke kelas dengan suasana hati yang jauh lebih baik. Rina bahkan mengundang aku untuk makan siang bersama mereka di kantin sekolah. Aku merasa sangat lega karena masalah di sekolah bisa diselesaikan dengan baik.
Saat pulang sekolah, Rafi mengantar aku ke rumah baru ku. Kita duduk di taman belakang dan berbincang tentang apa yang telah terjadi.
“Terima kasih sudah datang untuk membantuku hari ini, Rafi,” ujar aku dengan suara penuh rasa terima kasih. “Tanpamu aku tidak tahu bagaimana aku akan menghadapinya.”
“Aku akan selalu ada untukmu, Caca,” jawabnya dengan suara tegas. “Janji kita dulu masih berlaku. Kita akan selalu saling membantu satu sama lain.”
Kita melihat matahari terbenam dengan warna jingga yang indah. Aku merasa sangat bersyukur memiliki teman terbaik seperti Rafi dan teman-teman sekolah yang akhirnya mau memahami dan menerima kita apa adanya.
Meskipun masih ada tantangan yang akan datang, tapi aku tahu bahwa bersama-sama kita bisa menghadapinya dengan kuat dan penuh keyakinan.
“Semoga acara pembukaan minggu depan berjalan dengan baik ya,” ujar aku dengan harapan.
“Tentu saja akan baik-baik saja,” jawab Rafi dengan senyum. “Karena kita memiliki orang-orang baik yang ada di sekitar kita.”