Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Pengkhianatan dan Luka di Balik Sangkar Emas
Pagi itu, atmosfer di Universitas Nasional berubah menjadi neraka bagi Airin. Tanpa ia ketahui, Dion yang didorong rasa penasaran sekaligus iri karena merasa dikhianati oleh kejujuran Airin diam-diam telah membuntuti mobil Jordan beberapa hari lalu. Ia berhasil mengabadikan satu momen melalui celah jendela mobil yang sedikit terbuka foto Jordan yang sedang mencium Airin dengan posesif di parkiran.
Foto itu menyebar di grup chat kampus layaknya api yang menyambar bensin.
“Mahasiswi teladan atau simpanan dosen?”
“Pantesan nilainya bagus terus, jual diri ternyata.”
Airin berjalan melewati koridor dengan kepala tertunduk, namun bisikan-bisikan tajam itu menusuk telinganya. Saat ia sampai di kelas, Thea bahkan tidak mau menatapnya, sementara mahasiswa lain mulai melemparkan kata-kata kasar. Puncaknya adalah ketika Airin ditarik ke belakang gudang olahraga oleh sekelompok mahasiswa yang merasa iri.
Tanpa Jordan di sana karena sang CEO sedang memimpin rapat darurat terkait akuisisi lahan di kantor pusat Airin benar-benar rapuh. Ia didorong, dicaci, bahkan rambutnya ditarik hingga ia jatuh tersungkur di lantai semen yang dingin. Sudut bibirnya berdarah, dan lengannya lebam karena hantaman loker.
"Ini akibatnya kalau lo sok polos tapi aslinya murahan!" teriak salah satu dari mereka sebelum meninggalkan Airin yang terisak sendirian.
Dengan sisa tenaga dan air mata yang terus mengalir, Airin tidak pulang ke apartemen. Ia memesan taksi dan menuju kantor pusat Abraham Corp. Dengan penampilan yang kacau baju yang kotor, rambut berantakan, dan wajah yang lebam ia menerobos lobi. Satpam yang mengenalinya sebagai "prioritas tuan besar" tidak berani menghalangi.
Pintu ruangan Jordan terbuka dengan bantingan keras. Jordan yang sedang berbicara serius di telepon seketika mematung. Ponselnya hampir terjatuh saat melihat sosok rapuh di ambang pintu.
"Airin?!" Jordan melesat, menangkap tubuh Airin yang hampir ambruk.
"Jordan..." suara Airin pecah menjadi tangisan yang menyayat hati. "Lihat... lihat apa yang mereka lakukan padaku!"
Jordan menangkup wajah Airin, jemarinya bergetar saat melihat sudut bibir Airin yang pecah. Amarah yang belum pernah terlihat sebelumnya terpancar dari matanya. "Siapa? Siapa yang melakukannya?!"
Airin mendorong dada Jordan dengan lemah, tangisnya semakin histeris. "Ini semua karena kamu! Karena kamu terlalu posesif! Karena kamu memaksaku pindah! Karena kamu menciumku di tempat umum! Andai saja... andai saja kamu tidak seperti ini, mereka tidak akan pernah tahu! Aku benci ini, Jordan! Aku benci menjadi tontonan!"
Jordan tertegun. Kata-kata Airin menghujam jantungnya lebih dalam daripada luka mana pun. Ia menarik Airin ke dalam pelukannya, meski gadis itu memukul-mukul dadanya. Ia membiarkan kemeja mahalnya basah oleh air mata dan darah kekasihnya.
"Maafkan aku... maafkan aku, sayang," bisik Jordan dengan suara yang pecah. Ia mengecup puncak kepala Airin berkali-kali, mendekapnya seolah dunianya akan runtuh jika ia melepaskannya. "Aku akan menghancurkan mereka. Aku bersumpah, siapa pun yang menyentuhmu akan membayar ini dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan."
Airin hanya bisa menangis tergugu di pelukan Jordan. Kepolosannya telah dirampas oleh kekejaman dunia, dan ia menyadari bahwa cinta Jordan yang luar biasa besar ternyata memiliki harga yang sangat mahal untuk dibayar.
Jordan terdiam membeku, dadanya sesak melihat Airin yang biasanya selalu tampil rapi dengan dress bunga kini hancur di depan matanya. Ia menyentuh luka lebam di pipi Airin dengan jemari yang gemetar karena amarah yang memuncak. "Siapa pun yang menyentuhmu, Airin... mereka sudah menggali kuburan mereka sendiri," desis Jordan dengan suara rendah yang mengerikan.
Airin menggeleng lemah, air matanya membasahi kemeja putih Jordan yang mulai ternoda darah dari sudut bibirnya. "Jangan, Jordan... Aku hanya ingin ini semua berakhir. Aku tidak sanggup lagi menjadi bahan gunjingan."
Jordan tidak menjawab, ia justru semakin erat mendekap tubuh mungil itu, seolah ingin menyerap semua rasa sakit yang dirasakan Airin ke dalam tubuhnya sendiri. Pikirannya sudah menyusun rencana yang jauh lebih kejam dari sekadar pemecatan ia akan memastikan masa depan mereka yang menyakiti Airin tertutup rapat di seluruh negeri ini. Kelembutan yang tadi ia janjikan kini berubah menjadi kegelapan yan