Genre: Romance Drama
"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."
Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.
Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.
Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Kota Yang Pernah Menyakitkan
Udara pagi di kota ini masih sama seperti yang aku ingat – bercampur aroma pepaya matang dari pekarangan rumah-rumah dan asap rokok dari pedagang bakso yang sudah mulai berjualan. Tapi rasanya seperti aku sedang menjejakkan kaki di atas tanah yang penuh duri.
Nara Safitri menarik napas dalam-dalam sebelum menekan bel pintu rumah tua yang warnanya sudah memudar. Pintu kayu yang berderit terbuka oleh seorang wanita berambut perunggu yang sedang mengusap tangannya dengan serbet kotor.
“Nara?” Suara Bu Lina – ibunya – terdengar penuh kejutan. “Kamu kembali?”
Tanpa berkata apa-apa, Nara menyerahkan tas yang penuh oleh-oleh dari Jakarta. Matanya melirik ke dalam rumah yang masih sama seperti lima tahun yang lalu – sofa kayu yang sudah mengkilap karena sering duduk, meja makan yang pernah menjadi tempat mereka makan bersama sebelum dia kabur, dan dinding yang masih terpampang foto-foto kecilnya saat masih sekolah.
“Kamu tidak bilang akan pulang,” ucap Bu Lina dengan suara pelan, mulai menangis senang. Dia membungkus putrinya yang sudah lama tidak pulang dengan pelukan erat. “Kenapa kamu tidak bilang? Aku pasti menyiapkan makanan kesukaanmu.”
Nara menahan air mata yang ingin keluar. “Aku pulang karena ada proyek kerja di sini, Bu. Tidak lama kok.”
Bohong.
Yang sebenarnya, dia harus kembali karena perusahaan tempat dia bekerja – Mitra Pustaka Indonesia – meminta dia untuk membangun program pendidikan kreatif bagi anak-anak di kota kelahirannya. Dan juga karena dia tidak punya pilihan lain setelah bosnya berkata bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk membuktikan kemampuannya setelah proyek terakhirnya gagal total.
“Kamu harus istirahat dulu ya, Nak. Kamu pasti capek dari perjalanan.” Bu Lina menariknya masuk ke dalam rumah. “Aku akan masak ayam bakar dan sambal matah seperti yang kamu suka.”
Saat duduk di sofa yang sudah sangat akrab, Nara melihat sebuah foto kecil di atas meja hias – foto dirinya bersama seorang pria dengan senyum lebar dan mata yang hangat. Reza.
Hatinya terasa seperti ditusuk jarum kecil. Lima tahun yang lalu, mereka hampir menikah. Dia bahkan sudah mengenakan gaun pernikahan dan duduk di atas pelaminan. Tapi pada hari itu juga, dia menemukan bahwa semua yang dia percayai hanyalah kebohongan yang rapuh.
“Bu, Reza masih tinggal di kota ini?” tanya Nara dengan suara yang coba dibuat tenang.
Bu Lina mengangguk perlahan. “Ya, Nak. Dia sekarang mengajar di sekolah dasar dekat pasar baru. Bahkan sudah punya kelas khusus untuk anak-anak yang suka menggambar dan membuat kerajinan tangan.”
Anak-anak yang suka menggambar. Kata itu menusuk hati Nara lebih dalam dari yang dia sangka. Itu kan impian mereka berdua dulu – membangun tempat di mana anak-anak bisa mengembangkan kreativitas mereka. Tapi semua hancur ketika dia menemukan surat cinta dari seorang mahasiswi lain di dalam tas kerja Reza.
“Sial,” bisik Nara pelan sambil meraih tasnya dan mengambil botol minuman.
“Kamu baik-baik saja kan, Nak?” tanya Bu Lina dengan khawatir.
“Aku baik saja, Bu. Cuma capek aja.”
Pada sore hari, Nara memutuskan untuk keluar berjalan-jalan agar tidak terus-terusan teringat pada masa lalu. Dia berjalan menyusuri jalan raya yang sudah banyak berubah – banyak toko baru yang berdiri, tapi beberapa tempat kenangan masih ada seperti dulu.
Saat melewati taman kota yang dulu jadi tempat pacaran mereka, dia melihat sekelompok anak-anak sedang berkumpul di bawah pohon beringin besar. Mereka sedang duduk berkelompok, masing-masing sedang menggambar di atas kertas yang tampak sudah banyak lipatan. Di depan mereka berdiri seorang pria dengan rambut yang sudah sedikit keriting karena panasnya matahari, sedang memberikan bimbingan dengan sabar.
Reza.
Dia ingin segera berbalik dan pergi. Tapi sudah terlambat – Reza sudah melihatnya. Matanya yang dulu penuh cinta kini hanya menunjukkan kejutan dan sedikit rasa sakit.
“Nara?” suaranya terdengar sama seperti dulu – dalam dan penuh nada hangat.
Nara terpaku di tempatnya, tangan nya menggenggam selempangnya dengan kuat. “Hai, Reza.”
Anak-anak mulai berbisik satu sama lain, melihat mereka dengan rasa penasaran. Salah satu anak perempuan kecil dengan rambut ikal mendekat ke Reza.
“Pak Reza, siapa kakaknya?” tanya dia dengan suara ceria.
Reza tersenyum lembut padanya. “Ini teman lama saya, Rara. Kamu dan teman-teman lanjutkan saja menggambar ya. Saya sebentar saja.”
Dia mendekati Nara dengan langkah yang hati-hati, seolah dia adalah sesuatu yang mudah pecah. “Kamu kembali?”
“Ya,” jawab Nara dengan suara yang lebih keras dari yang dia rasakan. “Saya ada proyek kerja di sini.”
“Begitu.” Ada jeda panjang antara mereka. Udara terasa berat dengan kata-kata yang tidak terucapkan. “Kabar baik ya, kamu jadi desainer yang sukses di Jakarta.”
“Kamu juga ya – mengajar anak-anak seperti yang kita impikan dulu.” Kata itu keluar sebelum dia bisa berpikir dua kali.
Reza mengangguk perlahan. “Ya. Aku mencoba menjalankan apa yang kita rencanakan dulu. Meskipun…” Dia berhenti sejenak, melihat ke arah anak-anak yang sedang asik menggambar. “Meskipun kamu tidak ada di sini untuk menjalankannya bersamaku.”
Nara merasa mata nya mulai panas. Dia tidak bisa terus melihat wajah Reza yang dulu begitu akrab tapi sekarang terasa sangat jauh. “Saya harus pergi. Ada banyak hal yang harus saya siapkan untuk proyek saya.”
Sebelum Reza bisa menjawab, dia berbalik dan berlari menjauh dari taman. Hatinya berdebar kencang, campuran antara rasa sakit masa lalu dan kebingungan dengan masa depan yang tidak jelas.
Saat dia berjalan cepat menyusuri jalanan, dia tidak memperhatikan orang yang sedang datang dari arah berlawanan. Akhirnya dia menabrak seseorang dengan keras, membuat tasnya terjatuh dan isi nya berserakan di jalanan.
“Maaf banget!” teriak Nara dengan tergesa-gesa, mulai mengumpulkan barang-barangnya.
“Tenang saja, tidak apa-apa.” Suara pria yang tenang membuatnya mengangkat kepala. Dia melihat seorang pria muda dengan wajah yang tampak akrab tapi tidak bisa dia ingat dari mana. Pria itu sedang membantu mengumpulkan barang-barangnya dengan tangan yang lincah.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanya pria itu dengan senyum hangat.
Nara mengangguk, masih bingung. “Ya, terima kasih. Aku tidak sengaja tidak memperhatikan jalan.”
“Saya mengerti. Kadang kita terlalu banyak berpikir hingga lupa dengan sekitar kita.” Pria itu memberikan tasnya dan menoleh ke arah taman. “Kamu kenal dengan Pak Reza ya?”
Nara merasa sedikit waspada. “Kenapa kamu tahu?”
“Dia adalah teman kuliah saya dulu. Saya sering mendengar cerita tentang kamu dari dia.” Pria itu memberikan senyum lagi. “Nama saya Dito. Dito Pratama. Aku baru saja kembali dari luar negeri dan bekerja sebagai dosen di kampus lokal.”
Nara hanya mengangguk pelan. Dia tidak punya energi lagi untuk berbicara dengan orang lain tentang masa lalunya dengan Reza. “Terima kasih sudah membantu. Aku harus pergi sekarang.”
Sebelum Dito bisa berkata apa-apa, Nara sudah berjalan menjauh lagi, menyembunyikan wajahnya yang sudah mulai basah karena air mata yang menetes. Dia merasakan pandangan Dito masih mengikuti langkahnya hingga dia masuk ke dalam gang yang menyembunyikannya dari pandangan luar.
Mengapa aku harus kembali ke sini? pikirnya dengan penuh rasa frustrasi. Mengapa masa lalu selalu mengikuti aku ke mana pun aku pergi?
Di baliknya, Dito masih berdiri di tempat itu, melihat arah di mana Nara pergi dengan wajah yang penuh keprihatinan. Dia mengambil selembar kertas yang terjatuh dari tas Nara – sebuah desain program pendidikan kreatif yang sangat rinci dan penuh ide-ide brilian.
Dia melihat desain itu dengan cermat, kemudian menyimpannya dengan hati-hati ke dalam saku jasnya. Ada sesuatu tentang Nara yang membuatnya merasa ingin membantu – sesuatu yang dia lihat di mata wanita itu saat mereka bertemu tadi.
Dan dia akan segera menemukan bahwa perjalanan yang akan mereka lalui bersama akan jauh lebih kompleks dan penuh tantangan dari yang pernah dia bayangkan.
Di rumahnya, setelah sampai dengan napas yang terengah-engah, Nara mulai memeriksa isi tasnya. Saat dia menyadari bahwa salah satu berkas penting hilang – berkas yang berisi rahasia besar tentang mengapa proyek terakhirnya di Jakarta gagal – wajahnya menjadi pucat.
Dimanakah berkas itu? Dan jika orang salah menemukan nya, apa yang akan terjadi?