Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9.Pertentangan.
Ibunya masih berdiri di tempat yang sama ketika Yun Lan melangkah keluar kamar.
Langkah putrinya terdengar cepat.
Terlalu cepat.
Terlalu penuh emosi.
“Ibu belum selesai bicara!” panggilnya, tetapi Yun Lan sudah melewati pintu kayu dan menuju halaman belakang rumah.
“Aku akan menunjukkan rahasia pada ibu, agar ibu bisa berubah pikirannya. ”sambil berjalan ke arah halamannya.
Angin malam berembus dingin, membawa bau tanah basah dan arang dari tungku pandai besi yang belum lama padam. Langit gelap, hanya diterangi bulan separuh yang menggantung pucat.
Yun Lan berhenti di tengah halaman.
Di sana, tepat di sisi sumur tua, berdiri meja batu peninggalan kakeknya.
Meja itu sudah ada sejak ia kecil. Meja yang bahkan dua pria dewasa harus bekerja sama untuk menggesernya.
Ibunya mengikuti dari belakang, napasnya masih tidak teratur.
“Yun Lan, dengarkan Ibu baik-baik. Ini bukan permainan. Ini bukan cerita kepahlawanan. Ini nyawa—”
Kalimat itu terputus.
Karena Yun Lan meletakkan kedua tangannya di bawah sisi meja batu itu.
Dan mengangkatnya.
Begitu saja.
Tidak gemetar.
Tidak terengah.
Tidak memerah wajahnya.
Meja batu setebal paha orang dewasa itu terangkat setinggi pinggang Yun Lan, seolah hanya pot kayu ringan.
Ibunya membeku.
Matanya melebar.
Bibirnya terbuka tanpa suara.
Yun Lan memutar badan, lalu menurunkan meja itu kembali perlahan ke tanah tanpa suara keras.
Duk.
Halaman kembali sunyi.
Hanya suara napas ibunya yang terdengar jelas.
“Lihat ini, Bu,” ucap Yun Lan pelan. “Putrimu bukan gadis lemah yang terbungkus dengan lemak saja,tapi benar-benar kuat.”
Ibunya masih tidak bergerak.
Seolah pikirannya tertinggal beberapa detik di belakang kenyataan yang baru saja ia lihat.
“Itu belum semuanya,akan aku tunjukkan seberapa kuat diriku.”
Yun Lan melangkah ke arah pohon jati tua di sudut halaman.
Pohon itu besar.
Akar-akarnya mencuat dari tanah, batangnya tebal seperti pelukan dua orang dewasa.
Yun Lan mengangkat tangan.
Mengepalkan jari.
Lalu memukul.
Satu kali.
Suara retakan keras memecah malam.
Pohon itu… retak di tengah batangnya.
Retakan itu menjalar seperti kilat di kayu kering, dan beberapa detik kemudian, dengan suara berat yang mengguncang tanah, pohon jati itu tumbang ke samping.
Tanah bergetar.
Burung-burung malam terbang panik dari pepohonan sekitar.
Ibunya mundur selangkah.
Tangannya gemetar.
Bukan karena takut pada Yun Lan.
Tetapi karena tidak percaya.
“Yun… Lan…”
Suaranya hampir tidak keluar.
Yun Lan menoleh pelan.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
“Sepertinya dewa Yun memberikan kekuatan padaku sebagai tanda baktiku, Bu.”
Kalimat itu keluar dengan keyakinan yang tidak bisa dibantah.
“Aku tidak tahu kenapa aku memiliki kekuatan ini. Tapi sekarang aku tahu untuk apa.”
Ia berjalan mendekat.
Berjongkok di depan ibunya yang kini terduduk lemah di bangku kayu.
“Aku tidak akan membiarkan Ayah pergi dalam kondisi seperti itu. Dan aku tidak akan membiarkan Ibu bersedih.”
Air mata ibunya kembali jatuh.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena batinnya terombang-ambing antara kagum dan ketakutan yang sama besarnya.
“Kekuatan ini… bukan alasan untuk kamu bisa menjadi seorang prajurit,” bisiknya.
“Ini bukan alasan bu, tapi aku sudah bertekad untuk pergi ke medan perang mengantikan ayah.”
“Dengan menipu kaisar?” suaranya tiba-tiba meninggi. “Dengan menyamar sebagai pria? Dengan mengaku sebagai putra Jenderal Li? Kau tahu hukumannya apa jika terbongkar?!”
Yun Lan terdiam.
Tentu ia tahu.
Hukuman mati.
Bukan hanya untuknya.
Untuk seluruh keluarga.
Itulah yang membuat ibunya gemetar.
Bukan perang.
Bukan medan tempur.
Tetapi hukuman kekaisaran.
“Kita bisa dihukum sebagai pengkhianat, Yun Lan!” air matanya makin deras. “Kaisar tidak akan peduli alasanmu!”
Yun Lan menunduk sesaat.
Lalu menatap ibunya lagi.
“Apa bedanya jika ayah pergi, apa kehidupan kita akan baik-baik saja?.”
Ibunya terdiam.
Kalimat itu menancap lebih dalam daripada ancaman hukum apa pun.
“Kalau Ayah mati di medan perang, apa kita akan bisa hidup bahagia seperti dulu, Bu?”
Sunyi.
Hanya suara jangkrik.
“Apa ibu tidak berpikir siapa orang yang memerintahkan membunuh semua keluarga Li.”lanjut Yun lan dengan mengebu-gebu. “apa ibu tidak berpikir kalau orang itu dalam lingkaran istana?, karena sesuatu yang tidak ayah sadari telah mengusiknya. ”
Ibunya tidak punya jawaban.
Karena jauh di dalam hatinya… ia tahu itu benar.
“Ibu takut kita dihukum karena menipu kaisar,” lanjut Yun Lan pelan. “Aku takut kita dihukum oleh takdir… seperti dulu.”
Ibunya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tubuhnya gemetar.
“Aku tidak mau kehilanganmu juga…”
Suara itu begitu kecil.
Begitu rapuh.
Yun Lan mendekat dan memeluknya.
Untuk sesaat, ia bukan calon prajurit.
Ia hanya seorang anak yang memeluk ibunya.
“Aku tidak akan mati, ibu lihat kekuatan ku tadi menandingi sepuluh pria.”
“Kau tidak bisa menjamin itu…”
“Tapi aku tidak mau mengorbankan ayah dan ibu menjadi janda,dan saat itu kita tidak punya pegangan.”
Ibunya perlahan mendorongnya menjauh.
Tatapannya tegas.
Tidak goyah.
“Aku tidak akan mengizinkanmu.”
Kalimat itu jelas.
Pasti.
Tidak ada ruang untuk negosiasi.
Yun Lan membeku.
“Ibu—”
“Tidak.”
Satu kata.
Tajam.
“Kau tetap anak perempuan. Kau tetap putriku. Dan aku tidak akan menyerahkanmu ke perang hanya karena kau merasa kuat.”
Amarah yang sejak tadi ditahan Yun Lan akhirnya meledak.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?! Menunggu Ayah mati pelan-pelan demi mematuhi titah kaisar?!”
“Yun Lan!”
“Tolong katakan padaku, Bu! Apa pilihan kita?!”
Ibunya tidak menjawab.
Karena tidak ada.
Dan Yun Lan tahu itu.
Itulah yang membuatnya marah.
Bukan pada ibunya.
Pada keadaan.
Pada takdir.
Pada titah emas di tangannya.
Dengan napas berat, Yun Lan berbalik.
Langkahnya keras ketika masuk kembali ke rumah.
Pintu kamar dibanting hingga menggetarkan isi rumah.
Ibunya terduduk sendiri di halaman.
Matanya kosong menatap pohon tumbang.
Meja batu yang tadi terangkat.
Anak perempuannya.
Anak yang tidak lagi bisa ia pahami sepenuhnya.
Beberapa saat ia hanya diam.
Lalu sesuatu terlintas di benaknya.
Wajah suaminya.
Yang masih terbaring di rumah tabib desa.
Ia berdiri tergesa.
Mengambil selendang.
Tanpa menoleh ke kamar Yun Lan, ia berjalan keluar rumah menuju rumah tabib di ujung desa.
Langkahnya cepat.
Penuh cemas.
Ia harus memberitahu suaminya.
Sebelum Yun Lan benar-benar melakukan sesuatu yang nekat.
—
Sementara itu, di dalam kamar, Yun Lan duduk di tepi ranjang.
Dada masih naik turun karena emosi.
Tangannya mengepal di atas lutut.
Matanya menatap kosong ke lantai.
Ia tahu ibunya takut.
Ia mengerti.
Tetapi ia juga tahu satu hal yang ibunya tidak tahu.
Kematian ayahnya di kehidupan sebelumnya.
Tangisan ibunya yang hancur.
Rumah kecil ini yang akhinya hilang.
Dan dirinya yang pada akhirnya menjadi pengorbanan untuk dewa Yun.
Semua itu nyata di ingatannya.
Dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.
Perlahan, emosinya mereda.
Digantikan tekad yang lebih dingin.
Lebih terencana.
Jika ibunya tidak setuju…
Maka ia harus mencari cara lain.
Karena waktu mereka tidak banyak.
Dan malam itu, tanpa disadari Yun Lan, ibunya berjalan di jalan desa yang gelap, menuju rumah tabib.
Dengan satu tujuan.
Mencegah putrinya menghancurkan masa depan keluarga mereka… demi menyelamatkan masa depan itu sendiri.