Karena kejadian yang sangat membekas di masa lalunya. Serta korban iklan drama Korea. Akhirnya Naura Almira Atmajaya memutuskan untuk hamil melalui progam inseminasi tanpa menikah serta tak mau tahu siapa yang mendonorkan benih untuknya.
Beberapa bulan kemudian, permasalahan pun datang menghampirinya. Ternyata yang mendonorkan sperma untuknya adalah pria yang paling dihindarinya.
=========
Jangan lupa beri dukungan, vote, koment dan like.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renny Ariesya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10| Bertanggung Jawab
Sudah semingguan ini Naura menempati apartemennya sendiri. Apartemennya tidak semewah dan tidak sebesar milik Sunny, dengan satu kamar tidur, satu ruang tamu yang merangkap jadi ruang keluarga, satu kamar mandi serta dapur kecil. Sementara isi apartemennya hampir tidak ada, hanya ada sofa tunggal panjang di ruang tamu serta televisi.
Lokasi apartemennya tak jauh dari lokasi apartemen Sunny berada, serta satu kompleks dengan apartemen Neil, juga berdampingan dengan rumah sakit Universitas Nasional Jeju. Bila terjadi apa-apa pada Naura dan kandungannya ini bisa langsung ke rumah sakit tanpa menghabiskan banyak waktu di perjalanan.
Hari ini, Naura duduk santai menikmati waktu weekend sendirian. Seharian menonton drakor sepuasnya. Setelah menyelesaikan menonton drakor, Naura beralih membuka televisi. Sambil menonton acara reality show, ia memakan es krim kesukaannya. Kadang-kadang ia tergelak-gelak sendiri menertawakan bintang tamu yang dikerjai oleh para pemain tetap acara tersebut.
"Ha ha ha--- Um?" Naura menghentikan tawanya, lalu mengecilkan volume televisi ketika mendengar bel apartemen berbunyi. Lekas Naura membukakan pintu usai membuang sisa es krim ke kotak sampah di dekat pintu.
"Richard?!" Naura nyaris terpekik kaget, bagai tiba-tiba melihat penampakan pelakor sang mantan kekasih. Terlalu kaget melihat siapa tamunya. Richard Park, keturunan orang Korea, kepala divisi di tempatnya bekerja. Bila dibandingkan dengan warga Korea lainnya, yang kebanyakan mempunyai kulit putih pucat. Kulit Richard justeru mirip dengan kulit orang-orang dari Asia Tenggara. Sawo matang.
Selain itu, Richard ternyata juga fasih berbahasa Indonesia, mengingat dia pernah menetap di Indonesia selama tiga tahun. Pertama kalinya bertemu dengan Naura, pemuda inilah yang menyapanya duluan dengan memakai bahasa Indonesia.
Sampai kini, mereka tetap berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Korea, meski kenyataannya mereka tinggal di negeri Gingseng ini.
"H-hai," sapa Richard sedikit kaku, setelah bisa meredakan rasa terkejutnya akan reaksi sosok manis di depannya. Kini, seolah jadi patung lilin Angelina Jollie di Madame Tussaud sosok manis ini bergeming menatapnya.
"Eum, h-hai juga," balas Naura tak kalah kakunya, tak menyangka Richard akan berkunjung ke apartemennya. Ia pikir Richard takkan datang kemari lagi karena telah bosan. Mengingat hampir tiap hari, semenjak pindah ke sini Richard selalu datang, sekalian mengantarnya pulang. Padahal Naura sering sekali menolaknya, tapi tetap saja Richard memaksa. Hingga akhirnya membiarkan saja Richard mengantarnya pulang bekerja.
Juga Naura pikir, Richard sudah menyerah, karena seringnya diabaikan, dalam artian mengabaikan perhatiannya lebih dari sekedar atasan dan bawahan terhadapnya. Naura tahu, meski Richard tak berbicara langsung padanya, menilik dari bahasa tubuh dan sikapnya, mengisyaratkan bila Richard menyukainya. Hal itulah yang Naura hindari sekarang ini. Ia tak ingin mempunyai hubungan spesial dengan pria mana pun.
Jangankan Richard, Raka---notabene pernah menjalin hubungan dengannya---pun sudah diwanti-wantinya untuk tak mengganggunya lagi. Dan sepertinya itu berhasil, sudah dua mingguan ini Raka tak mengusiknya lagi. Tak pernah lagi muncul di hadapannya.
"Aku bawa Jajangmyeon kesukaanmu, dan masih panas." Richard mengangkat tote bag di tangannya. "Aku juga bawa es krim," lanjutnya.
Mendengar kata Jajangmyeon, seketika pikiran Naura melayang ke kejadian seminggu yang lalu, ketika masih berada di apartemen Sunny. Seseorang tanpa identitas mengiriminya Jajangmyeon di saat dirinya tengah mengidam. Sampai detik ini, masih menyisakan misteri siapa pengirimnya, begitu pun dengan boneka kodok miliknya.
Naura mengelus perut buncitnya. Bau sedap yang menguar dari dalam tote bag seketika mengkontaminasi hidungnya, membuat perutnya berbunyi keras. Ia tercengir lebar menahan malu. Sedangkan Richard tergelak mendengar suara perutnya.
"Untukmu." Richard menyodorkan tote bag-nya ke tangan Naura - sedikit memaksa.
"Makasih," balas Naura malu-malu, namun tetap diambilnya. "Jadi merepotkanmu," sambungnya tak enak hati. Setiap ke sini Richard selalu membawa oleh-oleh.
"Lain kali kalau mau ke sini, enggak usah bawa apa pun, juga gak apa-apa kok." Naura berkata hati-hati, takut kalau Richard tersinggung.
"Tak apa-apa. Habisnya aku suka." Richard tersenyum lebar seraya mengelus tengkuknya.
"Tapi, tetap saja." Naura mengembuskan napas berat. Sosok manis ini paling tak suka bila membebani seseorang.
"Eung, silakan masuk," lanjutnya sambil membuka pintu lebar-lebar. Tak ingin membiarkan Richard makin salah tingkah akan kedatangannya.
Richard mengangguk, membuka sepatunya, lalu melenggang bebas ke arah sofa tunggal, kemudian meletakkan bawaannya ke atas meja. Tanpa menunggu pemilik apartemen berbasi basi terlebih dahulu, Richard langsung duduk santai - mungkin karena sudah terbiasa juga datang kemari.
"Lagi asyik menonton, ya.” Pandangan Richard beralih ke televisi yang menyala di depannya.
"Iya." Naura menjawab dari arah dapur. Membuka kulkas sembari mengetuk dagu, memperhatikan ada apa saja di dalam kulkasnya.
"Um, sepertinya aku ganggu."
"Enggak kok," sangkal Naura cepat sambil menutup keras pintu kulkasnya. “He he he, maaf,” sambungnya tercengir lebar.
Astaga, kasihan pintu kulkasnya, jadi pelampisan. “Tak apa-apa, kok. He he he.” Richard juga tercengir lebar sembari mengusap dada.
Jujur. Sebenarnya Naura memang tak nyaman hanya berduaan saja dengan Richard, seolah ada sepasang mata tajam dari arah jauh yang mengawasinya, bersiap menerkam punggungnya bila macam-macam bersama Richard. Selain itu, ia memang berusaha menjaga jarak dengan pemuda ini.
"Biasalah kalau weekend begini. Kerjaan aku ya nonton tv dan bersantai," lanjut Naura mengedikkan bahu.
"Mau minum apa?" katanya dengan pandangan lurus ke punggung Richard - membelakanginya di balik sofa panjangnya.
"Tak usah repot-repot."
"Ih, enggaklah. Kamu saja sudah repot-repot bawain Jajangmyeon-nya, masa aku gak bikin apa-apa untukmu." Seketika Naura jadi kepikiran dengan pengirim Jajangmyeon-nya waktu itu, pada siapa ia akan berterima kasih.
"Ya sudah." Richard mengangkat bahu. "Aku minta segelas kopi hitam saja. Boleh?"
"Hum, sangat boleh."
🍃Dear, My Baby🍃
Richard menatap serius Naura, setelah sosok manis ini membuang sisa bungkusan cup Jajangmyeon mereka ke kotak sampah dekat pintu dapur. Lalu kembali duduk di dekatnya. Sosok manis ini memilih duduk melantai di karpet tebal, membiarkan Richard menguasai sofa tunggal panjang sendirian. Bila duduk bersama Richard di sofa, Naura jadi risih.
"Mmm, kalau boleh tahu ... sudah berapa bulan usia kandunganmu?" tanya Richard, memandang kagum pada rambut hitam panjang Naura yang berkilauan tertimpa cahaya matahari dari balik tirai jendela.
"Minggu depan tepat tiga bulan."
"Tiga bulan ya ..." Richard bergumam sembari mengelus dagunya. "Naura, tidakkah kau kepikiran untuk menikah?" lanjutnya.
Hening seketika. Hanya suara televisi yang menyala memenuhi ruangan apartemen. Naura meremas ujung dasternya. Sudah berapa kali ia mendengar pertanyaan seperti itu. Ia paling tak suka didesak. Terlebih soal menikah. Ia nyaman dengan kesendiriannya. Saat ini hanya ingin fokus untuk bayi yang dikandungnya saja. Tak perlu memikirkan hal lainnya.
"Aku ...” Susah payah Naura menelan ludah-nya yang terasa kering di tenggorokan. “Aku belum siap untuk menikah."
Richard mendesah. "Naura, pikirkan bayimu."
"Iya, aku sudah memikirkannya matang-matang, jauh sebelum aku hamil ..." Naura menarik napas dalam-dalam, dan diembuskannya perlahan. Ia menunduk, menatap sendu perut buncitnya
"Untuk saat ini aku masih betah sendiri."
"Naura---"
"Aku yakin bayiku juga mengerti," potong Naura cepat saat Richard hendak mencoba protes akan keputusannya ini.
Lagi Richard mendesah, menatap prihatin sosok di sampingnya. "Sampai kapan kau betah dengan kesendirianmu ini?"
"Aku enggak bisa memastikannya. Maaf."
"Tak bisa memastikannya itu sampai kapan? Sampai kandunganmu membesar? Sampai bayinya lahir?" Richard bertanya beruntun, sepertinya tak puas dengan jawaban Naura.
Naura menggeleng, dan lebih memilih diam. Richard mengembuskan napas berat.
"Naura."
Astaga! Naura berjengit, tiba-tiba saja Richard menggenggam erat tangannya. Seketika membuatnya panik,
tak siap dengan sikap Richard yang agresif ini. "Richard, a-apa yang kau lakukan?"
"Naura dengarkan aku." Richard menatap Naura tepat di irisnya.
"A-aku akan mendengarkanmu, tapi ... tolong lepaskan tanganku. Kau ... membuatku jadi enggak nyaman," aku Naura jujur.
"Ah, maaf, maafkan aku." Buru-buru Richard melepaskan tangannya. "Aku tak bermaksud membuatmu tak nyaman, maaf."
"Huft! Aku mengerti," balas Naura. Menggeser tubuhnya sedikit jauh. Melihat sikap Naura menjaga jarak darinya, raut wajah tampan Richard tampak sedikit kecewa.
"Jadi, kau ingin mengatakan sesuatu padaku, kan?" tanya Naura, sebisa mungkin nada suaranya terdengar santai, berusaha mengurangi ketegangan di antara mereka berdua.
"Ya." Richard menjawab serius. "Naura, kalau kau mau, aku ..."
Naura menahan napas selama beberapa detik kala menunggu kelanjutan dari belah bibir Richard. Satu hal yang membuatnya takut, bila pemuda ini mengatakan---
"Aku siap bertanggung jawab padamu dan kandunganmu, Naura.”
Degggh
Jantung Naura berdetak tak normal. Inilah yang paling ditakutinya. Bila pemuda ini berniat bertanggung jawab padanya. Jujur saja, ia memang senang mendengarnya. Akan tetapi, secara keseluruhan, mentalnya belum siap mempunyai hubungan yang serius, terlebih untuk membina rumah tangga. Mengurus bayi sendirian ia memang sanggup, tetapi bila mengurus rumah tangga lain perkaranya.
"Maafkan aku Richard, aku ... aku---"
"Aku mencintaimu, Naura!" potong Richard dengan suaranya yang tegas.
Naura terdiam. Tak ada reaksi apa pun di hatinya ketika mendengar pernyataan isi hati Richard.
"Selain itu, aku punya uang dan pekerjaan tetap. Aku yakin, kau dan bayimu takkan terlantar."
Lagi Naura diam. Ucapan Richard masih tak mampu membuatnya bergeming.
"Tidakkah itu cukup untuk membuktikan, bahwa aku serius padamu, Naura?"
Naura menghela. Baginya itu tidaklah cukup. Hanya bermodalkan cinta dan harta, masih belum mampu meyakinkan hatinya sepenuhnya. Karena kenangan pahit di masa lalunya yang menyakitkan, membuatnya belum mampu menerima seorang pun di hatinya sampai saat ini. Ia butuh lebih dari rasa cinta atau pun harta. Misalnya, kepercayaan dan komitmen untuk tak meninggalkannya di kemudian hari.
"Richard, aku hargai keputusanmu. Tapi ... untuk sekarang aku ..."
Naura menggigit bibir. Sedikit bingung bagaimana cara menyampaikan perasaannya ini. Ia takut Richard tak menerima penolakannya, lalu berakhir sakit hati, dan cenayang pun bertindak di baliknya.
"Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku. Aku belum bisa menerima perasaanmu dan niat baikmu untuk saat ini," lirih Naura tak berani menatap langsung kedua bola mata hitam Richard.
"Naura, kumohon pikirkan bayimu. Dia butuh ayah ketika lahir nanti," tutur Richard penuh harap.
"Kalau soal cinta urusan belakang. Toh, siapa tahu dengan berjalannya waktu, kau bisa menerimaku," lanjut Richard.
Naura kembali meremas ujung dasternya. Dia sudah memikirkannya. Tak perlu diulang-ulang lagi keyakinannya ini. Hatinya sudah bulat. Bayinya tak butuh seorang ayah. Lagi pula, menurutnya, cinta memang penting. Dalam menjalani rumah tangga harus ada fondasi cinta dan kasih sayang yang kuat, bila tidak, semuanya akan berakhir dengan kegagalan.
"Naura."
"Maaf. Sekali lagi maafkan aku, Richard ...," please, jangan terus-terusan mendesakku seperti ini. Naura bergerak-gerak gelisah dalam duduknya, bagaikan duduk di atas bara api.
Richard mengembuskan napas. Tak lagi berbicara. Lama mereka berdua diam dengan pikiran masing-masing. Meresapi waktu yang seakan berjalan begitu lambat.
"Astaga, aku lupa sesuatu." Richard berseru kaget, memecahkan kebisuan di antara mereka berdua. Pemuda ini segera beranjak berdiri.
"Lupa?" Naura menengadah, memandang Richard yang berdiri menjulang di dekatnya.
"Aku lupa menyiapkan berkas buat besok."
"Berkas?" Naura menautkan kedua alisnya.
Setahunya, hari Jum'at kemarin Richard tak bilang apa pun soal menyiapkan berkas di kantor, padahal ia bawahan langsung Richard. Naura merasa tak enak hati jadinya.
"Kenapa gak bilang sebelumnya, aku bisa menyiapkannya untukmu," sambungnya meniup kasar poninya yang menjuntai.
"Tidak. Ini dadakan, Naura. Baru pagi tadi, Sekretaris Jenny menelepon."
"Begitukah?"
"Ya. Dia bilang, segera siapkan dokumen untuk rapat dewan pemegang saham besok pagi.”
“Oh.” Naura mengangguk. “Tapi, bila kau butuh bantuanku, aku siap, kok,” lanjutnya serius.
“Ya. Bila memang butuh bantuanmu, aku telepon kamu nantinya.”
“Oke.”
🍃Dear, My Baby🍃
Naura berjalan tergesa-gesa ke arah pintu. Sejenak mengerutkan dahi. Baru saja hendak mematikan televisi dan tidur siang, setelah semenit yang lalu Richard pulang. Kini bel apartemennya kembali berdering, mengaum-ngaum bagai seorang mertua yang tak setuju sang putra menikahi wanita yang bukan pilihannya.
Richard-kah yang tak sabaran di balik pintunya?
Ada sesuatu-kah yang ketinggalan di apartemennya, hingga Richard balik kembali?
Naura rasa pasti begitu. Sebab, Richard bilang selepas dari apartemennya, ada berkas yang segera disiapkannya di kantor. Mungkin saja Richard butuh bantuannya.
"Kenapa balik, Rich---"
Naura menelan ucapannya bulat-bulat, matanya membelalak lebar saat yang berdiri di depannya bukan atasannya, melainkan Raka.
Untuk apa Raka ke sini lagi? Bukankah sudah ia peringatkan, selama-lamanya tak usah menampakkan lagi batang hidung ke hadapannya.
Diam-diam Naura memperhatikan Raka begitu lekat. Ekspresinya begitu dingin, tak sehangat dari biasanya mereka bertemu. Penampilan Raka tampak begitu kusut, rambutnya mulai memanjang, serta terlihat bulu-bulu halus tumbuh subur di permukaan pipi. Sudah berapa hari Raka tak mencukur cambangnya? Selain itu, bagian bawah matanya kelihatan berkantung. Sangat tak terurus.
Apa saja yang dilakukannya selama dua mingguan ini? Bertapa mencari ilham. Geeez .... Kening Naura berkernyit dalam.
Mengembuskan napas pendek tak kentara. Sepertinya ia yang akan memulai berbicara, "unt---”
"Aku ingin bertanggung jawab padamu.”
tolong digali lagi referensinya, jadi tidak salah