Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Emas yang salah.
"Malam ini adalah kesempatan emas bagi kita."
Maya dan Ares saling pandang sejenak, seolah membaca pikiran masing-masing, lalu kembali menatap Amelia dengan penuh perhatian.
"Maksud Mama apa?" tanya Maya, keningnya sedikit berkerut.
"Ini kesempatan emas bagi kita untuk mencari kembali berlian itu," jawab Amelia dengan senyum miring yang dingin.
Ares langsung mengangguk paham. "Aku mengerti maksud Mama. Elina nginap di rumah orang tuanya. Malam ini memang sangat pas untuk mencari di mana berlian dan emas yang dia simpan."
Nada suaranya terdengar yakin, seolah rencana itu sudah lama berputar di kepalanya.
"Betul sekali, Res. Kita harus membuat Elina jadi sebangkrut-bangkrutnya," ucap Amelia tanpa ragu. "Mama ingin dia dan kedua orang tuanya benar-benar jatuh."
Maya menggigit bibir bawahnya, keraguan mulai muncul. "Tapi Mah, Mas... apa Elina tidak akan mencurigai kita? Misalnya dia memantau lewat CCTV?"
"Kamu nggak perlu khawatir, sayang. Di rumah ini nggak ada CCTV," jawab Ares cepat, berusaha menenangkan Maya.
"Masa sih, Mas?" Maya menatap sekeliling ruangan, matanya menyapu setiap sudut. "Rumah sebesar ini nggak ada satu pun CCTV?"
"Ada sih, May," sahut Amelia santai, "cuma di bagian depan saja. Bagian dalam tidak. Soalnya Elina si bodoh itu sudah merasa aman."
Nada suaranya meremehkan, penuh keyakinan.
"Iya, Sayang. Apa yang Mama katakan benar," tambah Ares meyakinkan. "Mas juga pernah nyuruh Elina pasang CCTV, tapi dia malah nggak mau."
Maya akhirnya menghembuskan napas panjang. Ketegangan di wajahnya perlahan mengendur. "Oh..." gumamnya pelan. "Kalau begitu aman, ya."
Ares tersenyum, tangannya meraih jemari Maya dengan santai. "Tenang saja, Sayang. Malam ini rumah kosong, Elina tidak ada, Bi Wati juga ikut dengannya."
Amelia menyilangkan tangan di dada, senyum licik masih bertahan di wajahnya. "Justru karena itu mama bilang ini kesempatan emas. Berlian dan emas Elina pasti disimpan di tempat khusus. Dia tipe perempuan yang percaya diri berlebihan."
Maya tersenyum kecil, kali ini lebih rileks. "Kalau begitu... kita tinggal cari dengan teliti."
Nada suaranya terdengar ringan, bahkan nyaris antusias.
Ares mengangguk. "Kita mulai dari kamar utama. Biasanya perempuan menyimpan barang berharga di sana."
Amelia melirik jam di pergelangan tangannya. "Jangan buang waktu. Semakin cepat kita dapatkan, semakin baik."
Maya bangkit dari duduknya, wajahnya kini tanpa keraguan. Dalam benaknya, terlintas bayangan Elina yang selama ini terlihat begitu sempurna—dan untuk pertama kalinya, Maya merasa posisi mereka benar-benar di atas angin.
♡♡
Di mansion kedua orang tua Elina, Elina duduk di tepi kolam, kakinya menjuntai santai sementara pandangannya tertuju pada tablet di tangannya. Layar itu menampilkan rekaman dari kamera tersembunyi. Senyum miring perlahan terukir di wajahnya saat melihat Ares, Amelia, dan Maya yang tampak begitu sibuk mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan lain, membongkar lemari, membuka laci, tanpa hasil apa pun.
"Sampai kapan pun kalian nggak akan menemukan harta-hartaku," gumam Elina pelan, senyum di bibirnya makin dalam.
"Sayang..."
Elina menoleh. Ayah dan Bundanya sudah berdiri di dekatnya, menatap dengan ekspresi penuh perhatian.
"Iya, Bun, Yah," balas Elina sambil menyimpan tabletnya, lalu berdiri sedikit mendekat.
"Kamu belum tidur?" tanya Albert lembut.
Elina menggeleng, lalu memeluk Albert dari samping, menyandarkan kepalanya dengan manja. "Belum, Yah. Ayah dan Bunda kenapa belum tidur?"
"Bagaimana kami mau tidur." jawab Albert sambil merangkul putrinya, "kalau putri kami masih sibuk dengan tabletnya."
Elina hanya tersenyum tipis, lalu memeluk Albert lebih erat, matanya perlahan terpejam seolah semua lelahnya baru terasa saat itu.
"Manja banget sih sama Ayah," sahut Aurelia sambil tersenyum, tangannya mengelus punggung Elina dengan penuh kasih.
“Hari ini tenaga Elina kurang, Bun,” balas Elina masih dengan mata terpejam. “Habis nemenin Bunda belanja. Jadi aku harus peluk Ayah biar stamina aku nambah.”
Aurelia mendengus pelan, lalu ikut duduk di sisi lain Elina. “Enak benar alasannya. Jadi Bunda ini cuma bonus, Ayah sumber stamina utama?”
Elina membuka satu mata, tersenyum jahil. “Bukan bonus, Bun. Bunda itu… charger cepat. Ayah power utama.”
Albert tertawa lepas. “Wah, Ayah jadi genset sekarang?”
“Iya,” sahut Elina santai. “Genset paling mahal sedunia.”
Aurelia menggeleng tak habis pikir. “Pantesan kamu betah di sini. Datang-datang langsung isi ulang energi.”
Elina akhirnya membuka mata sepenuhnya, lalu bergeser sedikit agar bisa memeluk kedua orang tuanya sekaligus. “Namanya juga pulang ke base camp.”
“Base camp?” Albert menaikkan alis.
“Iya. Tempat aman, bebas drama, dan gratis makan,” jawab Elina polos.
Aurelia terkekeh. “Gratis makan tapi habis itu Bunda yang capek masak.”
“Pengorbanan demi anak kesayangan,” Elina langsung merayu, pipinya menempel di bahu Aurelia.
Albert menepuk kepala Elina lembut. “Selama kamu ketawa begini, capek Ayah sama Bunda langsung lunas.”
Elina tersenyum hangat, tawa kecil mereka bertiga menyatu dengan gemericik air kolam, menciptakan malam yang tenang—jauh dari kekacauan yang tanpa mereka sadari sedang terjadi di mansion lain.
Tak selang lama, keheningan menyelimuti mereka bertiga. Hanya suara air kolam yang terdengar samar, hingga akhirnya Albert membuka suara.
“Elina?”
“Iya, Ayah?” balas Elina pelan.
“Are you okay?” tanya Albert, nadanya lembut namun penuh kekhawatiran.
“Aku oke kok, Ayah,” jawab Elina sambil kembali memeluk ayahnya. “Selama Ayah dan Bunda ada di samping aku.”
Namun di dalam hatinya, Elina berkata lain.
Maaf, Ayah… Elina bohong. Elina nggak baik-baik saja. Elina rapuh, Elina sakit. Tapi Elina harus kuat. Aku nggak mau mereka memandang aku rendah. Aku akan balas mereka.
Albert dan Aurelia saling berpandangan. Tanpa kata, mereka sama-sama tahu putri mereka sedang memikul beban besar dari rumah tangganya—beban yang tak pernah ia ceritakan secara gamblang.
Mereka pun terus mengajak Elina berbincang tentang hal-hal ringan, topik acak yang sama sekali tak menyentuh masalah rumah tangganya, hanya agar pikirannya sedikit teralihkan.
"Sayang, kamu tahu—" Aurelia menghentikan ucapannya saat menyadari Elina telah terlelap di pelukan Albert.
"Ayah, Elina ketiduran," bisik Aurelia.
"Iya, Bunda. Ayah tahu dari tadi," jawab Albert lirih.
"Bawa ke kamar, Yah..."
Albert mengangguk, lalu menggendong putrinya dengan hati-hati menuju kamar. Sesampainya di sana, ia membaringkan Elina perlahan, seakan takut menganggu tidurnya.
"Yah... anak kita kelihatan sangat lelah," lirih Aurelia sambil menatap wajah Elina yang tertidur. "Ayah, Bunda nggak mau tahu. Keluarga benalu itu harus dikasih pelajaran. Mereka nggak sadar diri apa? Mereka berasal dari mana kalau bukan karena Elina? Tanpa Elina, mereka nggak akan tahu seperti apa rasanya hidup dalam kemewahan."
“Bunda nggak perlu khawatir,” ucap Albert dengan sorot mata dingin. “Ayah tidak akan tinggal diam melihat putri Ayah diperlakukan seperti ini. Tapi kita harus mengikuti rencana Elina, Bunda. Biarkan dia membalas dengan caranya sendiri. Tugas kita cukup memantau dari jauh.”
Aurelia mengangguk paham, lalu menghela napas panjang. Amarah di matanya perlahan mereda, berganti dengan sorot protektif yang tajam.
“Baik,” ucapnya pelan. “Bunda akan menahan diri. Tapi kalau mereka melangkah terlalu jauh, Bunda nggak akan tinggal diam.”
Albert mengangguk setuju. “Ayah juga. Selama Elina masih ingin berdiri dengan kakinya sendiri, kita dukung. Tapi kalau ada yang berani menyentuhnya lagi…”
Kalimat Albert terhenti, namun aura dingin yang terpancar sudah cukup menjelaskan sisanya.
“Dia akan berurusan dengan Ayah.”