NovelToon NovelToon
AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.

Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.

​Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.

Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!

​"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"

Jam update:07:00-12:00-20:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Jebakan Hutang

Pagi itu, cuaca di Semarang terasa lembap dan berat, persis seperti suasana hati Sinta. Sudah beberapa hari sejak ia memergoki Rangga membawa wanita lain ke studio daruratnya.

Sinta masih memilih diam, mengunci rapat rahasia menyakitkan itu di dalam dadanya. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah "ujian" bagi orang baik. Tapi, realita finansial tidak bisa diajak berkompromi seperti harga dirinya.

​Sinta sedang duduk di meja kerjanya di kantor, mencoba fokus pada perhitungan struktur sebuah ruko, ketika ponselnya bergetar hebat. Sebuah nomor asing masuk.

📞​"Halo, dengan Ibu Sinta?" suara pria di seberang sana terdengar berat dan sangat formal, tapi ada nada mengancam yang terselip di sana.

📞​"Iya, saya sendiri. Ini siapa ya?"

📞​"Kami dari bagian penagihan aplikasi PinjamCepat. Kami ingin mengonfirmasi terkait pinjaman atas nama Saudara Rangga yang mencantumkan nama dan nomor telepon Ibu sebagai penjamin darurat. Karena saat ini nomor Saudara Rangga tidak bisa dihubungi dan cicilannya sudah menunggak tiga minggu, kami akan segera melakukan penagihan ke alamat yang didaftarkan, yaitu alamat rumah Ibu."

​Pena di tangan Sinta terjatuh. Darahnya seolah berhenti mengalir.

📞"Apa? Penjamin darurat? Saya tidak pernah merasa menandatangani apa pun!"

📞​"Saudara Rangga mencantumkan data Ibu secara digital. Jika dalam waktu 1x24 jam tidak ada pelunasan, tim lapangan kami akan mendatangi alamat Ibu. Terima kasih."

Telepon ditutup sepihak. Sinta gemetar. Ia segera merogoh tasnya, mencari ponselnya yang lain untuk menghubungi Rangga, tapi benar kata petugas tadi, nomor Rangga tidak aktif.

​"Kurang ajar..." gumam Sinta. Ia melirik ke arah meja Mbak Sari yang berada tidak jauh dari sana. Sari sedang asyik mengobrol dengan rekan lain, tampak ceria. Sinta tidak mau terlihat hancur. Ia buru-buru menyambar tasnya dan berpamitan izin pulang lebih awal dengan alasan sakit kepala. Padahal, kepalanya memang benar-benar terasa mau pecah.

​Begitu sampai di rumah, Sinta mendapati pintu rumahnya tidak terkunci. Ia masuk dengan langkah besar dan langsung menuju lantai dua. Benar saja, Rangga sedang asyik tidur dengan headphone masih melingkar di lehernya, seolah tidak punya beban hidup sedikit pun.

​"MAS RANGGA! BANGUN!" Sinta berteriak sambil menyentak bantal yang dipakai Rangga.

​Rangga terlonjak kaget, matanya merah karena kurang tidur. "Apa sih, Sin? Ganggu saja!"

​"Mas pakai namaku buat pinjol? Mas gila ya?! Tadi orang penagihan telepon ke kantor, Mas! Malu aku, Mas! Malu!" Sinta melemparkan tasnya ke arah Rangga, air matanya tumpah karena rasa sesak yang sudah tak terbendung.

​Rangga terdiam sebentar, lalu ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak meminta maaf. Ia justru berdiri dan berkacak pinggang. "Aku butuh uang itu buat bayar sewa alat DJ yang kamu sewakan kemarin, Sin! Kamu tahu nggak? Alat itu ternyata ada yang rusak kabelnya, dan pemiliknya minta ganti rugi. Aku nggak mau bebani kamu lagi, makanya aku cari jalan sendiri!"

​"Jalan sendiri tapi pakai namaku? Itu namanya maling, Mas! Kenapa nggak bilang?"

​"Kalau aku bilang, kamu pasti bakal ceramah kayak Senja! Kamu bakal bilang aku boros, aku nggak tahu diri!" Rangga mulai melakukan taktik gaslighting andalannya. Ia mendekati Sinta, suaranya melembut secara manipulatif.

"Sin... dengerin aku. Aku cuma butuh waktu. Besok malam aku ada job di acara ulang tahun anak pengusaha. Bayarannya besar. Aku bakal lunasi semuanya. Kamu percaya sama aku, kan?"

​"Aku nggak tahu lagi harus percaya apa nggak, Mas. Uangku sudah habis. Cicilan rumahku bulan ini saja aku tunda demi beli kebutuhan studio kamu," tangis Sinta pecah.

Rangga memeluk Sinta, sebuah pelukan yang bagi Sinta terasa seperti perlindungan, padahal itu adalah lilitan ular sanca yang sedang perlahan meremukkan tulangnya. "Sabar ya, Sayang. Maafin aku. Aku cuma mau buktiin ke teman-teman kamu, terutama ke Senja, kalau aku bisa sukses bareng kamu. Kita harus kuat, Sin. Jangan sampai mereka lihat kita hancur."

​Kalimat "Jangan sampai mereka lihat kita hancur" adalah racun paling mematikan bagi Sinta. Itu adalah paku yang mengunci Sinta di dalam peti mati penderitaannya. Sinta mengangguk dalam pelukan Rangga. Ia kembali memilih untuk kalah oleh egonya sendiri.

...----------------...

​Malam harinya, Senja sedang berada di sebuah restoran mewah untuk makan malam bisnis dengan klien barunya. Ia terlihat sangat bercahaya. Rambutnya dipotong pendek sebahu, memberikan kesan praktis dan elegan. Di tengah pembicaraan, Mbak Sari mengirimkan pesan WhatsApp.

​Sari: "Ja, aku tadi lihat Sinta pulang kantor sambil nangis. Terus denger-denger di kantor, ada debt collector telepon cari dia gara-gara si Rangga. Kayaknya si Sinta beneran lagi masuk lubang buaya."

​Senja membaca pesan itu, lalu meletakkan ponselnya dengan tenang di atas meja. Tidak ada rasa kasihan, yang ada hanyalah pemahaman akan hukum sebab-akibat.

​"Ada masalah, Bu Senja?" tanya kliennya.

​"Hanya gangguan kecil dari masa lalu yang tidak penting, Pak. Mari kita lanjut bicara soal desain lobi hotelnya," jawab Senja dengan senyum profesional.

​Bagi Senja, Sinta sudah memilih jalannya. Sebagai sesama arsitek, Senja tahu bahwa bangunan yang dibangun di atas pasir hisap pasti akan tenggelam. Ia sudah memberi peringatan, tapi Sinta justru menganggapnya sebagai musuh.

​Dua hari kemudian, apa yang ditakutkan Sinta terjadi. Dua orang pria berbadan besar datang ke rumahnya saat Sinta baru saja pulang kantor. Mereka berteriak-teriak di depan pagar, menarik perhatian tetangga.

​"Keluar! Rangga! Bayar hutangmu!"

Sinta keluar dengan wajah pucat pasi. Ia melihat tetangganya mulai mengintip dari balik jendela. Rasa malunya sudah sampai ke ubun-ubun.

​"Mas, tolong pelan-pelan. Saya penjaminnya, saya akan urus," ucap Sinta dengan suara gemetar.

​"Nggak ada urus-urus! Bayar sekarang atau motor di garasi ini kami angkut!"

​Rangga? Dia tidak ada di rumah. Pria itu pergi sejak pagi dengan alasan "cek lokasi job", padahal Sinta tahu Rangga hanya ingin menghindari masalah. Sinta akhirnya terpaksa menguras emas simpanannya—satu-satunya harta yang tersisa dari warisan almarhumah ibunya—untuk melunasi hutang Rangga agar orang-orang itu pergi.

​Setelah mereka pergi, Sinta terduduk di lantai terasnya yang dingin. Ia menatap kotak perhiasannya yang kini kosong. Ia teringat kata-kata Mbak Sari: "Senja itu Arsitek hebat saja bisa habis hartanya sama Rangga. Kamu yang gajinya cuma separuh Senja, mau bertahan sampai kapan?"

​Sinta menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sangat bodoh, tapi rasa sakit hatinya kalah oleh rasa takutnya dianggap kalah oleh Senja. Ia mengambil ponselnya, menghapus semua pesan penagihan, dan mengirim pesan singkat ke Rangga.

​“Mas, hutangnya sudah aku lunasin pakai emas Ibuku. Tolong... jangan ulangi lagi ya. Aku sayang sama Mas.”

​Rangga di tempat lain hanya membaca pesan itu sambil tersenyum sinis. Di depannya, wanita simpanannya sedang tertawa. "Tuh kan aku bilang apa, Sinta itu jauh lebih gampang dikendalikan daripada Senja. Dia itu haus pengakuan sebagai orang baik. Tinggal puji sedikit, dia bakal kasih apa saja," ucap Rangga kepada wanita itu.

Sinta sedang menghancurkan hidupnya demi sebuah panggung sandiwara, sementara Rangga sedang merayakan kebodohan Sinta dengan wanita lain.

1
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
semoga kamu bahagia iya senja🤗
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
harusnya suruh rangga usaha dlu baru nikah
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
kayanya udah direncana deh pertemuan mereka🤭
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
inget nasihat ibumu senja, harus hati"
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Senja ayo terima saja Axel dia pria yang selalu membantu masalah kamu
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Axel Senja bakal baik baik saja asal kamu jadi tameng dia
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Axel akan memastikan hidup Rangga seperti di neraka kalau Rangga masih ganggu Senja
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
udah ga ketolong si sinta mah😭
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
dari sini harusnya sinta sadar rangga tak sebaik diliatnya
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
demi mas dj kau korbanin emas peninggalan orang tuamu sin, parah
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
sinta padahal udah tau msh mau bertahan
awas jangan smpai nyesel iya
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
itu baru didompet udah berani ambil tanpa bilang loh
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
mau nolong liat" dlu orangnya sinta
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
doni p3ngen aku ulek mulutnya lemes banget dia
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
ga usah diurus senja
rangga udah keterlaluan
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
wow semua yg nanggung senja🤔
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
rangga ga malu apa astaga memutar balikan fakta
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
wkwkw rasain cuma dimanfaatin smaa cewe matre wkwkkw kurma nya langsung ini🤭
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
wah banyak juga yang udah diberikan ke serangga 🤔
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
nah betul
bawa semua bukti" nya kalau rangga itu ga baik biar segera diproses
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!