NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.

Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.

Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.

Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.

Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Siang merambat pelan di desa itu. Dapur kecil Alya dipenuhi aroma bawang putih dan lengkuas yang ditumis. Tutut-tutut itu sudah bersih, direndam, lalu direbus sebentar. Alya bergerak tenang, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan untuk menyenangkan siapa pun.

Bayu duduk di bangku kayu dekat jendela. Tangannya memegang sebiji lidi yang sudah di potong kecil agak memanjang, lalu ia mencongkel tutut dar cangkangnya satu per satu dengan gerakan terlatih. Diam. Fokus. Tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.

“Aku baru tahu,” ucap Alya pelan tanpa menoleh, “kalau diam itu juga bisa capek.”

Bayu berhenti sejenak. “Iyo.”

“Aku nggak marah,” lanjut Alya. “Cuma… kaget.”

Bayu menunduk. “Isun ngerti.”

Mereka kembali bekerja. Tidak ada percakapan panjang. Hanya suara ulekan, kompor, dan angin siang yang masuk dari jendela. Tapi jarak di antara mereka terasa berbeda. Bukan renggang, lebih seperti hati-hati.

Saat masakan matang, Alya memindahkan tutut ke piring besar. Bayu membantu mengangkat ke meja kecil.

Mereka makan berhadapan. Tutut itu gurih, pedasnya pas. Alya mengunya dagingnya perlahan. Bayu memperhatikannya sebentar, lalu menunduk lagi.

“Al,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Isun dudu wong cilik sing ora duwe apa-apa.” (Aku bukan orang kecil yang tidak punya apa-apa)

Alya mengangguk. “Aku sudah duga.”

“Isun uga dudu wong sing kepengin bali dadi wong gedhe.” (Aku juga bukan orang yang ingin kembali jadi orang besar.)

Alya menatapnya. “Terus kamu sekarang apa?”

Bayu terdiam lama. Lalu berkata jujur, “Wong sing lagi sinau ora mlayu maneh.” (Orang yang sedang belajar untuk tidak lari lagi.)

Kata-kata itu membuat Alya menarik napas panjang. Ia tidak mengejar cerita. Tapi ia tahu, langkah kecil sudah diambil.

  "Baiklah, semoga keputusanmu kaki ini tetap dan tentunya bisa membuatmu nyaman," ucap Alya.

  "Itu pasti," sahut Bayu.

Siang itu, Bayu pamit lebih awal. Ia tidak mengantar Alya sampai teras seperti biasa. Bukan menjauh hanya memberi ruang balik.

Dari kejauhan, Alya melihat Bayu berjalan menuju sawahnya. Punggungnya lurus, tapi langkahnya tidak lagi ringan. Alya tidak memanggilnya. Ia membiarkan jarak itu terbentuk pelan, seperti tanah yang diberi waktu menyerap air.

Beberapa saat Alya tetap berdiri di tempatnya. Matanya masih mengikuti Bayu sampai sosok itu mengecil di antara petak-petak sawah. Baru setelah Bayu benar-benar menghilang di balik rumpun padi, Alya menurunkan pandangannya.

Ia menghela napas panjang.

Alya lalu berbalik, melangkah kembali ke ladang cabainya. Kakinya menyusuri galengan yang sama, tanah yang sudah ia kenal. Ia jongkok, merapikan satu batang cabai yang miring, menimbun sedikit tanah di pangkalnya.

Baru di sana—di tengah ladang itu—Alya berdiri sendiri.

Ia sadar, konflik ini bukan tentang Jakarta atau desa. Bukan juga soal orang yang datang membawa masa lalu. Ini tentang seseorang yang pernah patah terlalu dalam, lalu membangun hidupnya kembali dengan sangat hati-hati hingga kejujuran terasa seperti risiko.

Alya berdiri tegak. Tangannya masih kotor tanah, tapi pijakannya kuat, ia tidak memilih untuk di selamatkan, ataupun ingin memaksa, ia cukup tahu jika seseorang yang memilih untuk menjauh berarti ada luka yang disembunyikan seperti halnya dengan dirinya sendiri.

  "Kau berhak lanjutkan hidupmu Bay, masalalu biarkan ada ditempatnya, dan kaki kita berhak melangkah ke depan," gumam Alya sambil menatap bibit cabe yang sudah tertanam itu.

  ☘️☘️☘️☘️☘️

Hari-hari setelah kedatangan pria dari Jakarta itu berubah sunyi. Bukan sunyi tanpa suara, tapi sunyi yang penuh jeda. Alya tetap ke ladang setiap pagi. Menyiram, mengecek daun, membuang ulat kecil yang mulai muncul. Tangannya cekatan, langkahnya mantap. Dari luar, tak ada yang berubah.

Tapi Bayu jadi lebih jarang terlihat. Bukan menghilang. Ia masih ke sawah, masih menyapa warga desa, masih terlihat di warung kopi sore hari. Hanya saja… tidak lagi singgah ke ladang Alya tanpa alasan jelas.

Dan Alya tidak memanggil. Ia belajar satu hal penting: memberi ruang bukan berarti mengejar dari jauh.

Suatu sore, hujan turun mendadak. Gerimis kecil berubah deras. Alya masih di ladang, berusaha menutup bedengan dengan plastik. Tangannya basah, bajunya lembap, rambut di balik hijab menempel di leher.

Plastik itu hampir terlepas saat angin datang.

“Alya!”

Suara itu membuatnya menoleh.

Bayu berlari dari arah sawah, membawa tali dan dua bilah bambu. Bajunya basah separuh, napasnya terengah. Tanpa banyak bicara, ia langsung membantu menahan plastik, mengikatnya kuat.

“Kok durung mulih?” tanyanya sedikit tinggi, lebih karena panik.

“Aku mau selesaiin dulu,” jawab Alya singkat.

Mereka bekerja cepat. Hujan membasahi tanah, kaki mereka kotor oleh lumpur. Saat semuanya aman, keduanya berdiri terdiam di tengah ladang.

Hujan masih turun, tapi lebih pelan. Bayu mengusap wajahnya. “Riko biso lara.” (Kamu bisa sakit.)

Alya menatapnya. “Tanaman juga bisa mati kalau ditinggal.”

Bayu terdiam. Kalimat itu terasa seperti menyentil sesuatu di dalam dirinya.

Mereka berteduh di gubuk kecil. Hujan memukul atap seng tipis. Alya duduk memeluk lutut. Bayu berdiri di pintu, memandang hujan.

“Bay,” ucap Alya pelan. “Aku nggak minta kamu cerita semuanya sekarang.”

Bayu menoleh.

“Tapi aku juga nggak mau pura-pura semuanya baik-baik saja.”

Bayu mengangguk pelan. “Isun ngerti.”

Hujan semakin pelan. Bayu akhirnya duduk berhadapan dengan Alya, jaraknya tidak dekat, tidak jauh.

“Wong kuwi,” katanya akhirnya, “jenenge Arief. Kanca lawasku.”

(Orang itu namanya Arief. Teman lamaku.)

Alya diam. Memberi ruang.

“Jakarta dudu mung kutha kanggo isun,” lanjut Bayu. “Kana ono wong tuwa isun. Omah gedhe. Urip sing diatur.” (Jakarta bukan cuma kota bagiku. Di sana ada orang tuaku. Rumah besar. Hidup yang diatur.)

Alya mengangguk pelan.

“Isun tau seneng ambi wong,” suara Bayu menurun, “lan seneng iku nggawe isun kelangan arah.” (Aku pernah mencintai seseorang, dan cinta itu membuatku kehilangan arah.)

Alya tidak bertanya siapa.

“Pas kabeh ambruk, isun lunga. Ning Banyuwangi iki, isun ora kudu dadi sopo-sopo.” (Saat semuanya runtuh, aku pergi. Di Banyuwangi ini, aku tidak harus menjadi siapa-siapa.)

Alya merasakan dadanya menghangat, bukan karena cerita itu, tapi karena Bayu akhirnya memilih bicara.

“Terus sekarang?” tanya Alya pelan.

Bayu menatap ladang yang basah. “Saiki urip iki njaluk isun milih. Tetep ndhelik, opo maju karo kabeh resikone.” Sekarang hidup ini memintaku memilih. Tetap bersembunyi, atau maju dengan semua risikonya.)

Alya tersenyum tipis. “Aku juga milih.”

Bayu menatapnya.

“Aku milih hidup yang aku bangun sendiri. Dengan atau tanpa siapa pun.”

Bayu menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ditarik, tidak juga ditinggal. Hanya diajak berdiri sejajar.

Hujan berhenti. Senja turun perlahan, meninggalkan bau tanah basah.

Bayu berdiri lebih dulu. “Isun emong janji cepet.” (Aku gak janji cepat)

Alya ikut berdiri. “Aku nggak kejar cepat.”

Bayu menatapnya lama, lalu berkata, pelan tapi jelas,

“Tapi isun sing pengin mlayu maneh.” (Tapi aku tidak ingin lari lagi.)

Alya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk, dan itu cukup.

Di ladang cabai yang baru belajar bertahan dari hujan, dua orang dewasa berdiri dengan pilihan masing-masing. Tidak saling menyelamatkan. Tidak saling mengikat.

Hanya sama-sama memilih untuk tetap ada.

Bersambung… 🌱

1
Dew666
💐💐💐💐💐
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🏆🏆🏆🏆🏆
ari sachio
makin penasaran dg bayu
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Wanita Aries
wah bayu sama alya sama2 trluka berrti bsa saling menyembuhkan
ari sachio
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Wanita Aries
semangat trus alya menuju sukses
Wanita Aries
kl sudah tiada baru terasaaa
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Wanita Aries
penasaran ma khidupan bayu
Sartini 02
ditunggu updatenya kak...😍
Wanita Aries
halimah kocak😁
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
Wanita Aries
sabar yaa al smua akan indah pada wktnya
Dew666
🍎👑
Wanita Aries
kabar keluarga alya gmn thor masa gk nyariin
Ayumarhumah: sabar Kakak ....
total 1 replies
Wanita Aries
wahh apa bayu jodoh alya.

thor novelnya jgn trllu kaku dong
Ayumarhumah: owalah iya kak makasih sarannya
total 3 replies
Wiwik Susilowati
biasa baca bahasa jawa halus tiba2 ada bahasa jawa yg lain msh bingung ngartiinny...lanjut thor💪💪
Ayumarhumah: iya kak, ini bahasa Osing khasnya Banyuwangi. he he
total 1 replies
Dew666
💜💜💜💜💜
Wanita Aries
lanjut thor
Ayumarhumah: OK kakak ...
total 2 replies
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!