"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Tragedi Jas Armani & Julukan Baru
"HUEKK!"
Bunyi itu terdengar sangat jelas, bahkan lebih keras daripada suara shutter kamera yang sejak tadi mendominasi ruangan.
Detik berikutnya, lagi-lagi cairan cokelat kental menyembur keluar dari mulut mungil Elia, mendarat dengan sukses dan artistik tepat di dada bidang Cayvion.
Cairan itu merembes cepat, menodai kain jas wool hitam buatan Italia yang harganya setara dengan uang muka rumah subsidi, lalu menetes indah ke celana bahan yang dijahit khusus oleh penjahit langganan presiden.
Hening.
Grand Ballroom hotel yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap. Ratusan wartawan menahan napas.
Mulut mereka terbuka, mata mereka melotot. Mereka baru saja menyaksikan CEO paling perfeksionis, paling gila kebersihan, dan paling menakutkan se-Asia Pasifik, dimuntahi susu cokelat oleh balita di siaran langsung televisi nasional.
Wajah Cayvion membeku. Matanya menatap noda cokelat di dadanya dengan tatapan horor yang tak terlukiskan. Bau asam bercampur manis susu cokelat langsung menusuk hidungnya yang sensitif.
Di dalam kepalanya, Cayvion berteriak histeris: Jasku! Tiga ratus juta! Ini baru dipakai sekali! Jorok! Lengket! Aku mau mandi kembang tujuh rupa sekarang juga!
Tapi, dia sadar ada lima kamera televisi yang sedang menyorot wajahnya secara close-up.
Dengan kekuatan akting yang layak dapat Piala Oscar, Cayvion menelan rasa jijiknya bulat-bulat. Dia tidak mendorong Elia. Dia tidak berteriak.
Tangan besarnya justru bergerak lembut, menepuk punggung kecil Elia yang masih terbatuk-batuk.
"Sshh... nggak apa-apa, Sayang. Keluarin aja semuanya," ucap Cayvion dengan suara bariton yang lembut dan menenangkan, meski rahangnya berkedut menahan emosi. "Sakit ya perutnya? Maaf ya, Papa salah kasih susu tadi."
Wartawan wanita di barisan depan memekik pelan sambil memegang pipinya. "Awww... sweet banget..."
Hara langsung melompat dari kursinya. Naluri keibuannya bekerja lebih cepat daripada kilat. Dia menyambar bungkus tisu basah dari meja, lalu berlutut di samping kursi Cayvion.
"Sini, Elia," Hara dengan sigap menadah sisa muntahan dengan tisu tebal, lalu membersihkan bibir putrinya yang belepotan.
"Mami... bau..." rengek Elia lemas, menyandarkan kepalanya lagi ke dada Cayvion yang sekarang basah dan bau.
"Iya, nggak apa-apa. Elia pusing ya?" Hara mengusap keringat di dahi Elia dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dengan cekatan mengelap noda kasar di jas Cayvion agar tidak menetes ke lantai.
"Pak, tahan napas," bisik Hara sangat pelan, hanya bisa didengar Cayvion. "Jangan pasang muka jijik. Senyum prihatin. Senyum sedih."
Cayvion menurut. Dia memasang wajah sendu seorang ayah yang khawatir. Tangan kirinya memeluk Elia, tangan kanannya membiarkan Hara membersihkan kerah jasnya.
Pemandangan itu—Cayvion yang kotor tapi tetap memeluk anaknya, dan Hara yang berlutut membersihkan kekacauan dengan telaten—terlihat begitu alami. Begitu intim. Seolah mereka sudah melakukan ini ribuan kali di rumah.
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
Flash kamera kembali menyambar membabi buta. Kali ini bukan mencari skandal, tapi mengabadikan momen emas.
"Maaf rekan-rekan media," Cayvion akhirnya berdiri, menggendong Elia yang lemas dengan satu tangan. Dia menatap kamera dengan tatapan memohon (palsu). "Putri saya sedang tidak enak badan. Dia demam karena merindukan saya saat saya dinas luar kota kemarin. Wawancara hari ini kita cukupkan sampai di sini. Kesehatan anak saya adalah prioritas nomor satu."
Tanpa menunggu jawaban, Cayvion berbalik dan melangkah turun dari panggung dengan langkah lebar tapi stabil. Hara segera menggendong Elio—yang sejak tadi asyik main game di HP ayahnya dan tidak peduli adiknya muntah—lalu mengikuti langkah Cayvion menuju belakang panggung.
Begitu pintu ruang ganti VVIP tertutup di belakang mereka...
"ARGH! PANAS! LENGKET! BAU!"
Topeng 'Ayah Siaga' itu runtuh seketika.
Cayvion langsung menurunkan Elia ke sofa empuk (dengan hati-hati, untungnya), lalu menyentak jas mahalnya seolah kain itu terbakar api. Dia melempar jas basah itu ke sudut ruangan dengan wajah jijik setengah mati.
"Tisu! Mana tisu basah lagi?! Ini tembus sampai kemeja!" Cayvion panik, menarik-narik kemeja putihnya yang kini bernoda cokelat di bagian dada. Dia berlari ke wastafel, menggosok kulitnya dengan sabun cuci tangan seolah ingin mengelupas kulitnya sendiri.
"Bau susu basi! Hara, panggilkan laundry khusus nuklir! Aku merasa terkontaminasi!"
Sarah, Kepala Tim PR, menyeruak masuk ke ruangan dengan wajah berseri-seri, mengabaikan bosnya yang sedang histeris.
"Pak! Bu Hara! Lihat ini!" Sarah menyodorkan tabletnya dengan semangat 45.
Di layar tablet, sebuah portal berita online ternama sudah merilis artikel utama. Judulnya dicetak tebal dengan font raksasa:
CEO DINGIN TERNYATA AYAH SIAGA: CAYVION ALGER RELAKAN JAS MAHAL DEMI PELUK PUTRI SAKIT
Di bawahnya, ada foto Cayvion yang sedang menepuk punggung Elia dengan wajah khawatir, sementara Hara membersihkan noda di sebelahnya. Kolom komentar banjir pujian.
"Gila, suami idaman banget. Udah kaya, ganteng, nggak jijikan sama muntah anak."
"Tatapan istrinya ke Pak Cayvion tulus banget. Fix ini bukan settingan."
"Saham Alger Corp naik 5% dalam 10 menit terakhir! Investor suka stabilitas keluarga Alger!"
"Kita berhasil, Pak!" seru Sarah. "Sentimen publik positif 98 persen! Julukan 'Monster Korporat' Bapak resmi diganti jadi 'Papa Idaman'!"
Cayvion berhenti menggosok dadanya. Dia menatap tablet itu, lalu menatap cermin. Dia melihat dirinya yang berantakan, bau, dan konyol. Tapi saham naik.
"Keluar," perintah Cayvion pada Sarah. "Urus wartawan di luar. Bilang aku sedang menemani anakku tidur."
Sarah mengangguk patuh dan kabur keluar ruangan.
Kini tinggal mereka berempat. Elia sudah tertidur pulas di sofa karena lelah. Elio duduk di karpet main game. Cayvion berdiri bertelanjang dada karena kemejanya sudah dia lepas dan buang ke tempat sampah.
Hara menatap punggung tegap suaminya yang terekspos. Otot-otot punggung yang terbentuk sempurna, bahu lebar yang kokoh. Dia buru-buru memalingkan wajah, tapi tidak bisa menahan suara tawa kecil yang lolos dari bibirnya.
"Hmpff..."
Cayvion berbalik cepat. Matanya menyipit tajam. "Kau tertawa?"
Hara mencoba menutup mulutnya, tapi gagal. Tawa itu meledak pelan. Dia tertawa melihat kontrasnya situasi ini. Pria yang memegang ekonomi Asia di tangannya, kalah telak oleh muntah susu cokelat.
"Maaf, Pak," Hara terkikik, air mata geli menggenang di sudut matanya. "Ekspresi Bapak tadi... waktu Elia muntah... mata Bapak mau keluar, tapi mulut Bapak senyum manis banget. Itu akting paling konyol yang pernah saya lihat."
Cayvion terpaku.
Ini pertama kalinya dia melihat Hara tertawa lepas. Bukan senyum sopan asisten, bukan senyum sinis saat berdebat. Tapi tawa renyah yang membuat mata wanita itu menyipit membentuk bulan sabit yang cantik. Wajahnya yang lelah terlihat bercahaya.
Tanpa sadar, kejengkelan Cayvion menguap. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Dia melangkah mendekati Hara, mengabaikan fakta bahwa dia sedang setengah telanjang.
"Jangan ketawa," tegur Cayvion, tapi suaranya tidak galak. Dia berhenti tepat di depan Hara, menunduk menatap wanita yang tingginya hanya sebatas dagunya itu.
Tawa Hara perlahan berhenti saat menyadari jarak mereka yang menipis dan... dada bidang di depannya. Wajahnya memanas lagi. "Sa-saya... saya ganti baju Elia dulu."
"Tunggu," Cayvion menahan lengan Hara.
Tatapan mereka bertemu.
"Kamu hutang satu jas Armani padaku, Nyonya Alger," bisik Cayvion serak. "Potong gaji lima tahun pun belum tentu lunas."
Hara menelan ludah. "Bapak perhitungan sekali."
"Tapi..." Cayvion melepaskan pegangannya, lalu mengusap sisa noda cokelat kecil yang menempel di pipi Hara dengan ibu jarinya. Gerakan itu begitu lembut, membuat napas Hara tertahan.
"Terima kasih sudah membersihkannya tadi. Good teamwork."
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri