Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 15 : Susah dan Senang Bersamamu
Sekitar setahun yang lalu, Eun Chae dan kedua orang tuanya berwisata ke Colorado, yakni sebuah negara bagian di Amerika Serikat, tepatnya pada bulan Juni.
"Appa, eomma. Lihat, di sini ada tupai besar!" seru Eun Chae, seraya membuka jendela mobil yang sedang melaju dalam kecepatan normal.
"Benar, akhirnya nampak juga. Kamu pasti senang, putriku. Sekarang tinggal mencari rusa elk besar yang populer itu," ucap Bapak Kim Sang Won, ayah Eun Chae.
"Wah, pemandangan di tempat ini benar-benar luar biasa. Tak rugi kita mengajak Eun Chae kemari," ujar Kim Yeon Suk, ibunda Eun Chae.
"Hehe. Rocky Mountains memang terkenal di kalangan turis, terutama bagi seorang petualang sepertiku. Apalagi, kita bisa membawa mobil dan berkeliling sepuasnya," kata Eun Chae senang.
"Eun Chae appa, apa kamu sudah memeriksa persediaan bensin di bagasi mobil kita?" tanya Ibu Kim.
"Sudah. Yeobo, tenang saja. Bukankah Eun Chae akan memarahiku jika kurang berhati-hati?" canda Bapak Kim.
"Eh, aku sama sekali tidak pernah bertingkah seperti itu kepada appa," protes Eun Chae.
"Iya, kamu memang paling sayang pada ayahmu ini," tawa Ibu Kim, disambut dengan anggukan suaminya.
"Bukan, bukan begitu. Aku sayang kalian berdua, sungguh!" tegas Eun Chae.
"Hahaha. Tentu saja ibumu tahu, dia hanya cemburu. Putriku yang lugu dan baik hati ini memang tidak ada duanya," sahut Bapak Kim.
Beberapa menit setelah Bapak Kim melambatkan laju mobilnya, mendadak suara decitan ban mobil yang aneh mulai terdengar.
"Eh, kenapa begini?" katanya bingung, sambil berusaha mengatur setiran mobilnya.
"Ada apa? Kenapa kamu menyetir miring-miring seperti ini?" sanggah Ibu Kim.
"Appa?" tanya Eun Chae, turut keheranan.
"Aku juga tidak tahu. Mobil ini tidak bergerak dengan sewajarnya--!" jawab Bapak Kim.
Saat mengucapkan kalimat itu, mendadak mobil yang dikendarai Bapak Kim menabrak pembatas jalan pegunungan tinggi, hingga terjun dan terhempas-hempas dengan kencang.
"Aaaaah!" jerit sekeluarga itu, sangat amat ketakutan.
"Eun Chae-ya! Berpeganglah erat-erat!"
Itulah suara peringatan terakhir dari kedua orang tua Eun Chae, sementara bagian depan mobil hancur seketika menembus tanah dan merenggut nyawa mereka.
"Tidak apa-apa, kamu boleh menangis sepuasnya. Eun Chae-ya, kamu pasti sangat ketakutan dan kesepian selama ini. Aku sangat bersyukur, karena kau sudah memberanikan diri bercerita dan mempercayaiku," ujar Chef Do, yang saat ini bersama Eun Chae di rumahnya.
Eun Chae menganggukan kepala, lalu menangis dalam rangkulan Chef Do hingga beban beratnya terasa lebih ringan.
"Aku akan menjagamu, selamanya," bisik Chef Do.
Mendengar kalimat itu, Eun Chae sedikit terhibur.
"Selamanya?" usik Eun Chae.
"Oh? Maksudku--," jelas Chef Do cepat.
Eun Chae tertawa kecil, diikuti oleh senyuman Chef Do yang paling tampan sedunia baginya saat ini.
Di sisi lain, Bapak Lee tengah mendapatkan kabar buruk.
"Apa katamu? Wanita itu kabur bersama dengan chef lelakinya? Apa yang dikerjakan Seong Jun sewaktu semuanya terjadi? Dasar anak tidak becus!" murkanya di hadapan seorang bawahan, yang ditugaskan sebagai pengintai.
Dalam waktu singkat, Seong Jun telah dipanggil dan memohon ampun kepada sang ayah.
"Tinggalkan kami berdua," perintah Bapak Lee untuk semua pelayan di dekatnya.
Seong Jun lagi-lagi harus menerima hukuman keras yang melukai harga dirinya. Wajahnya ditampar, tubuhnya ditendang, lalu dimaki oleh ayahnya sendiri.
"Ini semua karena kekuranganmu! Kamu tidak pernah mewarisi sedikit saja kecerdasanku, berbeda jauh dengan Seong Woon!"
Kalimat terakhir yang dilontarkan Bapak Lee setelah puas mengganjar Seong Jun benar-benar membuat putranya itu panas hati.
Seong Jun menahan emosinya yang meluap-luap, hingga Bapak Lee meninggalkan ruangan pribadi dan gedung perusahaan besarnya.
"Sial! Sialan!" umpat Seong Jun, seraya melayangkan tinju dan mendengking frustrasi.
"Tuan Muda, Anda bisa berdiri?" seru M, seketika memasuki ruangan.
"Apa kau sudah mendengar kapan Seong Woon hyeong akan pulang?" tanya Seong Jun.
"Mungkin dua minggu lagi, Tuan," jawab M, walau kurang pasti.
Nampaknya, kerumitan mencekam itu semakin bertambah saja bagi Seong Jun, hingga pria itu nyaris kehabisan kata-kata.
"Tidak. Aku tidak bisa membiarkan hyeong mengambil alih lagi. Aku tamat jika abeoji memberikan semua kuasa padanya," celoteh Seong Jun panik.
"Mohon tenang dulu, Tuan Muda. Saya akan mencaritahu keberadaan saudara Anda, serta informasi lebih lanjut mengenai Nona Kim," bujuk M.
"Nona Kim katamu? Huh, dia sama sekali tidak seperti putri chaebol di mataku!" kata Seong Jun bengis.
"Maafkan saya, Tuan Muda," ucap M tunduk.
"Sudahlah. Cepat lakukan tugasmu dan beri aku sedikit ketenangan," sela Seong Jun, kemudian M beranjak dari tempat itu.
Tak terasa, 3 hari pun berlalu semenjak kompetisi tahap kedua dan timbulnya kekacauan di media sosial. Siang harinya, suasana dalam kamar asrama dua orang lelaki terasa begitu menyesakkan.
"Aneh sekali. Hingga saat ini belum ada hasil keputusan para juri, padahal mereka telah mencicipi semua hidangan para peserta," desah Chef Min Ho untuk ke-sekian kalinya, sambil berbaring di matrasnya.
"Semuanya? Kau salah, mereka belum menilai secara keseluruhan," balas Chef Ik Jun, yang duduk di alas lantai dan sedang asyik membaca buku.
"Omong kosong. Siapa yang mau bersimpati dengannya sekarang? Sudah kuduga, dia bukan orang yang pantas dihormati."
Mendengar kalimat asal Chef Min Ho, temannya itu menjadi kesal.
"Hei, jangan menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Sudah kubilang, dia bukan orang semacam itu!" peringat Chef Ik Jun, seraya berhenti membaca dan meletakan bukunya di bawah meja.
"Terserahlah," abai Chef Min Ho, sembari berpaling dan memejamkan mata.
Chef Ik Jun menghela nafas sesaat, kemudian terkejut saat menemukan berita baru di ponselnya.
"Hei, lihat! Kabarnya, putra sulung Bapak Lee telah tiba di Seoul hari ini. Wah, ini gawat," serunya heboh.
"Bikin kaget saja. Itu bukan urusanku, enyahlah!" gertak Chef Min Ho, nyaris saja melemparkan bantal ke arah sang room-mate.
"Ckck, kau ini galak sekali. Aku juga tidak tahan berlama-lama tinggal di asrama denganmu. Seharusnya, aku tidur di kasur rumahku sendiri dan bermanja dengan istriku!" protes Chef Ik Jun.
"Ukh, menyebalkan!" geram Chef Min Ho, diikuti tawa jenaka lawan bicaranya.
Walau sering bertingkah iseng, kini suatu sumber masalah yang lain mulai mengusik pikiran Chef Ik Jun.
Ping.
Suara pesan masuk pada ponsel Chef Do langsung diresponi oleh Eun Chae.
"Ini, sepertinya ada pesan masuk," ujarnya.
Chef Do menerima ponselnya dari tangan Eun Chae, lalu mengecek pesan.
Karena kekasihnya terdiam selama beberapa saat, Eun Chae mulai penasaran.
"Kenapa, Chef? Siapa yang mengirimkan pesan?" tanya wanita itu.
"Bukan apa-apa. Chef Ik Jun hanya bertanya apa kita sedang kesulitan," jawab Chef Do seadanya.
"Begitu ya? Ternyata, masih ada orang selain aku yang mempedulikan Chef Do. Aku senang," kata Eun Chae, tersenyum manis.
"Entahlah. Yang penting, aku memiliki Kim Eun Chae," goda pria itu.
"Aku sayang padamu, Chef," ungkap Eun Chae malu-malu, lalu dibalas dengan ciuman dan senyuman lembut Chef Do.
- Bersambung -