Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Hinaan Yang Lebih Kejam
Siang itu, matahari terasa sangat menyengat, seolah ingin ikut membakar suasana di rumah besar milik Daviko.
Saliha baru saja turun dari lantai atas dengan langkah perlahan. Ia baru saja menidurkan Kaffara yang akhirnya terlelap pulas setelah disusui.
Rasa lelah di tubuhnya tidak sebanding dengan kedamaian yang ia rasakan setiap kali menatap wajah malaikat kecil itu.
Namun, kedamaian itu hancur berkeping-keping saat ia baru saja menginjakkan kaki di anak tangga paling bawah.
"Wah, wah... lihat Ibu. Tikus got ini sudah berani keluar masuk kamar milik Mas Daviko dan Mbak Amara tanpa rasa malu!"
Suara cempreng dan penuh racun milik Tari menggema di ruang tengah.
Saliha terkesiap, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di hadapannya, berdiri Tari dan Bu Ratna dengan tatapan bengis seolah Saliha adalah kuman yang menjijikkan.
"Bu Ratna... Non Tari...permisi, saya baru saja menidurkan Kaffara...."
"Jangan panggil aku 'Non'! Mulutmu yang kotor itu tidak pantas menyebut namaku!" bentak Tari.
Saliha tercenung dengan kaki sedikit bergetar, ia bingung dengan Tari. Tempo hari tidak mau dipanggil Mbak, dan sekarang tidak mau juga dipanggil Non.
Melihat Saliha diam, Tari melangkah maju dengan cepat, tangannya sudah melayang di udara, hampir saja menjambak rambut Saliha yang dikuncir rapi.
"Berani-beraninya kamu masuk ke kamar Mbak Amara saat Mas Daviko tidak ada di rumah? Mau mencuri apa kamu? Atau jangan-jangan kamu sedang merencanakan sesuatu di atas ranjang mereka?" tuduhnya kejam.
Saliha mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Demi Allah, saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai ibu susu...."
"Halah! Ibu susu atau ibu susu yang sengaja menggatal, ingin menyusui papanya Kaffara juga?" cibir Bu Ratna menimpali dengan nada yang tidak kalah tajam.
Matanya memperhatikan penampilan Saliha dari ujung rambut sampai kaki. Bu Ratna heran, sebab ada yang berubah dalam diri Salihat.
Saliha yang kini terlihat segar, cantik, dan tidak lagi kuyu seperti waktu itu, justru memancing amarah di hati mereka.
"Lihat Tari, dia sengaja berdandan cantik supaya bisa menggoda Daviko. Dia memanfaatkan kesempatan saat istri sahnya sudah tidak ada," tuduh Bu Ratna lagi mencoba memprovokasi Tari.
"Saya tidak berdandan, Bu. Dan saya tidak berniat untuk menggoda Pak Daviko. Semua ini pemberian Bi Tita...."
"Tutup mulutmu!" Tari kembali meradang. Ia mencoba meraih kerah baju Saliha.
"Aku tahu tipe wanita sepertimu. Bermuka polos tapi hatinya busuk. Kamu pikir dengan menyusui Kaffara, kamu bisa kembali merebut hati Mas Daviko? Kamu itu hanya sampah yang dipungut Daviko, sadarlah!"
Ketegangan itu memuncak. Tari sudah bersiap untuk mendaratkan tamparan di wajah Saliha ketika tiba-tiba Bi Tita berlari dari arah dapur dan berdiri di antara mereka.
"Ampun, Bu... Non Tari... tolong jangan sakiti Mbak Saliha. Dia benar-benar hanya dari kamar Den Kaffara untuk menidurkannya. Bibi sendiri yang melihatnya tadi," ucap Bi Tita memohon dengan suara bergetar.
Tari mendengus kasar, menurunkan tangannya namun matanya tetap memancarkan kebencian. "Kamu terlalu membela dia, Bi. Jangan-jangan kamu sudah disuap juga oleh wanita ini."
Bu Ratna melipat tangan di dada, menatap Saliha dengan sinis. "Dengar ya, Saliha. Keberadaanmu di sini itu menjijikkan. Aku tidak percaya kamu cuma jadi ibu susu buat Kaffara. Melihat gayamu yang kegatelan begini, jangan-jangan kamu juga mau jadi 'ibu susu' buat Daviko, ya? Biar dia betah di rumah dan melupakan Amara?"
DEG.
Tuduhan itu sudah dua kali dilontarkan Bu Ratna. Dunia Saliha seolah runtuh. Kalimat itu bukan lagi hinaan biasa, itu adalah fitnah yang berusaha merobek harga dirinya hingga tak bersisa.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Cukup, Bu... tolong jangan bicara seperti itu. Saya masih punya harga diri...."
"Harga diri?" Tari tertawa meremehkan. "Wanita menjijikan sepertimu, tidak pantas bicara soal harga diri!" pekik Tari.
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Sosok Daviko berdiri di ambang pintu dengan seragam yang masih lengkap.
Suasana mendadak senyap. Daviko membeku, telinganya sempat menangkap kalimat terakhir Tari tentang 'ibu susu buat Daviko'.
Rahang Daviko mengeras. Ia tidak suka dengan dugaan kotor Tari, apalagi menyeret-nyeret namanya dalam tuduhan yang menjijikkan seperti itu.
"Apa-apaan ini? Kalian meributkan apa lagi?" tanya Daviko dengan suara bariton yang dingin dan menggelegar.
Saliha tidak sanggup lagi menatap siapa pun. Sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia berlari melewati mereka semua menuju kamar bawah.
Isakannya terdengar memilukan, sebuah suara tangis dari jiwa yang sudah terlalu banyak menerima luka.
Di dalam kamarnya, Saliha mengunci pintu, tubuhnya luruh ke lantai. Dadanya sesak. Ia ingin sekali pergi saat itu juga. Meninggalkan rumah neraka ini dan tidak peduli lagi dengan segalanya.
Namun, bayangan wajah Kaffara yang baru saja ia tidurkan, dan janji kontrak enam bulan itu menahannya. Ia terperangkap dalam penjara tanpa jeruji.
Sementara itu di ruang tengah, Daviko menatap tajam ke arah ibu mertua dan adik iparnya. "Ibu, Tari. Tolong jaga ucapan kalian di rumah saya."
Tari segera mengubah raut wajahnya. Dalam sekejap, kebencian di matanya hilang, digantikan oleh tatapan lembut dan penuh perhatian yang dipaksakan.
"Maaf, Mas... Kami cuma khawatir. Kami tadi lihat dia keluar dari kamar Mas tanpa izin. Kami takut dia macam-macam, Mas kan tahu sendiri dia itu siapa."
Tari melangkah mendekati Daviko, mencoba menyentuh lengan seragam pria itu dengan manja. "Mas pasti capek sekali baru pulang kantor. Tari tadi bawakan makanan kesukaan Mas, ada rendang dan sayur asem buatan Ibu. Makan dulu ya, biar Tari yang ambilkan."
Daviko hanya menatap tangan Tari di lengannya dengan pandangan datar, lalu melepaskannya secara halus.
"Aku bisa ambil sendiri. Terima kasih."
Bu Ratna tersenyum penuh arti. "Daviko, kamu harus tahu kalau Tari ini sejak kemarin sibuk sekali menanyakan kabarmu dan Kaffara. Dia bahkan rela cuti kerja cuma buat bantu-bantu di sini. Kaffara itu butuh sosok ibu yang baik, bukan wanita seperti yang di bawah itu."
Daviko hanya mengangguk kaku. Ia belum menyadari bahwa di balik perhatian berlebihan itu, ada rencana terselubung untuk menjadikannya pengganti mendiang istrinya bagi Tari.
Pikirannya justru masih terganggu oleh bayangan Saliha yang berlari sambil menangis tadi. Ada rasa tidak nyaman yang menyelinap di hatinya saat mendengar Tari menuduh hal-hal mesum seperti tadi.
Daviko berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan Bu Ratna dan Tari.
Bayang-bayang Saliha yang berlari dan menangis tadi, kini terbayang kembali. Sudut hatinya, merasa kasihan. Namun, rasa ibu musnah seketika.
"Tapi, dia pantas mendapatkannya, Daviko. Itu konsekuensi dari masa lalunya," batinnya mencoba meyakinkan diri sendiri.
Namun, nuraninya kembali berbisik. Hinaan itu terlalu kejam untuk seorang ibu yang sedang memberikan nyawa bagi anaknya.
Tanpa ia sadari, benteng es yang ia bangun mulai retak setiap kali ia mendengar rintihan pilu dari balik pintu kamar bawah itu.
Saliha yang hancur, dan Daviko yang berpura-pura tidak peduli, keduanya sama-sama terjebak dalam lingkaran dendam yang mulai kehilangan arah.
semangat ya😚