Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Titik Nol
Bagas dan tim teknis terbaiknya harus melakukan "perang siber mekanik". Mereka harus terbang menuju stasiun relay satelit di pegunungan Alpen untuk melakukan intervensi fisik sebelum badai elektromagnetik melumpuhkan peradaban dunia.
Bagas harus kembali ke Eropa, bukan untuk berbisnis, melainkan untuk mencegah kiamat digital yang diciptakan oleh ambisi gila Profesor Vance. Narasi tetap mendalam, teknis, dan penuh ketegangan.
Peringatan dari Pak Baron bukan isapan jempol. Di seluruh dunia, langit mulai menunjukkan fenomena aneh pendaran cahaya ungu yang tidak wajar akibat gangguan magnetik yang diciptakan oleh satelit kontrol Nexus Group. Profesor Vance, yang kini bersembunyi di kompleks laboratorium bawah tanah di pegunungan Alpen, Swiss, telah kehilangan kewarasannya. Dia lebih memilih melihat dunia kembali ke zaman kegelapan daripada melihat rakyat jelata memegang kendali energi.
"Gas, satu-satunya cara menghentikan badai elektromagnetik ini adalah dengan memutus transmisi satelit itu langsung dari stasiun bumi di Alpen. Tapi Vance telah mengubah tempat itu menjadi benteng," ujar Pak Baron saat mereka berada di dalam pesawat kargo rahasia menuju Zurich.
Bagas tidak membawa tentara. Di dalam pesawat itu, ia hanya membawa lima orang alumni SMK terbaiknya ahli siber, ahli transmisi frekuensi, dan ahli mekanik presisi. Mereka membawa peralatan yang tampak remeh obeng, avo meter, dan beberapa modul sirkuit rakitan sendiri.
"Mas Bagas, kalau kita gagal, seluruh generator yang kita bagikan ke rakyat akan terbakar sirkuitnya," ujar Rian, yang kini telah menebus kesalahannya dengan menjadi garda terdepan tim teknis Bagas.
"Kita tidak akan gagal, Yan. Kita akan menggunakan hukum alam melawan mereka," jawab Bagas tegas.
Sesampainya di lereng Alpen yang bersalju, tim Bagas menyelinap di bawah radar menggunakan prototipe kendaraan salju bertenaga generator magnetik yang tidak mengeluarkan panas, sehingga tidak terdeteksi sensor termal. Mereka berhasil mencapai dinding belakang stasiun relay.
Di dalam, Vance sudah bersiap menekan tombol eksekusi terakhir. "Satu menit lagi, dan dunia akan menyadari bahwa tanpa kontrolku, teknologi adalah kutukan!" teriak Vance di ruang kendali yang megah.
Bagas dan timnya tidak menyerbu lewat pintu depan. Mereka masuk melalui saluran pendingin udara. Dengan ketangkasan seorang montir yang terbiasa merangkak di bawah kolong truk, Bagas mencapai ruang server pusat.
"Vance! Hentikan!" teriak Bagas sambil melompat keluar dari saluran udara.
Vance tertawa histeris. "Terlambat, Bagas! Protokolnya sudah terkunci. Kamu butuh waktu berjam-jam untuk meretas ini!"
Bagas tidak mencoba meretas komputer. Ia tahu dia tidak akan menang melawan supercomputer milik Vance dalam hal kode. Bagas mengeluarkan sebuah magnet Neo dium raksasa yang sudah dimodifikasi dengan kumparan tembaga 15 derajat warisan Bapak.
"Saya tidak akan meretas kodenya, Professor. Saya akan meretas fisiknya!"
Bagas menempelkan magnet tersebut tepat di jalur kabel fiber optik utama yang menghubungkan server ke antena satelit. Dengan prinsip interferensi harmonik yang ia pelajari dari kotak perkakas Bapak, Bagas menciptakan "kekacauan frekuensi" lokal yang membekukan aliran data tepat di ambang pengiriman.
Layar monitor di depan Vance mendadak menunjukkan angka nol. Badai elektromagnetik di langit perlahan memudar. Gelombang destruktif itu berhasil dijinakkan bukan dengan kode rumit, melainkan dengan gangguan fisik sederhana pada kabelnya.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa alat murahan itu menghentikan sistem miliaran dollar?!" Vance histeris, mencoba merebut magnet tersebut.
Bagas menepis tangan Vance. "Karena sistem Anda dibuat untuk melawan peretas, bukan melawan hukum dasar alam. Anda terlalu sibuk dengan awan, sampai lupa bagaimana cara kerja tanah."
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar. Sistem keamanan stasiun itu mengalami overload akibat arus balik yang diciptakan Bagas. Ruangan mulai berasap. Pak Baron dan tim keamanan internasional menerobos masuk, mengamankan Vance yang terduduk lemas di kursi rodanya.
Bagas segera mencabut perangkatnya dan memastikan semua data kontrol satelit telah dihapus secara permanen. Dunia terselamatkan dari kegelapan.
Namun, saat Bagas hendak keluar, ia melihat Vance menatapnya dengan pandangan kosong. "Kamu menang, Bagas... tapi kamu tidak tahu betapa beratnya memegang kunci dunia. Suatu saat, mereka akan datang lagi padamu, dan kamu akan merindukan kegelapan ini."
Bagas mengabaikan kata-kata itu. Ia keluar dari fasilitas bawah tanah tersebut, disambut oleh salju putih yang bersih dan fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur. Ia mengambil ponsel satelitnya dan menelepon rumah.
"Ibu, Bapak... Bagas sudah selesai. Tolong siapkan soto ayam. Bagas mau pulang untuk selamanya."