NovelToon NovelToon
MAHKOTA YANG TERPASUNG

MAHKOTA YANG TERPASUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Khaassyakira

Asiyah Musfiroh adalah fenomena di Pondok Pesantren Ar-Rahma. Kecerdasannya melampaui logika; mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an hanya dalam setahun hingga dijuluki sang "Permata". Namun, cahaya itu justru mengundang takdir yang tak pernah ia pilih.

​Ustadz Ahmad Zafran Al Varo, pengajar muda yang karismatik, terpikat pada kedalaman ilmu dan adab Asiyah. Tanpa menunggu lama, di depan wali santri, Zafran mengutarakan khitbahnya. Tanpa diskusi, apalagi restu sang putri, orang tua Asiyah langsung menerima lamaran sang Ustadz.

​Bagi semua orang, ini adalah pernikahan impian. Namun bagi Asiyah, ini adalah penjara. Ia terjepit di antara pengabdian kepada orang tua dan kejujuran hatinya yang menolak sosok Zafran yang dianggapnya terlalu "sempurna".

​"Bagaimana mungkin aku bisa menjaga wahyu Tuhan di dalam dadaku, jika hatiku dipenuhi kepura-puraan terhadap imam yang tidak pernah kupinta?"

​Saat ketaatan berbenturan dengan rasa, mampukah cinta tumbuh di sela-sela ayat suci...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khaassyakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERPISAHAN

​Malam di Bandara Internasional Kairo terasa lebih dingin dari biasanya. Deru mesin pesawat yang lepas landas terdengar bersahut-sahutan, menciptakan suasana riuh yang kontras dengan keheningan di antara Zafran dan Asiyah. Di depan gerbang keberangkatan, Zafran berdiri mematung sembari memegang erat paspor dan tiket pesawatnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia akan menempuh perjalanan jauh tanpa sosok wanita tegas di sampingnya.

​"Mas, jangan terus-terusan memandangi koper itu. Pesawatnya tidak akan berangkat lebih cepat hanya karena Mas terlihat cemas," tegur Asiyah sembari merapikan kerah jaket suaminya yang sedikit terlipat.

​Zafran mengalihkan pandangannya pada Asiyah. "Aku hanya masih tidak percaya akan meninggalkanmu sendiri di sini. Apakah kau benar-benar yakin tidak ingin ikut pulang bersamaku, Asiyah? Pihak kampus pasti memberikan dispensasi jika alasannya adalah kesehatan Abah."

​Asiyah menghentikan gerakannya, ia menatap mata Zafran dengan sorot yang tajam namun penuh keyakinan. "Kita sudah membahas ini semalam, Mas. Mas pulang untuk memimpin Ar-Rahma dan menemani Abah. Saya di sini untuk menuntaskan amanah ilmu yang sudah kita mulai. Jika saya pulang sekarang tanpa gelar magister, itu sama saja saya menyerah pada keadaan."

​"Tapi Kairo sangat luas, Asiyah. Tanpaku, siapa yang akan menjagamu dari gangguan orang-orang seperti Salamah atau birokrasi yang rumit?" tanya Zafran lagi, suaranya terdengar parau.

​"Mas lupa siapa yang mengawal Mas selama pekan ujian kemarin? Saya bukan gadis kecil yang ketakutan lagi. Ada Fatimah yang akan sering berkunjung, dan ada doa Abah yang menjaga saya. Sekarang, berhentilah bersikap cengeng dan masuklah ke dalam," jawab Asiyah dengan nada ketus yang dibuat-buat untuk menutupi getar di suaranya.

​Zafran tersenyum tipis, ia sangat tahu bahwa ketegasan Asiyah adalah caranya untuk tidak terlihat rapuh. Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya dengan sangat erat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya. "Aku akan merindukan omelanmu setiap pagi, Asiyah. Aku akan merindukan caramu mengetuk meja saat aku mulai malas belajar."

​Asiyah memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari kontak mata yang bisa meruntuhkan pertahanan dirinya. "Maka dari itu, cepatlah selesaikan urusan di pondok dan pastikan kesehatan Abah membaik. Agar saat saya pulang tahun depan, saya melihat Mas sudah menjadi pemimpin yang hebat, bukan pria yang hanya tahu merindu."

​Suara pengumuman keberangkatan menggema di seluruh ruangan terminal. Zafran menarik napas panjang, ia tahu waktu perpisahan sementara ini telah tiba. Ia mengecup kening Asiyah cukup lama, sebuah ciuman yang membawa ribuan pesan yang tak sempat terucap.

​"Jaga dirimu baik-baik, istriku. Jangan terlalu lelah belajar, dan jangan telat makan hanya karena tidak ada yang mengingatkan," bisik Zafran.

​"Mas juga." sahut Asiyah sembari melepaskan pegangan tangan Zafran dengan gerakan yang terlihat cuek.

​Zafran tertawa kecil, ia mulai melangkah menuju pintu pemeriksaan paspor. Ia sempat menoleh sekali lagi dan melambaikan tangan, namun Asiyah sudah berbalik arah dan berjalan menjauh dengan langkah yang sangat tegak. Zafran tidak tahu bahwa begitu ia menghilang di balik pintu, langkah Asiyah mendadak melambat dan bahunya sedikit bergetar karena menahan isak tangis yang akhirnya pecah dalam diam.Gengsi nya terlalu tinggi.

​Setelah menempuh perjalanan belasan jam, Zafran akhirnya menginjakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta. Udara lembap dan panas Indonesia menyambutnya, memberikan sensasi rindu yang aneh. Di sana, Paman Mansur sudah menunggu dengan wajah yang tampak lebih lega dari beberapa hari yang lalu.

​"Alhamdulillah, selamat datang kembali, Doktor Zafran. Selamat atas keberhasilanmu di Mesir," ujar Paman Mansur sembari memeluk keponakannya dengan erat.

​"Terima kasih, Paman. Bagaimana kondisi Abah saat ini? Apakah saya bisa langsung menemuinya di rumah sakit?" tanya Zafran tanpa membuang waktu.

​"Beliau sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Beliau sangat bersemangat saat tahu kau mendarat hari ini. Tapi, di mana Asiyah? Kenapa dia tidak bersamamu?" tanya Paman Mansur sembari mencari sosok keponakannya di belakang Zafran.

​Zafran menghela napas panjang sembari berjalan menuju mobil. "Asiyah memilih untuk tetap di Kairo, Paman. Dia ingin menyelesaikan studinya sampai tuntas. Dia bilang, dia tidak mau pulang sebagai pecundang yang meninggalkan medan perang sebelum waktunya."

​Paman Mansur tertawa pelan sembari menyetir mobil keluar dari area bandara. "Gadis itu memang luar biasa. Sifat keras kepalanya itu ternyata menjadi kekuatannya sekarang. Abahmu pasti akan bangga mendengarnya, meskipun beliau pasti juga merindukan menantunya yang tegas itu."

​Sesampainya di rumah sakit, Zafran segera menuju ruangan Kiai Usman. Pintu kayu berwarna putih itu terbuka pelan, menampakkan sosok pria tua yang tampak jauh lebih kurus namun matanya berbinar cerah saat melihat putranya masuk.

​"Zafran? Kau benar-benar sudah kembali, Nak?" tanya Kiai Usman dengan suara yang lemah namun penuh kebahagiaan.

​Zafran segera mendekat dan mencium tangan ayahnya dengan khidmat. "Iya, Abah. Zafran sudah pulang. Maafkan Zafran yang baru bisa kembali sekarang."

​Kiai Usman mengusap kepala putranya. "Tidak apa-apa. Pamanmu sudah menceritakan semuanya. Kau lulus dengan predikat terbaik, itu adalah obat yang lebih manjur daripada ribuan resep dokter. Tapi, ke mana istrimu?"

​Zafran duduk di samping tempat tidur, ia menjelaskan keputusan Asiyah dengan hati-hati. Ia menceritakan bagaimana Asiyah menjaganya selama di Kairo dan bagaimana wanita itu bersikeras untuk tetap menuntut ilmu demi kemajuan Ar-Rahma di masa depan.

​"Dia benar, Zafran. Biarkan dia di sana. Ar-Rahma membutuhkan pemimpin wanita yang cerdas dan berwibawa seperti dia. Abah bangga kalian tidak mencampuradukkan urusan perasaan dengan amanah ilmu," ujar Kiai Usman sembari tersenyum lega.

​Malam itu, Zafran duduk sendirian di teras rumah sakit. Ia menatap langit malam Indonesia yang berbeda dengan langit Kairo. Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Asiyah.

​Asiyah, aku sudah sampai dan sudah bertemu Abah. Kondisi beliau membaik setelah mendengar kabar tentangmu. Belajar yang rajin di sana, tapi ingat, apartemen itu terasa sangat luas tanpa suaramu yang berisik.

​Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk.

​Bagus kalau Mas sudah sampai. Jangan mulai bersikap puitis, Mas. Gunakan waktu Mas untuk belajar mengurus administrasi pondok yang berantakan itu. Saya sedang sibuk di perpustakaan, jangan ganggu saya dengan pesan-pesan tidak penting.

​Zafran tertawa kecil membaca balasan itu. Meskipun ketus, ia tahu Asiyah sedang tersenyum di seberang sana. Perpisahan ini memang berat, namun ia menyadari bahwa jarak ini justru memperkuat akar cinta mereka. Di Indonesia, Zafran mulai mengambil alih tugas-tugas di pondok, menghadapi berbagai tantangan manajemen dan santri yang beragam, sementara di Mesir, Asiyah terus berjuang di antara tumpukan kitab, membuktikan bahwa seorang wanita hafizah bisa berdiri tegak di kancah pendidikan internasional.

​Namun, di tengah ketenangan itu, sebuah masalah baru muncul di Ar-Rahma. Beberapa wali santri mulai mempertanyakan kepemimpinan Zafran yang dianggap terlalu muda dan terlalu lama berada di luar negeri. Di sisi lain, sebuah surat kaleng tiba di apartemen Asiyah di Kairo, berisi ancaman yang menyebutkan bahwa masa lalunya dengan Salamah belum benar-benar selesai.

1
Enny Suhartini
semangat kakak ditunggu lanjutannya
Enny Suhartini
semangat
Enny Suhartini
cerita nya menambah ilmu tentang agama
bagus
Sulfia Nuriawati
d negri Mesir berani bertindak brutal, sp Salamah??? obsesinya mengalahkan akal sehat, Fatimah jg oon, hdup d Mesir tp gila sp laki org mau jd pelKor?? duan org gila lg beraksi yg kuat aisyah nya jgn cm bs nangis
Lisna Wati
lanjut
Muhammad Syafi'i
masyaallah 😍 jodoh ny anak kiyai
Muhammad Syafi'i
Bagus alur ceritanya
Muhammad Syafi'i
kisah ny sangat bagus 👍
Irni Yusnita
ceritanya sangat bagus dan bagi pemula sangat baik memberikan pengetahuan bagi yg membacanya👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!