(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasien VVIP
Ketenaran di dunia kultivasi menyebar lebih cepat daripada wabah, terutama jika ketenaran itu dibangun di atas mayat.
Berita tentang bagaimana Tabib Tangan Hantu mempermainkan Klan Ye, menyembuhkan Tuan Muda mereka, dan secara tidak langsung memicu perang saudara di dalam klan itu, membuat nama Han Luo menjadi legenda di Kota Jinling hanya dalam waktu beberapa hari.
Di sebuah paviliun teh kelas menengah tempat Han Luo (dalam wujud kakek bungkuk) sedang duduk santai, pintu didobrak dengan kasar.
Empat pria bertubuh kekar, mengenakan jubah hitam dengan sulaman benang merah darah berbentuk cakar, melangkah masuk. Aura mereka memancarkan kekejaman khas kultivator jalan iblis. Para pengunjung paviliun langsung membubarkan diri karena ketakutan.
Pemimpin kelompok itu, seorang pria dengan codet melintang di bibirnya, berjalan lurus ke meja Han Luo.
"Kau yang dipanggil Tabib Tangan Hantu?" tanyanya dengan nada memerintah.
Han Luo tidak menatap pria itu. Dia menuangkan secangkir teh panas dengan tangan kanannya, sementara lengan kirinya (boneka sutra) disembunyikan rapat di balik jubah.
"Mengetuk pintu adalah penemuan peradaban yang sepertinya belum mencapai sekte kalian," jawab Han Luo datar. "Apa maumu?"
Pria bercodet itu menggebrak meja. Teh di cangkir Han Luo tumpah.
"Jaga mulutmu, Pak Tua! Kami adalah utusan dari Kediaman Bintang Darah. Tuan Muda kami membutuhkan jasamu. Ikut kami sekarang, atau kami akan menyeret mayatmu ke sana!"
Han Luo menatap cangkir tehnya yang tumpah, lalu menghela napas panjang.
"Di duniaku," suara Han Luo merendah, dipenuhi hawa dingin yang membuat udara di sekitar meja itu membeku, "Seorang tabib adalah dewa bagi mereka yang sekarat. Kau datang meminta nyawa Tuan Mudamu, tapi kau menumpahkan tehku."
Han Luo mengangkat tangan kanannya. Jari telunjuknya menjentikkan setetes teh yang tumpah di meja.
ZING!
Tetesan teh itu melesat seperti peluru, menembus lutut kanan pria bercodet itu. Hawa dingin ekstrem dari Sutra Hati Es Abadi langsung membekukan darah di kakinya.
"UAAARGH!" Pria itu menjerit, jatuh berlutut dengan suara tulang yang patah karena es.
Tiga pengawalnya mencabut senjata.
"Langkah satu inci lagi, dan jantung kalian akan membeku seperti kakinya," ancam Han Luo tanpa berdiri. "Kalian pikir kalian siapa berani mengancam satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Tuan kalian? Su Qingxue yang mengirim kalian, bukan?"
Mendengar nama Nona Suci mereka disebut dengan begitu santai, ketiga pengawal itu menelan ludah dan menahan langkah mereka.
"K-Kau kenal Nona Suci?"
"Siapa yang merekomendasikan namaku jika bukan dia?" Han Luo mendengus, berdiri perlahan dan merapikan jubah lusuhnya. "Bawa teman kalian yang cacat ini. Pimpin jalan ke Kediaman Bintang Darah. Dan lain kali, bawa tata krama."
Kediaman Bintang Darah - Pusat Kota Jinling.
Tempat ini adalah markas rahasia faksi Xue Mochen, Putra Suci Sekte Iblis Langit, di ibukota. Dari luar tampak seperti kediaman bangsawan biasa, namun di dalamnya dipenuhi oleh formasi pelindung tingkat tinggi.
Begitu Han Luo melangkah masuk ke halaman dalam, bau anyir darah langsung menyengat hidungnya.
Dua mayat pria tua berjubah tabib sedang diseret keluar oleh para penjaga. Leher mereka telah dipelintir hingga patah.
"Tabib kelima dan keenam yang gagal hari ini," bisik pengawal yang mengantar Han Luo, wajahnya pucat. "Tuan Muda sedang mengamuk. Jika kau gagal... nasibmu akan sama."
Han Luo hanya tersenyum sinis. "Mereka mati karena mereka tabib biasa yang mencoba mengobati iblis."
Pintu kamar utama dibuka. Hawa panas dan dingin bergantian menyembur keluar, menandakan kekacauan elemen di dalam ruangan.
Di tengah kamar yang hancur berantakan, seorang pemuda tampan dengan rambut merah gelap sedang dirantai ke ranjang batu giok tebal. Rantai itu terbuat dari besi spiritual untuk menahannya. Urat-urat di wajah dan leher pemuda itu menonjol liar, berkedut seperti cacing yang meronta di bawah kulit.
Itu adalah Xue Mochen. Kultivasinya berada di Ranah Jiwa Baru Lahir Awal, tapi saat ini auranya kacau balau, saling bertabrakan dan menghancurkan organ dalamnya sendiri.
Di samping ranjang, berdiri dua Pelindung berpakaian abu-abu dengan aura Jiwa Baru Lahir Menengah. Mereka menatap Han Luo dengan curiga.
"Ini tabib yang direkomendasikan Su Qingxue?" dengus salah satu pelindung. "Seorang kakek lumpuh berbau tanah? Gadis itu pasti sengaja mengirim sampah untuk membunuh Putra Suci!"
Han Luo tidak mempedulikan hinaan itu. Dia berjalan tertatih mendekati ranjang.
Mata merah Xue Mochen melotot menatapnya. "Pergi! Jangan sentuh aku! Jika jarummu salah sedikit saja... aku akan memakan jantungmu!"
"Diamlah, anak muda," kata Han Luo tenang.
Dia tidak memeriksa denyut nadi Xue Mochen. Dia hanya mengaktifkan Mata Roh-nya.
Di matanya, meridian Xue Mochen terlihat seperti jalan raya yang sedang mengalami tabrakan beruntun.
"Kau mencoba menggabungkan Seni Iblis Api Darah dengan Metode Kondensasi Es Kutub," Han Luo membacakan diagnosisnya dengan akurat (pengetahuan yang dia dapat dari novel asli). "Kau ingin menciptakan Inti Iblis Yin-Yang agar bisa mengalahkan Su Qingxue mutlak. Tapi kau terlalu rakus. Fondasi apimu terlalu kuat, membakar meridian es-mu, menyebabkan penyumbatan di Jantung Iblis-mu."
Xue Mochen berhenti meronta. Kedua Pelindung itu juga terbelalak kaget.
"B-Bagaimana kau tahu?" tanya Xue Mochen. Hanya dia dan gurunya yang tahu tentang rahasia kultivasi gandanya.
"Aku Tabib Tangan Hantu. Aku bisa melihat dosa di dalam aliran darahmu," Han Luo mengeluarkan sekotak jarum perak yang sangat panjang. "Tabib-tabib bodoh sebelumnya mencoba meredakan apimu dengan obat penyejuk. Itu membuat apimu memberontak dan menghancurkan meridianmu."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?!" bentak Pelindung.
"Sederhana," Han Luo menyeringai. "Aku tidak akan memadamkan apinya. Aku akan memutus alirannya secara paksa, membekukan salurannya, dan membiarkan jantungnya berhenti sejenak untuk memulai ulang."
"Menghentikan jantungnya?! Kau mau membunuhnya?!" Pelindung itu mencabut pedangnya.
Xue Mochen mengangkat tangannya yang gemetar, memberi isyarat agar Pelindung itu mundur. Dia menatap Han Luo. Orang gila ini adalah satu-satunya yang memahami kondisinya.
"Lakukan, Pak Tua," geram Xue Mochen. "Jika aku mati, kau ikut mati."
"Tentu."
Han Luo mengulurkan tangan kirinya—Lengan Boneka Sutra yang kaku dan dingin. Dia menempelkan telapak "tangan" itu tepat di dada Xue Mochen.
"Dingin sekali... tangan macam apa ini?" gumam Xue Mochen, matanya melebar. Hawa dingin dari tangan itu bukan sekadar suhu, tapi hawa kematian.
"Tangan Hantu," bisik Han Luo.
Sutra Hati Es Abadi - Bekukan Meridian Utama.
Han Luo menembakkan Qi Es absolut langsung ke dalam jantung Xue Mochen.
"ARRRRGHHHHHH!"
Xue Mochen menjerit dengan suara yang merobek pita suaranya. Matanya melotot hingga hampir keluar dari rongganya. Jantungnya secara harafiah dibekukan selama tiga detik. Seluruh aliran darah dan Qi-nya terhenti total.
Kematian klinis buatan.
"Tuan Muda!" Kedua Pelindung panik, bersiap membunuh Han Luo.
"Jangan bergerak," Han Luo memperingatkan, tangan kanannya dengan kecepatan kilat menusukkan sembilan jarum perak ke sembilan titik meridian di sekitar dada dan perut Xue Mochen.
Teknik Akupunktur: Sembilan Paku Pembuka Jalan.
Ini adalah momen krusialnya. Momen di mana Han Luo menanamkan "Bom Waktu" sesuai pesanan Su Qingxue.
Sambil menyambung kembali jalur Qi Xue Mochen yang kacau, Han Luo dengan sangat halus, sehalus debu, membelokkan sedikit Qi Es-nya ke sebuah katup kecil di pangkal Dantian Xue Mochen. Dia membuat sebuah penyumbatan mikro.
Penyumbatan ini tidak akan terdeteksi oleh pemeriksaan normal. Bahkan akan membuat aliran Qi terasa lebih lancar. Namun... jika Xue Mochen mencoba memaksakan Qi-nya melebihi 100% (misalnya saat menggunakan jurus pamungkas dalam pertarungan hidup mati), katup es itu akan hancur, menyebabkan tabrakan energi instan yang akan meledakkan Dantian-nya dari dalam.
Selesai, batin Han Luo puas.
Han Luo menjentikkan jarinya, mencabut es di jantung Xue Mochen.
GAAASP!
Xue Mochen menarik napas panjang seperti orang yang baru keluar dari dasar laut. Tubuhnya melengkung, keringat membanjiri ranjang. Rantai besi yang menahannya bergemerincing.
Hawa panas dan dingin di ruangan itu lenyap, digantikan oleh aura Jiwa Baru Lahir yang kembali stabil dan kuat.
Xue Mochen duduk. Dia menatap kedua tangannya, lalu tertawa. Tawanya menggema di ruangan itu, penuh arogansi dan kelegaan.
"Hahaha! Berhasil! Kekuatanku kembali! Tidak, ini lebih lancar dari sebelumnya!" Xue Mochen menatap Han Luo dengan mata berbinar. "Tabib tua, kau benar-benar jenius! Tangan Hantu yang luar biasa!"
Kedua pelindung itu segera berlutut. "Selamat, Tuan Muda!"
Han Luo melangkah mundur, menyembunyikan tangan kirinya kembali ke dalam jubah. Napasnya dibuat seolah-olah dia sangat kelelahan, dan dia batuk darah ke saputangannya (akting).
"Pengobatan telah selesai, Tuan Muda Xue," kata Han Luo lemah. "Saya harap Anda puas."
"Puas? Aku sangat puas!" Xue Mochen berdiri, menyobek sisa rantainya dengan mudah. "Siapa namamu, Pak Tua?"
"Orang-orang memanggilku Tabib Qiu."
"Tabib Qiu, mulai hari ini, kau adalah Tabib Pribadi Kehormatanku! Apa yang kau inginkan? Uang? Wanita? Sebutkan!"
Han Luo menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum iblisnya.
"Saya tidak butuh uang, Tuan Muda. Umur saya sudah tidak lama. Sisa hidup saya hanya saya dedikasikan untuk penelitian medis dan alkimia. Jika Tuan Muda berkenan..."
Han Luo mendongak, matanya memancarkan ketertarikan akademis palsu.
"Saya ingin akses ke Perpustakaan Kuno dan Gudang Tanaman Obat milik Sekte Iblis Langit cabang Jinling. Ada banyak literatur kuno yang ingin saya baca sebelum saya mati."
Xue Mochen tertawa. "Hanya itu? Kutu buku tua yang gila. Tentu saja! Berikan dia Medali Tamu Kehormatan Emas!"
Salah satu Pelindung ragu. "Tuan Muda, perpustakaan kita menyimpan rahasia sekte..."
"Tutup mulutmu! Dia menyelamatkan nyawaku, yang berarti dia menyelamatkan masa depan Sekte ini!" bentak Xue Mochen. Pelindung itu langsung melempar medali emas kepada Han Luo.
Han Luo menangkapnya. Medali itu terasa berat dan memancarkan wibawa.
Dengan ini, dia tidak hanya mendapat bayaran uang (yang pasti akan diberikan), tapi dia punya izin resmi untuk masuk ke jantung informasi musuh, tempat dia bisa mencari tahu lebih banyak tentang lokasi atau kelemahan para petinggi sekte.
"Terima kasih, Tuan Muda," Han Luo membungkuk dalam.
"Istirahatlah di kediaman ini. Jika Su Qingxue mencarimu, katakan padanya kau sekarang milikku," kata Xue Mochen sombong.
Han Luo diantar keluar oleh para pelayan menuju kamar tamu mewah.
Begitu pintu kamar tamu ditutup dan dia sendirian, postur bungkuk Han Luo langsung tegap.
Dia melempar medali emas itu ke udara dan menangkapnya dengan tangan kanan.
"Tentu saja aku milikmu, Xue Mochen," bisik Han Luo sambil tertawa tanpa suara. "Sama seperti sapi gemuk milik tukang jagal."
Han Luo berjalan ke jendela, melihat ke arah menara utama kediaman itu.
Rencananya berjalan lebih mulus dari perkiraan. Dia telah menanamkan bom di tubuh pewaris faksi musuh, mendapatkan akses penuh ke sumber daya mereka, dan Su Qingxue berutang besar padanya.
tpi gw demen....