Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Malam Perburuan
Sinar matahari pagi yang hangat menembus celah-celah gedung pencakar langit Kota Jinghai, memberikan ilusi kedamaian di kota yang sebenarnya dikendalikan oleh hukum rimba ini.
Di dalam kelas 2-B SMA Jinghai, suasana pagi sudah dipenuhi oleh obrolan riuh para murid. Ye Xuan duduk dengan tenang di kursinya di sudut belakang kelas. Postur tubuhnya tegak, matanya menatap ke luar jendela melihat awan yang berarak pelan. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam saku dimensi sistemnya, tersimpan sekilo emas murni, sebuah pistol penembus armor Qi, dan sebuah token darah yang bisa memperbudak seorang pemimpin sekte.
Pria dengan jiwa berusia 35 tahun itu tampak sangat damai, seolah pembantaian berdarah yang dia lakukan semalam hanyalah mimpi sekilas.
Di barisan depan, Lin Xia sedang dikelilingi oleh beberapa siswi perempuan. Pagi ini, Lin Xia tampil lebih berani dari biasanya. Rok lipatnya dinaikkan satu sentimeter lebih tinggi, mengekspos paha putih mulusnya yang membuat beberapa murid laki-laki tidak bisa fokus membaca buku. Blus seragamnya disetrika sangat rapi, namun potongannya yang ketat mencetak jelas bentuk dadanya yang bahenol setiap kali dia tertawa lepas.
"Kau benar-benar beruntung, Xiaxia," ucap salah satu temannya dengan nada iri. "Zhao Wei itu tampan, kaya raya, dan ayahnya kenal dengan orang-orang penting di kota ini. Dia pasti membelikanmu banyak barang mewah."
Lin Xia tersenyum manis, menyisipkan sehelai rambut ke belakang telinganya. "Ah, biasa saja kok. Dia memang sangat perhatian padaku. Sayangnya kemarin dia harus pulang lebih awal karena tangannya sedikit cedera saat olahraga."
Meski mulutnya berkata manis, hati Lin Xia sebenarnya sedikit gelisah. Semalam, dia mengirim belasan pesan mesra kepada Zhao Wei, tapi pria itu sama sekali tidak membalas. Bahkan panggilannya dialihkan.
Tepat saat bel sekolah berbunyi, pintu kelas bergeser terbuka.
Seluruh mata di kelas langsung menoleh ke arah pintu, mengharapkan kemunculan Zhao Wei dengan gaya arogannya yang biasa. Namun, pemandangan yang muncul membuat suasana kelas mendadak hening seketika.
Itu memang Zhao Wei. Tapi dia tidak terlihat seperti pangeran kaya raya yang sombong.
Rambutnya berantakan dan lepek oleh keringat dingin. Wajahnya sepucat mayat, dengan kantung mata hitam yang sangat tebal seolah dia baru saja melihat hantu semalaman suntuk. Lengan kanannya dibungkus oleh perban tebal dan ditopang oleh penyangga leher. Bahunya merosot turun, dan langkah kakinya terseret-seret layaknya anjing yang baru saja dipukuli habis-habisan.
"Zhao Wei?!" Lin Xia terkesiap. Dia langsung berlari menghampiri pria itu dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang dibuat sedramatis mungkin.
Gadis cantik itu menempelkan tubuhnya ke sisi kiri Zhao Wei. Kelembutan dadanya sengaja ditekan pelan ke lengan pria itu untuk memberikan 'kenyamanan'. "Ya ampun, kamu kenapa memaksakan diri masuk sekolah? Bukankah kamu harusnya dirawat di rumah sakit? Wajahmu pucat sekali!"
Biasanya, mendapat pelukan dan sentuhan sensual dari Lin Xia di depan umum akan membuat ego Zhao Wei membengkak hingga ke langit. Dia akan tersenyum congkak dan merangkul pinggang gadis itu.
Tapi pagi ini, Zhao Wei bahkan tidak menatap belahan dada Lin Xia sedikit pun. Tubuhnya gemetar hebat. Napasnya pendek-pendek.
Begitu dia melangkah masuk ke dalam kelas, mata Zhao Wei secara refleks menyapu ruangan dengan liar dan langsung terkunci pada satu titik di sudut belakang.
Di sana, Ye Xuan sedang duduk menopang dagu. Pria itu perlahan menolehkan kepalanya, mempertemukan sepasang mata gelapnya yang tak berdasar dengan mata Zhao Wei yang dipenuhi teror.
Ye Xuan tidak tersenyum. Dia tidak mengeluarkan aura membunuh sedikit pun. Dia hanya menatap Zhao Wei dengan tatapan datar, kosong, dan sedingin es.
Namun bagi Zhao Wei, tatapan itu lebih mengerikan dari todongan pistol di kepalanya. Ingatannya langsung memutar kembali laporan anak buahnya semalam. Kak Long hancur. Kak Long memakan pasir. Kesembilan saudaranya patah tulang. Dan iblis yang melakukan semua itu kini sedang duduk santai di kelasnya, menatapnya seolah dia adalah serangga yang bisa dihancurkan kapan saja.
Deg!
Jantung Zhao Wei seolah berhenti berdetak. Kakinya tiba-tiba lemas tak bertulang.
"A-Aaa..." suara rintihan tertahan keluar dari tenggorokan Zhao Wei. Dia terhuyung ke belakang, menarik tubuhnya menjauh dari tatapan Ye Xuan seolah dia baru saja tersengat listrik.
Lin Xia yang sedang memegang lengannya ikut tertarik dan hampir terjatuh.
"Zhao Wei? Kamu kenapa?!" seru Lin Xia kebingungan, melihat pangerannya bertingkah seperti orang gila ketakutan. Lin Xia mengikuti arah pandangan Zhao Wei dan melihat Ye Xuan yang sedang duduk santai.
Ego Lin Xia langsung meledak. Dia berpikir bahwa Ye Xuan pasti menggunakan trik licik atau mengancam Zhao Wei secara diam-diam kemarin. Sebagai wanita yang ingin mempertahankan statusnya, Lin Xia merasa dia harus membela pria kayanya dan menginjak harga diri Ye Xuan di depan semua orang.
Lin Xia melepaskan pegangannya, berkacak pinggang, lalu menunjuk ke arah Ye Xuan dengan wajah marah. Lekuk tubuhnya menegang, membuat blusnya terlihat semakin sesak.
"Ye Xuan! Dasar orang miskin tidak tahu diri!" bentak Lin Xia dengan suara melengking yang memecah keheningan kelas. "Apa yang kau lakukan pada Zhao Wei kemarin sampai dia trauma begini?! Kau pasti menggunakan alat kejut listrik murahan untuk melukainya kan?! Kau benar-benar pecundang kotor yang cuma berani main curang karena kau tidak punya uang dan masa depan!"
Ruang kelas seketika menahan napas. Semua orang menunggu reaksi Ye Xuan.
Namun, sebelum Ye Xuan sempat bereaksi, sebuah suara tamparan yang sangat keras menggema di ruangan itu.
PLAK!!!
Wajah cantik Lin Xia terlempar ke samping. Sebuah cap lima jari merah langsung tercetak jelas di pipi putihnya.
Lin Xia membelalakkan matanya, memegangi pipinya yang terasa panas dan perih. Dia menoleh dengan perlahan, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Orang yang menamparnya bukanlah Ye Xuan. Melainkan Zhao Wei.